Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Permintaan Russel


__ADS_3

"Apa kabar, Abigail?" tanya Liona seraya memeluk saudarinya yang baru saja datang dari Jepang.


"Kabarku sangat baik, Liona," jawab Abigail. Dia lalu mengurai pelukan. "Usia kita sudah senja, tapi kenapa kau masih terlihat sama seperti saat masih muda dulu? Aku penasaran resep apa yang sudah membuatmu jadi tetap awet muda begini,"


Liona tersenyum. Dia lalu mengajak Abigail untuk duduk di sofa, mengabaikan Greg yang tengah berdebat dengan Mattheo. Heran, sudah setua ini tapi Greg dan Mattheo masih saja bermusuhan. Padahal masing-masing dari mereka sudah mempunyai cucu, tapi tetap saja mereka memendam cemburu. Benar-benar sangat kelewatan sekali bukan?


"Kebahagiaan anak dan cucukulah yang telah membuatku awet muda. Apalagi memangnya?"


"Keposesifan Greg?" tanya Abigail.


"Itu yang paling utama," jawab Liona sembari melirik ke arah Greg. Dia lalu menghela nafas. "Greg, Mattheo. Apa setelah meninggal nanti arwah kalian pun akan tetap bermusuhan seperti sekarang? Jika iya, tolong jadikan aku dan Abigail sebagai wasitnya ya. Kami penasaran siapa di antara kalian yang akan menjadi pemenangnya. Sungguh!"


Gluuukkk


Bak kerbau yang di colok hidungnya, Greg dan Mattheo langsung diam begitu mendengar auman dingin dari wanita cantik yang kini tengah menatap mereka dengan sangat dingin. Setelah itu keduanya berjalan beriringan kemudian duduk di sebelah istri masing-masing. Takut, itu sudah pasti. Tapi lebih ke takut tidak di izinkan tidur di kamar sih. Hehehe.


"Kalian berdua itu kan sudah tua. Apa tidak malu bertengkar di hadapan Russel, hm?" tanya Liona mencecar suami dan sepupunya yang kini sama-sama tengah memperlihatkan wajah polos tanpa dosa.


"Tidak apa-apa, Nenek Liona. Aku malah senang melihat Kakek Greg dan Kakek Mattheo bertengkar seperti tadi. Serasa aku sedang menonton film action secara live," timpal Russel sambil tersenyum kecil. Sungguh lucu sekali setiap kedua kakek tampan ini bertemu. Selalu ada hal-hal konyol yang dilakukan oleh keduanya, membuat Russel merasa sangat gembira.


"Hei, bicara omong kosong apa kau, Russel. Laki-laki tua ini mana mungkin sanggup ku jadikan sebagai lawan pesaingku. Baru sekali pukul dia pasti akan langsung tumbang ke tanah. Percaya pada Kakek!" sahut Mattheo dengan begitu percaya diri menunjukkan jari ke arah Greg.


"Benarkah?" sahut Greg. Dia lalu menyeringai jahat. "Kalau memang aku selemah itu, tolong beritahu aku siapa yang pernah hampir menangis saat ku ajak berlari mengelilingi danau yang ada di belakang rumahku, hah?"


Mattheo langsung kicep. Dia tak bisa lagi berkata-kata setelah Greg membuka kartu asnya. Sementara Abigail dan Liona, kedua orang ini hanya menggelengkan kepala melihat suami mereka yang lagi-lagi berdebat.

__ADS_1


Ceklek


"Ayah!" panggil Russel. Dia lalu menatap sang ayah dengan raut wajah tak sabaran. "Ayah, bagaimana keadaan Flowrence? Dia baik-baik saja, kan?"


"Hmmmm, Flowrence bisa di anggap baik-baik saja dan tidak baik-baik saja," jawab Jackson sembari berjalan menuju sofa. Dia kemudian duduk bergabung bersama dengan yang lain. "Luka-luka di tubuhnya lumayan parah, bahkan beberapa di antaranya sampai mengenai titik syaraf. Namun karena Flowrence adalah gadis yang sangat kuat, dia tidak serewel pasien-pasien lain. Dan dia juga sempat melawak dengan menyebut kalau dirinya itu adalah mumi Mesir. Menggemaskan sekali bukan?"


"Ayah, tolong jangan bercanda. Flowrence baik-baik saja atau tidak? Jangan membuatku panik begini lah!" protes Russel tak puas mendengar jawaban dari sang ayah. Dia kemudian menoleh saat pintu kamar mandi terbuka. Ibunya muncul. "Ibu, tolong paksa Ayah bicara jujur padaku. Ayah memberikan jawaban yang tidak jelas tentang Flowrence!"


Kayo tersenyum. Dia lalu menatap Jackson, memberi tanda agar suaminya itu mendekat. Paham akan arti tatapan mata Kayo, Jackson pun segera berjalan mendekat kemudian memeluknya. Dia dan Kayo sama-sama terkekeh saat mendengar hembusan nafas Russel yang begitu kuat.


"Jangan membuat masalah. Segera beritahu putramu tentang keadaan Flowrence. Aku juga ingin mendengarnya, Jack," bisik Kayo.


Jackson mengangguk.


"Tidak ada yang perlu di khawatirkan dari keadaan Flowrence, Russ. Justru temannya lah yang seharusnya kau pikirkan. Sisil koma. Aliran darah ke otaknya tersumbat karena dia tergantung cukup lama. Sedangkan Flowrence, semua luka di tubuhnya akan segera sembuh seiring berjalannya waktu. Iya kan, Bibi Liona?"


"Baik, Nek," sahut Russel patuh. "Nenek Liona, bolehkah aku mengajukan satu permintaan padamu? Ini sangat penting, dan aku harap Nenek bisa mengabulkannya!"


"Kau menginginkan apa, hm? Selagi bisa, Nenek pasti akan memenuhi apa yang kau inginkan. Katakanlah!"


Sebelum bicara Russel menekan pinggiran kepalanya terlebih dahulu. Sedikit berdenyut, tapi dia masih bisa menahannya.


"Nenek, setelah Flowrence sembuh bisakah Nenek memindahkannya ke sekolah kami saja? Flowrence tidak aman bersekolah di sana, keamanannya sangat minim. Aku takut kejadian seperti ini bisa terulang lagi jika Flowrence jauh dari pantauan kami semua. Tolong biarkan Flowrence bersekolah di tempat kami ya. Aku mohon, Nek!"


Semua mata langsung menatap seksama ke arah Liona. Perihal anak-anak Gabrielle dan Elea yang terlahir dengan memangku karma buruk telah di ketahui oleh para orangtua. Dan tentu saja semua orang tahu alasan mengapa Flowrence di jauhkan dari kedua kakak kembarnya.

__ADS_1


Russel, Nenek sebenarnya juga merasa tidak tenang membiarkan Flowrence berada jauh dari kalian. Tapi akan sangat berbahaya untuk Flowrence jika dia sampai di satukan dengan Bern dan juga Karl. Alasannya adalah karena sampai detik ini tidak ada yang tahu siapa di antara mereka yang terlahir dengan karma mengerikan itu. Baik itu Bern maupun Karl, mereka berdua sangat pandai menutupi kelebihan masing-masing. Kemampuan Paman Gabrielle yang bisa membaca pikiran orang lain dan kemampuan Bibi Elea yang bisa melihat apa yang akan terjadi pada orang-orang di sekelilingnya, mustahil di antara mereka tidak ada yang menuruni kelebihan Paman dan Bibimu itu. Dan untuk Flowrence sendiri, dia yang paling lemah. Bahkan di usianya yang sudah lima belas tahu Flowrence masih bertingkah seperti anak sekolah dasar. Dengan keadaan Flowrence yang seperti itu mungkinkah untuk kita membiarkan Flowrence selalu berdekatan dengan dua orang yang bisa saja mengancam keselamatannya? Bahkan kecelakaan ini saja Nenek merasa curiga kalau ini adalah perbuatan dari salah satu kakaknya. Nenek takut Bern atau Karl sengaja ingin mencelakai Flowrence karena mereka tertarik pada aset-asetnya yang mulai bermunculan.


"Emm Russel, kau lapar tidak?" tanya Kayo langsung mengalihkan pembicaraan begitu sang ibu melirik ke arahnya. Dia tahu kalau pertanyaan Russel cukup sulit di jawab oleh Bibi Liona.


"Aku lapar. Tapi aku baru akan makan setelah Nenek Liona mengabulkan apa yang aku minta darinya," jawab Russel kekeh.


Dalam sekejap mata bulu kuduk Russel langsung berdiri semua saat Nenek Liona menatapnya dengan sangat tajam. Bodoh, dia benar-benar sangat bodoh. Seharusnya Russel ingat kalau Nenek Liona adalah manusia yang paling tidak bisa di ancam apalagi di intimidasi. Mati berdiri, itu hukuman untuk orang yang berani melakukannya.


"Bu, tolong suapi aku,"


"Baiklah. Ibu akan menyuapimu."


Dan keadaan pun menjadi sedikit mencekam saat Liona tiba-tiba pergi dari sana. Kali ini Greg tidak menyusulnya. Dia tahu Liona sedang butuh waktu untuk sendiri.


"Apa benar kecelakaan ini ada hubungannya dengan Karl dan Bern, Greg?" tanya Mattheo penasaran.


"Ini hanya kemungkinan saja, Matt. Karena dari yang Liona dengar, salah satu dari bajingan itu ada yang merintih sambil menyebut nama Tuan. Entah itu Tuan Muda Ma atau Tuan dari keluarga lain, yang jelas kecelakaan ini di sengaja. Itu poin pentingnya," jawab Greg seraya menghela nafas.


"Ck, bagaimana bisa mereka mampu berbuat kejam pada Flowrence yang bahkan tidak bisa menjawab ujian sekolahnya dengan benar. Apa seberbahaya itu Flowrence di mata mereka? Heran!"


"Hmmm, hanya Tuhan yang tahu, Matt. Di mata manusia, harta itu jauh lebih berharga bahkan dari nyawa saudara kandung mereka sendiri. Inilah hal yang paling membayangkan dilingkaran orang-orang seperti kita. Bukan orang luar yang menjadi lawan, tapi orang terdekatlah yang menjadi musuh dalam selimut!"


"Benar juga. Huffftt, kenapa rasanya jadi tegang begini ya!"


Greg menarik nafas. Dia lalu menatap lama ke arah pintu yang tadi dilewati oleh Liona.

__ADS_1


Jenderal Liang Zhu, mungkinkah karma ini datang dari masalalumu? Jika itu benar, pada siapa kau memilih di antara cucu-cucuku. Tolong berilah petunjuk agar tidak ada yang terluka di keluarga kami. Aku mohon ....


*******


__ADS_2