
Di atas ranjang rumah sakit,terlihat seorang mumi kecil tengah menggeliat pelan sambil meringis menahan sakit. Sementasa ketiga orang yang kala itu tengah menikmati sarapan langsung tersedak kaget saat mumi kecil itu tiba-tiba bangun kemudian menangis.
“Hikss,” ….
“Sayang, kenapa menangis? Mana yang sakit, hm?” tanya Elea sambil berjalan cepat menuju ranjang. Dia lalu menyeka air mata di wajah putrinya yang mengalir dengan cukup deras. “Jangan menangis ya. Ibu jadi ikut sedih nanti.”
“Hikss, Ibu. Aku mimpi buruk,” jawab Flowrence sambil terisak lirih.
“Mimpi buruk tentang apa?”
“Kak Bern dan Kak Karl ingin dimakan mayat hidup. Mereka seram sekali, Bu. Aku takut.”
Elea terdiam. Hatinya langsung bergetar hebat begitu mengetahui penyebab mengapa putrinya bisa menangis ketakutan seperti ini. Setelah itu pikiran Elea mulai terbawa arus di mana dia menerka apakah mungkin kedua putranya akan sama-sama menanggung beban dari karma itu atau tidak. Karena jika di telisik dari aduan Flowrence, kedua putranya itu selalu saja di ikuti oleh sosok yang tak kasat mata. Dan Elea meyakini kalau sosok tersebut adalah bentuk dari karma yang datang dari masa lalu. Ini mengerikan,sungguh.
Kak Iel, bagaimana caranya ya supaya kita bisa mematahkan rantai kutukan ini. Aku takut sekali, Kak.
Gabrielle segera menghampiri Elea kemudian mengusap bahunya pelan. Jangankan Elea, Gabrielle saja sebenarnya juga sangat ingin menghentikan karma buruk yang menimpa salah satu putranya. Namun apa daya. Yang sedang mereka hadapi bukan masalah biasa, melainkan takdir dari Tuhan. Jadi Gabrielle tidak tahu harus bertindak bagaimana untung menyelamatkan masa depan anak-anaknya.
“Ayah, Ayah makan apa?” tanya Flowrence saat tak sengaja melihat bibir ayahnya berminyak. Dia lalu memiringkan kepala agar bisa melihat ada makanan apa di atas meja. “Oh, ada Ibu Levita ternyata. Selamat pagi,”
“Selamat pagi kembali, gadis nakal,” sahut Levita. Dia lalu pura-pura bersikap galak di hadapan mumi kecil yang kini tengah menatap lapar ke arah makanan yang tertata di atas meja. “Kenapa, Flow? Sepertinya kau begitu kaget melihat keberadaan Ibu di sini.”
“Bu, apa itu makanan?” tanya Flowrence tak mengindahkan pertanyaan dari ibunya Oliver. Dia lebih tertarik pada kotak makanan yang aromanya membuat cacing di dalam perut Flowrence menjerit-jerit.
“Tentu saja ini makanan. Kenapa memangnya?” jawab Levita sambil menahan tawa. Lucu sekali melihat ekpresi kelaparan di wajah calon menantunya itu. Haha.
__ADS_1
“Heummmm, enaknya. Aku boleh minta sedikit tidak, Bu?” Begitu melihat makanan, seketika Flowrence lupa akan mimpi bururk yang telah membuatnya menangis saat bangun dari tidur.
“Ih minta. Belilah,” sahut Levita bercanda. Paham kalau situasi sedang tidak terlalu baik, Levita memutuskan untuk bergabung bersama Gabrielle dan Elea. Dia berjalan menuju ranjang sambil membawa sepiring makanan yang sengaja dia isi dengan makanan kesukaan Flowrence. Setelah sampai, Levita segera mendudukkan diri di sisi ranjang lain lalu menatap sinis ke arah Gabrielle yang tengah memeluk bahu Elea. “Ck, lihatlah, Flow. Ayahmu seperti tidak punya malu bermesraan seperti itu di hadapan kita. Tegurlah, jangan biarkan Ayahmu mengotori pikiranmu yang masih polos itu!”
Pandangan Flowrence segera teralih pada kedua orangtuanya begitu dia mendengar ucapan ibunya Oliver. Setelah itu Flowrence mengerutkan keningnya, heran melihat ekpresi aneh di wajah sang ibu.
“Ibu, Ibu kalau ingin tersenyum ya tersenyum saja. Jangan malah ditahan seperti itu. Jelek tahu,” ucap Flowrence dengan polosnya.
Elea tergelak. Sedetik kemudian dia tersenyum, gemas melihat Flowrence yang salah mengartikan raut wajahnya. “Hmm … Ibu itu bukan sedang menahan senyum, sayang. Akan tetapi Ibu itu sedang sedih memikirkan keadaanmu yang terbungkus perban seperti ini,” sahut Elea. Jelas-jelas Elea sedang cemas dan juga takut, tapi kenapa Flowrence malah mengeluarkan kata yang berbeda jauh dari yang sedang dia pikirkan. Mau heran tapi ini adalah putri kandungnya sendiri. Jadi ya sudah, Elea maklum saja.
“Oohh, aku pikir Ibu sedang menahan senyum tadi.”
“Bukan,”
Gabrielle dan Levita hanya mendengarkan percakapan absurd antara Flowrence dengan Elea. Sungguh, cara bicara kedua wanita ini hanya bisa dimengerti oleh mereka saja. Dari mulai Flowrence yang berpikir kalau Elea sedang menahan senyum sampai Elea yang menyebut kalau Flowrence itu sebenarnya adalah titisan dewi ular, prcakapan aneh tersebut berhasil membuat Gabrielle dan Levita kaku di tempat. Entahlah. Pokoknya setiap orang yang berada di tengah-tengah mereka, dijamin otaknya pasti akan langsung berhenti bekerja. Terlalu rumit untuk bisa mengerti percakapan ibu dan anak ini yang terkadang berada dalam batas pemikiran manusia normal.
“Iya, Sisil belum mati. Dan sekarang dia di dirawat oleh dokter yang tinggal di rumah Nenek,” jawab Elea. “Kenapa, hem? Apa kau juga ingin pulang dan dirawat bersama Sisil di sana?”
“Em, aku pikir-pikir dulu ya, Bu,”
“Hei, apanya yang harus dipikir-pikir dulu, Flow. Justru dengan kau dirawat oleh mereka, kau bisa selalu dekat dengan Sisil. Lagipula ya, kinerja dokter di rumah sakit ini masih kalah jauh jika di bandingkan dengan kinerja para dokter yang tinggal di rumah Nenekmu. Dokter di sini payah dan tidak tahu bekerja. Jadi Ibu sarankan kau sebaiknya dirawat di rumah saja ya. Lebih menjamin!” ucap Levita tanpa berpikir dua kali.
“Benarkah?”
Flowrence membeo. Dia lalu menatap ibunya Oliver dengan pandangan yang sedikit bingung. “Ibu, apa itu artinya kalau Ayah Jackson dan Ayah Reinhard adalah dokter yang buruk juga? Mereka kan bekerja di rumah sakit ini. Seburuk itukah mereka?”
__ADS_1
Levita seperti tersambar petir di siang bolong saat dia menyadari kalau perkatannya tadi ternyata telah merusak nama baik suaminya yang adalah direktur rumah sakit ini. Sambil meringis menahan malu, Levita melirik ke arah Gabrielle dan Elea yang ternyata sedang menahan tawa. Sialan.
Haiisshhhhhh, kenapa aku malah terkena senjata makan tuan begini sih. Flowrence juga, kenapa sih dia harus sepolos ini. Huh, tidak anak tidak orangtua, mereka sama saja. Aaaaaaa ….
“Kak Levi, kenapa kau tidak menjawab pertanyaan Flowrence?” tanya Elea iseng. Dia senang sekali karena bakat untuk membully pelakor ini menurun pada putrinya.
“Jangan mulai ya Elea,” sahut Levita kesal.
“Hehe,” ….
“Apa yang sedang kau tertawakan hah?”
“Tidak ada kok.”
“Bohong,”
Flowrence menatap bergantian ke arah sang ibu dan juga ibunya Oliver yang malah asik berdebat sendiri. Gabrielle yang memang sudah terbiasa dengan keributan ini hanya bisa menarik nafas panjang. Setelah itu Gabrielle memutuskan untuk menyuapi putrinya saja yang kebetulan sejak tadi terus melirik ke arah piring yang masih di pegang oleh Levita.
“Ayah, kenapa kedua Ibuku selalu terlihat seperti anjing dan kucing ya? Apa jangan-jangan di masa lalu nenek moyangnya mereka adalah binatang? Makanya mereka tak pernah akur setiap kali bertemu," tanya Flowrence sambil mengunyah makanan yang di suapkan oleh ayahnya. Ettsss, jangan kalian pikir Flowrence bisa mengunyah seperti orang normal ya. Bibirnya hanya terbuka sedikit, dan dia hanya mengunyah asal saja sebelum akhirnya semua makanan yang ada di dalam mulut dia telan sekaligus.
"Sssttt, sudah. Biarkan mereka mau melakukan apa, jangan hiraukan. Lebih baik sekarang kau makan saja karena kata Ibu Levita sebentar lagi Oliver akan datang kemari," jawab Gabrielle tak membiarkan Flowrence mengetahui hal-hal yang belum seharusnya dia ketahui. Maklumlah, pikiran anaknya ini sedikit berbeda dengan cara berpikir manusia lain. Gabrielle takut Flowrence merasa penasaran.
"Jadi Kak Oli mau datang menjengukku?"
Gabrielle mengangguk. Dia lalu tersenyum kemudian mengelus pelan puncak kepala Flowrence. Setelah itu Gabrielle kembali menyuapkan makanan ke dalam mulut putrinya yang kini mulai tidak bisa diam.
__ADS_1
Sebesar itukah pengaruh seorang Oliver di hidupmu, Nak? Kau bahkan seperti lupa kalau sedang terluka. Hmmm.
***