Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Istana Tersembunyi


__ADS_3



πŸ“’JANGAN LUPA BOM KOMENTAR BESTIE DI NOVEL My Destin(Clara & Eland) πŸ’œ


πŸ“’JANGAN LUPA JUGA BOM KOMENTAR BESTIE DI NOVEL Pesona Si Gadis Desa πŸ’œ


πŸŽ—πŸŽ—πŸŽ—πŸŽ—πŸŽ—πŸŽ—πŸŽ—


"Russell Eiji Wang. Nama yang sangat cantik bukan, kakak ipar?" tanya Kayo sembari mengelus-elus pipi putranya yang sedang terlelap.


Tidak terasa sudah satu minggu sejak Kayo melahirkan. Dan sejak saat itu pula Gabrielle di buat uring-uringan karena Jackson telah menyandra baby Flow di rumahnya. Sebenarnya bukan hanya Gabrielle saja yang kesurupan setan reog. Akan tetapi Greg, Bryan, dan juga Levita, ketiga orang-orang ini terus saja mengatur banyak rencana untuk mengambil alih Flow dari tangan Jackson. Walaupun masing-masing dari mereka telah mendapat tugas menjaga bayi, tetap saja ketiga orang ini merasa tak puas jika baby Flow tidak ada bersama bayi-bayi mereka. Dan di sinilah semua orang sekarang. Menjenguk Kayo dengan dalih agar bisa bertemu dengan baby Flow.


"Russell, nama yang sangat bagus, Kay. Aku yakin saat besar nanti Russell pasti akan menjadi pria yang memiliki kesabaran begitu besar," jawab Elea seraya tersenyum penuh maksud.


"Kay, di mana Jackson menyembunyikan Flow?" tanya Levita sambil celingukan ke sana kemari. Sejak dia datang, Levi tak kunjung melihat keberadaan calon menantunya. Dia khawatir Jackson menyekapnya di suatu tempat tersembunyi.


"Kau geser saja lukisan barbie itu ke samping. Lalu kau akan langsung sampai di istana yang Jackson buatkan untuk Flow," jawab Kayo.


"Whaattt? Jadi Jackson menyimpan Flow di balik dinding?" kaget Levi. "Yang benar saja. Berani sekali dia!"


Greg dan Gabrielle dengan cepat membantu Levita menggeser lukisan barbie tersebut. Dan begitu terbuka, ketiga orang ini di buat terkaget-kaget akan isi di dalamnya. Sungguh, ini sangat jauh dengan apa yang mereka pikirkan saat tahu kalau Flow tersembunyi di balik dinding ini.


"Apa ini adalah semacam istana?" tanya Greg terpesona.

__ADS_1


"Sepertinya iya, Paman. Woaahh, Jackson benar-benar sangat keren. Tidak di sangka ternyata dia telah mendirikan sebuah istana megah untuk Flow. Pantas saja kurcaci itu tak pernah membuat onar, ternyata ini penyebabnya," ucap Levita penuh kagum.


Jika Greg dan Levita terkagum-kagum akan kamar yang Jackson buatkan untuk baby Flow, lain halnya dengan yang dirasakan oleh Gabrielle sekarang. Jujur, Gabrielle cemburu. Dia merasa kesal karena secara tidak langsung Jackson telah merebut predikat ayah terbaik dari tangannya. Tak terima dengan kekalahan tersebut, Gabrielle segera menghubungi Ares lalu memintanya untuk mendekor satu kamar khusus untuk baby Flow dengan tema istana bawah laut.


"Harus seperti nyata, Res!" tegas Gabrielle.


"Baik, akan segera saya atur. Kalau begitu saya matikan dulu panggilannya,"


Kayo dan Elea saling berpandang-pandangan setelah mendengar pembicaraan Gabrielle dengan Ares. Untung saja Jackson sedang di rumah sakit. Kalau tidak, kedua pria posesif ini pasti akan bersitegang memperebutkan gelar sebagai ayah yang terbaik. Benar-benar menggelitik hati.


"Kay, kau tidak cemburu kan kalau Kak Jackson menyayangi Flow sampai seperti ini?" tanya Elea memastikan.


"Kakak ipar, kenapa kau bisa berpikiran seperti itu, hem? Flow itu bukan orang lain, jadi mana mungkin aku merasa cemburu padanya hanya karena Jackson menyayanginya?" jawab Kayo sambil terkekeh pelan. "Sedari awal aku sudah mengetahui tentang hal ini, kakak ipar. Jadi kau tidak perlu merasa cemas. Aku malah senang karena aku dan Jackson bisa mempunyai sepasang anak tanpa harus melahirkan dua kali. Flow adalah berkah dalam rumah tangga kami, kakak ipar. Jadi kau jangan berpikiran sempit seperti itu ya?"


"Oh, baguslah kalau kau tidak merasa keberatan. Niatnya tadi aku ingin menyogokmu dengan emas berlian kalau kau tidak menyukai kehadiran Flow di rumah ini. Hehehe,"


"Tentu saja aku sangat setuju,"


Setelah itu pandangan Kayo dan Elea beralih ke arah Greg dan Gabrielle yang sedang berebut ingin menggendong baby Flow. Sementara si bayi, peri mini itu tampak kesenangan menjadi bahan rebutan. Hingga pada akhirnya baby Flow mengeluarkan gas beracun yang mana membuat Levita tertawa terbahak-bahak.


"Hahahhahaaa, rasakan itu. Rasakan. Hahahaha!"


"Ufff, busuk sekali aroma kentutmu, Flow. Apa kau di beri makan telur busuk saat tinggal di rumah ini, hem?" keluh Greg sambil menutup lubang hidungnya. Bau ini benar-benar sangat menyengat, membuat perut Greg jadi sedikit bergejolak.


"Itulah akibatnya jika terlalu serakah, Paman. Kena batunya 'kan?" ejek Levita dengan begitu puas.

__ADS_1


"Kak Levi, kenapa kau mengatai Ayah Greg seperti itu? Bukankah kau sendiri juga adalah orang yang serakah ya? Masa maling teriak maling, kan tidak lucu!" celetuk Elea dengan begitu estetik.


Hening. Tak ada suara apapun lagi yang terdengar begitu Elea mengeluarkan celetukan yang membuat semua orang terdiam heran. Maling teriak maling, astaga. Entah darimana dia bisa mendapatkan kalimat senyeleneh ini.


"Elea, bisa tidak kau jangan memancing keributan denganku? Astaga, mulutmu itu benar-benar ya. Bagaimana bisa kau mengataiku seperti itu hah?" amuk Levita dengan emosi yang berapi-api.


"Aku bukan memancing keributan, Kak Levi. Tapi aku hanya ingin meluruskan benang kusut di balik perkataanmu tadi," sahut Elea dengan santainya. "Tapi memang benar kan kalau kau itu sama serakahnya seperti Ayah Greg?"


"Serakah kepalamu. Memangnya apa yang sudah aku rebutkan sampai-sampai kau menganggapku serakah?"


"Uang belanja bulanan, apartemen, saham, berlian, mobil, perawatan salon untukmu dan untuk calon menantuku, serta masih banyak lagi yang lainnya. Itu apa namanya kalau bukan serakah?"


Levita langsung meringis sambil menyelipkan anak rambut ke belakang telinga begitu Elea menyebutkan satu-persatu hasil kerja kerasnya memerasa Gabrielle. Malu? Hohoho, itu tidak mungkin terjadi. Karena apa? Karena Levi berdalih kalau semua kekayaan itu akan menjadi milik Flow dan Oliver nantinya. Lagipula Levi juga tidak sepenuhnya bersalah karena setiap kali dia membuka mulut, baik Gabrielle maupun Elea mereka akan langsung mentransfer uang dalam jumlah yang sangat besar ke dalam rekeningnya. Bahkan pernah suatu kali hal ini menjadi penyebab ributnya Levi dengan Reinhard. Suaminya itu merasa kalau Levi seperti sedang menjual anak mereka sendiri demi kekayaan. Padahal jelas-jelas kalau Oliver sudah di dp sejak masih berbentuk embrio agar ketika dewasa nanti anak mereka menjadi suaminya Flow, tapi masih saja Reinhard merajuk. Namun hal tersebut tidak berlangsung lama karena Reinhard menerima sogokan dari Bibi Liona berupa 10% saham dari sebuah resort yang di gadang-gadang akan menjadi incaran para turis internasional. Dan sejak itulah Reinhard tak pernah lagi merajuk karena tak mampu menerima sogokan-sogokan yang datang dari keluarganya Gabrielle. Dan mungkin ini adalah kali pertama dalam sejarah seorang menantu laki-laki di-kayakan sejak dini oleh keluarga mempelai wanita. Asik sekali bukan?


"Kay, kapan Jackson akan mengembalikan Flow padaku?" tanya Gabrielle sambil menciumi kelopak mata putrinya yang sedang bergerak-gerak. Sungguh jahil sekali bayi ini, berani pura-pura tidur setelah membuang gas beracun yang baunya sangat MasyaAlloh (wkwkwk, ini emak yang nyebut. Jangan pada gagal paham yak)


"Bukankah jatah kalian di bagi masing-masing dua minggu dalam sebulan ya, Kak?" jawab Kayo sambil menahan tawa. "Itu artinya masih ada sepuluh hari lagi kami baru akan mengembalikan baby Flow padamu,"


"Haishhhh, lama sekali."


"Itu sudah perjanjian yang kalian buat sendiri."


"Menyesal aku mengizinkan Jackson memilih Flow. Tahu begitu aku minta dia untuk membawa Tora saja. Huh!"


Gabrielle hanya bisa bersungut-sungut setelah tahu kalau dia baru akan tinggal bersama putrinya sepuluh hari lagi. Benar-benar sangat menjengkelkan.

__ADS_1


*****


__ADS_2