Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Baby Cio


__ADS_3

Bryan tersenyum senang ketika di beritahu pelayan kalau anak dan menantunya sudah datang ke rumah sakit. Dia yang saat itu tengah menggendong cucunya yang baru lahir segera menyerahkan bayi mungil tersebut pada Yura.


"Cio, sekarang kau ikut Nenekmu dulu ya. Kakek ingin menyambut kedatangan Paman dan Bibimu dulu. Jangan nakal, oke!" pamit Bryan.


"Kau ini, Bry. Cio inikan masih bayi, memangnya kenakalan seperti apa sih yang bisa dia lakukan. Ada-ada saja," protes Yura sembari menggelengkan kepala. Dia kemudian menahan tangan suaminya yang hendak pergi ke luar. "Bry, kira-kira Elea akan merasa sedih tidak ya setelah melihat cucu kita? Aku khawatir dia akan merasa tidak nyaman karena sampai sekarang Elea masih belum memiliki keturunan."


"Ibu benar, Ayah. Aku dari tadi juga terus memikirkan hal ini. Aku takut kehadiran Cio akan menbuat Elea bersedih," imbuh Patricia dengan raut wajah khawatir.


"Wahai para wanita yang aku sayang, jangan pernah berpikiran seperti itu tentang Elea. Karena apa? Karena dia adalah gadis yang sangat kuat. Kehadiran Cio di tengah-tengah keluarga kita tidak akan mungkin membuat Elea merasa sedih. Kalau tidak percaya, tunggu dan lihatlah bagaimana reaksinya nanti setelah bertemu Cio. Ayah berani jamin kalau pemikiran kalian salah besar," sahut Bryan santai.


Dan benar saja. Begitu Bryan selesai bicara, perempuan yang tengah mereka bicarakan masuk ke dalam ruangan. Junio yang saat itu sedang terlelap di sofa sampai terperanjat kaget gara-gara mendengar suara teriakan Elea yang lumayan memekakkan telinga.


"Halo bayi kecambah, apa kabar? Bibi datang membawakan segerobak pakaian bayi untukmu. Lihatlah!" teriak Elea sambil memperlihatkan segerombol paperbag yang dia tenteng di tangan kanan dan kirinya.


"Ck, dasar toa rusak. Bisa tidak kau jangan berteriak sekuat itu, Elea? Ini rumah sakit, bukan gang sempit yang bisa kau teriaki sesuka hati!" protes Junio sembari berdecak kesal.


Elea langsung menoleh ke arah sofa saat mendengar protes yang di layangkan oleh kakak iparnya. Bukannya marah, Elea malah balik membalas dengan melontarkan kata-kata yang membuat kakak iparnya ternganga tanpa mampu berkata-kata lagi.


"Mulut mulutku, kenapa kau yang repot, Paman Junio? Lagipula apa yang sedang kau lakukan di rumah sakit pagi-pagi begini. Apa Paman tidak merasa malu menjadi seorang pengangguran meskipun sudah mempunyai anak? Nanti kakak dan keponakanku akan di beri makan apa kalau di jam begini kau sudah bermalas-malasan? Contoh suamiku. Dia sudah rapi dengan setelan kerjanya. Tidak seperti Paman. Berantakan dan bau sepatu busuk. Iyuhhhh!" ledek Elea dengan sengaja.


Gabrielle yang di banggakan oleh Elea pun serasa terbang ke awang-awang. Dia dengan penuh bangga mencium puncak kepala Elea sebelum akhirnya menyapa kedua mertuanya.


"Selamat pagi, Ayah. Selamat pagi, Ibu. Dan Patricia, selamat atas gelar barumu sebagai Mommy. Semoga kau dan anakmu bisa segera pulang ke rumah ya."


Bryan dan Yura sama-sama menganggukkan kepala saat di sapa oleh menantu mereka. Sementara Patricia, ibu baru tersebut nampak tersenyum bahagia.


"Terima kasih banyak, Gabrielle. Oh ya, aku dan Junio menamai bayi kecambah kami Cio Morigan Stoller. Dan kalian bisa memanggilnya Cio," ucap Patricia penuh bangga.


"Cio? Wahhhh, namanya bagus sekali, Kak. Dimana kalian memungut nama itu?"


Pertanyaan Elea sukses membuat semua orang tercengang kaget. Bayangkan, nama Cio di ambil dari penggabungan nama Patricia dan Junio. Tapi perempuan ini dengan entengnya menanyakan darimana Patricia memungut nama tersebut. Kira-kira jika kalian berada di posisinya Patricia dan Junio, apa yang akan kalian lakukan pada Elea? Melakban mulutnya atau memilih untuk diam? Tolong di jawab ya di paragraf yang ini. 😁


"Gabrielle, sebelum datang kemari apa kau tidak mengajari istrimu agar tidak sembarangan bicara pada wanita yang baru saja melahirkan? Tahu tidak kalau setelah melahirkan, wanita itu mudah terserang sindrom baby blues dimana korbannya mengalami tekanan batin yang di akibatkan oleh perkataan orang yang menjenguknya? Dan apa tadi. Elea bahkan bertanya dimana kami memungut nama bayi kecambah kami? Astaga, urat leherku langsung menegang mendengarnya!" omel Junio sambil menatap sengit ke arah adik iparnya yang terlihat santai-santai saja tanpa merasa bersalah sedikit pun.

__ADS_1


"Justru akulah yang memintanya untuk berkata seperti itu dengan harapan agar kau yang terkena sindrom baby blues," jawab Gabrielle tanpa ragu. Sengaja dia menjawab seperti ini untuk membalas perbuatan Junio yang sudah berani mengganggunya dini hari tadi.


"Sialan kau!"


"Terima kasih untuk pujiannya."


"Yakkkk, kau sudah gila ya. Siapa yang memujimu?" teriak Junio dengan lubang hidung kembang kempis menahan kesal.


Bugghh


"Sebenarnya yang toa rusak itu kau apa Elea, Jun? Sudah tahu Cio sedang tidur, kenapa kau malah berteriak? Ingin membuatnya bangun dan menangis atau bagaimana, hah!" amuk Patricia setelah melemparkan bantal ke wajah suaminya.


"Sayang, kenapa kau marah padaku sih. Yang mulai duluan itu Gabrielle dan Elea. Harusnya kau marah pada mereka berdua, bukan padaku. Bagaimana sih!"


Gabrielle dan Elea begitu menikmati pertengkaran pasangan suami istri yang baru saja resmi menjadi orangtua dari Baby Cio. Setelah itu mereka datang mendekat ke arah bayi mungil yang tengah asik bergelung di pelukan neneknya.


"Halo Cio, ini Bibi Elea, sayang. Kau manis sekali," ucap Elea seraya membelai pipi Baby Cio dengan sangat hati-hati.


"Halo, jagoan. Segeralah tumbuh besar agar kau bisa membantu Mommy-mu menghajar Daddy-mu. Oke!" ucap Gabrielle berkelakar.


"Um Bu, apa tidak apa-apa kalau aku menggendong Cio?" tanya Elea meragu. Dia sebenarnya sangat ingin menggendong keponakannya ini, tapi Elea merasa takut.


"Tidak apa-apa, sayang. Nah, cobalah. Ibu akan memberikan arahan padamu," jawab Yura dengan sabar membantu Elea menggendong Cio dengan benar.


"Bu, apa Cio tidak memiliki tulang? Tubuhnya empuk sekali seperti marshmello."


Bola mata Junio hampir terbang keluar saat anaknya di katai mirip marshmello. Dan ketika dia hendak memarahi Elea, Junio sudah lebih dulu dibuat bungkam oleh kepalan tangan Patricia yang di tujukan ke arahnya. Jangan macam-macam, kurang lebih seperti itulah bunyi ancaman tanpa suara yang Junio terima dari istrinya. Kejam bukan? Tapi anehnya Junio langsung patuh tanpa melakukan perlawanan apa-apa.


"Tulang di tubuh Cio masih sangat lemah, Elea. Jadi kita harus sangat berhati-hati dalam menggendongnya agar dia tidak kesakitan," ucap Patricia menggantikan sang ibu untuk bicara.


"Oh, begitu ya, Kak. Aku pikir Cio tidak mempunyai tulang. Hmmm, syukurlah kalau tebakanku salah."


Setelah beberapa menit menemani Elea di rumah sakit, kini tiba giliran Gabrielle untuk pergi ke perusahaan. Siang ini dia memiliki jadwal pertemuan dengan Nona Altez untuk menyelesaikan pekerjaan mereka yang waktu itu sempat tertunda. Karena kebetulan hari ini Elea tidak mempunyai kelas, Gabrielle berniat meminta istrinya ini untuk datang ke perusahaan agar bertemu dengan ulat bulu yang coba-coba menempel kepadanya.

__ADS_1


"Ekhmmm sayang, sepertinya aku harus segera berangkat ke kantor. Kau tidak apa-apa kan kalau aku tinggal di sini?" tanya Gabrielle sembari mengelus puncak kepala Elea yang sedang fokus memandangi wajah tampan Baby Cio.


"Tidak apa-apa, Kak Iel. Tenang saja, Paman Junio tidak akan berani macam-macam padaku," jawab Elea sekenanya.


"Apa-apaan kau El ....


"Junio."


Junio langsung kicep begitu Patricia memicingkan mata ke arahnya. Dia kemudian membenamkan wajahnya ke atas bantal sambil bersungut-sungut.


Dasar perempuan nakal.


"Nanti siang jangan lupa datang ke kantor ya? Aku ingin mengajakmu makan siang bersama rekan bisnisku."


"Baiklah. Nanti Kakak mintalah Ares atau Paman penjaga untuk datang menjemputku di sini. Ya sudah sana berangkat. Hati-hati ya."


Cup


Seulas senyum semringah langsung muncul di bibir Gabrielle setelah dia mendapat pesangon dari Elea. Sayang Junio tidak melihat adegan romantis ini. Padahal Gabrielle berniat mengomporinya supaya kebakaran jenggot dan merasa iri gara-gara sudah berani membatin dengan menyebut kalau Elea adalah perempuan nakal.


"Ayah, Ibu, Patricia, aku pergi dulu ya. Tolong jaga istriku dengan baik, jangan sampai lecet. Aku pergi!" pamit Gabrielle kemudian melenggang keluar sambil terus mengulum senyum. (Harap maklum ya gengss, babang iel lagi kerasukan setan bucin 😈)


Sepeninggal Gabrielle dari ruangan tersebut, Bryan segera mendekat ke arah Elea kemudian mengelus puncak kepalanya. Dia sangat merindukan anaknya ini, dan perasaan rindu tersebut sudah Bryan tahan sejak tadi karena baru sekarang dia memiliki kesempatan untuk menyentuh anaknya. Biasalah, kalian tahu sendiri kan kalau Gabrielle mencemburui semua laki-laki yang ingin mendekati Elea? Bahkan ayah kandung Elea sekalipun. Tapi Bryan bersyukur karena itu tandanya Gabrielle begitu mencintai putrinya, tidak seperti dirinya dalam memperlakukan Sandara dulu.


Elea, Ayah sangat bahagia melihat cara Gabrielle mencintaimu. Dia berani menegaskan kepemilikannya di hadapan semua orang tanpa ragu. Tidak seperti Ayah yang hanya seorang pengecut.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


...πŸ€Jangan lupa vote, like dan comment...


...ya gengss...


...πŸ€Ig: rifani_nini...

__ADS_1


...πŸ€Fb: Rifani...


__ADS_2