Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Percakapan Sederhana


__ADS_3

Patricia menarik nafas dalam-dalam ketika Junio dengan tidak tahu malunya berbaring di pangkuannya. Entah mengapa setiap kali Junio melakukan hal ini benak Patricia di penuhi keinginan untuk mencabik wajahnya. Kesal, mual, sayang, dan juga benci. Semua perasaan itu campur-aduk menjadi satu.


"Hei kau kecambah bar-bar, mau sampai kapan kau menyiksa Daddy seperti ini, hm? Ini sudah bulan ketigamu, ayolah kita berdamai," ucap Junio sembari mengusap-usap perut istrinya. Dia lalu mendongak. "Cia, kenapa wajahmu terlihat begitu asam? Begitu tersiksakah mengandung biji kecambah ini?"


Plaaakkk


Junio mengaduh pelan sambil memegangi lengannya yang baru saja di geplak oleh Patricia. Sambil mengerucutkan bibir, dia memprotes tindak kekerasan yang dilakukan oleh sang istri.


"Aku bertanya baik-baik tapi kenapa kau malah memukulku sih? Tahu tidak kalau di negara ini ada undang-undang yang melindungi korban kekerasan? Kejam sekali!"


"Oh, jadi jika para istri yang melakukan kekerasan itu ada undang-undangnya, begitu?" tanya Patricia seraya mendesah panjang. "Lalu apa kabar dengan kau yang menculik seorang wanita kemudian menyekapnya selama hampir satu bulan lamanya. Belum lagi dengan kekerasan fisik dan juga batin, juga dengan tindak p*lecehan yang aku terima hingga menyebabkan si biji kecambah tumbuh di rahimku. Kira-kira hukuman seperti apa yang layak diberikan pada orang jenis sepertimu, Tuan Morigan Junio?"


Mulut Junio langsung terkatup rapat begitu Patricia menjabarkan segala tindak kejahatan yang pernah dia lakukan dulu. Dia bahkan tidak berani lagi untuk sekedar menatap wajah istrinya yang entah kenapa terlihat seperti hantu valak yang begitu menyeramkan.


"Hmmm, jangan memasang wajah seperti itu di depanku. Nanti aku muntah," ucap Patricia yang kesal melihat raut menjengkelkan di wajah suaminya.


"Isshh, kau jorok sekali, Patricia. Masa iya wajah tampan seperti ini membuatmu muntah. Jangan menebar fitnah," protes Junio tak terima.


Seulas senyum muncul di bibir Patricia. Sungguh, siapa yang akan menyangka kalau bajingan seperti suaminya ini bisa berubah manja dan juga cengeng begitu dia mengandung. Hubungan yang tadinya di mulai dengan kepedihan dan air mata kini telah berubah menjadi hubungan yang cukup unik. Junio seakan tak bisa lepas dari sisi Patricia. Bahkan pria ini dengan gilanya selalu menelpon setiap sepuluh menit sekali jika sedang berada di kantor hanya untuk mendengar suaranya saja. Aneh memang, tapi Patricia sangat suka dengan kebucinan suaminya ini.


"Cia," ....


"Hem?"

__ADS_1


"Kau ingin anak laki-laki atau perempuan?" tanya Junio.


"Apapun itu asalkan dia lahir sehat. Jenis kelamin tidak menjadi masalah untukku. Kenapa memangnya?" jawab Patricia kemudian lanjut bertanya.


"Aku ingin anak perempuan yang lucu dan manis sepertimu. Kalau laki-laki ... aku takut dia menjadi orang brengsek sepertiku. Gara-gara ucapan istrinya Gabrielle, aku sekarang menjadi sangat paranoid dengan yang namanya karma. Gadis minimalis itu berhasil membuatku ketakutan."


"Paman Junio, kau jangan jahat-jahat lagi pada kakakku ya. Ingat, karma itu nyata. Karena apa yang kau semai, itulah yang akan kau tuai. Kau menjadikan para wanita sebagai obyek fantasi jahatmu, maka bersiaplah untuk menerima balasannya suatu hari nanti. Aku yakin anak lelakimu pasti akan melakukan hal yang sama kalau kau tidak segera berubah. Bertobatlah sebelum Tuhan mengalami amnesia karena telah menciptakan manusia bernama Morigan Junio."


Bulu kuduk Junio langsung berdiri saat kata-kata Elea kembali berdengung di telinganya. Lidah istrinya Gabrielle itu memang sangat luar biasa berbisa.


"Itu tergantung bagaimana cara kita mendidiknya, Jun. Jika kita mengarahkannya ke jalan yang benar, tidak mungkin anak kita melakukan kesalahan yang sama sepertimu. Begitupun sebaliknya, jika kita salah memberi pendidikan, bisa jadi anak kita memiliki prilaku yang jauh lebih buruk darimu. Dan itu berlaku tidak hanya pada anak laki-laki kita saja, tapi anak perempuan kita juga!" ucap Patricia menjelaskan.


"Jadi sekarang kita harus bagaimana, Cia. Aku benar-benar sangat takut kena karma," sahut Junio setengah putus asa.


"Yang perlu kita lakukan sekarang hanyalah menjaga si bayi kecambah ini supaya tetap sehat sampai tiba waktunya untuk dia lahir. Dan karena kau adalah Daddy-nya, aku sarankan kau semakin giat bekerja karena kebutuhan anak itu sangat banyak."


"Jun, sebenarnya aku ingin sekali anak pertama kita berjenis kelamin laki-laki. Aku ingin dia bisa menjaga dan melindungi anaknya Elea nanti. Ya anggap saja ini sebagai balas jasa atas semua kebaikan yang pernah dia berikan pada kita berdua, juga untuk menggantikan kasih sayang yang telah ku ambil dari keluarganya. Kau tidak keberatan bukan jika aku memiliki pemikiran seperti ini?" tanya Patricia seraya menatap lekat manik mata suaminya.


"Kenapa juga aku harus keberatan. Meskipun lidah Elea sangat berbahaya, tapi dia adalah adikku juga. Jadi aku sama sekali tidak ada masalah dengan hal itu. Asalkan kau dan si bayi kecambah bahagia, maka lakukan saja. Yang penting kalian berdua tidak bersekongkol untuk menyiksaku lagi seperti sekarang," jawab Junio.


Patricia tertawa mendengar jawaban suaminya. Memang benar kalau sampai detik ini kehamilannya masih sering menyita waktu istirahat Junio. Bahkan tak jarang suaminya ini menolak masuk ke kantor gara-gara mengalami morning sickness yang lumayan parah setiap bangun tidur. Dan sebagai gantinya, Patricia harus rela terus berada di samping suaminya ketika ada meeting yang tidak bisa di tinggal. Beruntung ada Gleen yang selalu siap mengambil alih pekerjaan suaminya. Jika tidak, Patricia jamin dia dan Junio pasti akan menjadi gelandangan karena perusahaan gulung tikar.


"Oh ya Jun, Gleen pernah bilang padamu tidak apakah istrinya sudah hamil atau belum?"

__ADS_1


"Tidak ada. Tapi sepertinya Lusi belum isi karena sekarang kan dia sedang sibuk kuliah bersama Elea. Hmm, tidak kusangka kalau Gleen akan memiliki seorang istri yang mahir di dunia desain. Lusi benar-benar berbakat,"


"Kalau aku bagaimana? Kau menyesal tidak menikahi wanita yang bukan seorang designer?" tanya Patricia iseng.


Junio menyeringai. Dia lalu menarik pelan leher Patricia kemudian mencium bibirnya kilat. Sambil bertatapan mata, Junio meluapkan isi hati tentang betapa bahagianya dia memiliki seorang Patricia Young dalam hidupnya. Wanita keras kepala dan juga angkuh yang kini telah menguasai hampir di setiap tarikan nafasnya.


"Siapapun kau, aku akan tetap menerima dan mencintaimu selamanya. Entah itu kau seorang pembisnis, pengangguran, ataupun hanya seorang ibu rumah tangga biasa. Karena bagiku sekarang tidak ada yang lebih penting selain kau dan calon anak kita. Kalian berdua adalah tujuan hidup seorang Morigan Junio. Paham?"


"Ummm, apa kau mencoba bersikap romantis padaku?" ledek Patricia. Dia tersipu mendengar ucapan Junio yang begitu mengena di hati.


"Sebenarnya iya, tapi aku tidak tahu apakah itu masuk ke dalam kriteria romantis atau tidak. Hehe, pokoknya aku sayang kalian berdua. Sehat-sehat terus ya sampai kita berkumpul bertiga," sahut Junio sembari mengusap-usap perut Patricia dengan penuh sayang.


"Hei bayi kecambah, lihatlah. Daddy-mu begitu pandai membual. Saat kau besar nanti, jangan sampai mengikuti jejaknya ya?"


Setelah berkata seperti itu Junio dan Patricia tertawa puas. Hanya percakapan sederhana begini saja mereka sudah merasa sangat bahagia. Enam bulan, perlu waktu enam bulan lagi agar mereka bisa menyapa si bayi kecambah secara langsung.


Tidak selamanya orang jahat berakhir dengan nasib yang tragis. Ada kalanya kegelapan itu berganti dengan secercah cahaya terang dimana cahaya tersebut berhasil menerangi jalan hamba-hamba yang tersesat. Karena itulah janganlah takut untuk menjadi hamba yang pemaaf. Seperti Elea... πŸ’œ


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


...πŸ€Jangan lupa vote, like, dan comment...


...ya gengss...

__ADS_1


...πŸ€Ig: rifani_nini...


...πŸ€Fb: Rifani...


__ADS_2