
Ares dengan sangat hati-hati membantu Cira keluar dari dalam mobil. Saat ini dirinya sudah tiba di gereja, tempat dimana acara pemberkatan pernikahan pasangan Levita Foster dan Reinhard akan di gelar. Meski awalnya Ares kekeh ingin pergi bersama dengan Tuan Muda-nya, dia akhirnya dengan gembira hati berangkat bersama dengan istrinya setelah banteng pencemburu itu mengancam akan membuangnya ke kandang buaya jika berani melawan perintah. Dan sekarang di sinilah mereka sekarang, saling tersenyum sembari menatap ke arah mobil yang baru saja berhenti tak jauh mobil mereka.
"Res, biarkan aku menyapa Tuan Muda Gabrielle dan Elea dulu ya," ucap Cira meminta izin. Dia rindu akan kebawelan wanita mungil itu.
"Pergi bersama-sama saja, sayang. Tuan Muda bisa menjadikan aku sebagai umpan buaya jika sampai melihatmu berjalan sendirian. Ayo!" sahut Ares seraya menggandeng tangan istrinya.
Perasaan Cira terasa begitu hangat ketika Ares memperlakukannya dengan sangat lembut. Semenjak hamil, baik ayah maupun ibu mertuanya memperlakukan Cira bagaikan seorang ratu. Bahkan tak jarang kedua mertuanya itu saling berdebat ketika salah satu dari mereka mencuri tugas yang sudah di bagi dengan sangat adil oleh suaminya. Cira sungguh beruntung karena setelah menikah dia mendapatkan kasih sayang penuh dari Ares dan mertuanya. Dan semua kebahagiaan ini berkat kehadiran Elea di hidup Nyonya Clarissa. Andai saja pertemuan mereka tidak terjadi, Ares dan Cira pasti tidak akan bisa bersama seperti sekarang.
"Wahhhh, ada wanita hamil di sini!" pekik Elea begitu keluar dari dalam mobil. Dia segera mendekat ke arah Cira kemudian mengusap perutnya pelan. "Hai calon bayi, kau sekarang sudah sebesar apa?"
Gabrielle menganggukkan kepala saat Ares dan Cira menyapa. Dia lalu memperhatikan Elea yang tengah berbicara di depan perut Cira dimana ada janin yang tinggal di dalamnya. Gabrielle terharu. Tidak bisa di pungkiri kalau Gabrielle juga sangat ingin memiliki anak dari Elea. Namun dia tidak mungkin memaksakan keinginannya itu karena kondisi kesehatan Elea yang belum terlalu stabil.
Sabar ya, sayang. Aku yakin Tuhan tidak tidur. Suatu saat Dia pasti akan menghadirkan malaikat di dalam rahimmu seperti yang sedang Cira rasakan. Kita sekarang hanya perlu berusaha dan terus berdo'a agar kesehatanmu bisa kembali normal seperti dulu ya. Batin Gabrielle.
"Kak Cira, apa kau mengidam?" tanya Elea sambil mendongakkan wajah. Tiba-tiba saja dia ingin menjahili ibu hamil ini.
"Em untuk sekarang sih tidak, Elea. Kenapa memangnya?" sahut Cira balik bertanya.
"Tidak kenapa-napa sih, Kak. Tapi tadi aku seperti mendengar kalau bayi yang ada di dalam perutmu berteriak meminta makanan. Aku rasa bayimu lapar, Kak. Ayo kita masuk ke dalam dan cari cemilan, jangan sampai bayimu terkena busung lapar. Kan tidak lucu kalau anaknya Ares terlahir dengan perut buncit seperti orang cacingan. Ayo!" jawab Elea kemudian membimbing Cira untuk masuk ke dalam gereja.
Jangan di tanya seperti apa raut wajah Ares sekarang. Calon ayah mana yang tidak akan kaget saat bayinya di tuduh seperti itu. Mulut nyonya-nya memang sangat luar biasa jahil. Bagaimana bisa dia terpikir untuk menyebut bayinya seperti itu di saat bayinya sendiri masih berbentuk gumpalan darah. Benar-benar sangat tengil.
__ADS_1
"Jangan membatin tentang kejahilan istriku, Res. Aku pernah dengar kalau saat istri kita sedang hamil lalu kita membatin ataupun membenci seseorang, besar kemungkinan kalau anak kita akan terlahir dengan wajah dan sikap yang sama seperti orang tersebut. Jadi aku sarankan padamu berhenti untuk mengumpat Elea di dalam hati. Aku khawatir anakmu nanti akan sama persis sepertinya. Kau dan Cira tidak akan kuat!" ledek Gabrielle dengan sengaja menakut-nakuti Ares.
"Apa benar ada hal-hal semacam itu, Tuan Muda? Baru kali ini saya mendengarnya?" tanya Ares kaget. Dia segera menghilangkan nama sang nyonya dari pikirannya karena takut kalau ucapan Tuan Muda-nya adalah benar. Amit-amit jika anaknya harus terlahir seperti Nyonya Elea. Kalau menuruni kecantikannya sih tidak masalah. Tapi kalau yang menurun adalah sikap jahilnya, bisa-bisa Ares dan Cira di buat kelabakan setiap waktu. Dia tidak mau anaknya seperti itu.
"Aku mana tahu apakah rumor itu benar atau tidak, Res. Aku kan belum punya anak," jawab Gabrielle.
"Jika anda sendiri tidak tahu, lalu darimana anda mendapat rumor itu?"
Ares menatap seksama ke arah Tuan Muda-nya. Dia sedikit merasa curiga kalau-kalau pria ini hanya mengerjainya saja.
"Grizelle dan Ibuku yang bilang. Memangnya Bibi Maria tidak pernah memberitahukan hal ini pada kalian berdua ya? Dia kan sudah pernah hamil sebelumnya."
"Ibu tidak pernah membahas hal seperti ini di
"Ooh, begitu ya."
Di saat Ares dan Gabrielle tengah fokus membahas tentang rumor-rumor seputaran orang hamil, di dalam gereja Elea dengan penuh semangat mengajak Cira untuk mencicipi makanan yang ada. Setelah hampir satu tahun menjauhi makanan-makanan seperti ini, akhirnya Elea bisa kembali menikmatinya juga. Dia terlihat begitu antusias, apalagi sekarang dia di temani oleh ibu hamil yang juga sama antusiasnya seperti dia ketika mencicipi semua makanan yang ada.
"Ayo Kak Cira, jangan malu-malu untuk memakan makanan di sini. Tenang saja, nanti kalau habis Kak Iel dan Ares yang akan menggantinya," ucap Elea sambil memasukkan puding ke dalam mulutnya. Dia memekik kegirangan ketika merasakan rasa dari puding tersebut yang begitu enak dan segar.
"Elea, apa tidak apa-apa kalau kita mencicipi makanan ini lebih dulu? Acara pemberkatannya kan belum di mulai. Bagaimana kalau para tamu menggunjingkan kita," tanya Cira dengan mulut penuh makanan. Moodnya benar-benar menjadi sangat luar biasa baik setelah bertemu dengan wanita mungil ini.
__ADS_1
"Biar saja, Kak. Jangan pedulikan mereka. Mau sebaik apapun kita bersikap, di mata orang yang sirik kita akan tetap terlihat buruk. Jadi lebih baik Kakak fokus saja ke bayi yang sedang tidur di dalam perut. Makan yang banyak, jaga suasana hati agar selalu bahagia dengan tidak mendengarkan apa kata orang. Tapi jika ada orang yang berani menyakiti perasaan Kakak, jangan sungkan untuk melapor padaku, Kak. Tenang saja, aku pasti akan langsung membalas orang itu. Dan setelah itu aku jamin mereka tidak akan berani mengganggumu lagi setelah tahu kalau kau adalah saudaraku. Oke?"
Cira tertegun. Semudah inikah Elea menganggapnya sebagai saudara? Padahal Cira hanyalah anak jalanan yang tidak sengaja di tolong oleh neneknya. Tapi wanita ini tanpa ragu menganggapnya sebagai anggota keluarga. Bolehlah Cira merasa amat sangat beruntung atas semua kebaikan yang Tuhan berikan padanya?
"Hmmm, minuman ini enak sekali. Apa ya namanya?" tanya Elea setelah menyesap minuman yang berada di dalam gelas bening.
"E-Elea, kenapa kau minum minuman ini? Ini alkohol, kau bisa mabuk nanti!" pekik Cira kaget. Dia segera merebut gelas yang ternyata isinya sudah kosong. Cira meringis pasrah.
Astaga, jadi selama aku melamun Elea mengambil alkohol kemudian meminumnya? Aduuhh, bagaimana ini. Ares pasti akan sangat marah nanti.
"Wahhh, kenapa wajahmu jadi ada tiga, Kak Cira? Aku juga jadi pusing. Apa ini karma karena aku telah memakan makanan di sini sebelum acara di mulai? Jika iya, berarti Kak Levi sangat pelit padaku. Dia adalah pelakor terpelit yang pernah aku temui," gumam Elea mulai melantur, efek dari minuman yang dia teguk.
Khawatir terjadi sesuatu, Cira pun segera menelpon Ares. Dia memberitahukan kalau Elea salah meminum minuman dan sekarang mulai mabuk. Dan tidak butuh waktu lama, Ares dan Gabrielle sudah tiba di hadapannya. Kedua pria tersebut sama-sama menghela nafas begitu melihat kondisi wajah Elea yang sudah memerah seperti buah tomat.
πππ
πππππππππππππππππ
...πJangan lupa vote, like, dan comment...
...ya gengss...
__ADS_1
...πIg: rifani_nini...
...πFb: Rifani...