
"Sayang, kau baik-baik saja kan?" tanya Gabrielle lirih sembari menatap cemas ke arah istrinya yang baru membuka mata.
"Kak Iel,"....
Elea tersentak. Segera dia duduk kemudian melihat ke arah kamar neneknya. Di saat genting begini bagaimana bisa dirinya tertidur? Memalukan sekali.
"Grandmamu masih belum sadar, sayang. Tapi dokter bilang keadaannya sudah tidak segawat tadi siang," ucap Liona yang tanggap akan apa yang sedang di pikirkan oleh menantunya.
"Benarkah?" tanya Elea.
Liona mengangguk.
"Ibu Liona, kemana perginya semua orang? Kak Levi dan dokter Reinhard, mereka ada di mana?" tanya Elea sambil menatap ke sekeliling ruangan.
"Mereka sudah kembali ke rumah, sayang. Besok malam adalah resepsi pernikahan Levita dan Reinhard, mereka berdua harus beristirahat untuk menjaga stamina. Iya kan, Gab?"
"Iya, Ibu," sahut Gabrielle. "Sayang, kau jangan berkecil hati. Mereka sebenarnya tidak mau pulang, tapi aku ya memaksa karena bagaimana pun mereka membutuhkan waktu untuk berdua. Kau tidak marah kan?"
"Tidak kok, Kak. Malah bagus kalau Kak Levi dan dokter Reinhard pulang ke rumah."
Gabrielle dan ibunya sama-sama mengerutkan kening melihat respon Elea yang begitu tenang. Namun di balik ketenangan itu, mereka seperti merasa ada yang mengganjal dari kata-kata malah bagus pulang ke rumah. Mungkinkah Elea ....
"Sayang sekali Kak Levi sedang PMS. Kalau tidak, hari ini dia pasti tidak akan bisa berkeliaran bersamaku di luar rumah. Tahu tidak, Kak. Saat Kak Levi bertengkar dengan Nona Altez, dia terlihat seperti dewi perang yang sangat mengerikan. Aku berani jamin dokter Reinhard pasti akan lanjut menjadi korban dari naik turunnya mood dia. Hehehe," ucap Elea sambil mengusap dagu.
"Maksudnya bagaimana, sayang? Aku tidak mengerti," tanya Gabrielle bingung.
Bukannya menjawab, Elea malah bangkit berdiri kemudian berjalan ke arah kamar neneknya. Dia berdiri lama di depan kamar tersebut tanpa melakukan apa-apa, yang mana membuat Gabrielle dan ibunya merasa sangat heran.
"Gab, Ibu rasa Elea sedang gundah. Raganya mungkin ada di sini, tapi pikirannya sedang melayang kemana-mana. Ibu khawatir ini adalah bentuk dari rasa depresi yang dia pendam."
"Ibu benar. Aku juga sedang memikirkan hal yang sama. Aku harus bagaimana ya, Bu? Apa yang harus aku lakukan untuk menghibur Elea?"
"Ajak dia masuk menemui Nyonya Clarissa. Kalau Elea menolak, bawa saja pulang ke rumah Ibu. Mungkin Lan bisa sedikit membantu menenangkan hati Elea," ucap Liona pelan.
__ADS_1
"Apa ini akan membantu, Bu?" tanya Gabrielle ragu.
"Kita tidak akan tahu kalau tidak mencobanya sendiri, Gabrielle. Sudah sana."
"Baiklah."
Dengan segera Gabrielle menghampiri Elea yang masih diam mematung di depan pintu kamar nenek mereka. Gabrielle kemudian memeluk bahu Elea dengan sangat hati-hati. Dia tidak mau membuat istrinya yang sedang melamun menjadi kaget karena sentuhannya.
"Sayang, apa kau ingin masuk ke dalam untuk melihat Grandma?" tanya Gabrielle.
"Tidak, Kak. Aku tidak berani. Aku takut melihat wajah Grandma yang pucat," jawab Elea dengan suara tercekat.
Elea menoleh. Dia menatap seksama ke wajah suaminya yang terlihat cemas. Sadar kalau sikapnya membuat orang lain menjadi khawatir, Elea berusaha untuk menampilkan sedikit senyum. Dia berjinjit, mencium pipi suaminya kilat sebelum akhirnya masuk ke dalam pelukannya yang selalu nyaman.
"Aku tahu ini takdir, Kak. Dan aku akan berusaha untuk siap menerima apapun kenyataannya nanti. Selama Kakak ada bersamaku, aku yakin semuanya pasti akan baik-baik saja. Benar kan?"
Gabrielle yang tadinya merasa cemas langsung meleleh seketika saat mendengar ucapan Elea. Bahagia, itu sudah pasti. Laki-laki mana yang tidak bangga jika keberadaannya begitu di hargai oleh orang yang mereka sayang. Terlebih lagi yang mengatakannya adalah istri sendiri. Jadi wajar sekali bukan kalau Gabrielle merasa seperti ini? ( Harap maklum gais. Tuan Muda kita adalah golongan bucin yang tidak punya obat. Dia tidak sadar kalau dirinya terlihat seperti orang gila karena tidak berhenti tersenyum. 😁)
"Kak Iel, bagaimana kalau sekarang kita membuat adonan saja? Sepertinya itu akan terasa enak," ucap Elea yang tiba-tiba berpikir mesum.
"Haduh, Kak Iel ini bagaimana sih. Biasanya kan Kakak yang paling semangat jika mengenai hal-hal mesum seperti ini. Kenapa sekarang Kak Iel malah kebingungan sih?" sahut Elea sambil terkekeh lucu. Kali ini senyumnya tidak di paksakan seperti tadi. Elea mencoba untuk berdamai dengan ketakutannya.
"Aku kaget, sayang. Tadi itu kan kau sedang dalam suasana hati yang muram, lalu tiba-tiba kau mengajak untuk membuat adonan. Otakku sampai tidak bisa berfikir jernih tadi. Sungguh."
"Lalu sekarang pikiran Kakak sudah jernih belum?"
"Sudah."
"Ayo kita pergi. Aku pernah mendengar kalau mengajak suami untuk bercinta lebih dulu akan di berikan pahala yang sangat besar oleh Tuhan. Dan jika hal tersebut memang benar, aku ingin menggunakan pahalanya untuk bertukar sedikit keajaiban dengan Tuhan. Aku tahu kalau semua yang hidup pasti akan mati, termasuk juga Grandma Clarissa. Tapi aku sangat berharap kalau Grandma baru akan pergi dengan membawa kabar membahagiakan dariku, Kak. Aku ingin dia tetap bertahan sampai aku hamil. Makanya sekarang aku ingin memanen pahala dengan mengajak Kak Iel bercinta setiap hari agar aku bisa membujuk Tuhan untuk memberikan kesempatan pada Grandma agar tetap hidup. Tidak apa-apa kan?"
Jangankan Gabrielle, Liona yang mendengar tujuan gila Elea saja sampai terbengang-bengang tak percaya. Coba kalian pikirkan, bagaimana mungkin seorang manusia ingin menukarkan nasib dari manusia lain pada Sang Pencipta. Ini sangat mustahil bukan? Dan seperti biasa, pemikiran nyeleneh seperti ini hanya bisa muncul di kepala seorang wanita mungil yang bernama Elea.
"Ibu Liona, yang aku katakan barusan benar kan?" tanya Elea sambil menatap lekat ke arah ibu mertuanya.
__ADS_1
"Ha?"
Bayangkan, seorang Liona Serra sampai tidak bisa berkata apa-apa karena ulah kelakuan menantunya sendiri. Sungguh beruntungnya Greg yang saat itu tidak ada di sana. Dia jadi terselamatkan dari tampang bodoh yang kini menghiasi wajah cantik Liona.
"Sayang, apa kau sungguh-sungguh ingin mengajakku bercinta setiap hari?" tanya Gabrielle sambil menelan ludah.
Jackpot. Luar biasa. Kabar ini merupakan kabar yang sangat menggembirakan untuk Gabrielle. Karena apa? Karena dia akan di suguhkan dengan keindahan membuai yang datang dari candunya. Siapalah yang tidak akan bersemangat jika di tawari adegan yang selalu berakhir dengan tubuh penuh keringat. Ayolah kawan, Gabrielle adalah pria yang sangat normal. Saat ini di kepalanya sudah terbayang berbagai macam pose panas yang kemungkinan akan dia gunakan seluruhnya jika memang benar Elea ingin bercinta dengannya setiap hari. Ah, hanya membayangkannya saja sudah membuat junior Gabrielle menegang. Apalagi jika benar-benar terjadi. Gabrielle pasti akan menjadi pria yang paling bahagia di dunia ini. Hehehe.
"Tentu saja aku sungguh-sungguh, Kak Iel. Kenapa memangnya? Apa Kakak tidak sanggup untuk melakukannya? Lemah sekali."
Liona langsung terbatuk saat putranya di katai lemah oleh menantunya. Elea belum tahu saja kalau Gabrielle itu memiliki gen keturunan dari seorang pria yang staminanya seperti kuda liar jika sedang berada di atas tubuhnya. Jadi sangat mustahil kalau Gabrielle lemah, apalagi butut. Liona sangat yakin kalau Elea-lah yang akan k.o lebih dulu jika putranya sudah tekan gas.
Astaga, kenapa aku jadi berpikir mesum begini sih.
"Ekhmmm sayang, bagaimana kalau kita pulang ke rumah saja? Di sini kita tidak bebas, nanti ada yang mengganggu saat kita sedang berdua!" ucap Gabrielle sambil menahan tawa setelah mendengar isi pikiran sang ibu.
"Baiklah. Ayo!" sahut Elea tanpa ragu.
"Bu, aku dan Elea pulang dulu ya. Tolong katakan pada Ayah kalau kami ingin bekerja keras untuk mendamaikan keadaan," pamit Gabrielle tak sabar.
"Pergilah. Hati-hati."
"Iya, Ibu Liona. Kami pulang dulu ya," imbuh Elea ikut berpamitan.
Liona mengangguk. Dia terus menatap punggung kedua anaknya yang sedang berjalan keluar. Lucu aneh, tak habis pikir, semua perasaan itu bercampur menjadi satu di pikiran Liona.
Sementara itu di luar rumah, Gabrielle yang memilih untuk menyetir mobilnya sendiri hampir mati jantungan saat Elea mengatakan sesuatu yang sangat vulgar. Keningnya sampai berkeringat karena membayangkan sensasi kenikmatan dari apa yang di ucapkan oleh Elea barusan.
"Kak Iel, bagaimana kalau kita mencobanya di dalam mobil saja. Kalau di dalam kamar kan semua sudut sudah pernah kita coba. Mau tidak mencoba gaya baru dengan suasana yang baru juga? Siapa tahu itu bisa membuat adonan kita cepat jadi. Bagaimana, mau tidak?"
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Untuk pasutri, bercinta terkadang bisa menjadi obat paling mujarab lho. Ingat ya, hanya untuk pasutri. Bagi yang belum menikah, diminta untuk segera menggelar resepsi karena sebentar lagi kita akan memasuki daerah rawan 21+. Harap bijak dalam membaca ya gengss 😁
__ADS_1
Maaf ya cuma up satu bab, lagi jalan-jalan ke rumah sodara soalnya. Gpp kan gengss 🙏🙏🙏