
📢📢📢 BESTIE, NANIA SUDAH UP YA. KLIK PROFIL EMAK BUAT CARI NOVELNYA. JUDULNYA MY SUGAR DADDY.
***
Amora memberanikan diri untuk tersenyum saat si pemilik rumah pulang. Dia sedikit kikuk saat Bern berjalan ke arahnya sambil menatapnya lekat.
“Se-selamat malam, Tuan Muda,” sapa Amora takut-takut.
“Kapan kau akan pergi?” tanya Bern sambil melepas dasi di lehernya. Dia gerah.
“Tuan Muda, mungkin ini akan terdengar sangat tidak tahu malu di telinga anda. Akan tetapi saya akan tetap menegaskan kalau saya tidak akan pernah meninggalkan rumah ini. Bahkan matipun saya haruslah mati di sini,” jawab Amora dengan pasti. Dia kemudian maju selangkah, membalas tatapan dingin si pemilik rumah dengan tatapan yang sangat teduh. Amora tidak marah ataupuataupun tersinggung saat di usir, dia hanya merasa sedih. Sedih karena jika dia keluar dari rumah ini, Amora tidak punya tempat untuk berpulang. Selama ini Amora selalu terkurung di dalam rumah, jadi dia sama sekali tidak memiliki pengalaman hidup di dunia luar. Amora takut mati konyol karena kelaparan dan kedinginan di luaran sana. “Tuan Muda, Ayah saya memang memiliki harta yang sangat berlimpah. Namun saya tak pernah memiliki hak untuk merasakan itu semua. Meski begitu, saya sangatlah mencintai Ayah saya dan ketiga saudari saya. Entah anda benar tidak tahu atau hanya pura-pura tidak tahu kalau kedatangan saya kemari adalah sebagai jaminan atas Airan Group, saya hanya berharap anda bersedia mengizinkan saya untuk tetap tinggal. Bisakah?”
Bern tak berkedip menatap wajah kasihan Amora saat menceritakan nasib hidupnya. Dia memang telah mengetahui akan keburukan Tuan Kendra, tapi entah kenapa dadanya berdenyut nyeri saat mendengar pengakuan langsung dari mulut Amora. Dan entah dorongan dari mana, tiba-tiba saja sebelah tangan Bern bergerak mengusap pipi tirus Amora yang mana di sana masih terdapat luka lebam yang sudah agak samar. Untuk pertama kalinya di hidup seorang Bern Wufien Ma, dia merasakan getaran yang aneh saat menyentuh kulit wajah seorang wanita. Bingung dengan apa yang dirasanya, Bern nekad mendekatkan wajahnya ke depan wajah Amora. Jujur, Amora sangat cantik. Gadis ini memiliki daya pikat yang belum pernah Bern lihat di diri wanita manapun.
Perasaan macam apa ini? Kenapa aku merasa sangat sakit dan bahagia di saat yang bersamaan saat menatap mata Amora? Apa yang terjadi padaku?
“Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?” tanya Bern setengah berbisik.
“S-saya … saya hanya ingin tetap tinggal di sini, Tuan Muda,” sahut Amora tergagap. Dia merasa sangat gugup karena wajahnya dan wajahnya Bern berada dalam jarak yang sangat dekat. Sebagai seorang gadis yang tidak pernah berhubungan dengan pria manapun, sudah pasti hal ini membuat perasan Amora menjadi campur aduk dan tidak karu-karuan. Ya takut, ya bingung, ya … senang. Pokoknya tidak jelas.
__ADS_1
“Hmmmm, kuberitahu kau satu hal, Amora. Aku ini adalah pria normal, bukan hal yang tidak mungkin aku kehilangan kontrol diri kemudian menidurimu secara paksa. Ini rumahku, aku bebas melakukan apapun terhadap apa yang ada di sini. Kau mengerti bukan apa maksud ucapanku?” tanya Bern sambil menelan ludah. Dia mendadak jadi gelisah dan tubuhnya serasa dibakar api. Aneh. Padahal saat di rumah sakit tadi Bern tidak memakan apapun, tapi kenapa gelenyar ini semakin tidak terkendali? Apa yang terjadi dengannya?
Saat Bern tengah bertanya-tanya akan apa yang terjadi dengan tubuhnya, di saat itu pula Amora mengutarakan satu jawaban yang membuat suasana rumah menjadi sangat hening. Bahkan Bern sempat menahan nafas ketika melihat mata gadis tak berdaya ini yang berkaca-kaca saat menyatakan kesediaannya.
“Tuan Muda, Ayah bilang kalau saya telah dijual kepada anda. Itu artinya anda bebas melakukan apapun terhadap saya, termasuk jika ingin meniduri saya. Jujur, sebagai seorang gadis tentu saja saya sangat ingin melakukan yang pertama bersama dengan pria yang menyayangi saya. Namun demi kebahagiaan keluarga saya, saya dengan senang hati bersedia untuk melayani anda,” ucap Amora dengan perasaan yang sangat hancur. Ingin menolak, tapi Amora tak memiliki kuasa. Hanya pasrah yang bisa dia lakukan sekarang demi agar Bern tidak mengusirnya pergi.
“Jangan menyesali ucapanmu, Amora. Karena aku tidak akan berhenti meski kau menangis dan memohon padaku,” sahut Bern sambil menggeram pelan. Kacau.
“Lakukan saja, Tuan Muda. S-saya siap.”
Tanpa membuang waktu lagi Bern langsung mengangkat tubuh Amora ke dalam gendongannya kemudian membawanya masuk ke dalam kamar. Amora yang tidak tahu kalau Bern akan seagresif ini kaget setengah mati saat dia di bawa masuk ke dalam kamar mandi. Sebelum sempat Amora berontak, Bern sudah lebih dulu menurunkannya dari gendongan kemudian merobek bajunya dengan paksa. Amora syok, dia lalu menggunakan kedua tangannya untuk menutupi bagian dada yang terbuka.
“Aku tidak suka kotor. Jadi bersihkan tubuhmu dengan benar sebelum kau naik ke ranjangku. Sekarang Amora!” desak Bern masih berusaha menahan diri ketika dia melihat tubuh Amora yang hanya tinggal mengenakan pakaian d*lam. Sial, tubuhnya terbakar.
“T-Tuan, s-saya … saya ….
“Sekarang Amora!”
Dengan berderai airmata Amora pasrah berjalan ke bawah pancuran air shower untuk membersihkan tubuhnya. Dia berdiri membelakangi Bern, tak mau membiarkan Bern melihatnya menangis. Hancur, perasaan Amora sangat hancur. Mulai malam ini dia akan benar-benar menjadi boneka **** yang akan selalu melayani kebutuhan biologis Bern. Bukan salahnya Bern memang, tapi Amora kecewa. Dia kecewa karena ….
“Kau … kenapa harus datang ke rumah ini, Amora. Apa kau sengaja menyerahkan tubuhmu untuk kutiduri?” bisik Bern sembari mengalungkan kedua tangannya untuk mendekap tubuh kurus Amora dari belakang. Dia lalu mend**sah tertahan ketika miliknya bergesekan dengan bagian belakang tubuh Amora.
__ADS_1
“Tidak ada yang seperti itu, Tuan Muda. Saya datang kemari demi menyelamatkan kebahagiaan keluarga saya. Memang memalukan, tapi saya bisa apa. Biarlah kalau malam ini hidup saya akan benar-benar hancur, saya pasrah. Selagi anda bersedia untuk menolong Ayah, menjadi boneka mainan andapun saya rela,” sahut Amora kian terisak saat tangannya Bern mulai bergerak menyusuri tubuhnya. Amora berusaha untuk kuat meski pada kenyataannya dia sangat ingin bunuh diri sekarang.
“Maaf,”
Tubuh Amora menegang.
“Maaf karena aku tidak bisa mengendalikan n*fsuku. Aku bukanlah orang yang seperti sedang kau pikirkan sekarang. Tapi …,” Ucapan Bern terjeda. Nafasnya memburu dan desakan n*sunya kian menguat saat tangannya menemukan gundukan kenyal di dada Amora. Tak kuat menahan desakan tersebut, Bern dengan cepat memutar tubuh Amora agar menghadapnya. Setelah itu dia menangkup kedua pipi Amora kemudian menempelkan kening mereka. “Amora, ada yang salah dengan tubuhku. Tolong kau jangan salah paham terhadap apa yang akan terjadi nanti. Aku … aku benar-benar tidak tahu kenapa aku bisa seperti ini. Maaf.”
Amora mendengarkan dengan seksama kata demi kata yang keluar dari mulutnya Bern. Dia kemudian terpikir apa jangan-jangan ayahnya yang telah menyalahi Bern hingga membuatnya terbakar gairah seperti ini? Jika benar, maka Amora akan merasa sangat hancur. Dia hancur di tangan ayah kandungnya sendiri.
“Amora, aku … ini panas sekali. Aku tidak tahan, Amora. Aku butuh pelepasan.”
“A-apa yang harus saya lakukan, Tuan Muda? S-saya belum pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya. Saya tidak tahu,” sahut Amora ikut bingung melihat wajahnya Bern yang berubah menjadi sangat merah.
Tak mengindahkan perkataan Amora, Bern segera meraup bibirnya dengan cepat. Seperti orang kerasukan Bern menyesap bibir Amora tanpa jeda. Dia bahkan tidak peduli saat Amora tersengal karena tak bisa bernafas. Puas menikmati bibir Amora, Bern menyeret Amora keluar dari dalam kamar mandi kemudian membanting tubuh kurusnya di atas kasur.
“Maafkan aku, Amora. Tapi sekarang kau harus memuaskan aku. Maaf,” ucap Bern sesaat sebelum dia merangkak naik ke atas tubuh Amora yang sebenarnya sangat tidak menarik. Kurus, penuh luka, dan juga tidak berbodi. Namun Bern harus tetap menuntaskan hasratnya tak peduli meski saat ini Amora tengah menangis memohon agar dia melepaskannya.
Terlambat untukmu memohon, Amora. Maaf ….
***
__ADS_1