
"Oh, kau di sini, Elea," tanya Levi begitu sampai di kediaman sang bibi. Dia lalu berjalan cepat ke arah teman kecilnya yang sedang duduk bersama Patricia.
"Apa kau berharap aku berada di Planet Mars, Kak?" sahut Elea balik bertanya.
Levi mendengus. Baru juga datang, tapi dia sudah di buat keki oleh kata-kata makhluk kecil ini. Setelah berhasil membujuk Reinhard agar tidak merajuk lagi, Levi pun bergegas datang kemari dengan di antar oleh calon suaminya itu. Dia ingin menjenguk Nyonya Wu yang di kabarkan sedang sakit. Siapa sangka kalau makhluk bernama Elea ternyata sudah ada di sini lebih dulu. Dan seperti biasa, begitu bertemu dengannya Levi langsung dibuat darah tinggi. Sia-sia sudah dia merasa khawatir. Karena sekarang yang perlu dia khawatirkan adalah tekanan darahnya, bukan si istri sah ini.
"Halo Levita. Apa kabar?" tanya Patricia menimbrung. Dia sudah tidak heran mendengar percakapan absurd kedua manusia ini.
"Aku sangat baik, Cia. Wooaahh, kapan perutmu akan meletus?" jawab Levi sambil menatap perut besar Patricia. Pikirannya mulai kotor saat membayangkan kalau dia juga akan mengalami nasib yang sama setelah di suntik oleh Reinhard nanti.
"Perutku ini bukan gunung, Levita. Sembarangan menyebut kapan akan meletus. Aku ini sedang mengandung bayi, bukan lahar panas. Ada-ada saja kau!"
Elea tertawa melihat Levi yang di marahi oleh sang kakak. Dia kemudian menarik tangan Levi agar duduk di sebelahnya lalu menyodorkan setoples cemilan buatan sang ibu.
"Coba cicipi cemilan buatan Ibu, Kak. Rasanya sangat enak seperti makanan surga."
"Cihh, macam pernah silaturahmi ke surga saja kau," sahut Levi asal. Ekor matanya melirik ke arah toples dimana ada cemilan yang berbentuk bunga matahari kecil. Lucu, juga menarik minatnya untuk segera icip-icip.
"Setahuku tiga hari lagi kau akan menikah dengan dokter Reinhard, Kak Levi. Tidak takut tubuhmu akan menggemuk jika memakan cemilan itu? Bagaimana kalau nanti gaun pengantinnya tidak muat lagi di tubuhmu? Kau tidak mungkin memakai karung goni saat akan naik ke altar pernikahan, bukan?" ucap Elea dengan sengaja mempermainkan keadaan.
Si bunga matahari kecil yang hampir masuk ke dalam mulutnya Levi akhirnya terselamatkan begitu Elea menyinggung tentang lemak. Levi menelan ludah antara ingin mengamuk, marah, dan juga menangis. Sungguh, Elea benar-benar sangat kejam. Setelah memamerkan cemilan yang sangat menggugah selera, dia dengan entengnya berkata kalau tubuhnya bisa menggemuk jika memakan cemilan tersebut.
"Patricia, bolehkah aku menggeprek kepala adikmu ini? Woaahh, dia benar-benar sangat pandai memainkan emosiku!" geram Levi dengan dada bergerak naik turun dengan cepat. Levi kesal setengah mati sekarang.
"Geprek saja, aku tidak keberatan. Tapi setelah itu bersiaplah untuk menerima serangan balik yang kemungkinan besar akan langsung membuat tekanan darahmu naik setinggi mungkin. Aku mengatakan hal ini karena pernah melihat Junio menjadi korban!" jawab Patricia jujur.
__ADS_1
"Hah? Junio juga pernah menjadi korbannya Elea?"
"Sering malah. Kenapa?"
"Sekelas Junio juga bisa di permainkan oleh anak ini?" pekik Levi sambil menoel daun telinga Elea. Sulit di percaya.
"Bisalah. Bibi Liona dan Paman Greg saja juga sering menjadi korbannya Elea. Memangnya kau lupa ya kalau mulut temanmu ini tidak punya rem? Sampai sekarang aku bahkan belum pernah melihat ada orang yang berhasil selamat dari kejahatannya!" sahut Patricia tanpa ragu berkata seperti itu di hadapan orangnya langsung.
Sementara itu orang yang sedang di gibahkan hanya duduk santai sambil menikmati cemilan. Biar saja, Elea tidak peduli meskipun kejelekannya di bongkar secara nyata dan transparan. Toh memang benar kalau selama ini belum ada orang yang mampu menyaingi ketengilannya. Eh, tunggu dulu. Nania, ya Nania. Gadis belia itu adalah satu-satunya orang yang mampu mengimbangi ketajaman lidah Elea. Dan sepertinya kedua wanita ini tidak menyadari keahlian adiknya Lusi itu.
Aman-aman. Hehe...
"Haiisshh, membicarakan perempuan nakal ini hanya akan membuat darahku naik perlahan-lahan. Sudahlah, aku mau pergi menjenguk Nyonya Wu dulu. Aku dengar dari karyawan butik kalau dia sedang tidak sehat. Apa benar?" tanya Levi memilih untuk mengakhiri pembahasan tentang Elea. Dia mulai was-was melihat Elea yang hanya senyum-senyum tidak jelas saat dia menggosipkannya dengan Patricia. Levi takut akan di kerjai.
"Grandma masih tidur, Kak Levi. Jangan mengganggunya dulu. Dia sedang butuh banyak istirahat sekarang," sahut Elea lirih.
"Jangan khawatir. Grandma-mu pasti akan segera sembuh. Mungkin dia hanya kelelahan setelah menggelar acara besar kemarin."
"Mungkin, Kak."
Patricia mengelus perut besarnya sambil memperhatikan Levi yang begitu peduli akan perasaan adiknya. Orang-orang yang berada di sekeliling adiknya adalah orang-orang yang baik dan hangat. Dia jadi tidak perlu mengkhawatirkan apapun lagi karena kebahagiaan dan keselamatan adiknya pasti sudah sangat terjamin. Patricia bukannya tidak bisa merasakan kalau Elea sebenarnya sedang menutupi sesuatu. Namun Patricia memilih diam karena tak ingin membuatnya merasa tak nyaman. Lebih baik dia menemani Elea untuk mengobrol dengan harapan bisa memberi sedikit ketenangan di hatinya.
"Em, dimana Cira? Tumben sekali tidak kelihatan batang hidungnya di sini?" tanya Levi sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling rumah.
"Kak Cira sedang hamil muda, Kak. Dia selalu muntah, jadi tidak di izinkan datang kemari oleh Grandma. Ternyata Ares tokcer juga ya, Kak?" jawab Elea yang kembali memasang wajah ceria.
__ADS_1
"Keren juga ya si Ares. Kira-kira nanti aku akan langsung hamil tidak ya setelah Reinhard mengajakku bereproduksi? Kalau iya, pasti akan sangat seru nanti. Aku akan mengajak anaknya Cira dan Patricia untuk adu mekanik dengan anakku. Kita lihat anak siapa yang akan menjadi kepala gengsternya!" ucap Levi sambil tersenyum semringah.
"Yang benar saja, Lev. Masa iya kau ingin mengajak anak kita adu mekanik? Kau ingin mereka babak belur atau bagaimana?" protes Patricia tak terima. Enak saja. Susah payah dia mengandung malah anaknya ingin di ajak baku hantam. Otaknya Levi sudah konslet sepertinya.
"Hei, kalau anak kita laki-laki, dia harus pandai berkelahi, Cia. Dunia ini tidak hanya memerlukan uang, mawas diri jauh lebih penting karena menghadapi psikopat tidak butuh dollar. Bela diri, balapan mobil, otak jenius, kaya raya, tampan. Semua hal ini sangat di perlukan untuk masa depan anak kita. Karena apa? Karena sekarang dunia semakin maju. Kita harus pandai-pandai mendidik anak agar nantinya mereka bisa mandiri ketika sudah dewasa. Tidak mungkin kan mereka akan selalu berlindung di bawah ketiak kita? Suatu saat nanti mereka pasti akan memilih jalan mereka sendiri. Jadi tugas kita sebagai orangtua adalah mendidik dan membimbingnya agar mereka bisa tumbuh menjadi pria-pria panas yang membanggakan!" jelas Levi menyampaikan motto seorang ibu. π
"Kalau anak kita perempuan?"
"Sama saja. Tidak ada beda antara anak laki-laki dan perempuan. Status mereka sama, jadi kita harus seimbang, jangan sampai pilih kasih. Menjadi perempuan pun perlu untuk mawas diri, Cia. Memangnya kau tidak pernah membaca ya kalau kejahatan di dunia ini sangat di dominasi oleh kaum pria. Kalau perlu aku malah berencana ingin menjadikan putriku sebagai master bela diri agar tidak ada laki-laki yang bisa bersikap semena-mena terhadapnya. Begitu!"
"Wahh, tumben sekali kata-katamu masuk di akal, Kak Levi. Biasanya kan kau hanya memikirkan uang dan bagaimana cara untuk menguras harta suamiku saja. Keren!" puji Elea sambil mengacungkan dua jempol ke arah Levi.
"Kau sedang memujiku atau mengejekku, Elea?" tanya Levi dengan hidung kembang kempis.
"Dua-duanya, Kak," jawab Elea jujur. "Ada orang yang bilang ... kalau bisa dua, kenapa harus satu? Dan tadi aku mengikuti kata-kata orang itu, Kak. Baguskan?"
Pias. Begitulah kondisi wajah Levi setelah mendengar jawaban jujur Elea. Dia lalu memainkan bunga matahari kecil yang masih ada di tangannya.
Makan tidak ya? Kalaupun di makan nanti berat badanku naik. Tapi kalau tidak di makan nanti air liurku akan semakin banyak keluar. Arrggghh, semua ini gara-gara Elea. Dasar makhluk nakal.
πππππππππππππππππ
...πJangan lupa vote, like, dan comment...
...ya gengss...
__ADS_1
...πIg: rifani_nini...
...πFb: Rifani...