
"Halo, anak tampan. Apa kabar?"
Baby Andreas, anaknya Cira dan Ares, tampak mengedipkan mata saat Elea dan Levi datang membesuknya di rumah sakit. Sudah dua hari sejak Cira melakukan operasi pengangkatan rahim, dan sejak dua hari itu pula Cira menolak untuk bicara dengan orang lain. Entah karena dia marah atau karena terlalu sedih, yang jelas sekarang Cira malah berbaring menyamping begitu Elea dan Levi masuk ke dalam kamar inapnya.
"Elea, ayo kita culik dan jual saja bayi ini. Percuma, ibunya gila!" celetuk Levi dengan suara yang cukup kuat. Dia sedang menyindir Cira secara terang-terangan.
"Jangan di begitukan, Kak. Kasihan Andreas, dia belum mencicipi uangku," sahut Elea.
Levi langsung menyeringai sinis. Ingin menikmati harta kekayaan ATM berjalan miliknya? Hohohoho, tidak semudah itu Andreas.
Kau harus melewatiku lebih dulu jika ingin mencicipi harta milik Gabrielle dan Elea, Andreas. Walaupun kau adalah cucu dari generasi pertama, aku tetap tidak akan membiarkanmu bisa menikmati semua itu sesuka hati. Asal kau tahu ya. Aku harus berdarah-darah dulu demi bisa mendapatkan ini semua. Jadi aku harap kau jangan besar kepala karena aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi dengan mudah meski Elea sudah membuka pintu izin untukmu. Heh, enak saja.
"Kak Levi, kalau menantuku sudah lahir nanti kau ingin memberinya nama siapa? Aku yang pilihkan saja boleh tidak?" tanya Elea sambil menepuk-nepuk bokong Andreas yang kini mulai memejamkan mata.
"Tidak!"
Seketika Levi menjadi was-was mendengar jenis pertanyaan yang Elea ucapkan. Bayangkan saja. Saat masih sebesar kacang polong saja Elea sudah mengklaim anaknya sebagai calon mantu. Apa jadinya nanti kalau makhluk kecil ini sampai memberikan nama untuk anaknya? Bisa-bisa Levi kehilangan haknya sebagai seorang ibu karena jika di perhatikan dengan baik Elea terlihat begitu rakus ingin menguasai anaknya.
"Yakk, Elea. Kau ini kenapa serakah sekali sih. Sekarang kan kau sedang mengandung tiga orang bayi, kenapa kau malah sibuk memperhatikan anakku? Carilah nama untuk anakmu sendiri!" omel Levi sambil memelototkan mata pada Elea. Ingin rasanya dia mencubit ginjal wanita satu ini. Membuat tekanan darahnya naik saja. Huh.
"Masing-masing dari anakku sudah mempunyai nama, Kak. Makanya aku berbaik hati menawarkan bantuan untuk menamai anakmu. Kenapa kau marah? Itu kan hanya soal sepele, jadi santai sajalah," sahut Elea dengan entengnya.
"Santai gigimu itu. Aku tahu, kau pasti sudah merencanakan niat buruk untuk mengambil anakku 'kan? Mengaku sajalah. Semua itu terlihat jelas dari tatapan matamu!"
__ADS_1
"Hehehe, benar sekali!"
"Dasar sialan!"
"E e e ... Wanita hamil tidak boleh mengumpat. Lupa ya?"
Diam-diam Cira merasa terhibur mendengar percakapan absurd antara Levi dengan Elea. Dia bukannya tidak menghargai kedatangan dua wanita ini, tapi Cira enggan memperlihatkan kekurangannya yang sudah tak sempurna lagi. Harapan Cira yang ingin mempunyai banyak anak terpaksa harus kandas akibat kecerobohannya sendiri. Andai saja pagi itu Cira memilih untuk tetap menunggu Ares di dalam bathup, kecelakaan naas itu pasti tidak akan pernah terjadi dan dia tidak akan kehilangan rahimnya. Namun sekali lagi, nasi yang telah menjadi bubur mustahil untuk bisa kembali menjadi nasi. Semua penyesalan ini hanya bisa Cira ratapi dalam hati tanpa ada sesuatu yang bisa menyelesaikannya. Menyedihkan sekali bukan?
"Ekhmmm, Cira. Mau sampai kapan kau bersikap pengecut begini?Sudahlah, jangan merajuk terus. Kau itu kan baru saja melahirkan, tidak baik terus-terusan mengunci diri seperti ini. Nanti kau terkena baby blues kemudian terpikir untuk bunuh diri. Ikhlaskan saja, yakin dan percayalah kalau Tuhan pasti akan mengganti rahimmu dengan sesuatu yang tak kalah berharganya. Jangan sedih oke?" hibur Levi. Dia merasa sedih melihat ibu baru dari generasi pertama tidak bersemangat seperti ini. Mumpung otaknya sedang normal, jadi Levi berinisiatif untuk sedikit menghibur Cira. Karena jika setan reog sudah merasuki pikirannya dia tidak akan mungkin bersikap selembut ini. Benar kan man-teman? 😅
"Yang di katakan Kak Levi sangat benar, Kak Cira. Tolong berhentilah merajuk, kasihan Ares dan Andreas. Atau jika tidak nanti setelah lahir kau ambil saja anaknya Kak Levi. Aku ikhlas kok!" sambung Elea dengan berbesar hati ikut menghibur Cira.
Suasana mendadak jadi terasa sangat hening setelah Elea berkata seperti itu. Bahkan Cira yang awalnya berbaring memunggungi semua orang sampai berbalik seraya memperlihatkan raut syok di wajahnya. Sementara si korban, saat ini tengah sibuk mengelus-elus perut besarnya sembari mengucapkan kata agar anaknya tidak menuruni kelakuan Elea. Amit-amit.
"Katakan saja langsung pada orangnya. Karena kalau aku sih iyes, aku setuju dengan ide yang di katakan oleh Elea. Aku sangat setuju anakmu di ambil oleh Cira," sahut Gabrielle dengan begitu bahagia membanggakan kecerdasan istri kesayangannya. Dia masa bodo dengan orang lain, yang penting Elea senang. Hehehe.
"Hah ... sia-sia aku bicara denganmu. Ternyata kau jauh lebih parah ketimbang Elea!"
"Jangan menghinanya. Mau kau ku pindah-tugaskan ke negara lain supaya tidak bisa menemani Levi melahirkan. Hem?"
"Ck, sedikit-sedikit mengancam. Sedikit-sedikit ingin memindahkan orang!" gerutu Reinhard pelan.
"Aku mendengarnya, bodoh!"
__ADS_1
Reinhard mendengus. Dia lalu menatap Levi yang masih terus mengusap-usap perutnya. Kasihan, istrinya yang bar-bar itu tak berdaya di bully oleh Elea. Ingin rasanya Reinhard membela, tapi dia takut pada Gabrielle. Alhasil Reinhard hanya bisa membantu Levi dengan mengirim doa tak kasat mata agar istrinya itu di beri stok kesabaran yang banyak oleh Tuhan.
"Nah, Kak Levi. Begitu aku bilang pada Kak Cira agar mengambil anakmu, sekarang dia langsung berbalik menatap kita. Ideku sangat kreatif bukan?" tanya Elea begitu girang melihat perubahan di diri Cira. Elea merasa sangat berguna.
"Elea, tidak seperti itu. Aku ....
"Tidak apa-apa, Kak Cira. Aku bisa memahami kalau kau begitu bahagia mendengar hal ini. Iya 'kan?"
Plaaaakkkk
Tepat ketika Cira hendak menjelaskan pada Elea, Levi sudah lebih dulu memukul bokongnya dengan sepatu yang dia pakai. Sontak saja perbuatan Levi ini langsung mengundang amarahnya Gabrielle. Akan tetapi sebelum sempat banteng pencemburu itu berubah menjadi reog, Levi sudah lebih dulu mengeluarkan kata-kata cetusnya.
"Cira, ku beritahu satu hal padamu ya. Di luaran sana ada banyak sekali wanita yang tidak bisa melahirkan sepertimu. Dan menurutku kau seharusnya bersyukur karena walaupun rahimmu sudah tiada, kau sudah memberikan satu keturunan untuk Ares. Jangan hanya karena hal ini kau bersikap kekanakan yang mana membuat orang lain menjadi korban. Lihat aku, aku dan anakku yang menjadi sasaran sekarang. Kami terancam di pisah paksa gara-gara sikapmu. Tahu tidak? Hah!" amuk Levi. Setelah itu dia balik mengomeli Elea yang sedang sibuk mengelus-elus bokongnya. Kali ini Levi tidak luluh. Setengah mati dia menahan keinginan hati agar tidak menanyakan apakah Elea kesakitan atau tidak. Setan reog sudah terlanjur memasuki jiwanya. "Dan kau, Elea. Bisa tidak sehari saja kau jangan membuatku kehabisan stok kesabaran setiap kali kita bertemu. Kau bilang anakku adalah calon mantumu, lalu kenapa ingin kau berikan pada orang lain? Tidak konsisten sekali. Sudahlah. Aku menolak untuk berbesan denganmu Kau dengar itu 'kan? Aku menolak menjadi besan. Titik!"
Elea terperangah. Namun sedetik kemudian dia tersenyum.
"Kak Levi, aku dengar bulan depan toko berlian langganan kita akan mengeluarkan produk terbaru mereka. Em, kau ingin memboking cincin couple tidak untuk kita? Kalau mau nanti aku akan meminta Kak Iel membuatkan janji temu dengan mereka. Bagaimana? Mau tidak?"
Hanya dalam hitungan satu detik emosi Levi langsung menghilang begitu Elea menyebutkan iming-iming yang begitu menggiurkan. Tanpa mengindahkan masalah yang baru saja terjadi, Levi dengan penuh semangat mengajak Elea dan Cira menggibah tentang berlian. Dan sikap dari ketiga wanita ini membuat Gabrielle, Reinhard, dan juga Ares sama-sama ternganga lebar. Seberharga inikah yang namanya berlian di mata para wanita? Mengerikan.
Ya Tuhan, Cira. Kalau berlian bisa membuat moodmu kembali seperti dulu, sudah aku belikan sekantong berlian untukmu sejak kemarin. Astaga, wanita benar-benar sulit untuk di mengerti.
*****
__ADS_1