Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Batu Neraka


__ADS_3

"Kak, Cio meminta kita untuk singgah dulu di rumahnya. Dia bilang Nenek merindukan kita," ucap Karl membacakan pesan yang baru di terimanya dari Cio. Dia lalu menoleh ke samping, menatap kakaknya yang bersedekap tangan sambil menutup mata. "Kak, kau dengar apa yang aku katakan 'kan?"


"Hmmm," Bern menghela nafas. Dia kemudian mengangguk. "Berhenti di toko kue kesukaan Nenek. Kita tidak mungkin datang dengan tangan kosong. Nenek sudah tua."


Karl mengerutkan keningnya heran mendengar sang kakak yang tiba-tiba bersikap manis pada nenek mereka. Padahal sebelumnya sang kakak tak pernah berbuat seperti ini. Sungguh mengherankan.


Apa jangan-jangan matahari sudah akan terbit dari barat ya? Makanya Kak Bern bisa tiba-tiba bersikap seperti ini? Aneh.


Kedua mata Bern langsung terbuka kemudian menatap dingin ke arah Karl yang tengah menatapnya. Setelah itu dia mendekatkan wajahnya hingga membuat Karl menelan ludah.


"Nenek Yura adalah Nenekku juga, apa tidak boleh seorang cucu memberikan perhatian pada Neneknya sendiri?" tanya Bern penuh penekanan.


Glukkkk


"B-boleh, tentu saja sangat boleh," jawab Karl tergagap. Dia kemudian memundurkan wajahnya, merasa terintimidasi dengan cara sang kakak menatapnya. "Kak, bisa tidak sih kau jangan bersikap seperti raja iblis di hadapan adikmu sendiri. Kita inikan saudara, tolong jangan memperlakukan aku seperti musuh!"


"Aku hanya menatapmu, apa yang salah?"


"Mana ada kau hanya menatapku. Jelas-jelas kau terlihat seperti ingin memakanku. Bagaimana sih!"


Bern tersenyum. Lucu juga melihat reaksi ketakutan di diri Karl. Tak mau membuat adiknya terus merasa takut, Bern segera bergeser ke samping kemudian kembali memejamkan mata. Membiarkan Karl yang kembali meluapkan keterkejutannya yang syok melihat Bern tersenyum.


Karl terus saja menggumam ini dan itu sampai akhirnya mobil berhenti di depan toko kue. Malas keluar, Karl meminta tolong pada penjaga untuk masuk dan membeli kue kesukaan neneknya.


"Kak?"


"Hem?"


"Apa benar Flowrence yang akan mewarisi semua kekayaan yang dimiliki oleh keluarga kita?" tanya Karl penasaran. "Kalau benar, apa iya Flowrence mampu memimpin perusahaan milik Ayah yang sangat besar itu? Dia itukan bodoh, lambat pula. Aku rasa yang cocok untuk menjadi penerus Ayah itu kau, Kak. Kau sangat kompeten dalam urusan bisnis. Sedangkan aku, hah, aku lebih suka hidup bebas sambil menjalankan hobiku. Bekerja di depan laptop sangatlah menjengkelkan, aku tidak suka!"


"Benar atau tidak aku tidak akan terlalu ikut campur pada keputusan Ayah. Tapi aku akan tetap mengambil apa yang seharusnya menjadi hakku," jawab Bern dengan sangat tenang. Ada maksud terselubung di balik kata-katanya barusan.


"Memangnya apa hakmu yang belum di ambil, Kak? Di dalam berita itu Ayah dengan sangat jelas memberikan pernyataan kalau semuanya akan diserahkan pada Flowrence begitu dia dewasa. Itu artinya semua hak-hak untuk kita berdua sudah di bagi secara adil. Dan aku sudah menerima semua yang menjadi hakku. Lalu kau?"


Kedua tangan Bern terkepal kuat saat mendengar perkataan Karl. Namun, dia memutuskan untuk tetap diam karena tak mau Karl mengetahui rencananya. Karena jika Karl sampai mengetahuinya, maka semua rencana Bern yang ingin memaksa Flowrence agar menyerahkan semua aset kekayaan miliknya bisa gagal. Dan dia sangat tidak mau hal buruk itu sampai terjadi.

__ADS_1


Saat Karl ingin mendesak sang kakak agar mau menjawab, penjaga yang di suruhnya membeli kue sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil. Setelah itu Karl mengurungkan niatnya untuk bertanya karena dia lebih tertarik menikmati kue yang sengaja di beli penjaga untuknya. Sedangkan Bern, dia hanya membuka matanya sebentar kemudian menutupnya kembali setelah mengetahui penyebab Karl tak lagi mencecarnya untuk bicara.


"Jalan!" perintah Bern dingin.


"Baik, Tuan Muda."


Mobil kembali melaju dengan Karl yang sibuk dengan makanannya. Hingga tak lama berselang, mobil sudah memasuki halaman rumah milik keluarga Young. Karl buru-buru membersihkan mulut dan tangannya saat mobil sudah berhenti. Dia lalu menyenggol lengan kakaknya yang masih saja memejamkan mata.


"Kak, bangun. Kita sudah sampai."


"Aku tidak tidur,"


"Lalu kenapa matamu terus terpejam?"


"Aku malas melihat wajahmu yang jelek," jawab Bern dengan sarkasnya. Segera dia membuka mata kemudian keluar dari dalam mobil meninggalkan Karl yang tengah memanyunkan bibirnya karena kesal.


"Huhh, begitulah jika batu neraka diberi nyawa. Benar-benar sangat menjengkelkan. Aku jadi ragu apa benar makhluk itu adalah kakakku atau musuhku!" sungut Karl sambil melangkah keluar dari dalam mobil. Dia segera menghampiri sang kakak yang tengah menunggunya di depan pintu masuk.


Kedatangan Karl dan Bern di sambut dengan sangat hangat oleh kakek dan neneknya. Bahkan Paman Junio pun ikut menyambut sambil berbicara dengan seseorang melalui telepon. Dari kliennya mungkin.


"Selamat pagi kembali, Karl. Kau tampan sekali hari ini," sahut Yura sembari mencium pipi cucunya. Dia lalu menatap Bern, cucunya yang selalu saja bersikap dingin di manapun berada. "Bern, tidak mau memeluk Nenek kah?"


"Ayah akan menghabisiku jika aku berani melakukannya, Nek," jawab Bern dengan ekpresi yang begitu datar. Dia lalu memeluk sang nenek, membiarkan tangan tua neneknya mengelus punggungnya pelan.


"Kau sudah semakin bertambah besar sekarang. Padahal rsanya baru seperti kemarin kau dan kedua adikmu belajar berjalan. Waktu sungguh sangat cepat berlalu ya," ucap Yura seraya mengurai pelukan.


Bern mengangguk. Dia kemudian memeluk kakeknya. "Kakek apa kabar?"


"Melihat anak dan cucu Kakek tumbuh dengan begitu baik membuat Kakek selalu sehat, Bern. Terima kasih sudah menanyakan kabar pada Kakek," jawab Bryan sembari menepuk bahu cucunya yang entah kenapa terlihat cukup arogan. Dan Bryan sadar kalau cucunya ini sangat tidak suka di sentuh sembarangan.


Junio memasukkan ponsel ke dalam saku celana kemudian memeluk Karl yang sejak tadi merengek meminta untuk dipeluk. Setelah itu dia menjitak keningnya pelan sebelum akhirnya beralih menatap Bern.


"Yakkk anak keledai yang baru akan tumbuh besar. Mau sampai kapan kau bersikap sedingin ini pada keluargamu, hm? Aku ini Pamanmu. Cepat kemari dan peluk aku!" ucap Junio kesal.


Bern diam tak menyahut. Dia tak bergeming dari tempatnya berdiri, terlalu konyol jika harus menuruti perkataan Pamannya itu.

__ADS_1


"Sudahlah, Paman. Mungkin nyawa Kak Bern belum berkumpul sepenuhnya karena di mobil tadi dia tertidur. Maklumilah!" ucap Karl mencoba menutupi sikap arogan sang kakak. Entah kenapa kakaknya itu selalu menganggap para pembisnis seperti musuhnya. Padahal Paman Junio adalah orang yang baik. Hanya saja sedikit bar-bar dalam urusan wanita, sama persis seperti Cio.


"Haihhh, Paman heran sekali. Padahal kalian berdua itu kembar, tapi kenapa sikap kalian bisa begitu berbeda ya. Aneh,"


Bryan dan Yura hanya tersenyum saja mendengar keluhan Junio. Dan secara diam-diam mereka memperhatikan Bern yang kini tumbuh menjadi remaja yang begitu dingin. Bahkan sikap dinginnya Gabrielle masih kalah jauh jika di bandingkan dengan Bern. Entah menurun dari siapa. Yang jelas semua keluarga besar sudah tahu bahwa kemungkinan orang yang terlahir dengan memangku karma buruk itu adalah Bern Wufien Ma, putra sulungnya Gabrielle dan Elea.


Saat suasana menjadi sepi, Karl dengan cepat mengambil sekotak kue yang tadi di beli saat dalam perjalanan kemari. Setelah itu Karl memberikan kue tersebut pada sang nenek.


"Wahhh, apa ini?" tanya Yura penasaran.


"Itu kue kesukaan Nenek. Tadi Kak Bern yang menyarankan untuk membelinya setelah Cio mengirimkan pesan kalau Nenek sedang merindukan kami," jawab Karl jujur.


"Benarkah?"


Yura lalu menatap penuh haru ke arah Bern. Cucunya yang dingin itu ternyata masih menyimpan rasa peduli terhadap neneknya sendiri.


"Semoga Nenek suka," ucap Bern tanpa tersenyum sama sekali.


"Tentu saja Nenek akan sangat menyukainya. Yang membelikan kue ini adalah cucu kesayangan Nenek, jadi mana mungkin Nenek tidak suka," sahut Yura antusias. Dia lalu membuka kotak kue untuk melihat apa saja isi di dalamnya. "Waahhh, kalian benar-benar cucu yang sangat baik. Terima kasih banyak ya untuk kuenya. Nenek suka!"


Karl dan Bern kompak mengangguk. Setelah itu mereka melihat ke dalam rumah saat terdengar suara gaduh dari sana. Tak lama kemudian muncullah Cio yang sedang berlari kencang karena di kejar oleh ibunya.


"Ayo cepat berangkat. Aku bisa mati di tangan banteng betina itu kalau sampai terlambat melarikan diri. Ayo cepat!" teriak Cio tanpa menghiraukan tatapan aneh dari kedua saudaranya.


"Karl, Bern, kalian pergilah. Hati-hati ya!" ucap Bryan sembari menggelengkan kepala melihat kelakuan Cio dan Patricia. Dasar mereka.


"Baiklah. Kalau begitu kami pamit ya Kek, Nenek, Paman Junio!" sahut Karl sambil menatap ngeri ke arah Bibi Patricia yang muncul dengan wajah merah padam. "Bibi, aku pergi dulu ya."


"Karl, kalau kau sempat tolong habisi anak kurang ajar itu ya. Berani-beraninya dia menggoda teman arisan Bibi. Dasar anak brengsek!" murka Patricia.


"I-iya, Bi."


Secepat kilat Karl menyeret kakaknya masuk ke dalam mobil. Dia takut terkena imbas kemarahan bibinya. Sedangkan Yura, Bryan dan juga Junio terlihat begitu syok setelah Patricia mengatakan kalau Cio telah menggoda teman arisannya. Benar-benar ya anak satu itu. Haihh


Ya Tuhan, seingatku dulu aku itu tidak pernah mengejar wanita tua. Hanya wanita cantik saja, dan itupun harus dengan bodi yang aduhai. Tapi kenapa sekarang putraku malah tergila-gila pada wanita yang usianya jauh lebih tua darinya? Astaga.

__ADS_1


***


__ADS_2