Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Maju Kena Mundur Kena


__ADS_3

Di saat Levita dan Reinhard tengah asik berbulan madu, di kediaman Gabrielle tengah terjadi keributan besar. Tapi kali ini pelakunya bukan Cuwee ataupun Elea, melainkan sang nyonya besar, Liona.


"Bu, tenang dulu. Altez hanyalah wanita yang menjadi rekan bisnisku di perusahaan. Di antara kami sama sekali tidak ada hubungan apapun. Sungguh!" ucap Gabrielle panik. Dia sangat syok saat ibunya datang dengan membawa kemarahan yang begitu berapi-api.


"Kalau memang tidak ada hubungan apa-apa di antara kalian, lalu kenapa Elea menangis? Dia pasti sudah melihat sesuatu yang tidak seharusnya dia lihat kan? Jujur, Gab. Kalau tidak, Ibu akan membuat wanita yang bernama Altez itu datang berlutut di hadapan Elea untuk mengakui dosa yang sudah kalian lakukan. Paham!" geram Liona sembari melayangkan tatapan membunuh ke arah putranya.


Gabrielle menghela nafas. Sungguh, dia benar-benar sangat menyesal karena waktu itu dengan bodohnya memancing kecemburuan Elea. Kalau saja dia tahu akhirnya akan jadi seperti ini, matipun Gabrielle tidak akan mau melakukannya.


"Sekarang menantu Ibu ada di mana. Kasihan Elea, dia pasti sangat terluka selama beberapa hari ini."


"Bu, sebenarnya apa yang sudah di katakan Elea sampai-sampai Ibu mengamuk seperti ini padaku. Apa benar dia menangis?" tanya Gabrielle sambil menahan lengan sang ibu yang ingin pergi mencari istrinya. Elea masih terlelap setelah percintaan panas mereka semalam. Bisa gawat jika ibunya sampai melihat jejak-jejak kekerasan penuh kenikmatan di tubuh istrinya itu.


Mata Liona langsung memicing tajam saat mendengar pertanyaan putranya. Sedetik kemudian dia menghela nafas, mencoba meredam emosinya yang tengah memuncak.


"Hansen yang melaporkan. Kau tidak lupa kan kalau Ibu memiliki banyak mata di mana-mana?" jawab Liona. Dia lalu menghempaskan tangan Gabrielle dari lengannya. "Tanganmu kotor."


Gabrielle menghela nafas.


"Tapi Bu, kenapa aku bisa tidak tahu kalau Elea menangis? Padahal yang seharusnya menangis itu kan Altez. Setelah mereka bertemu di perusahaan, Elea dan Levi pergi melabrak Altez di hotel tempat dia menginap. Apa Paman Hansen tidak salah memberikan laporan?"


"Salah atau tidak salah kalau berhubungan dengan menantu Ibu itu artinya benar, Gabrielle. Ibu tidak peduli apakah benar Elea menangis atau tidak. Yang jelas kau sudah mengakui bukan kalau waktu itu Elea melihatmu sedang duduk berduaan dengan Altez di dalam ruangan? Benar kan?"


Gluukkk


Gabrielle menelan ludah sebelum menganggukkan kepala. Percuma, sudah tidak celah untuknya mengelak. Ibarat kata, maju kena mundur juga kena. Mau tidak mau sekarang Gabrielle hanya bisa menerima nasib di amuk oleh ibunya gara-gara kebodohan yang dia lakukan sendiri.

__ADS_1


"Apapun yang Ibu pikirkan tentang aku, itu tidaklah benar. Aku sangat mencintai Elea, mustahil untukku mampu menduakannya dengan wanita lain. Jika Ibu tidak percaya, Ibu boleh menghukumku," ucap Gabrielle pasrah.


"Ibu lebih percaya Elea daripada ucapanmu. Di mana-mana pria itu sama saja. Menyebalkan!" amuk Liona kemudian berjalan cepat menuju lift. Dia harus bertemu menantunya detik ini juga.


Di sofa, ada seorang pria tua yang tengah duduk diam dengan raut wajah yang begitu murung. Siapa lagi kalau bukan Greg.


"Apa kau senang sekarang?"


"Maksud Ayah apa?" tanya Gabrielle bingung.


"Gara-gara kebodohanmu, sekarang nama baik Ayah jadi ikut tercemar di mata Ibumu. Memangnya tadi kau tidak dengar saat Ibumu menyebut kalau semua pria itu sama saja, hah!" omel Greg. "Ya Tuhan, padahal selama ini biji mata Ayah hanya tertuju pada Ibumu seorang. Tapi gara-gara kau dan wanita yang bernama Altez itu, Ayah jadi di sama ratakan dengan para buaya yang berkeliaran di luaran sana. Menjengkelkan sekali kalian!"


Gabrielle mengusap wajahnya kasar. Senjata makan tuan. Benar-benar di luar dugaan. Gabrielle sungguh tidak menyangka kalau keisengan yang dia lakukan akan menjadi bomerang untuknya sendiri. Dan sialnya hal ini terjadi di saat Elea sedang bersedih hati karena di tinggal berbulan madu oleh pelakornya. Gabrielle yakin sekali kalau drama ini akan semakin memanas jika istrinya itu sampai memiliki niat untuk mengerjainya juga. Bisa mati berdiri dia di siksa oleh ibunya nanti.


"Gab, sebenarnya kau itu maunya apa sampai-sampai rela membuang menantu Ayah hanya demi wanita yang kebesaran dada itu. Elea itu cantik, cerdas, kaya raya, unik lagi. Apa yang salah dengannya, hm?" tanya Greg tak habis pikir dengan ulah yang di perbuat oleh putranya.


Setelah mendengar penjelasan putranya, Greg bisa bernafas lega. Setidaknya dengan begini tuduhan yang di layangkan istrinya tadi tidaklah benar.


"Hmmm, sepertinya kita harus berhati-hati jika ingin mencari masalah dengan para wanita, Gab. Mereka itu seperti mempunyai pasal sendiri yang tidak bisa kita bantah," ucap Greg seraya menarik nafas panjang. "Pasal satu, wanita selalu benar. Pasal dua, kembali lagi ke pasal satu. Wanita selalu benar, mereka tidak pernah salah. Dan ini hukumnya mutlak di mata mereka."


"Ayah benar. Tapi mau bagaimana lagi, kita para pria sama sekali tidak berdaya menghadapi pasal-pasal mematikan tersebut. Karena tanpa wanita, kita tidak akan bisa membuat adonan. Jadi ya sudah, mau tidak mau kita hanya bisa pasrah daripada tidak menerima jatah. Benar tidak?" tanya Gabrielle.


"Ya, kau benar sekali. Haihhhh, untung wanita yang kita nikahi adalah wanita-wanita hebat dan cantik jelita. Kalau tidak, tekorlah kita, Gab."


Greg dan Gabrielle lanjut mengobrol membicarakan tentang istri-istri mereka. Lalu sampailah mereka pada pembicaraan yang mengarah pada sesuatu hal yang membuat keduanya tertawa terbahak-bahak. Mereka bahkan sampai lupa kalau di dalam salah satu kamar rumah ini ada dua orang wanita mengerikan yang bisa saja muncul tiba-tiba. Tapi ya sudahlah. Benar apa kata Liona kalau semua pria itu sama saja. Sama-sama suka membicarakan hal mesum tentang para wanita.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong semalam kau lembur tidak, Gab?" tanya Greg penuh maksud.


"Aku menggempurnya habis-habisan, Ayah. Lihat saja sekarang. Elea masih belum bangun setelah semalaman begadang bersamaku," jawab Gabrielle sambil menahan senyum. Dia jadi terkenang dengan kegiatan panasnya dengan Elea semalam.


"Apa kau sedang menargetkan sesuatu? Ingat, Gab. Elea tidak boleh sampai kelelahan. Kau tidak lupa kan dengan kondisinya?"


"Ayah tenang saja. Aku sudah meminta Jackson untuk membuatkan jadwal agar tidak mengganggu kesehatan Elea. Jangan khawatir."


"Suami siaga, eh?" ledek Greg sembari menaik-turunkan kedua alisnya.


Gabrielle menaikkan satu alisnya ke atas kemudian tersenyum. Dia dengan bangga menunjuk dadanya sendiri, memberitahu sang ayah kalau memang benar dirinya adalah suami yang sangat siaga.


"Cihhh ... bangga sekali kau."


"Hehehehe."


Sungguh pasangan anak dan ayah yang sangat absurd bukan? 😝


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


...πŸ€Jangan lupa vote, like dan comment...


...ya gengss...


...πŸ€Ig: rifani_nini...

__ADS_1


...πŸ€Fb: Rifani...


__ADS_2