Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Karma Itu Nyata


__ADS_3

Teman-teman, mohon dukungannya untuk novel emak yang berjudul WANITA KESAYANGAN SANG PRESDIR yang insyaallah emak ikut sertakan dalam lomba 100%kekasihideal. Genrenya Romantis/Komedi dan sudah up mulai hari ini. Silahkan cek profil emak untuk mampir kesana ya. Di jamin sakit perut karena nahan tawa 😂😂😂 Terima kasih.



***


📢📢📢 BOM KOMENTARNYA BESTIE 💜


***


Saat sampai di tempat acara berlangsung, Levita langsung mengajak Elea untuk menemui temannya. Tak lupa juga dia mengenalkan Elea pada teman-temannya yang lain juga. Dan ya. Begitu semua tahu kalau Levita datang bersama Nyonya Ma, Elea langsung menjadi pusat perhatian. Hal ini tentu saja membuat Levita merasa sangat bangga karena sekarang teman kecilnya dicintai dan dikenal oleh banyak orang. Hati Levita selalu saja teriris setiap kali teringat dengan keadaan Elea di awal-awal kebersamaannya dengan Gabrielle. Sangat perih dan menguras air mata. Haihhh.


“Nyonya Elea, anda benar-benar sangat luar biasa. Melihat karya butik anda membuat saya teringat dengan hasil karya mega bintang Nyonya Clarissa Wu. Darah seni mengalir kuat di dalam tubuh kalian. Sangat mengesankan.”


“Anda terlalu melebih-lebihkan, Nyonya. Saya hanya seorang desainer biasa, tidak seperti mendiang Nenek saya yang adalah seorang mega bintang,” sahut Elea menanggapi pujian dengan rendah hati.


“Apapun itu saya tetap terkesan dengan semua seni yang anda buat. Menantu saya bahkan menjadikan hasil karya anda sebagai fashion yang dia kenakan setiap kali menghadiri acara. Dia bilang semua baju yang anda buat terasa hidup, membuat pemakainya jadi merasa nyaman. Sungguh!”


“Benarkah? Saya tersanjung sekali mendengarnya, Nyonya. Tolong sampaikan rasa terima kasih saya kepada menantu anda. Dan jika senggang datanglah ke butik saya untuk melihat-lihat,”


“Dengan senang hati, Nyonya Elea. Sepulang dari sini salam dari anda akan saya sampaikan kepada menantu saya. Dia pasti akan berjingkrak-jingkrak kesenangan nanti. Hahaha.”


Elea ikut tertawa saat temannya Levita menggunjingkan tentang kehebohan menantunya. Setelah itu Elea mengedarkan pandangan mencari keberadaan Levita yang ternyata tengah berbincang dengan seorang pria. Mungkin itu adalah temannya yang mengadakan acara ini. Tak mau menggangu, Elea pun berpamitan untuk mengambil minuman. Tiba-tiba saja tenggorokannya terasa sangat kering.

__ADS_1


“Nyonya Elea,” ….


Tengkuk Elea meremang saat ada seseorang memegang bahunya dari arah belakang. Sambil menelan ludah, Elea pun berbalik menghadapnya. Dan dalam sesaat Elea merasa kalau pikirannya seperti ditarik melewati dimensi waktu yang berbeda sebelum akhirnya dia terperanjat kaget saat ada yang menepuk pipinya dengan kuat. Sambil mengerjap-ngerjapkan mata, Elea menatap lekat wajah orang yang ada di hadapannya. Dia linglung.


“Elea! Elea! Kau kenapa?” tanya Levita sambil terus menepuk pipi Elea. Dia sangat cemas melihat sahabatnya ini diam mematung dengan wajah di banjiri keringat. “Elea, sadar. Kau kenapa? Ayo bicara!”


“Kak Levi?” panggil Elea lirih.


“Iya ini aku. Kau kenapa, Elea. Apa yang terjadi?”


“Seseorang menepuk pundakku lalu alam bawah sadarku seperti dibawa pergi melewati suatu tempat yang sangat aneh,” jawab Elea. “Kak, apa kau melihat siapa yang melakukan hal ini padaku? Tadi saat aku berbalik menghadapnya aku tidak sempat melihat rupa dari orang ini. Dan suaranya mirip orang yang sudah berumur. Kau lihat tidak, Kak?”


Kening Levita langsung mengerut saat mendengar pertanyaan Elea. Setelah itu Levita mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan pesta, mencari-cari apakah orang yang di maksud oleh Elea masih ada di sana atau tidak. Akan tetapi nihil, dia tidak bisa menemukan orang yang mengganggu Elea. Penasaran, Levita mencoba mencarinya ke arah toilet. Rasanya agak aneh, semacam ada bisikan yang meminta Levita untuk berjalan ke arah sana.


Masa iya ada arwah penasaran yang ingin meminta tolong padaku sih. Aku kan bukan indigo.


Deg deg deg


“Nyonya Elea,” ….


Suara ini … suara ini terdengar lagi. Tak mau kecolongan, Elea dengan cepat berbalik menghadap ke belakang. Dan betapa terkejutnya Elea melihat seorang wanita tua tengah menatapnya dengan kondisi tubuh bermandikan darah. Mengerikan, tapi ada rasa sedih yang begitu kuat saat mata mereka saling memandang.


“S-siapa kau?” tanya Elea tergagap. Jujur, dia sangat takut melihat penampilan wanita ini.

__ADS_1


“Nyonya, aku ingin meminta maaf karena sudah memilih putra pertamamu untuk membalaskan dendam yang masih kubawa sampai sekarang. Aku hanyalah seorang Ibu yang ingin menuntut keadilan pada seseorang yang dengan tega telah memenggal kepala putraku. Tolong maafkan dosaku ini, Nyonya. Putramu tidak bersalah, tolong maafkan aku.”


Di saat itulah Elea baru tersadar kalau wanita ini adalah bibi berdarah yang pernah dilihat oleh Flowrence. Sadar kalau kemunculan wanita ini berhubungan dengan karma yang dipangku oleh salah satu putranya, Elea pun menanyakan pada wanita ini siapa orang di keluarganya yang tega menyengsarakan masa depan putranya. Dia harus tahu.


“Siapapun dirimu aku ikhlas memaafkan. Akan tetapi bisakah kau memberitahuku siapa orang yang telah meninggalkan karma buruk pada putraku?” tanya Elea dengan suara gemetar.


“Nyonya, sebentar lagi kau akan segera mengetahui semuanya. Aku datang menemuimu di sini karena aku ingin memberitahumu kalau amarah di diri putramu nanti hanya bisa di padamkan oleh seorang gadis yang memiliki tanda lahir istimewa di bahunya. Saat matahari dan bulan menyatu, gadis itu terlahir ke dunia ini. Dan Tuhan telah menggariskan takdir kalau hanya gadis itu saja yang mampu menjinakkan amarah dan kebencian di diri putramu. Percayalah, Nyonya. Hidup putramu tidak akan selamanya menderita. Akan ada hari untuknya menyongsong kebahagiaan, dan itu hanya akan terjadi jika putramu bersama gadis pemilik bulan sabit di bahunya. Tapi ….


Rasanya jantung Elea seperti akan meledak saat wanita ini menjeda perkataannya. Dengan tubuh gemetar hebat, Elea mendesak agar wanita ini kembali bicara. “T-tapi apa? Aku mohon beritahu aku semuanya. Jangan begini. Aku bisa mati kalau kau tidak segera memberitahukan semuanya padaku. Bicaralah. BICARA!”


“Tapi sebelum kebahagiaan itu datang, keluargamu akan mengalami badai yang sangat besar. Kematian beruntun, kecelakaan, ingatan yang hilang, tangis dan air mata, kekecewaan, luka, juga ada seseorang yang akan terjebak dalam sesal yang sangat besar. Ini semua adalah karma yang harus di tanggung oleh keluargamu, Nyonya. Sang penyair pernah berkata. Indahnya bulan siapapun boleh memandang, tapi permata belum tentu semua orang bisa memiliki. Saat benih padi di semai, akan membuat umat manusia terbebas dari kelaparan. Akan tetapi jika murka yang diajukan, maka petaka yang akan datang. Karma ini nyata, Nyonya. Dan akan segera menghampiri satu-persatu orang yang terpilih untuk menanggungnya. Bukan hanya satu, tapi ketiga anakmu. Kuatkan hatimu dan hati suamimu karena hanya itu saja yang bisa kalian lakukan!”


Levita yang tengah mencari-cari keberadaan seseorang di dalam kamar mandi hampir mati jantungan saat dia mendengar benda terjatuh ke lantai yang mana menimbulkan suara yang sangat kuat. Penasaran benda apakah itu, Levita segera keluar dari dalam kamar mandi. Dan betapa terkejutnya dia melihat Elea yang sudah terkapar di lantai dan di kerumuni oleh banyak tamu yang tengah menghadiri acara.


“ELEA!”


Seperti orang kerasukan, Levita menjerit dengan sangat kuat sebelum akhirnya dia menghambur ke arah kerumunan orang-orang. Dengan mata berkaca-kaca Levita memangku kepala Elea lalu dia meminta seseorang untuk menelpon Gabrielle lewat ponselnya. Setelah itu Levita menangis merasakan tubuh Elea yang sangat dingin seperti baru keluar dari dalam freezer.


“Hiksss Elea, kau kenapa. Kau masih baik-baik saja saat datang kemari, tapi kenapa sekarang kau pingsan. Apa yang terjadi sayang. Hikssss, bangun,” ucap Levita sambil menangis sesenggukan. Sakit sekali melihat Elea seperti ini, Levita merasa dejavu.


“Nyonya Levita, Tuan Gabrielle sedang dalam perjalanan kemari. Lebih baik kita bawa Nyonya Elea keluar dari sini agar nanti Tuan Gabrielle bisa langsung membawanya pergi ke rumah sakit,”


Levita hanya bisa mengangguk pasrah saat orang-orang yang ada di sana membantu mengangkat Elea menuju mobil. Tak lupa Levita mengambil barang-barang miliknya dan juga milik Elea sebelum akhirnya dia menyusul keluar.

__ADS_1


Kenapa jadi seperti ini? Apa jangan-jangan tadi Elea mendapat penglihatan ya, makanya dia pingsan mendadak. Ya Tuhan, kasihan sekali dia.


***


__ADS_2