Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Balas Budi Turun-Temurun


__ADS_3

"Nyonya, saya mohon pulanglah ke rumah. Kasihan Tuan Muda, keadaannya sangat kacau sekarang!"


Saat ini Ares tengah membujuk nyonyanya agar bersedia untuk pulang bersamanya. Dia tak mau mengambil resiko akan di pisahkan dengan istrinya jika hari ini gagal membawa sang nyonya kembali ke pelukan Tuan Muda-nya.


"Kenapa bukan Kak Iel langsung yang datang membujukku, Res? Kau itukan suami orang, aku tidak berna*su padamu," sahut Elea seraya memperlihatkan tatapan polosnya saat berbicara.


Liona, Greg, Levi dan juga Reinhard sama-sama menarik nafas berat mendengar perkataan Elea. Sungguh, perempuan satu ini benar-benar sangat pandai mempermainkan emosi manusia lain. Bagaimana mungkin Gabrielle berani datang membujuknya saat dia sendiri mengancam akan kabur ke Planet Mars jika Gabrielle sampai menyusul kemari. Dan sekarang dengan entengnya Elea malah bertanya kenapa bukan Gabrielle saja yang datang menjemput. Sangat membagongkan sekali bukan?


"Nyonya, Tuan Muda mengutus saya kemari karena beliau menghargai ancaman yang Nyonya sampaikan. Bukankah Nyonya sendiri yang mengatakan kalau Nyonya akan pergi ke Planet Mars jika Tuan Muda sampai berani datang menyusul ke tempat ini?" tanya Ares dengan sabar menjelaskan alasan kenapa dia yang datang.


Ya Tuhan, mau sampai kapan aku terlibat permainan kedua orang ini? Yang satunya mudah emosi, yang satunya lagi mudah lupa. Lama-lama aku bisa masuk rumah sakit jiwa akhirnya.


"Memangnya kapan aku pernah bicara seperti itu, Ares? Seingatku yang menelfon kan Ibu Liona, tapi kenapa aku yang di salahkan?"


Begitu namanya di sebut, Liona langsung merasa gusar. Kali ini dia pasti akan kena getahnya lagi.


"Elea, memang benar Ibu yang berkata seperti itu. Tapi itu atas kehendakmu sendiri, bukan Ibu yang memutuskan!" ucap Liona berusaha membela diri.


"Jadi aku yang salah ya, Bu?"


Hening. Tidak ada yang tahu jawaban seperti apa yang cocok untuk di ucapkan. Levi yang sejak tadi hanya diam mendengarkan segera berinisiatif untuk menolong Ares dan ibunya Gabrielle. Dia memikirkan cara membujuk Elea agar mau pergi dari sini. Selain demi kelangsungan hidupnya Gabrielle dan Ares, juga agar Levi bisa menikmati bulan madunya bersama Reinhard dengan penuh suka cita. akebersamaan mereka pasti akan terganggu jika ulat bulu ini masih tetap berada di Pulau Maldives. Bisa tertunda nanti acara membuat adonan kuping anak mereka. Kan sayang.


"Ekhmm Elea, aku rasa sebaiknya kau pulang saja bersama Ares. Kasihan Gabrielle, dia pasti sedang meratapi nasib di rumah kalian."


Elea menoleh. Dia menatap penuh curiga ke arah Levi yang bicara dengan nada lembut. Tidak biasanya pelakor ini bicara lembek, pasti ada sesuatu yang sedang dia rencanakan.


"Kenapa menatapku?" tanya Levi gugup. Dia takut niatnya ketahuan oleh makhluk kecil ini.


"Kak Levi, kau sebenarnya ada di pihakku apa di pihaknya Ares sih? Kenapa aku merasa kalau tadi itu kau sedang mengusirku agar segera pergi dari tempat ini. Kenapa? Apa kau takut aku akan ikut bergabung membuat adonan bersama kalian?" tanya Elea penasaran.

__ADS_1


Greg sampai terbatuk-batuk mendengar pertanyaan frontal yang keluar dari mulut menantunya. Dia kemudian menoleh, menatap penuh memelas ke arah istrinya yang juga sedang syok.


"Aku rasa Elea sebaiknya tetap berada di sisi Gabrielle saja, Hon. Kalau dia tetap berada di sini, aku khawatir Levi dan Reinhard meninggal cepat gara-gara kesal pada menantu kita. Dia tidak boleh di biarkan jauh dari pawangnya," bisik Greg.


"Apa kau tahu cara untuk membujuknya?" tanya Liona.


"Tidak."


"Lalu?"


"Entahlah. Otakku buntu, Hon. Akan selalu seperti ini setiap kali berurusan dengan Elea. Jangan-jangan Tuhan sengaja menghadirkan Elea sebagai bentuk karma nyata untuk membalas kekejaman yang pernah kita lakukan dulu. Makanya kita berdua selalu di siksa olehnya."


Liona menghela nafas dalam. Dia tidak tahu harus berkata apa dalam menyikapi dugaan konyol suaminya. Tak mau membuat masalah semakin panjang, Liona pun berusaha membujuk Elea. Sudah cukup dia dibuat ketar-ketir oleh menantunya sejak datang ke pulau ini. Kini sudah tiba waktunya untuk mereka kembali ke asal.


"Elea, Ares benar. Kita sebaiknya kembali saja di rumah. Ibu lupa meminta penjaga menyiapkan makanan untuk Lan. Kasihan dia, nanti kurus."


"Res, apa kau ingin mati?" tanya Levita. Dia menjambak rambutnya sendiri saking stres memikirkan kelakuan Elea.


"Aku sudah lama mati sejak Tuan Muda tergila-gila pada Nyonya Elea," jawab Ares jujur.


"Sekali lagi mungkin?"


"Maaf, Nona Levita. Kematianku masih ada banyak kesempatan karena setelah tiba di rumah, aku masih akan menghadapi kegilaan yang jauh lebih ekstrim di bandingkan dengan apa yang baru saja terjadi. Lima hari lagi di kampus Nyonya Elea ada lomba karya desain. Dan aku rasa aku akan kembali merasakan kematian jika karya Nyonya Elea sampai tidak menang. Kau tahu sendiri bukan betapa Tuan Muda sangat membucin pada istrinya? Di mata Tuan Muda hanya Nyonya saja yang boleh menjadi pemenang. Karena itulah aku menolak ajakanmu untuk mati sekarang. Tunggu lima hari lagi saja!"


Setelah berkata seperti itu Ares bergegas lari keluar menyusul rombongan sang nyonya. Dia tak mempedulikan ekpresi syok di wajah pengantin baru yang bulan madunya hampir saja terganggu.


"Rein, apa kau merasakan hal yang sama sepertiku? Ares ... kenapa aku merasa kalau otaknya ikut geser seperti kedua tuannya? Apa ini terjadi karena dia terkontaminasi virus gila yang di idap oleh Gabrielle dan Elea?" tanya Levi frustasi.


"Aku rasa iya, sayang. Ares itu kan selalu berada di sekitar mereka. Wajar kalau otaknya ikut menjadi gila karena bagaimana pun dia selalu menjadi saksi hidup kebucinan Gabrielle dan Elea. Tahu sendiri kan kalau mereka mengumbar kemesraan tanpa memandang tempat? Atau bisa juga Ares menjadi seperti itu karena sudah terlanjur depresi selalu di jadikan kambing hitam oleh Gabrielle. Miris ya?" jawab Reinhard.

__ADS_1


"Hahhhh, kegilaan mereka benar-benar tidak ada obat. Tapi tanpa mereka, aku yang bisa gila. Gabrielle dan Elea sudah seperti paket lengkap di hidupku. Aku bahagia berada di tengah-tengah ketidakwarasan mereka."


"Kau benar, sayang. Tanpa adanya mereka kita pasti tida akan bisa seperti sekarang. Sepertinya Tuhan sudah menarik alur cerita agar kita semua saling bergantungan pada Elea. Tanpa kita sadari, dialah yang menjadi benang dari semua kebahagiaan ini. Benar kan?"


Levi mengangguk setuju. Dia kemudian menggenggam tangan Reinhard dengan erat.


"Rein, aku ingin mempunyai anak laki-laki agar nantinya bisa melindungi anak Elea. Anggaplah ini sebagai balas budi turun-temurun supaya kisah kita tak lekang oleh waktu," ucap Levita penuh haru.


"Apapun jenis kelaminnya aku tidak masalah, sayang. Mau itu laki-laki atau perempuan, aku pastikan mereka akan bersahabat dekat dengan anaknya Gabrielle dan Elea. Aku janji," sahut Reinhard kemudian mencium kening Levi penuh sayang. "Malam ini kita ....


"Libur dulu ya, Rein. Itu ... milikku masih sakit. Aku takut nanti malah robek kalau milikmu di paksakan masuk," sela Levi malu-malu. Pikirannya sedikit terhasut perkataan Elea yang menyebut kalau milik Reinhard masih tertinggal separuh di dalam miliknya.


Paham kalau istrinya masih merasa sakit, Reinhard pun berusaha untuk maklum. Dia mengangguk, setuju kalau malam ini mereka akan libur dulu membuat adonan.


Kenapa istriku lucu sekali ya. Aku kan jadi gemas....


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


GENGSSS... JANGAN LUPA MAMPIR KE LAPAKNYA GERALD YA. ADA GIVEAWAY JUGA LHO...



...πŸ€Jangan lupa vote, like dan comment...


...ya gengss...


...πŸ€Ig: rifani_nini...


...πŸ€Fb: Rifani...

__ADS_1


__ADS_2