
Elea tersenyum manis melihat suaminya yang tengah berdiri syok seperti sedang melihat hantu. Lucu tapi juga sangat menyenangkan. Elea sangat puas melihat reaksi Gabrielle begitu melihat penampilannya sekarang.
"Sayang, apa kau suka?" tanya Elea dengan nada suara yang di buat seseksi mungkin.
"Ini ....
Gabrielle gerah. Di hadapannya sekarang Elea tengah berdiri dengan memakai gaun putih transparan yang memperlihatkan lekuk tubuhnya dengan sangat jelas. Bahkan warna dari pakaian d*lam yang di kenakannya tercetak dengan sangat nyata yang mana membuat otak mesum Gabrielle jadi melanglang buana. Jangan lupakan juga dengan rambut panjang Elea yang di biarkan tergerai, membuat penampilan istrinya seakan memaksa lahar panas di tubuh Gabrielle agar segera di keluarkan.
"Sayang, kenapa kau memakai pakaian berbahaya seperti ini? Kau ... kau tidak lupa kan kalau kita sedang berpuasa?" tanya Gabrielle sambil menelan ludah. Otak warasnya masih sanggup bekerja untuk mengingatkan jika Elea masih belum bisa di sentuh meski dia sendiri hampir mati karena menahan birahi.
"Aku cantik tidak, Kak?" tanya Elea sambil berjalan mendekat ke arah suaminya. Tanpa ba-bi-bu lagi, Elea langsung mencium kilat bibir suaminya yang terkatup rapat karena menahan gairah. "Suka tidak?"
"Suka. Aku tentu saja sangat suka dengan penampilanmu malam ini, sayang. Sungguh!" jawab Gabrielle dengan mata yang mulai berkunang-kunang. Belutnya sedang mengamuk di bawah sana, membuat Gabrielle jadi bermandikan keringat dan ingin segera menyentuh benda-benda kenyal yang sengaja di tempelkan Elea ke dadanya. Dia sesak nafas, juga sesak di bagian celana.
Astaga, ini cobaan, ini cobaan. Arghhhh, bagaimana ini. Juniorku sudah tidak bisa di ajak bekerja sama lagi. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Elea, kau membuatku gila, sayang. Aku tidak sanggup menahannya lagi. Arrgghhhh
"Sayang, ganti bajumu sekarang ya. Kalau kau terus memakai pakaian seperti ini, aku takut aku tidak kuat menahan diri lagi. Kau ... benar-benar sangat menggoda. Aku ingin memasukimu sekarang juga," bisik Gabrielle dengan suara yang sarat akan n*fsu.
"Kalau begitu masukkan saja, Kak. Tidak ada yang melarang," sahut Elea sambil menjinjitkan kaki agar wajahnya sejajar dengan telinga suaminya. "Kak Jackson bilang aku sudah boleh melayanimu, Kak. Kau bisa memilikiku sepenuhnya malam ini. Jadi jangan di tahan, keluarkan. Karena aku juga sudah tidak tahan lagi ingin segera merasakan milikmu di dalamku."
Gluuukk
Untuk sesaat Gabrielle kebingungan mencerna ucapan Elea. Namun sedetik kemudian dia langsung tersadar kalau istrinya ini sudah sembuh. Dengan raut wajah yang tidak menentu Gabrielle menangkup kedua pipi Elea lalu menatapnya dalam. Jantungnya sampai berdetak dengan sangat kencang.
"Jadi malam ini kita boleh bercinta seperti dulu?"
"Iya, sayang. Malam ini kita akan berbuka puasa. Apa kau senang?" jawab Elea mesra saat memanggil suaminya dengan sebutan sayang.
"Benar tidak apa-apa? Aku ...
__ADS_1
Cupp
Elea langsung mencium bibir Gabrielle untuk membungkam kata-katanya. Dia tersenyum saat suaminya ini langsung merespon ciumannya dengan sangat ganas. Entah siapa yang memulai, satu-persatu pakaian mereka mulai terlepas dari tubuh. Dan posisi mereka saat ini masih berada di depan pintu.
"Sayang, aku ... aku ....
Kepala Gabrielle benar-benar sangat pusing dan berat. Dia butuh pelepasan detik ini juga. Dengan nafas terengah-engah Gabrielle menciumi seluruh bagian wajah Elea. Lidahnya kemudian turun ke lehernya yang putih, kemudian turun lagi ke arah tulang selangkanya. Gabrielle menggila, jauh lebih gila dari malam-malam sebelumnya. Bayangkan, hampir satu tahun lamanya Gabrielle dan juniornya merasa tersiksa. Dan malam ini, tiba-tiba saja Elea memberitahukan kalau mereka sudah di izinkan untuk bercinta. Sungguh, kabar gembira ini membuat Gabrielle sangat speechless. Dalam balutan gelora yang begitu membuncah, Gabrielle terkenang dengan ucapan Nun yang memintanya untuk menarik nafas dalam-dalam sebelum masuk ke dalam kamar. Mungkinkah ini adalah maksud dari ucapannya itu? Jika benar, besok pagi Gabrielle akan datang memeluknya untuk mengucapkan terima kasih karena secara tidak langsung Nun dan para pelayan telah membantu Elea menyiapkan kejutan. Sangat manis bukan?
"Lakukan saja, Kak. Aku sudah sangat lama merindukan malam-malam panas seperti sekarang. Aku menginginkannya," ucap Elea sambil menggigit bibir bawahnya saat mulut Gabrielle bertengger di dadanya. Dia memekik kaget saat suaminya ini tiba-tiba menghisapnya cukup kuat.
"Maaf, sayang. Aku terlalu gemas sampai kesulitan mengontrol diri. Maaf ya," ucap Gabrielle merasa bersalah.
"Tidak apa-apa, Kak Iel. Aku paham kok," sahut Elea sambil tersenyum manis. Setelah itu satu tangannya bergerak menelusuri deretan roti sobek di perut suaminya. Lalu turun lagi ke bawah dan blusshhh, pipi Elea langsung merona begitu tangannya menemukan satu benda yang dulu selalu membuatnya mend*sah hampir di sepanjang malam. "Dia sudah bangun, Kak. Keras sekali."
Suara Elea terdengar tidak terlalu jelas di telinga Gabrielle karena sekarang dia tengah memejamkan mata sambil merintih pelan saat tangan Elea bergerak lembut di bawah sana. Jangan tanya betapa melayangnya perasaan Gabrielle sekarang. Ruhnya seperti sedang berkeliaran di dalam surga ketika benda pembawa kenikmatan itu tidak berhenti di sentuh. Mungkin karena terlalu lama mati suri, junior Gabrielle tidak mampu bertahan lama lagi. Tapi dia tidak ingin selesai begitu saja. Gabrielle kemudian melepaskan tangan Elea dari bawah sana kemudian mengangkat tubuhnya dengan tidak sabaran.
"Kita selesaikan di ranjang saja ya, sayang. Kita sudah sama-sama menderita, jadi aku tidak mau hanya aku saja yang di puaskan. Apa sekarang kau siap ke menu utamanya?" tanya Gabrielle setelah membaringkan tubuh Elea ke atas kasur. Dia lalu mendekatkan bibirnya ke bibir Elea yang terlihat ranum dengan sedikit polesan lipbalm di sana.
"Tubuhmu sangat wangi, sayang. Kau benar-benar mempersiapkan diri dengan sangat baik. Aku suka!" puji Gabrielle ketika membaui aroma tubuh Elea. Pikirannya sampai melayang saking terpesonanya dia.
"Ini semua berkat Kak Levi, Kak. Dia yang meminta para karyawan salon untuk memberikan perawatan terbaik agar hasilnya bisa membuatmu merasa puas. Nanti kita harus mem ... awwhhh Kak, pelan-pelan. Tidak akan yang merebutku darimu. Nikmati perlahan, oke?" ucap Elea sambil memekik kaget saat suaminya tiba-tiba membuat kissmark di bagian atas pusarnya.
Gabrielle tak menggubris. Pikirannya sudah di penuhi n*fsu yang membuncah saat mengabsen setiap bagian tubuh istrinya. Sebenarnya Gabrielle sudah sangat tidak kuat menahan diri untuk tidak segera memasuki milik Elea, tapi dia masih berusaha untuk menahannya karena tak rela membiarkan setiap senti dari maha karya ini lolos dari sentuhannya. Gabrielle menggila, dia sudah tidak bisa berpikir waras lagi setiap kali mendengar suara d*sahan dan erangan yang keluar dari bibir Elea.
"Kak Iel, aku ....
"Lepaskan, sayang. Jangan di tahan, biarkan semuanya keluar agar kau merasa puas. Lepas ya? Sebut namaku!" ucap Gabrielle saat menyadari kalau Elea sudah berada di puncaknya.
Dan benar saja. Begitu Gabrielle selesai bicara, Elea langsung memekik panjang sambil meneriakan namanya. Wajahnya terlihat begitu eksotis saat badai kenikmatan itu menerjang tubuhnya. Elea lemas, dia kemudian tersenyum saat wajah suaminya berada tepat di depan wajahnya.
__ADS_1
"Kau cantik sekali. Aku suka."
"Terima kasih banyak atas sentuhan yang kau berikan, Kak. Sekarang bisakah aku merasakan kenikmatan yang sesungguhnya? Aku menginginkanmu, Kak Iel. Bisa?"
Tanpa menjawab rengekan Elea, Gabrielle kembali melakukan tugasnya dengan mengajak Elea berselancar menikmati badai besar yang sudah menunggu mereka. Keduanya terus bergerak, tapi masih dalam batas wajar karena bagaimana pun Gabrielle masih sadar jika Elea tidak boleh di buat terlalu kelelahan dulu.
Di dalam kamar yang begitu terang Gabrielle dan Elea sama-sama berlomba untuk mencapai pelepasan. Keduanya terlihat begitu bersemangat dalam menumpahkan segala rasa yang hampir setahun ini mereka pendam. Hingga pada akhirnya Gabrielle dan Elea sama-sama terkulai lemas setelah menemukan titik dari segala rasa yang ada.
"Terima kasih untuk malam ini, sayang. Aku mencintaimu," bisik Gabrielle kemudian mencium kening Elea lama. Dia kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka yang polos tanpa selembar kain pun.
"Aku juga mencintaimu, Kak. Terima kasih juga untuk malam ini. Aku suka," sahut Elea dengan mata yang mulai mengantuk. Dia lalu masuk ke dalam pelukan Gabrielle.
"Tidurlah. Nanti biar aku saja yang membersihkan tubuhmu. Maaf ya jika tadi aku sedikit tidak sabaran. Kau terlalu menggoda iman."
"Hehehe. Apa kau suka?"
"Aku bahkan hampir gila karenanya. Sekarang tidur ya? Besok pagi kita harus bangun awal untuk bersiap menghadiri acara pemberkatan pernikahan Levi dan Reinhard. Dia bisa membunuhku kalau kita sampai terlambat datang ke sana."
"Iya, Kak."
Tak sampai satu menit, Elea sudah langsung terlelap dalam pelukan suaminya. Selain karena kelelahan, juga karena hatinya yang merasa begitu tenang setelah menyelesaikan tugasnya sebagai seorang istri. Kini harapan Elea tinggal satu, yaitu bisa secepatnya melahirkan keturunan untuk suaminya. Dia sudah tidak sabar menanti kehadiran baby Bern, baby Karl dan juga baby Flow. Tiga serangkai yang akan membuat rumah tangganya bersama Gabrielle menjadi semakin lengkap.
πππππ
πππππππππππππππππ
...πJangan lupa vote, like, dan comment...
...ya gengss...
__ADS_1
...πIg: rifani_nini...
...πFb: Rifani...