
Karl berlari tergesa-gesa saat memasuki gedung rumah sakit. Dia yang baru saja selesai memberi pelajaran kepada para penjahat langsung pergi kemari setelah di beritahu kalau adik dan sepupunya tengah mendapat perawatan akibat luka yang cukup serius. Dengan tubuh di banjiri keringat, Karl pergi menuju ruangan yang memang hanya di tempati oleh keluarga inti saja. Di sana dia melihat semua keluarganya sedang berkumpul sambil terus melihat ke salah satu ruangan ICU.
"Nek, Russel dan Flowrence bagaimana?"
Liona menoleh. Dia lalu mengulurkan kedua tangan, meminta agar Karl memeluknya. Jujur, saat ini Liona benar-benar sangat rapuh. Dia di buat ketakutan akan kehilangan Flowrence setelah dokter mengatakan kalau keadaan cucunya itu cukup mengkhawatirkan. Termasuk juga dengan Russel dan Sisil, si gadis kecil yang keadaannya paling parah. Pembuluh darah di wajah Sisil pecah akibat dia yang tergantung terbalik dalam kurun waktu yang cukup lama, dan di khawatirkan hal ini akan menimbulkan cidera otak yang bisa saja membuat Sisil menjadi koma.
Oya, mungkin di antara kalian ada yang penasaran dengan keluarganya Sisil. Saat ini ibu dan ayahnya Sisil juga ada di sana. Namun mereka hanya diam tanpa berani berkata apa-apa. Berada di tengah-tengah keluarga yang sangat berpengaruh ini siapalah yang tidak akan merasa gugup. Di tambah lagi cucu emas dari keluarga ini mengalami kecelakaan ketika sedang bersama dengan anak mereka. Sudah pasti kedua orangtuanya Sisil merasa sangat ketakutan. Benar tidak teman-teman?
"Russel di patuk ular saat sedang berusaha menyelamatkan Sisil dan adikmu. Kalau Flowrence, entahlah. Dokter bilang keadaannya sangat parah dan sekarang Paman Jackson sedang mendonorkan darahnya. Nenek takut sekali, Karl," ucap Liona lirih.
"Paman Jackson mendonorkan darah untuk Flowrence? Memangnya itu bisa, Nek? Paman Jackson kan bukan ayah kandungnya Flowrence. Aneh!"
Tentu saja itu sangat bisa, Karl. Karena di masa lalu, ibumu dan ayahnya Russel adalah saudara sekandung. Mungkin jika di pikir secara nalar sehat, hal ini sama sekali tidak masuk di akal. Akan tetapi fakta yang ada benar-benar menunjukkan kalau Pamanmu bisa mendonorkan darahnya untuk adikmu. Nenek pun bingung.
"Karl, bagaimana para penjahat itu?" tanya Bern sambil berjalan menghampiri adik dan neneknya. Selama Bern hidup, baru sekali ini dia merasa ketakutan setengah mati. Apalagi sekarang ayah dan iibunya sedangtidak ada di sana, membuat Bern merasa paling bertanggung jawab atas apa yang telah menimpa adik bungsunya.
"Kau masih bertanya bagaimana dengan mereka? Heh, sulit di percaya!"
Tiba-tiba saja Karl melepaskan diri dari pelukan neneknya kemudian mencengkeram leher kakaknya. Marah, Karl benar-benar sangat marah sekarang. Karl tahu kalau kakaknya memiliki sikap yang sangat dingin. Akan tetapi tidak sepantasnya kakaknya masih bisa bersikap setenang ini ketika nyawa adik mereka sedang berada dalam bahaya.
__ADS_1
"Apa maumu?" tanya Bern mencoba untuk tidak terprovokasi.
"Mauku? Heh!" Karl berdecih sinis. "Apa kau tahu, Kak. Sebagai seorang adik, aku malu mempunyai kakak sepertimu. Saat Flowrence sedang berjuang untuk hidup dan aku sedang menuntut keadilan dengan cara menyiksa para penjahat itu, kau sebagai yang paling tua kenapa tidak melakukan apa-apa? Apa kau pikir hanya dengan membantu menarik tali itu sudah cukup untuk kau lakukan? Tidak, Kak Bern. Kau benar-benar sangat dingin. Aku dan Flowrence adalah saudaramu, kami masih adik-adikmu!"
Semua orang sangat kaget melihat reaksi Karl yang begitu emosional. Sedangkan Bern, dia hanya diam tak menyahut. Mau bagaimana lagi, yang di katakan oleh Karl memang benar kalau Bern terkesan cuek saat sedang berada di lokasi kejadian. Entah kenapa dia sama sekali tidak merasakan kekhawatiran yang besar melihat adik-adiknya seperti itu. Justru rasa takut ini baru muncul ketika dokter mengatakan tentang keadaan adik perempuannya yang terus memburuk. Jika di tanya baik-baik, Bern juga tidak mengerti mengapa dia bisa bersikap seperti ini. Dia tidak tahu. Namun sebelum dia bersikap sedemikian rupa, Bern telah di yakinkan oleh seseorang kalau semuanya pasti akan baik-baik saja. Ya, semuanya akan berakhir baik-baik saja.
"Karl, Bern. Apa-apaan kalian hah! Ini rumah sakit, jangan membuat keributan di sini!" tegur Greg sambil menatap bergantian ke arah cucu lelakinya yang sedang terlibat pertengkaran.
"Iya Karl, Bern. Tolong tenanglah. Masalah ini bisa kalian bicarakan baik-baik 'kan!" imbuh Oliver. Dia cukup kaget melihat Karl yang tiba-tiba mencengkeram lehernya Bern.
"Tidak bisa!" hardik Karl seraya menatap tajam ke arah Oliver. "Jangan mentang-mentang kau telah di jodohkan dengan adikku lalu kau bisa seenaknya bicara seperti itu, Oliv. Kau ... masih bukan siapa-siapa!"
"Kau jangan ikut campur dalam masalah ini. Ingat, Oliver. Semua urusan keluarga inti kita tidak memiliki hak untuk turut andil. Yang Karl katakan memang salah, tapi aku tetap tidak akan membiarkanmu menyakitinya!" ucap Andreas penuh penekanan.
"Aku tahu itu dan aku juga tahu kalau kau memang di tugaskan untuk melindungi mereka. Akan tetapi aku sangat tidak suka dengan sikap arogan Karl. Kau juga mendengar apa yang dia katakan barusan, kan? Bukan hanya tentang aku, tapi tentang Bern juga. Karl terlalu agresif sampai dia lupa kalau kami adalah saudaranya sendiri!" sahut Oliver marah.
Liona menatap satu-persatu ke arah cucu-cucunya yang sedang bertengkar hebat. Di detik ini, tiba-tiba saja pikiran Liona tertarik masuk ke dalam satu ingatan tentang ucapan Elea yang menyebut kalau salah satu cucunya akan tumbuh menjadi sesosok manusia yang arogan dan juga serakah. Awalnya Liona berpikir kalau Bern-lah yang akan memiliki sikap tersebut. Akan tetapi setelah melihat sikap Karl sekarang, pemikiran Liona berubah haluan.
Mungkinkah Karl adalah orang yang di maksud oleh Elea? Tapi kenapa bisa dia?
__ADS_1
Tiba-tiba saja angin dingin datang berhembus begitu Liona berpikiran kalau Karl adalah orang yang di maksud oleh Elea. Dan di detik yang bersamaan, Karl menoleh ke arah Liona. Suasana jadi terasa mencekam saat pandangan mata Liona terkunci oleh gelapnya tatapan mata Karl. Ini aneh. Jelas-jelas Bern-lah yang memiliki sikap dan prilaku paling mengkhawatirkan, tapi kenapa sekarang aura gelap yang memancar keluar dari tubuhnya Karl terasa begitu menakutkan? Benar-benar sangat aneh.
"Honey, ada apa?" tanya Greg cemas.
"Greg, sepertinya ada yang salah dengan Karl," jawab Liona pelan. "Entah kenapa aku merasa kalau dia adalah orang yang akan menanggung karma itu. Lihatlah, tatapan matanya begitu mengerikan, aku seperti melihat bayangan diriku yang dulu di matanya. Bagaimana ini, Greg?"
Kayo yang melihat paman dan bibinya saling berbisik pun merasa heran. Dia lalu memperhatikan Karl, sikap anak itu sedikit berbeda hari ini. Mungkinkah ini yang sedang di bicarakan oleh paman dan bibinya? Tapi kenapa?
Brrraaakkkk
"Tuan, Nyonya. Keadaan Nona Muda semakin mengkhawatirkan dan Nona Sisil kini benar-benar telah koma. Adakah di antara kalian yang bersedia untuk ikut mendonorkan darah? Kami tidak bisa hanya mengandalkan donor darah dari dokter Jackson saja!" teriak dokter dengan wajah pucat pasi.
"Ambil darahku saja, dok!" sahut Bern sambil menghempaskan tangan Karl dari lehernya. "Ambil sebanyak yang kalian butuhkan asalkan adikku bisa di selamatkan!"
Tanpa banyak bicara lagi Bern langsung berjalan masuk menuju ruangan lain untuk melakukan donor darah. Dan sebelum dia benar-benar masuk, Bern sempat berhenti kemudian menatap lama ke arah Karl.
"Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku, Karl?" gumam Bern lirih.
*******
__ADS_1