
Abigail dengan penuh sayang membelai rambut cucunya yang sedang tertidur lelap. Rasanya dunia seperti kiamat saat Kayo memberi kabar kalau cucunya dilarikan ke rumah sakit gara-gara terpatuk ular saat ingin menyelamatkan Flowrence, cucunya Liona. Dan tanpa pikir panjang lagi, Abigail segera mengajak Mattheo untuk datang ke negara ini. Dia sangat mencemaskan keadaan Russel.
"Jack, sebenarnya apa yang terjadi. Kenapa Flowrence bisa sampai masuk ke jurang dan Russel juga ikut terluka parah. Kayo bilang Russel hanya terpatuk ular, tapi kenapa kondisinya bisa sampai seperti ini. Cepat beritahu Ayah!" cecar Mattheo sambil menahan emosi. Dia yakin betul pasti ada hal lain yang belum dia ketahui sepenuhnya.
"Ada sekelompok orang to lol yang ingin menculik Flowrence dan temannya, Ayah. Mereka menyeret Flowrence lalu melepaskan mereka hingga membuat keduanya menggelinding masuk ke dalam jurang. Lalu Russel dengan bodohnya ikut melompat ke dalam jurang yang membuat kepalanya terbentur bebatuan di sana. Dia hanya sedang berusaha menyelamatkan saudarinya saja," jawab Jackson.
Satu seringai samar langsung muncul di bibir Abigail dan Mattheo begitu mereka mendengar kata penculikan. Yang benar saja. Manusia bodoh mana yang sudah dengan begitu berani ingin menculik cucu kesayangan dari wanita paling mengerikan di negara ini? Apakah mungkin sekelompok orang itu adalah sejenis keledai dungu yang mempunyai dua nyawa? Bisa-bisanya ya mereka. Heran.
"Aku tahu Liona sudah tua, tapi itu bukan berarti dia sudah kehilangan kebengisannya. Aku jadi penasaran alasan apa yang mendasari mereka sampai berani adu nyali dengan macam betina itu," ucap Abigail sambil tersenyum kecil.
"Akupun begitu, sayang. Baru kali ini aku melihat ada orang-orang yang dengan suka rela mendonorkan nyawa mereka untuk mendapatkan kematian yang mengerikan. Hiiiii, membayangkannya saja sudah membuat bulu kudukku. Apa jadinya hidup mereka di tangan Liona nanti. Pasti hidup mereka akan berakhir dengan sangat menyedihkan!" tambah Mattheo seraya bergidik takut.
"Bibi Liona sama sekali tidak melakukan apa-apa pada mereka, Ayah. Dia hanya meminta Karl untuk menyeret para bajingan itu sama seperti yang mereka lakukan pada Flowrence. Lalu sekarang, mereka semua akan di serahkan pada keturunannya Sulli untuk di ajari cara berenang yang baik. Bibi Liona sungguh baik hati sekali bukan?" ucap Kayo menimpali.
"Wow, seperti biasa. Liona selalu menakjubkan dengan ide-idenya. Kita tidak boleh melewatkan keseruan ini, Matt!"
"Tentu saja, sayang. Apa sih yang tidak untukmu," sahut Mattheo sembari mengedipkan mata pada Abigail. Dia lalu terkekeh saat godaannya di sambut tatapan sinis dari istrinya itu. Menggemaskan.
Jackson diam saja sambil mendengarkan percakapan Kayo dan orangtua mereka. Pikirannya kini tengah tertuju pada Flowrence. Jujur, Jackson sebenarnya masih di buat kebingungan mengapa darahnya bisa cocok dengan Flowrence, padahal mereka sama sekali tidak ada ikatan darah. Jackson jadi bertanya-tanya dalam hati, mungkinkah di masa lalu Flowrence juga terhubung dengannya seperti Elea? Jika itu benar, lalu siapa Flowrence dalam hidupnya di masa lalu?
Saat aku dan Elea mati di masa lalu, aku belum menikah dan tidak mempunyai anak. Lalu apa hubunganku dengan Flowrence? Atau jangan-jangan karena aku dan Elea memiliki golongan darah yang sama jadi itu menurun juga padanya? Astaga, kenapa semuanya jadi rumit begini ya. Kenapa semua hal seakan-akan terhubung dengan kejadian di masa lalu. Apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan keluargaku?
"Jackson, apa kau sudah menjenguk Flowrence?" tanya Abigail sembari memperhatikan dengan seksama menantunya yang sedang melamun.
"Oh, aku belum sempat menjenguknya, Ibu," jawab Jackson sedikit tergagap.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Dia tidak tega meninggalkan Russel, Bu," sahut Kayo menggantikan Jackson menjawab. Dia tahu kalau suaminya sedang memikirkan sesuatu.
"Emm, begitu ya."
Saat semua orang sedang mengobrol, mata Russel perlahan-lahan terbuka. Dia lalu tersenyum mendapati sang nenek tengah duduk di sebelahnya.
"Nek, Nenek kapan datang?"
"Oh, cucuku yang tampan sudah bangun ternyata," sahut Abigail kaget saat Russel tiba-tiba bicara. Segera dia mencium pipinya penuh sayang. "Bagaimana keadaanmu sekarang? Di bagian mana yang masih sakit, hm?"
Sebelum menjawab, Russel meminta sang nenek untuk membantunya duduk. Namun karena luka benturan di kepalanya cukup serius, dia merasa pusing saat ingin duduk tegak. Alhasil dengan di bantu oleh ayah dan juga kakeknya, Russel duduk dengan setengah berbaring di ranjang. Dia lalu memegangi kepalanya yang tiba-tiba berdenyut.
"Cepat panggilkan dokter!" teriak Abigail panik.
"Pusing biasa bagaimana. Wajahmu sekarang begitu pucat, sayang. Nenek khawatir kau kenapa-napa!" omel Abigail. Dia lalu melihat ke arah Mattheo. "Kau kenapa masih di sini, Matt. Cepat panggilkan dokter kemari. Memangnya kau tidak lihat ya kalau Russel sedang kesakitan!"
Mattheo acuh. Dia lalu duduk di samping cucunya kemudian mengelus luka di kepalanya.
"Apakah seorang Russel Eiji Wang selemah itu hanya karena luka kecil begini, hm? Hei bung, kau itu laki-laki. Masa sakit begini saja sudah mengeluh sih!"
Pletaakkkk
Kayo dan Jackson tertawa saat ayah mereka mendapat satu pukulan tepat di kepalanya. Seperti yang kalian tahu kalau Mattheo Eiji terkenal dengan tingkah konyolnya dalam berkata-kata. Jadi wajar saja kalau dia mendapatkan upah berupa satu geplakan dari istrinya gara-gara menolak untuk memanggilkan dokter. Biasalah, seorang nenek pasti akan sangat posesif pada cucu lelakinya. Benar tidak?
__ADS_1
"Memangnya kenapa kalau Russel merasa lemah, hah? Dia itu manusia, Matt. Wajar kalau dia kesakitan saat sedang terluka seperti ini. Bagaimana sih!" amuk Abigail sambil menatap garang ke arah Mattheo. Dia tak habis pikir kenapa suaminya bisa memiliki pemikiran sekonyol ini. Membuat orang emosi saja.
"Nek, sudahlah. Jangan marah-marah terus, nanti Nenek tidak cantik lagi!" lerai Russel saat menyaksikan kakek dan neneknya bertengkar. Dia kemudian tersenyum, merasa terhibur dengan cara mereka saling menunjukkan kasih sayang.
"Eh, jangan sembarangan ya mengatai istri Kakek tidak cantik. Asal kau tahu saja, Nenekmu adalah wanita tercantik yang pernah Kakek temui. Bahkan bidadari dari kayangan pun masih kalah cantiknya dari Nenekmu. Cepat ralat kata-katamu barusan, Russel. Kakek tidak terima bidadari Kakek di katai seperti itu!" protes Mattheo.
"Oh, begitu ya pria tampan. Baiklah, aku akan segera meralatnya," sahut Russel sambil tertawa kecil. "Wahai bidadari yang cantik, tolong lupakan kesilapanku ya. Mataku sepertinya sudah rusak karena berani mengataimu tidak cantik!"
"Haihh, kalian berdua ini apa-apaan sih!" ucap Abigail sambil menggelengkan kepala melihat ulah suami dan cucunya. Adalah hal biasa dia di goda seperti ini oleh mereka, jadi Abigail sudah tak heran lagi melihat keusilan Russel dan Mattheo.
Kayo benar-benar lega karena sekarang putranya sudah bisa tertawa. Setelah itu dia melihat ke arah Jackson, suaminya ini masih saja melamun.
"Jack, Russel sekarang sudah baik-baik saja. Pergilah kalau kau ingin melihat keadaan Flowrence. Nanti kita bergantian saja perginya. Aku tidak enak meninggalkan Ayah dan Ibu di sini," ucap Kayo pelan.
"Sayang, Flowrence adalah putri kita. Dan aku hanya akan menjenguknya jika bersamamu, aku tidak mau pergi sendiri," sahut Jackson seraya mengelus rambut panjang Kayo. Dia begitu bangga akan perhatian yang Kayo beri.
"Tapi kau adalah ayah angkatnya Flowrence, Jack,"
"Dan kau adalah ibunya juga,"
"Kau ini,"
Jackson tersenyum.
Flow, maafkan Ayah karena belum bisa datang menjengukmu ya. Ayah harap kau tidak marah.
__ADS_1
*******