Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Datang Menjemput


__ADS_3

"Cira, apa jenis kelamin anak Patricia dan Junio?" tanya Clarissa sembari membenahkan selimut yang menutupi tubuhnya. Dia kemudian terbatuk pelan.


"Nyonya Yura bilang anaknya Nona Patricia dan Tuan Junio berjenis kelamin laki-laki, Nyonya. Namanya Cio Moriggan Stoller," jawab Cira sambil mengelus pelan punggung wanita yang telah merawatnya selama ini.


Cira begitu mengkhawatirkan keadaan majikannya karena tak kunjung membaik seusai mengadakan pagelaran busana musim panas waktu itu. Malah setiap harinya keadaan sang majikan kian memburuk, membuat Cira menjadi sangat tidak tenang. Untunglah kehamilannya ini tidak membuat Cira terkapar tak berdaya. Jadi dia bisa memiliki banyak waktu untuk merawat dan menjaga Nyonya Clarissa setelah Ares berangkat bekerja.


Mendengar nama dari cicit pertamanya membuat Clarissa tak kuasa untuk tidak merasa haru. Matanya sampai berkaca-kaca saking gembiranya dia akan kabar membahagiakan tersebut. Saat Clarissa tengah meresapi kebahagiaan atas kehadiran sang cicit, tiba-tiba melintas wajah seseorang yang beberapa malam ini selalu menghiasi mimpinya. Clarissa kemudian tersenyum, melupakan keberadaan Cira yang tengah menatapnya dengan raut wajah penuh kebingungan.


“Nyonya, ada apa?” tanya Cira penasaran. Dia heran melihat majikannya yang tiba-tiba tersenyum tanpa sebab.


Sebelum menjawab, Clarissa menghela nafas panjang terlebih dahulu. Dia kemudian mendongak agar bisa menatap wajah perempuan yang sudah dia anggap seperti putri kandungnya sendiri.


“Cira, beberapa malam ini Sandara terus saja muncul dalam mimpiku. Dia sangat cantik, wajahnya begitu mirip dengan Elea. Sandara mengajakku pergi ke sebuah padang pasir yang sangat hijau. Di sana aku juga melihat Karim, tapi aku tidak bisa menyentuhnya. Kau tahu Cira, mereka terlihat sangat bahagia. Aku jadi ingin pergi ke sana agar bisa berkumpul dengan mereka,’’ ucap Clarissa dengan tatapan mata yang begitu dalam.


Begitu mendengar jawaban Nyonya Clarissa, Cira langsung meremas ujung bajunya dengan sangat kuat. Takut, itu sudah pasti. Bagaimana tidak! Yang baru saja di sebut oleh Nyonya Clarissa adalah nama dua orang yang sudah tidak adalagi di dunia ini. Itu artinya Nyonya Clarissa memimpikan orang-orang yang telah pergi meninggalkannya lebih dulu.


Ya Tuhan, apakah ini sudah waktunya untuk Nyonya Clarissa pergi dari dunia ini? Aku belum siap, Tuhan. Aku masih butuh beliau untuk mendampingiku melahirkan nanti. Tolong sembuhkan Nyonya Clarissa,Tuhan. Aku mohon …


‘’Cira, jika suatu hari nanti terjadi sesuatu yang buruk padaku tolong jaga Elea dengan baik ya. Sayangi dia seperti adikmu sendiri. Bisa?’’ pinta Clarissa penuh harap.


‘’N-Nyonya, kenapa Nyonya meminta hal seperti itu padaku?’’ tanya Cira gelisah.


‘’Karena kau adalah adik dari almarhumah Mamanya Elea.’’


‘’Tapi Nyonya, saya ….


Clarissa langsung menggenggam tangan Cira dengan erat ketika melihat ada penolakan di sana. Entah ini hanya perasaannya saja atau bagaimana, yang jelas Clarissa seperti merasa kalau dirinya akan segera pergi jauh. Aneh memang, tapi rasa ini begitu kuat membayangi benak Clarissa.

__ADS_1


‘’Cira, semua yang hidup suatu saat pasti akan mati. Begitu juga aku dan dirimu. Siap tidak siap perpisahan itu pasti akan terjadi juga. Dan aku sangat berharap kalau kaulah yang akan menggantikan aku menjaga cucuku. Elea adalah berlian yang sangat berarti di hidupku meskipun kami belum lama bertemu. Sedangkan kau, kau sudah menjadi putriku sejak hari dimana aku menemukanmu. Jadi Cira, tolong berjanji padaku untuk selalu menjaga dan mencintai Elea setelah aku pergi nanti. Ya?"


"Nyonya, anda tidak akan pergi kemana-mana. Kit-kita akan bersama-sama menjaga Elea. Tolong jangan bicara seperti ini, Nyonya. Saya takut," ucap Cira dengan suara bergetar.


"Cira ... semua urusanku di dunia ini sudah selesai. Aku lelah, aku ingin berkumpul bersama dengan Sandara dan Karim di sana. Semenjak perpisahan menyakitkan itu terjadi, aku tak pernah lagi merasakan yang namanya kebahagiaan. Aku ingin bersama mereka, Cira. Bersama putriku dan laki-laki yang dulu sangat aku cintai. Aku ingin mengulang waktu yang telah hilang bersama mereka. Aku ingin itu," sahut Clarissa lirih.


Sekelebat bayangan putih tiba-tiba melintas di dekat pintu kamar yang mana membuat Clarissa terhenyak kaget. Namun sedetik kemudian Clarissa tersenyum, Sandara-nya datang berkunjung.


Sandara, putriku... Apa kau datang untuk menjemput Mama, Nak?


"Nyonya, tolong jangan tinggalkan saya dan Elea, Nyonya. Hiksss ... kami masih sangat membutuhkan kasih sayang dan perhatian dari anda. Kami ... kami ....


Tangis Cira akhirnya pecah. Dia yang biasanya tenang dan tak pernah ragu mendadak berubah menjadi seorang cengeng yang takut akan di tinggal pergi sendirian. Cira kemudian memeluk tubuh majikannya dengan sangat erat sambil menangis sesenggukan. Sungguh, ini adalah ketakutan terbesar yang pernah Cira rasakan selama hidup. Bahkan jauh lebih menakutkan jika di bandingkan dengan tindakan Pablo yang mengirim pembunuh bayaran untuk menghabisinya.


"Sayangku, kau dan Elea sudah besar. Kalian juga telah memiliki pasangan yang baik dan bertanggung jawab. Apalah guna seorang pesakitan sepertiku ini. Kehadiranku di sini hanya akan membuat kalian berdua menjadi repot. Lagipula sekarang Sandara sudah menungguku. Dia ingin membawaku pergi menemui Papanya!" ucap Clarissa sambil terus melihat ke arah pintu.


"Tidak, Cira. Sandara ada di sini, dia sedang berdiri di depan pintu. Lihatlah, dia sekarang mengulurkan tangan meminta agar aku segera datang ke sana. Dia ... Akhhh!!"


Clarissa langsung memekik kesakitan sambil memegangi dadanya yang tiba-tiba terasa begitu nyeri. Wajah yang tadinya sudah memucat kini semakin bertambah pucat saat rasa sakit tersebut kian menjadi.


"Nyonya, anda kenapa, Nyonya! Pelayan! Tolong aku. PELAYAAANN!" teriak Cira panik melihat majikannya kesakitan.


Tak sabar karena pelayan tak kunjung masuk ke kamar, Cira akhirnya memutuskan untuk langsung menghubungi nomor dokter Reinhard melalui ponselnya. Namun sebelum sempat panggilan tersebut terhubung, Cira dibuat kaget setengah mati saat Nyonya Clarisaa tiba-tiba jatuh tak sadarkan diri.


Praanngg


"Mama!" pekik Cira berbarengan dengan ponselnya yang jatuh berhamburan di lantai.

__ADS_1


Kacau. Pikiran Cira benar-benar sangat kacau sekarang. Sambil menangis ketakutan, Cira memangku kepala Nyonya Clarissa sembari menepuk pelan pipinya yang terasa begitu dingin seperti es.


"Ma, bangun Ma. Jangan seperti ini, ayo buka matamu. Ma ... Mama!"


"Nona Cira, ada apa? Apa yang terjadi pada Grandma Clarissa?" tanya pelayan sambil berlari tergopoh-gopoh ke arah ranjang.


"Dokter, tolong panggilkan dokter. M-Mama kesakitan, dadanya sakit!" jawab Cira yang tanpa sadar telah memanggil Nyonya Clarisaa dengan sebutan Mama.


Pelayan langsung mengangguk kemudian pergi ke luar untuk menghubungi dokter keluarga ini. Dengan di bantu oleh dua pelayan yang lain, Cira membaringkan Nyonya Clarissa ke ranjang kemudian meminta tolong pelayan agar mengambilkan alat pengompres. Setelah itu Cira segera menghubungi nomor suaminya untuk memberitahukan apa yang baru saja terjadi.


"Sayang, ada apa? Apa kau menginginkan sesuatu untuk bayi kita?"


"Res, Mama Clarissa, Res. Dia pingsan, Mama kesakitan. Tolong datang, Res. Aku takut Mama kenapa-napa. Tolong aku, Res," jawab Cira dengan bibir gemetar. Dia kemudian menatap wajah Nyonya Clarissa yang semakin memucat.


"Tenang, jangan panik. Aku dan Tuan Muda Gabrielle akan segera datang ke sana. Jangan panik, oke?"


Cira mengangguk. Setelah itu dia mematikan panggilan kemudian berbalik duduk di pinggiran ranjang. Air mata Cira menetes dengan sangat deras saat dia mengusap lembut pipi wanita yang sudah begitu baik padanya selama ini. Hancurlah hidupnya jika wanita ini sampai benar-benar pergi meninggalkannya.


Tuhan, tolong jangan sekarang. Aku mohon ....


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


...🍀Jangan lupa vote, like dan comment...


...ya gengss...


...🍀Ig: rifani_nini...

__ADS_1


...🍀Fb: Rifani...


__ADS_2