Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Gadis Istimewa


__ADS_3


📢 BESTIE, GIVEAWAY DI NOVEL MY DESTINY ( CLARA & ELAND) AKAN DI TUTUP AKHIR BULAN INI LHO. JANGAN LUPA MAMPIR DAN TINGGALKAN JEJAK DI SANA YA 💜


🎗🎗🎗🎗🎗🎗🎗


Flow menatap bergantian ke arah teman-temannya yang sibuk memberikan kado untuk Sisil. Dia heran mengapa kado yang di bawa oleh teman-temannya terbungkus dalam ukuran kecil. Padahal setiap kali Flow berulang tahun, kado yang dia terima selalu dalam ukuran besar. Bahkan beberapa ada yang sampai menenggelamkan ukuran tubuhnya sendiri. Aneh. Perayaan ulang tahun Sisil benar-benar sangat aneh.


"Hei anak miskin. Mana kado untuk Sisil?"


"Aku tidak punya," jawab Flow jujur.


"Apa? Tidak punya?"


Sisil yang memang sudah tahu sejak awal hanya memutar bola matanya jengah. Flow benar-benar tidak bisa di harapkan. Keraguan Sisil jadi semakin bertambah saja kalau Flow memang berasal dari keluarga miskin, termasuk juga dengan ke tujuh kakaknya yang dia sebut sangat tampan dan mempunyai banyak uang. Dia menolak untuk mempercayainya.


"Sebenarnya ada banyak sekali kado di rumahku, tapi aku tidak bisa membawanya karena terlalu besar. Mata kalian tidak buta kan kalau ukuran tubuhku ini mini?" tanya Flow sambil menunjuk tubuhnya sendiri.


"Halah, bilang saja kalau kau itu sebenarnya tidak punya uang untuk membeli kado. Iya 'kan?"


"Iya, aku memang tidak punya uang."


Hiksss, Kak Oli. Aku minta uang,


"Hei, sudahlah. Lebih baik sekarang kita pesan saja makanannya. Tenang saja, aku yang bayar," ucap Sisil melerai perdebatan antara Flow dengan teman-temannya yang lain. Lama-lama kasihan juga dia melihat Flow yang selalu di bully. Sisil takut Flow akan bunuh diri seperti kebanyakan kasus bullying di beberapa sekolah lain.


"Sisil, aku boleh ikut pesan tidak?" tanya Flow sambil memainkan jari tangannya.


"Pesan saja sana. Aku mengajakmu kemari kan memang untuk makan," jawab Sisil dengan begitu cetus.


"Oh, begitu ya. Aku pikir aku tidak akan mendapat jatah makan karena tidak memberimu kado. Hehe,"


Rupanya percakapan antara Flowrence dengan teman-temannya sejak tadi di perhatikan oleh bibi penjual mie. Tanpa ada yang menyadari, sebenarnya pemilik kedai ini adalah koki suruhan Gabrielle yang memang di tugaskan untuk berjualan di sini agar bisa ikut memantau keseharian putrinya di sekolah. Bahkan bukan hanya kedai mie ini saja, tapi semua penjual makanan di sekitar sekolah Flow bukanlah orang sembarangan. Hanya ibu pemilik kantin saja yang tidak ada hubungannya dengan Gabrielle. Akan tetapi ada si tujuh bersaudara yang siap menanggung semua biaya makanan yang dimakan oleh Flow saat jam istirahat. Mungkin selama ini Gabrielle dan Elea sangat sibuk dengan pekerjaan mereka, tapi bukan berarti mereka lepas tangan begitu saja. Karena Bern dan Karl memilih untuk bersekolah di tempat elit, mereka tidak terlalu ketat dalam memberi pengawasan. Beda halnya dengan si Flow. Gadis mini ini memilih sekolah yang sangat luar biasa di mana ada banyak sekali bibit gangster di sini. Dan karena hal inilah mengapa Gabrielle dan Elea begitu protect padanya. Mereka khawatir Flow akan menyakiti teman-temannya karena keaktifan gadis ini cukup membuat kepala berdenyut nyeri. Tapi ... selalu saja menggemaskan. Hehehe.


"Bibi," ....

__ADS_1


Dengan cepat salah satu pelayan kedai mengangkat tubuh mungilnya Flow agar terlihat oleh bibi yang sedang memasak mie. Dan hal ini membuat teman-teman Flow merasa heran karenanya. Mereka menatap kesal ke arah pelayan tersebut karena mengutamakan Flow, sementara mereka sudah mengantri lebih dulu. Anak-anak ini merasa tidak adil, jadi diam-diam berunding untuk mengerjai Flow setelah pulang dari tempat ini.


"Flow, kau ingin memesan yang mana, sayang?" tanya si bibi sambil mengelus pelan pipi majikan kecilnya.


"Yang paling banyak di pesan oleh manusia, Bibi," jawab Flow sambil tersenyum malu. Dia merasa kalau bibi ini sedang bergenitan padanya.


"Hahahaha, ya ampun. Kenapa kau manis sekali sih. Ya sudah, sekarang kau duduk dulu ya, nanti akan Bibi antarkan ke mejamu kalau sudah siap. Oke?"


"Oke, Bibi,"


Dan lagi-lagi semua teman Flow di buat terheran-heran melihat si pelayan dengan tanpa ragu menggendong Flow menuju meja yang telah mereka pesan. Sedangkan Flow, murid bantat itu tampak tertawa kesenangan saat tubuhnya di putar-putar sebelum di turunkan dari gendongan. Benar-benar sangat aneh.


"Sisil, kau lihat itu 'kan?"


"Tentu saja aku melihatnya. Aku kan tidak buta," jawab Sisil cetus.


"Ihhh, kenapa kau marah-marah sih. Aku kan cuma bertanya, kenapa kau cetus sekali menjawabnya,"


"Terserah aku. Mulut-mulutku, kenapa kau repot!"


"Bibi, kenapa kau dan si paman pelayan itu begitu baik pada Flow? Dia itu kan pendek, juga bodoh dan miskin. Kenapa kalian bersikap seperti itu padanya?"


Di tanya seperti itu oleh teman majikannya membuat si bibi menghentikan kegiatannya. Dia lalu menatap gadis kecil ini sambil tersenyum.


"Karena Flow adalah gadis yang sangat istimewa,"


"Istimewa?" beo Sisil. "Memang di bagian mananya milik Flow yang bisa di anggap istimewa, Bi?"


Tentu saja dari ujung rambut sampai ujung kakinya Nona kecil. Kau tidak tahu saja kalau teman kalian itu adalah anak emas di keluarga Ma. Hmmm, dasar anak-anak,


"Sudah, lebih baik sekarang kalian semua duduk saja. Nanti kalau sudah matang bibi dan paman pelayan akan mengantarkannya langsung ke meja kalian. Oke?"


"Baik, Bibi."


Setelah itu Sisil dan yang lainnya menyusul Flow yang sudah duduk lebih dulu. Mereka melayangkan tatapan sinis pada gadis yang tengah sibuk memainkan jari tangannya.

__ADS_1


"Flow, apa orangtuamu adalah pembantu di rumah bibi pemilik kedai ini?" tanya Sisil penasaran.


"Bukan," jawab Flow. "Ibuku itu bekerja membuat baju pengantin, bukan seorang pembantu."


"Haih, lagi-lagi kau berhalusinasi. Malas aku bicara denganmu,"


"Tapi ....


"Sudahlah, kau jangan bicara apa-apa lagi. Aku bosan mendengar ocehanmu yang tidak masuk akal itu,"


Flow mengerjapkan mata. Dia diam sambil memikirkan di mana letak kebohongannya. Apa yang salah dengan ucapannya? Kan memang benar kalau ibunya adalah seorang pembuat baju pengantin. Flow tidak pernah bohong.


"Oh ya, Flow. Nanti kau pulang dengan siapa?" tanya salah satu teman Sisil sambil tersenyum licik. Dia berniat mengerjai gadis pendek ini nanti.


"Nanti ke tujuh kakakku akan datang untuk menjemputku," jawab Flow dengan sangat jujur.


"Tujuh? Apa aku tidak salah dengar, Flow? Kakak-kakakmu mau datang menjemputmu atau mau mengajak satu sekolah tawuran sih? Banyak sekali. Memangnya mereka tidak bisa datang satu saja apa. Dasar keluarga kampungan!"


"Em, tidak bisa. Ibuku bilang jika satu pergi, maka yang lain harus ikut pergi juga. Karena jika tidak mereka akan sama-sama mendapat hukuman, makanya kemana-mana semua kakakku selalu datang bersama. Kenapa? Apa kau mau berkenalan dengan mereka?"


"Cihhh, apa bagusnya kenalan dengan orang miskin. Terkecuali kakak-kakakmu datang menggunakan mobil mewah, atau datang dengan memakai seragam dari sekolah ternama. Kan keren!"


Kedua alis Flow saling bertaut. Dia sedang memikirkan apakah ke tujuh kakaknya masuk dalam kriteria teman-temannya atau tidak. Karena jika tidak, Flow pasti akan merasa sangat malu nantinya.


"Nah, anak-anak. Mie-nya sudah datang,"


"Yeyy,, makan-makan, makan-makan!"


Seketika Flow tidak bisa berpikir lagi begitu mencium aroma mie yang sangat wangi. Namun ketika dia hendak mengaduk mie miliknya, Flow di buat heran karena bentuk mie miliknya sedikit berbeda dengan mie milik teman-temannya.


"Tidak apa-apa, makan saja. Itu adalah bonus karena kau begitu cantik hari ini. Oke?" bisik bibi pemilik kedai.


Senyum manis langsung menghiasi bibir Flow setelah dia mengetahui penyebab mie-nya berbeda. Dan tanpa membuang waktu lagi, dia langsung menyantap makanan enak tersebut. Adalah yang paling membahagiakan jika bisa menikmati banyak makanan enak. Itu menurut Flow sih. Hehehe.


*******

__ADS_1


__ADS_2