
Makanan yang masuk ke dalam mulutnya Altez serasa berubah menjadi duri-duri tajam saat Elea terus menatapnya intens. Sungguh, andai bisa memutuskan, Altez dengan senang hati akan lebih memilih untuk angkat kaki dari ruangan ini daripada harus duduk berhadapan dengan Elea. Entah mengapa aura di wajah gadis ini terlihat begitu mengerikan.
"Nona Altez, kenapa kau diam saja? Bukankah sebelum aku datang kemari kau begitu agresif mencari perhatian dari priaku ya?" tanya Elea penuh nada sindiran.
"A-apa?"
Altez tergagap. Sendok di tangannya hampir saja terlepas jika dia tidak segera mengendalikan diri dari serangan mental yang di lontarkan oleh Elea. Tertohok, ucapan Elea barusan benar-benar sangat menohok hati.
"Santai saja, jangan terlalu tegang. Aku kan hanya bertanya biasa padamu, kenapa ekpresi di wajahmu terlihat seperti orang yang tertangkap basah sedang bercinta dengan suami orang? Relaks, Nona Altez."
Elea dengan santai menyuapkan nasi ke dalam mulutnya kemudian mengunyahnya dengan sangat pelan. Dia tengah membayangkan kalau yang sedang dia kunyah sekarang adalah kepala parasit ini. Elea geram, benar-benar sangat geram saat tahu kalau ada pelakor lain yang ingin masuk ke dalam rumah tangganya bersama Gabrielle. Mencontoh dari film yang dia tonton, Elea dengan anggunnya mengajak si calon pelakor ini makan siang bersama-sama dengan suaminya untuk mencari tahu seberapa tebal rasa malu di diri Nona Altez. Jika Elea masih sanggup untuk mengatasinya, maka dia akan selesaikan masalah ini sendiri. Tapi jika Nona Altez adalah jenis pelakor yang merepotkan, maka dia akan mengeluarkan pelakor peliharaannya. Elea jamin Nona Altez akan mati berdiri jika Levita sampai turun tangan langsung untuk memberinya pelajaran. Pelakor bersertifikat halal itu mana mungkin rela memiliki saingan dalam menghabiskan uang milik Gabrielle dan Elea.
"Nona Elea, aku perhatikan sejak tadi kau terus saja memojokkan aku. Ada apa? Apa kau merasa terancam?" tanya Altez yang akhirnya memilih untuk mengikuti alur yang sedang di mainkan oleh gadis ini.
Kepalang tanggung. Toh, Altez juga tidak akan bisa pergi dari sini dengan mudah. Juga karena Altez yang perlu melakukan pembelaan untuk menjaga harga dirinya yang sejak tadi terus di permainkan oleh Elea. Dia harus membalas. Siapa tahu Gabrielle akan menyimpan kesan baik terhadapnya jika dia bisa menghadapi Elea dengan cara yang elegan.
"Di bagian mana aku harus merasa terancam, Nona? Wajah? Atau ukuran buah dada? Hih," jawab Elea seraya berdecih sinis. "Meskipun ukuran buah dadaku hanya sebesar buah kelapa bantat, itu sama sekali tidak mengurangi pesonaku. Berbeda denganmu. Buah dadamu sangat besar seperti buah melon yang hampir meledak, bahkan b*a yang kau pakai saja terlihat seperti tidak muat untuk menampungnya. Tapi lihat, apa dengan buah melonmu yang besar itu kau mampu membuat Kak Iel berpaling dariku? Tidak kan? Karena itulah Nona Altez, jangan merasa percaya diri begitu tinggi dengan menganggap kalau aku merasa terancam dengan kehadiranmu. Paham?"
Gabrielle hanya diam mendengarkan sambil terus menikmati makan siangnya. Puas, dia benar-benar sangat puas melihat si bunga bangkai berkali-kali di jatuhkan oleh Elea. Dan lucunya, meskipun dalam kondisi marah Elea masih saja mengeluarkan kata-kata nyelenehnya. Membuat Gabrielle beberapa kali hampir kelepasan tertawa karena mendengarnya.
__ADS_1
"Nona Elea, sekalipun buah dadaku seperti buah melon yang hampir meledak, itu tetap saja membuatmu merasa cemburu. Buktinya tadi kau langsung terlihat kesal saat melihatku duduk berdekatan dengan Tuan Muda!" sahut Altez enggan untuk mengalah. Dia sudah bertekad akan terus berjuang hingga di titik darah penghabisan.
"Tentu saja aku cemburu lah melihat ada ulat bulu yang ingin dekat-dekat dengan calon suamiku. Aku ini adalah wanita normal, Nona. Jiwa berperangku langsung berkobar begitu melihat ada seekor parasit yang coba-coba menguasai pria ber-uang milikku!" ucap Elea dengan nada suara yang cukup meninggi.
Ah, kenapa pelakor ini bebal sekali sih. Sepertinya aku harus mengeluarkan jurus lain agar dia bisa segera pergi dari sini. Rasanya bola mataku seperti terkena busung lapar gara-gara terus melihat buah melonnya yang tidak berhenti mengintip dari balik bajunya yang sempit itu. Cihh... kau juga Kak Iel. Kenapa sih mencari rekan bisnis yang bentukannya seperti gitar Spanyol begini? Apa kau sengaja melakukannya karena sudah bosan melihat buah dada bantat milikku? Iya aku tahu kalau buah dadaku tidak semenarik seperti milik Nona Altez. Tapi kan selama ini Kak Iel begitu suka memainkannya. Awas saja ya. Setelah ulat bulu ini pergi aku akan langsung melaporkan hal ini pada Kak Levi. Dia harus tahu kalau Kak Iel suka pada melon lain.
Hampir saja Gabrielle tersedak saat mendengar isi pikiran Elea. Sadar kalau posisinya terancam bahaya, dia berniat mengusir Altez pergi dari sana. Gabrielle harus sesegera mungkin menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi sebelum pelakor itu datang melabraknya. Bisa panjang urusannya nanti jika Levita sampai terlibat.
"Sayang, aku ....
"Diamlah, Kak. Aku tahu kau ingin membela diri!" sela Elea dengan cepat. "Nona Altez, kapan kau akan pergi dari sini?"
"Apa kau mengusirku?" tanya Altez geram. Tadi dia di larang untuk pergi. Eh, sekarang dia malah di usir dengan begitu kasar. Gadis ini benar-benar ya.
Musnah sudah segala harga diri yang Altez miliki saat Gabrielle ikut menggerakkan tangan seolah memintanya untuk segera pergi dari sana. Dengan wajah merah padam, Altez mengemasi semua barang-barang miliknya kemudian bangkit berdiri. Namun sebelum Altez melangkahkan kaki keluar dari ruangan tersebut, dia kembali di buat geram oleh perkataan Elea.
"Nona Altez, kau sebenarnya memiliki paras yang sangat cantik. Tapi semua itu akan musnah kalau kau tidak bisa menjaga sikap. Dengan segala kerendahan hati, aku meminta maaf kalau sikap dan perkataanku ada yang menyinggungmu. Dan kalau kau menyimpan dendam terhadapku, maka aku tidak keberatan untuk kembali berdebat denganmu. Kak Iel adalah milikku, dan aku tidak akan membiarkan siapapun mengambilnya dariku. Termasuk juga dirimu, Nona Altez."
Brraaakkkk
__ADS_1
Elea, Gabrielle, dan juga Ares sama-sama tersenyum sinis saat Altez membanting pintu ruangan dengan sangat keras. Mereka tentu tahu kalau ulat bulu tersebut merasa sangat marah setelah berhadapan langsung dengan istri sah dari pria yang dia incar. Upsss, author lupa memberitahu Altez kalau Gabrielle dan Elea sudah menikah. Bukannya apa, author hanya khawatir kalau Altez akan gagal ginjal jika mengetahui pernikahan mereka. π
"Sayang, gayamu benar-benar sangat keren saat memberi pelajaran pada wanita itu. Aku salut!" puji Gabrielle penuh bangga.
Gabrielle langsung keki saat Elea malah menatapnya dengan begitu tajam. Tubuhnya serasa panas dingin melihat kesinisan di wajah istrinya ini.
"Sayang, kenapa kau menatapku sampai seperti itu? Aku salah apa?"
"Kak Iel, urusan kita belum selesai ya. Setelah dari sini aku akan pergi menemui Kak Levi. Dia harus tahu kalau aku telah di tindas oleh seekor parasit yang ingin merebut Kakak dariku. Aku tersakiti," jawab Elea dengan raut wajah yang begitu terluka.
Mulut Gabrielle dan Ares ternganga lebar begitu mereka mendengar perkataan Elea yang mengaku kalau dirinya telah di tindas. Yang benar saja. Jelas-jelas yang tadi menjadi penindas adalah Elea, tapi kenapa dia malah memutar balikkan fakta? Ini tidak baik, mereka dalam bahaya sekarang.
Tuan Muda, siasat yang anda rencanakan kini berbalik menyerang anda sendiri. Semoga saja Levita tidak menggila setelah mendengar pengaduan Nyonya Elea nanti. Huftttt.
πππππππππππππππππ
...πJangan lupa vote, like dan comment...
...ya gengss...
__ADS_1
...πIg: rifani_nini...
...πFb: Rifani...