Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Kartu Hitam


__ADS_3


📢 Jangan lupa bom komentarnya ya bestie. Jangan lupa juga akhir bulan ini akan ada penentuan pemenang giveaway di novel MY DESTINY ( CLARA & ELAND)


🎗🎗🎗🎗🎗🎗🎗


"Flow, nanti kau ikut pergi bersama kami 'kan?"


"Tentu saja. Kau jadi ulang tahun hari ini 'kan?" jawab Flow kemudian balik melempar pertanyaan pada Sisil, temannya yang akan berulang tahun.


Sisil berdecak. Dia lalu bersedekap tangan sambil menatap si pendek yang tengah asik mengguntingi ulat daun yang ada di dalam pot bunga. Flowrence, entah apa arti dari nama ini. Bisa-bisanya orangtuanya Flow melahirkan gadis sebodoh dia. Bayangkan saja, sudah dua kali anak ini tidak naik kelas. Tapi anehnya guru-guru di sekolah ini sama sekali tak pernah memperlakukan Flow dengan sinis. Dan dari desas-desus yang Sisil dengar, kabarnya dulu pernah ada seorang guru yang kesal pada Flow kemudian tidak sengaja mencubit lengannya hingga lebam. Lalu di keesokan harinya, guru tersebut tiba-tiba hilang tak ada kabar. Guru itu bagai di telan bumi, lenyap hanya dalam hitungan jam setelah para murid pulang ke rumah masing-masing. Aneh bukan? Tentu saja. Dan hal ini membuat Sisil merasa penasaran siapa sebenarnya gadis bantat ini. Apalagi Flow seringkali membual kalau dia itu memiliki kakak laki-laki yang sangat tampan dan juga rumah besar.


Ah, masa iya sih Flow mempunyai saudara dengan paras tampan. Sementara dia sendiri tampangnya begitu mengenaskan. Meragukan.


Meski sedikit ragu, Sisil akhirnya tetap menanyakan hal tersebut kepada Flow. Dia harus meyakinkan diri bahwa apa yang di katakan oleh Flow tidaklah benar. Gadis pendek ini pasti bicara bohong.


"Flow, memang benar ya kau mempunyai seorang kakak yang tampan?" tanya Sisil penuh selidik.


Kening Flow langsung mengerut saat di tanya seperti itu oleh Sisil. Dia kemudian berdiri, membiarkan ulat gendut yang belum terpotong terus menggeliat-geliat di ujung gunting.


"Siapa yang bilang kakakku cuma seorang? Kakak laki-lakiku ada tujuh, Sisil. Kalau satu bukan kakakku berarti," jawab Flow menjelaskan yang sebenarnya. Kurang ajar sekali temannya yang bilang seperti itu. Kalau ke enam saudaranya menangis karena tidak di anggap bagaimana, kan nanti Flow yang susah.


"Tujuh? Banyak sekali!" sahut Sisil kaget.


"Mana ada banyak. Menurutku itu malah masih kurang, Sil. Apa kau mau menjadi kakakku yang ke nomor delapan?"


Sisil tergelak. Yang benar saja dia diminta untuk menjadi kakak dari manusia yang umurnya dua tahun lebih tua darinya. Sepertinya gosip yang mengatakan kalau Flow sedikit kurang waras itu memang benar adanya. Haih.

__ADS_1


"Mau tidak, Sil? Kau pasti akan sangat senang jika menjadi kakakku," tanya Flow memastikan.


"Hih, apa enaknya menjadi kakak dari gadis miskin sepertimu, Flow. Kalau kau kaya dan memiliki rumah yang bagus, mungkin aku akan berubah pikiran," jawab Sisil. Semua orang di sekolah tahu kalau Flowrence adalah anak dari keluarga miskin. Buktinya berangkat sekolah saja Flow jalan kaki dan tak pernah jelas menyebutkan alamat rumahnya ketika di tanya.


Pernah suatu kali Sisil membujuk Flow agar memberitahu di mana dia tinggal. Dan apa kalian tahu apa yang Flow katakan? Dengan percaya dirinya Flow menunjuk satu rumah megah yang mana di tinggali oleh keluarga Tuan Gabrielle Ma dan Nyonya Eleanor Young. Lalu setelah itu Flow juga mengatakan kalau nenek dan kakeknya bermarga Ma. Bayangkan, ini adalah satu kemustahilan yang paling tidak masuk akal dari segala tingkah dan ucapan seorang Flowrence. Masa iya anggota keluarga Ma berbentuk aneh seperti Flow dan bersekolah di sekolah buangan? Itu sangat tidak mungkin sekali bukan? Karena jengkel merasa di kerjai, waktu itu Sisil dengan sengaja meminta sopirnya untuk menurunkan Flowrence di pinggir jalan saja. Biar saja, siapa suruh mengaku-ngaku rumah orang sebagai rumahnya.


"Rumahku sangat besar, Sil. Aku juga punya teman imut, namanya Tola. Tubuhnya besar dan bulunya halus sekali,"


"Ah, aku tidak percaya. Kali ini kau pasti berhalusinasi lagi 'kan?"


"Tidak. Aku tidak begitu,"


"Kalau memang tidak, sekarang beritahu aku siapa nama ayah dan ibumu. Dan tolong kau jangan menyebut Tuan Gabrielle dan Nyonya Elea sebagai nama dari orangtuamu ya?" ancam Sisil.


Flow terdiam. Dia lalu menatap langit, bingung karena memang itulah nama dari ayah dan ibunya.


"Em, Sisil. Bagaimana kalau kita membicarakan tentang kakakku saja? Mereka itu sangat tampan dan banyak uang lho," ucap Flow memilih untuk tak lagi membahas tentang nama orangtua. Dia bingung harus berkata apa.


"Aku tidak akan pernah percaya pada ucapanmu, Flow," sahut Sisil malas.


"Kenapa tidak percaya?"


"Karena orang jelek dan miskin sepertimu tidak mungkin mempunyai kakak yang tampan dan banyak uang."


"Jelek dan miskin?"


Flow lagi-lagi menatap langit. Di rumahnya ada banyak sekali mobil mewah dan juga bibi pelayan. Belum lagi dengan kolam renang besar dan juga surga dunia tempat para bidadari berkumpul. Apa benar yang seperti itu masih di anggap miskin? Lalu yang kaya bagaimana? Flow jadi bingung.

__ADS_1


"Flow, kalau tidak begini saja. Bagaimana kalau kita taruhan untuk membuktikan apakah benar kakakmu tampan dan banyak uang. Jika aku kalah, aku akan memberikan semua uang jajanku untukmu. Tapi jika kau kalah, maka kau harus mau menjadi pelayanku selama satu minggu. Berani tidak kau?" tanya Sisil sambil tersenyum penuh maksud.


"Taruhan?" beo Flow. "Tapi aku tidak punya uang."


"Apa? Kau tidak punya uang?" kaget Sisil. Luar biasa, di zaman seperti sekarang bagaimana bisa Flow tidak punya uang?


Flowrence mengangguk. "Aku juga tidak tahu seperti apa bentuk uang."


"A-APA?"


Mata Sisil sampai melotot besar sekali saat Flow memberitahunya kalau dia sama sekali tidak tahu seperti apa bentuk uang. Semiskin itukah gadis pendek ini? Miris.


"Aku bisa gila kalau bicara lama-lama denganmu. Sudahlah, aku pergi saja," ucap Sisil yang akhirnya menyerah bicara dengan Flow. Dia merasa derajatnya turun drastis setelah mengobrol dengan gadis miskin ini.


Sepeninggal Sisil, Flow diam melamun sambil memilin ulat gendut yang masih terjepit di ujung gunting. Memang benar kalau selama ini Flow belum pernah sekalipun melihat seperti apa bentuk uang. Kenapa bisa begitu? Karena semua yang Flow beli selalu di bayarkan oleh kakak-kakaknya, termasuk juga dengan uang jajannya di sekolah. Flow bebas memakan dan membeli apapun di warung ibu kantin tanpa harus repot-repot membawa uang. Jadi wajar saja kan kalau dia tidak tahu?


"Kak Oli punya uang tidak ya?" gumam Flowrence. Dia kemudian membungkuk, menurunkan sebelah kaus kakinya lalu mengambil kartu hitam yang terselip di sana. "Ayah Jackson bilang kartu ini bisa membeli apapun yang aku mau. Apa jangan-jangan ini yang di sebut uang? Tapi kenapa pedagang balon itu bilang kalau kartu ini tidak bisa untuk membeli balon-balonnya? Aneh. Ternyata uang sangatlah misterius!"


Setelah berkata seperti itu Flow memutuskan untuk membuang kartu hitam tersebut. Dia merasa kartu itu tidak ada gunanya karena tidak bisa di pakai untuk membayar balon. Tak lama kemudian lonceng sekolah berbunyi, yang mana membuat Flow langsung berlari masuk ke dalam ruangan yang paling dekat dengan posisinya berada sekarang. Namun baru sedetik Flow masuk ke sana, dia sudah berlari keluar. Flow salah tempat karena yang tadi dia masuki bukan ruang kelasnya, melainkan ruangan kepala sekolah.


"Nyonya, Nona Muda baru saja masuk ke dalam kelas. Nona juga membuang kartu hitam pemberian Tuan Jackson," lapor tukang kebun pada seseorang.


"Ya ampun anak itu. Tolong kau ambil lagi kartu hitamnya ya, Paman. Flow mungkin belum paham kalau kartu itu bisa dia gunakan untuk mentraktir teman sekelasnya membeli mobil. Lucunya,"


"Baik, Nyonya Elea. Kalau begitu saya matikan dulu panggilannya,"


"Baiklah,"

__ADS_1


******


__ADS_2