Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Kecemasan Seorang Ibu


__ADS_3

Begitu mendengar kabar kalau nenek dari sang menantu kritis, Liona dan Greg bergegas pergi ke rumah keluarga Young. Mereka berdua sangat mengkhawatirkan keadaan mental Elea yang kemungkinan besar akan terguncang karena apa yang pernah di lihatnya seolah benar akan menjadi kenyataan. Saat Liona dan Greg hendak masuk ke dalam mobil, Lan terus menggesekkan kepalanya ke kaki Liona. Binatang besar ini seakan tahu kalau majikannya yang mungil sedang dalam suasana hati yang tidak baik.


"Kau di rumah saja, Lan. Orang-orang bisa mati jantungan jika melihatmu datang ke sana," ucap Liona sembari mengelus kepala Lan.


Terdengar geraman pelan saat Lan tahu kalau dirinya tidak di izinkan pergi bersama majikannya. Greg yang melihat hal itupun merasa tak tega. Dia kemudian berjongkok, menatap dalam ke arah binatang yang juga tengah menatapnya dengan sangat tidak berdaya.


"Dengarkan apa kata majikanmu ya. Tidak apa-apa, Elea kita pasti baik-baik saja. Nanti jika memungkinkan aku akan membujuknya untuk datang kemari agar kau bisa merasa tenang. Oke?" bujuk Greg dengan sabar.


Ggrrrrr


Entah kecewa atau bagaimana, Lan langsung pergi dari hadapan kedua tuannya setelah Greg menjanjikan akan membawa majikan mungilnya untuk datang ke rumah ini. Sikap yang di tunjukkan oleh Lan membuat Greg dan Liona saling melempar pandangan. Mereka kemudian sama-sama menghela nafas sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil.


"Hon, menurutmu Nyonya Clarissa bisa melewati masa kritis ini tidak?" tanya Greg sembari menciumi rambut wangi milik istrinya. Hal yang sangat dia sukai semenjak mengenal wanita yang kecantikannya tak lekang oleh waktu.


"Aku tidak tahu, Greg. Kita berdo'a saja semoga dia bisa bertahan agar Elea tidak terlalu merasa tertekan. Kasihan menantu kita, batinnya pasti sedang sangat terluka sekarang," jawab Liona prihatin akan apa yang tengah menimpa menantu kesayangannya. "Hmmmm, biasanya jika kita kehilangan sesuatu yang berharga, Tuhan akan menggantinya dengan sesuatu yang lain. Jika tebakanku tidak meleset, apakah iya kepergian Nyonya Clarissa akan di gantikan oleh kehadiran ketiga anak Elea? Jika benar, apa takdir ini tidak terlalu kejam untuknya? Aku khawatir hal ini akan menimbulkan pemberontakan di diri Elea, Greg."


"Entahlah, Honey. Siapalah yang tahu bagaimana cara Tuhan menjalankan takdirnya. Kejam tidak kejam Elea harus bisa berbesar hati untuk menerima kenyataan jika seandainya hal tersebut benar terjadi. Kalau sudah berhubungan dengan kekuasaan Tuhan, aku sudah tidak bisa mengatakan apa-apa. Sebagai manusia kita hanya bisa menerima dan mengikhlaskan apa yang akan terjadi ke depannya nanti. Benar tidak?" tanya Greg seraya menghela nafas.


Liona mengangguk. Apa yang di katakan oleh suaminya sangatlah benar. Manusia mungkin bisa berharap dan merancang, tapi tetap Tuhanlah yang menjadi satu-satunya penentu dalam setiap hal.


Perjalanan menuju kediaman keluarga Young akhirnya hanya di isi dengan suasana sepi di dalam mobil. Baik Liona, Greg maupun Hansen tidak ada yang berminat lagi untuk membuka percakapan. Pikiran mereka terlalu penuh memikirkan kondisi Elea jika keadaan Nyonya Clarissa semakin memburuk. Setelah hampir menempuh perjalanan selama satu jam, mobil akhirnya memasuki kediaman Tuan Bryan. Terlihat di sana ada mobilnya Gabrielle, Reinhard, dan juga Junio.


"Junio ada di sini. Apa mungkin keadaan Nyonya Clarissa sangat buruk?" gumam Liona cemas.

__ADS_1


"Jangan berfikiran negatif dulu, Hon. Bisa saja kan Junio pulang untuk mengambil keperluan Patricia dan bayinya?" ucap Greg menghibur sang istri.


"Semoga saja memang seperti itu, Greg. Aku benar-benar sangat mencemaskan keadaan Elea sekarang."


"Kalau begitu sebaiknya kita segera masuk dan menemui Elea. Aku yakin dia sedang sangat membutuhkan kehadiran kita di dalam sana. Ayo!"


Greg keluar dari dalam mobil terlebih dahulu kemudian berlari memutar guna membukakan pintu untuk istri tercintanya. Setelah itu dia menggandeng tangan Liona kemudian mengajaknya masuk ke dalam rumah dengan di ikuti oleh Hansen di belakang. Pandangan mata Greg dan Liona langsung tertuju ke arah Elea yang sedang duduk diam sambil memandangi kamar tempat Nyonya Clarissa berada. Di samping Elea ada Gabrielle dan juga Levita, wajah keduanya juga terlihat murung.


"Ayah, Ibu," sapa Gabrielle.


"Bagaimana kabar Nyonya Clarissa, Gab?" tanya Liona.


Gabrielle menggeleng.


"Elea," ....


"Ibu, Grandma sakit. Aku tidak mau di tinggal, Ibu Liona. Hikssss ....


Levita langsung melihat ke arah lain begitu mendengar isakan lirih keluar dari mulut Elea. Dia tidak tahan, hatinya sakit melihat teman kecilnya bersedih hati.


"Sssttt, tidak apa-apa, sayang. Kemarilah, biarkan Ibu memelukmu," ucap Liona sambil berjalan cepat menghampiri sang menantu yang tengah menangis.


Gabrielle segera bergeser ke samping untuk memberi ruang bagi sang ibu menenangkan istrinya. Dia tersenyum kecut saat bahunya di tepuk oleh ayahnya.

__ADS_1


"Dokter masih belum keluar dari kamar Grandma Clarissa, Ayah. Junio, Ares, Cira, Ayah Bryan dan Ibu Yura juga masih ada di dalam sana. Tadi aku sudah mengajak Elea untuk masuk, tapi dia menolak. Elea seperti sedang ketakutan," bisik Gabrielle sembari menatap tak tega ke arah Elea yang sedang menangis di pelukan ibu mereka. Perasannya hancur melihat orang yang sangat dia cintai terisak seperti ini.


"Hal itu wajar Elea rasakan, Gab. Karena bagaimana pun dia sudah mengetahui lebih dulu kalau Nyonya Clarissa akan segera pergi meninggalkannya. Kau harus mengerti itu," sahut Greg pelan.


"Haaah, aku sungguh tidak paham kenapa Tuhan begitu tega pada istriku, Ayah. Apa tidak bisa Dia memberikan cobaan setelah Elea menyecap kebahagiaan lebih lama bersama Grandma Clarissa? Mereka berdua itu kan sama-sama hidup dalam pesakitan. Apa tidak bisa Tuhan menunda perpisahan ini agar jangan terjadi dulu? Aku tidak tega melihat Elea harus kembali merasa di tinggalkan. Ini sangat tidak adil untuknya."


Greg hanya diam saja tanpa memberi tanggapan atas protes yang di ucapkan oleh putranya barusan. Andai dia ada di posisinya Gabrielle, Greg yakin dia pasti akan mengatakan hal yang sama juga. Wajarlah, Elea dan Nyonya Clarissa belum lama berkumpul bersama. Rasanya pasti akan sangat menyakitkan jika mereka kembali di pisahkan. Jadi Greg sangat maklum kalau putranya sampai bereaksi seperti ini.


"Sayang, jangan menangis lagi ya. Mari kita sama-sama berdoa agar Grandma-mu bisa melewati masa kritis ini. Jangan sedih, oke?" hibur Liona sembari merapihkan rambut menantunya yang sedikit berantakan.


"Hiksss Ibu Liona, aku sudah melihatnya. Grandma ... dia....


"Sayang, kau tidak boleh mematok nasib seseorang melalui penglihatan yang muncul dalam mimpimu. Ingat ya, Tuhan adalah sebaik-baik penentu takdir. Yang kau miliki hanyalah sedikit kelebihan dari sekian banyak kemampuan Tuhan dalam membolak-balik keadaan. Jadi kau jangan terlalu terbawa perasaan ya. Yakin dan percayalah kalau Grandma pasti akan baik-baik saja. Bisa?" bisik Liona. Dia ingat kalau di ruangan ini ada Levita dan Reinhard yang masih belum mengetahui tentang kelebihan yang di miliki oleh menantunya.


Elea mencoba mencerna ucapan ibu mertuanya dengan pikiran jernih. Meski sangat menakutkan, Elea berusaha mempercayai kalau apa yang dia lihat tidak akan menjadi kenyataan. Sebenarnya bukan tidak mempercayai, tapi lebih kepada berharap kalau hal tersebut belum akan terjadi dalam waktu dekat ini. Elea masih ingin berbagi cerita bersama sang nenek, dia masih ingin menghabiskan waktu bersama satu-satunya keluarga yang dia miliki dari pihak almarhum ibunya.


Tuhan, aku mohon... Tolong izinkan Grandma berada sedikit lebih lama bersamaku di sini. Aku masih butuh Grandma, Tuhan. Tolong jangan ambil dia sekarang ....


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


...πŸ€Jangan lupa vote, like dan comment...


...ya gengss...

__ADS_1


...πŸ€Ig: rifani_nini...


...πŸ€Fb: Rifani...


__ADS_2