
"APAAAA??? Jadi pria tengik itu sengaja membiarkan pelakor lain dekat-dekat dengannya, iya?" teriak Levita murka.
Dengan tampang yang begitu menyedihkan, Elea menganggukkan kepala saat Levi bertanya seperti itu kepadanya. Ya, Elea benar-benar pergi menemui pelakor ini setelah menyelesaikan makan siangnya bersama Gabrielle. Dia butuh perlindungan, juga karena Elea tidak rela Levi hanya bermalas-malasan tanpa melakukan apapun setelah menjadi istrinya dokter Reinhard. Dia sangat baik hati bukan?
"Iya, Kak Levi. Bahkan Kak Iel diam saja saat aku sedang memperjuangkan posisimu di hadapan Nona Altez."
Sriiinggggg
Levita langsung melayangkan tatapan tajam pada pria tengik yang sedang duduk di sebelah Reinhard. Sungguh, di hari pertamanya menjadi seorang istri, Levita harus di hadapkan pada satu cobaan berat yang bisa mengancam posisinya sebagai seorang pelakor terhormat. Dan lagi, raut wajah Gabrielle sama sekali tidak menunjukkan raut penyesalan setelah membuat dia dan Elea terluka seperti ini. Benar-benar kurang ajar.
"Ck, tidak perlu memelototiku sampai seperti itu, Levita. Aku membiarkan Altez berada dekat denganku bukan tanpa alasan yang pasti!" ucap Gabrielle sambil berdecak jengah saat Levita terus menatapnya.
Gabrielle memaksa untuk mengantarkan Elea datang kemari karena tidak mau di amuk oleh pelakor ini jika tahu mengenai permasalahan antara Elea dengan Altez. Juga karena sangat takut Elea tidak akan memberikan jatah untuknya malam ini. Definisi suami takut istri ya kawan-kawan? π
"Alasan kau bilang? Hei kau pria tengik, apa kau lupa kalau satu-satunya pelakor yang boleh muncul dalam rumah tangga kalian hanyalah aku seorang. Jadi apapun alasanmu, aku tetap tidak terima jika sampai ada wanita lain yang berani mengusik ATM berjalanku. Benar tidak, Elea?" amuk Levi dengan mata berapi-api. Dia sangat tidak terima dengan hal ini.
"Benar sekali, Kak Levi. Kau tahu tidak, Kak. Ukuran dada Nona Altez sangat besar seperti buah melon yang mau meledak. Aku rasa alasan inilah yang membuat Kak Iel berubah menjadi laki-laki gatal. Dia sengaja membiarkan wanita itu muncul karena ukuran dada kita yang kecil seperti buah kelapa bantat!" sahut Elea menambahkan bensin ke dalam api di diri Levita agar semakin membesar.
Untuk beberapa saat Levita sempat bleng setelah mendengar perkataan Elea. Dia kemudian menunduk, melihat ke arah gundukan dadanya yang ternyata memang tidak terlalu besar.
Masa iya Gabrielle tega berpaling pada wanita lain hanya gara-gara dada Elea yang tidak sebesar buah melon? Kalau benar iya, berarti ada kemungkinan juga kalau Reinhard akan melakukan hal yang sama suatu hari nanti. Wahhh, ini gawat. Apa aku ajak Elea saja ya untuk melakukan operasi p*yudara agar suami-suami kami betah di rumah?
Andai saja Reinhard bisa mendengar isi pikiran orang lain seperti Gabrielle, Gabrielle yakin sekali kalau dokter ini akan jatuh pingsan karena syok mendengar pemikiran Levita yang ingin mengajak Elea untuk operasi p*yudara. Gila, pelakor satu ini benar-benar sangat gila. Bisa-bisanya Levita terfikir untuk melakukan hal semacam itu hanya karena mendengar aduan Elea yang menyebut kalau ukuran dada mereka hanya sebesar buah kelapa bantat. Padahal ya, di dada kelapa bantat itulah Gabrielle paling merasa nyaman dan suka berlama-lama main di sana. Tapi ya sudahlah, memang siapa sih yang mampu menandingi pemikiran nyeleneh seorang Eleanor Ma? Lebih baik Gabrielle diam saja daripada nanti dia benar-benar tidak mendapat jatah. Kan kasihan juniornya.
"Ah, entah itu melon ataupun kelapa bantat, aku tidak peduli. Intinya aku tidak terima kalau sampai ada pelakor lain yang ingin menggeser posisiku!" ucap Levita.
"Gabrielle, Elea, Levita, sebenarnya kalian bertiga ini sedang meributkan apa sih? Pelakor, buah melon, kelapa bantat, semua ini apa, hah? Bisa tidak kalian bicara menggunakan bahasa manusia yang mudah di pahami oleh orang lain?" keluh Reinhard sambil memijit pinggiran kepalanya. Dia sudah sangat stress sejak tadi karena mendengarkan percakapan tidak jelas dari ketiga orang tersebut.
"Tidak bisa!" sahut tiga serangkai berbarengan.
Reinhard menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya perlahan. Rasa sakit di kepalanya kian bertambah, apalagi setelah semalam dia gagal mendapat pelepasan. Membuat Reinhard serasa ingin menguburkan diri di dalam perut bumi detik ini juga.
"Em Gabrielle, ngomong-ngomong Altez itu siapa? Dan bagaimana bisa dia masuk ke ruangan dan bermesraan denganmu?" tanya Levita penuh nada menyelidik.
__ADS_1
"Dia datang dari kota lain untuk menjalin kerjasama dengan perusahaan. Dan dia bisa masuk ke ruanganku karena memang sengaja aku yang mengundang. Jadi ....
"Kau dengar sendiri kan, Kak Levi. Kak Iel sangat gatal, dia bahkan mengakui kalau kedatangan bibit pelakor itu dia sendiri yang mengundang. Wahhh, kali ini posisimu benar-benar tidak baik, Kak. Kau kalah saing dari Nona Altez!" sela Elea kian bersemangat mengompori Levita. Dia suka keributan, hahahaa.
"Sayang, bukan begitu juga maksud perkataanku barusan!" sahut Gabrielle hampir putus asa. Dia kemudian berjalan mendekat ke arah Elea guna untuk membujuknya.
Levi yang melihat kedatangan Gabrielle segera pasang badan saat pria tengik tersebut berniat mendekati teman kecilnya. Dia berdiri, kemudian menyilangkan kedua tangan di depan dada.
"Menyingkirlah. Jangan ikut campur," ucap Gabrielle berusaha sabar menghadapi ulah kedua wanita ini.
"Aku memang sudah sewajarnya ikut campur, Gabrielle. Lupa ya siapa aku di dalam hubungan kalian?" sahut Levita.
"Sudah aku katakan kalau aku memiliki alasan tersendiri mengenai wanita itu. Tolong kau jangan menambahkan api dalam hubunganku dengan Elea, Levita. Sekarang kau menyingkir, jangan menghalangi jalan untukku menjemput Elea. Awas!"
"Tidak mau. Katakan dengan jelas dulu apa alasanmu melakukan semua itu. Baru aku akan membiarkan kau mendekati Elea. Titik!"
Saat Reinhard sedang sakit kepala mendengar pertengkaran antara sahabat dan istrinya, dia tidak sengaja melihat ke arah Elea yang seperti sedang menahan tawa. Mendadak jantungnya berdebar dengan sangat kuat. Bagaimana tidak? Reinhard baru sadar kalau pertengkaran antara Gabrielle dengan istrinya ternyata di jadikan sebuah penghiburan untuk wanita nakal itu.
Gabrielle, istrimu benar-benar sangat keterlaluan. Dia begitu menikmati pertengkaran antara kau dengan Levita. Ckck.
"Hehehehee," ....
"Sayang, jadi kau mengerjai aku dan wanita bar-bar ini?" tanya Gabrielle tak percaya.
Kening Levita mengerut. Dia kemudian berbalik badan dan ikut menatap teman kecilnya yang sedang tersenyum tanpa dosa.
"Iya, Kak. Aku sengaja mengadu domba kalian agar Kak Levi punya pekerjaan setelah menikah. Juga ingin memberimu pelajaran karena sudah membawa wanita gatal masuk ke dalam ruanganmu. Atau anggap saja kalau ini adalah peran simbiosis mutualisme. Sama-sama membutuhkan!" jawab Elea dengan santai.
"Simbiosis mutualisme?" tanya Gabrielle dan Levita serempak.
Elea mengangguk.
"Begini, biar aku jelaskan satu persatu pada kalian berdua ya. Pertama, Kak Levi membutuhkan harta kekayaan kita, jadi aku membutuhkan tenaga dan emosinya untuk menjatuhkan ulat bulu yang mengancam kesejahteraan rumah tangga kita. Kedua, Kak Iel membutuhkan aku, jadi aku perlu bantuan Kak Levi untuk menyeimbangkan keutuhan rumah tangga kita. Dan yang ketiga, kalian berdua sama-sama membutuhkan aku demi kebahagiaan bersama. Begitu!"
__ADS_1
Krik krik krikkk
Reinhard, Gabrielle, dan Levita sampai ternganga tak percaya begitu mendengar penjelasan tak masuk akal yang keluar dari mulutnya Elea. Levita yang kebetulan sedang dalam masa palang merah langsung tersulut api hingga membuat emosinya meledak. Tanpa memikirkan keberadaan Gabrielle, dia dengan jengkel menabok bokong Elea hingga beberapa kali.
"Levita, kau gila ya. Bagaimana kalau bokong Elea sampai rusak?" teriak Gabrielle tak terima.
"Biar saja, aku tidak peduli. Lagipula bokong istrimu ini bukan terbuat dari silikon, jadi mustahil untuk rusak!" sahut Levita sengit. Dia lalu menjewer telinga Elea kemudian membawanya keluar dari rumah.
"Mau kau bawa pergi kemana istriku, Levita!"
"Aku akan membawanya pergi menemui Altez. Urusan kami belum selesai, kau diam saja di rumah bersama Reinhard. Ini masalah antar sesama pelakor, jadi kau jangan cerewet!"
Dan setelah berkata seperti itu, Levita dan Elea berjalan masuk ke dalam mobil. Dia lalu memerintahkan seseorang untuk mencaritahu dimana ulat bulu itu menginap. Setelahnya Levita menatap tajam ke arah makhluk kecil yang terus tersenyum tanpa merasa bersalah sama sekali.
"Hehehe."
"Jangan tertawa, atau kurobek mulutmu sekarang juga."
"Hehehe," ....
"ELEA!"
"Iya-iya, Kak. Galak sekali sih," sahut Elea mengalah. Akhirnya pelakor ini berangkat bertempur juga.
Ya Tuhan, ini adalah hari pertama aku menjadi seorang istri. Kenapa kau malah memberiku cobaan yang begitu menguras emosi? Tuhan, kenapa kau bisa menciptakan makhluk setengil Elea? Dan kenapa juga kau malah membuatku begitu menyayanginya? Apakah ini adalah kutukan? Jika iya, tolong hentikan. Lama-lama kesabaranku bisa habiskan gara-gara ulah monyet lucu ini. Tolong aku, Tuhan. Please ....
πππππππππππππππππ
...πJangan lupa vote, like dan comment...
...ya gengss...
...πIg: rifani_nini...
__ADS_1
...πFb: Rifani...