
📢📢📢 Bom komentarnya bestie 💜
***
"Tuan Muda, seseorang datang ingin bertemu dengan anda!"
Bern yang sedang sibuk dengan pekerjaannya langsung melihat ke arah penjaga yang baru saja datang melapor. Merasa tak memiliki janji dengan orang tersebut, Bern memutuskan untuk diam tak menanggapi. Dia memilih menyibukkan diri menggarap berkas-berkas yang bertumpuk di atas mejanya, mengabaikan penjaga yang masih berdiri dengan raut wajah kebingungan.
"Tuan Muda?"
"Hmm,"
"Tamu itu ....
"Biarkan saja," sela Bern dingin. "Katakan padanya jika ingin bertemu denganku maka dia perlu membuat janji terlebih dahulu. Aku sangat sibuk, jadi aku menolak bertemu seseorang yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan. Paham?"
"Baik, Tuan Muda. Kalau begitu saya permisi."
Setelah pamit penjaga itu bergegas keluar dari dalam ruangan yang entah kenapa terasa begitu dingin dan mencekam. Penjaga tersebut kemudian menemui tamu yang telah ditolak oleh Tuan Muda-nya.
"Tuan, maaf. Tuan Muda Bern menolak bertemu dengan anda. Beliau berpesan jika anda ingin bertamu, silahkan membuat janji terlebih dahulu. Jadwal beliau begitu padat, jadi tidak bisa sembarangan menemui orang."
Mendengar perkataan si penjaga membuat Kendra langsung mengepalkan kedua tangannya. Jika bukan karena mendesak, Kendra juga tidak akan sudi datang menemui pria arogan itu. Namun karena keadaannya sedang benar-benar terjepit, Kendra mencoba berbicara baik-baik dengan si penjaga agar bersedia mempertemukannya dengan Bern, pewaris Group Ma yang baru sebulan ini diresmikan statusnya oleh Tuan Gabrielle.
__ADS_1
"Penjaga, tolong bantu aku sekali ini saja. Tolong katakan pada Tuan Muda Bern kalau kedatanganku kemari menyangkut hidup dan mati keluargaku. Aku mohon tolong bantu aku. Karena hanya Tuan Muda Bern saja yang bisa membantuku menyelesaikan masalah ini. Tolong!" ucap Kendra menghiba.
"Tuan, saya hanya bisa membantu sebatas ini saja. Jadi maaf, silahkan pergi dari sini!" sahut si penjaga.
"Tapi ....
Dari kejauhan, ada sepasang mata yang diam-diam memperhatikan percakapan antara Kendra dan penjaga. Dan orang itu adalah Karl. Merasa ada yang tidak benar, Karl memutuskan untuk datang mendekat. Dia penasaran apa yang sedang dibicarakan oleh kedua orang ini.
"Penjaga, siapa Tuan ini?" tanya Karl dengan ramah. Dia kemudian tersenyum saat orang tersebut menatapnya.
Ah, kebetulan ada Tuan Muda Karl di sini. Sebaiknya aku meminta bantuan darinya saja.
"Tuan Muda, Tuan ini sebelumnya meminta agar dipertemukan dengan Tuan Muda Bern. Namun karena beliau belum membuat janji, Tuan Muda Bern menolak untuk bertemu. Dan sekarang Tuan ini mendesak saya agar membantunya masuk ke dalam, lalu saya menolaknya," jawab si penjaga dengan jujur. Dia mana berani mencari masalah dengan bosnya yang mengerikan itu. Terlalu mengancam keberlangsungan hidupnya, begitulah yang dipikirkan oleh si penjaga.
"Selamat datang di Group Ma, Tuan. Perkenalkan, namaku Karl, wakil direktur di perusahaan ini," ucap Karl dengan sopan memperkenalkan diri.
"Terima kasih, Tuan Muda Karl. Anda sungguh baik hati sekali," sahut Kendra dengan cepat langsung menyambut jabat tangan dari Karl. "Tuan Muda, perkenalkan. Saya Kendra, pemilik dari Airan Group. Maksud kedatangan saya kemari adalah ingin mengajukan kerjasama dengan Group Ma. Akan tetapi sepertinya saya telah melakukan kesalahan karena memaksa ingin bertemu dengan Tuan Muda Bern tanpa membuat janji terlebih dahulu dengan beliau. Hmmm, saya terlalu panik sampai-sampai melupakan sopan santun saat bertandang ke perusahaan orang lain!"
Karl diam menyimak penuturan tamu yang ternyata adalah pemilik Airan Group, salah satu perusahaan kosmetik terbesar yang ada di Shanghai. Setelah itu Karl melepaskan jabat tangan dengan Tuan Kendra, kemudian mengajaknya pergi ke ruangan pribadinya. Berbeda dengan kakaknya, Karl dikenal seribu kali lebih baik dalam memperlakukan para tamu seperti Tuan Kendra ini. Bukan maksud ingin menarik perhatian, hanya saja Karl merasa tak tega melihat ketidakberdayaan mereka. Jadi diam-diam Karl akan menampung para tamu yang sebelumnya ditolak oleh kakaknya kemudian membantu mereka membuka jalan agar bisa bekerja sama dengan Group Ma. Karl baik hati sekali bukan? Tentu saja. Dia bukan Bern yang dingin itu. Upssss, maaaf. Tolong rahasiakan hal ini dari beruang kutub itu ya?🤣
"Silahkan duduk, Tuan Kendra. Buat dirimu senyaman mungkin di ruangan ini. Jangan khawatir, kau bebas menceritakan apapun padaku!" ucap Karl mempersilahkan tamunya untuk duduk.
"Terima kasih banyak, Tuan Muda."
__ADS_1
"Jadi Tuan Kendra, kalau boleh tahu masalah apa yang sedang kau hadapi sampai kau begitu ingin bertemu dengan kakakku? Setahuku Airan Group adalah perusahaan besar, rasanya sedikit aneh melihatmu panik seperti ini," tanya Karl sembari meletakkan minuman ala kadarnya ke atas meja. Dia kemudian duduk sambil bersilang kaki, memperhatikan raut wajah Tuan Kendra yang terlihat buruk begitu dia menyingung tentang perusahaannya.
"Tuan Muda, memang benar kalau perusahaan saya adalah salah satu perusahaan yang cukup besar di negara kita. Akan tetapi besarnya perusahaan juga bisa melahirkan sekelompok bandit yang kejahatannya tak kalah besar dari perusahaan itu sendiri. Benar bukan?" jawab Kendra seraya menghela nafas kasar. Dia lalu mengusap wajahnya hingga memerah, membuat rasa frustasinya semakin jelas terlihat. "Salah satu orang kepercayaan di perusahaan saya berkhianat. Dia menyebarkan beberapa produk ke perusahaan lain yang kebetulan adalah pesaing terberat kami. Gara-gara pengkhianatannya itu, sekarang Airan Group merugi sampai di batas saya harus segera mendapatkan investor untuk menutup tuntutan mereka yang menuduh kalau kami telah menjiplak merk kosmetik yang akan segera mereka pasarkan.Karena sebelumnya saya tak pernah menyangka akan ada seekor tikus pengkhianat, saya tak sempat mengumpulkan bukti-bukti untuk menyangkal tuduhan tersebut. Dan saya ....
"Kalah dalam persidangan. Apa benar?" sela Karl langsung bisa menebak apa yang terjadi.
"Benar, Tuan Muda. Dan lusa adalah hari terakhir saya membayarkan denda yang di tuntut oleh mereka. Jika saya tidak segera membayarnya, mereka akan menutup paksa perusahaan kami sampai batas waktu yang tidak di tentukan. Sebab itulah saya sangat ingin bertemu dengan Tuan Muda Bern karena hanya Group Ma saja yang bisa menyelamatkan nasib perusahaan saya, Tuan Muda," sahut Kendra sambil tertunduk lesu.
"Hmmm, masalah yang kau hadapi cukup sulit, Tuan Kendra. Sebagai seorang pengusaha, harusnya kau itu tidak mempercayakan segalanya kepada orang lain. Rambut boleh sama hitamnya, tapi hati manusia siapalah yang tahu. Bukankah kau tahu sendiri kalau tidak ada satupun manusia yang tidak tergiur akan manisnya harta dan kemewahan? Lalu kenapa kau bisa begitu berani mempertaruhkan segalanya pada seseorang dengan kedok sebagai orang kepercayaan di Airan Group. Sikapmu ini sungguh sangat mengecewakan, Tuan Kendra. Sungguh!"
Karl diam sejenak untuk menimang keputusan apakah dia akan membantu Tuan Kendra menyelamatkan perusahaannya atau tidak. Dia perlu memperkirakan besarnya keuntungan yang akan diraih oleh Group Ma nanti.
Hmmm, aku rasa tidak ada salahnya jika aku membujuk Kak Bern untuk menyelamatkan Airan Group. Dan sebagai gantinya nanti, Group Ma akan meminta separuh saham milik Tuan Kendra. Dia seharusnya tidak menolak tawaran indah ini bukan? Ahayy, dengan begini aku bisa memiliki banyak alasan untuk mengundurkan diri dari perusahaan. Ah, aku benar-benar sangat merindukan labolatoriumku. Apa kabar mereka ya?
"Ekhmm, Tuan Kendra, begini saja. Masalah ini tidak bisa aku putuskan sendirian. Jadi untuk lebih jelasnya lagi nanti malam kau bisa datang ke alamat ini. Di sana nanti kita akan membahas secara terperinci bagaimana cara untuk meluluhkan hati kakakku. Bagaimana? Apa kau keberatan?" tanya Karl sambil menyodorkan alamat rumah pribadinya.
"Tentu saja tidak, Tuan Muda. Apapun akan saya lakukan agar Airan Group tidak gulung tikar," jawab Kendra dengan senang hati menerima tawaran baik tersebut.
"Baiklah. Kalau begitu kau bisa pergi!"
Kendra mengangguk. Dia kemudian berpamitan sebelum akhirnya melangkah keluar dari ruangan tersebut. Namun sebelum masuk ke dalam lift, Kendra masih sempat menatap lama ke arah ruangan milik Karl. Keningnya tampak mengerut.
Kenapa aku merasa ada yang salah dengan kebaikan Karl ya? Ah, masa bodo. Yang terpenting Airan Group selamat. Haha.
__ADS_1
***