Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Ketulusan Hati


__ADS_3

Hari sudah semakin malam, tapi Cira masih enggan beranjak dari sisi wanita yang masih belum sadarkan diri sampai sekarang. Matanya sendu, terlihat sembab di ujung matanya yang menandakan kalau dia baru saja menangis.


"Sayang," ....


Ares memanggil nama istrinya pelan. Sejak datang ke rumah ini, dia sama sekali tidak meninggalkan istrinya sedikitpun. Selain karena mengkhawatirkan kondisinya yang tengah hamil muda, juga karena Ares tak mau kalau Cira sampai berfikir dia tak setia. Bahkan untuk pertama kalinya Ares sampai meninggalkan kewajibannya untuk melayani Tuan Muda-nya demi menemani Cira agar tidak terlalu merasa sedih dan sendirian.


"Ini sudah malam. Apa kau tidak ingin istirahat dulu? Mandi air hangat mungkin, ya?" bujuk Ares sembari mengelus-elus rambut panjang istrinya.


"Aku tidak tega meninggalkan Mama sendiri, Res. Aku takut dia kenapa-kenapa," sahut Cira lirih. Matanya terus terarah pada wanita yang masih betah memejamkan matanya.


"Di luar ada Paman Bryan dan Bibi Yura. Nanti aku akan meminta mereka untuk menemani Nyonya Clarissa dulu sewaktu kau mandi. Mau ya? Kasihan bayi kita, sayang. Dia pasti akan merasa sedih kalau hatimu kalut seperti ini. Yakin saja, Nyonya Clarissa pasti sembuh."


Cira mendongak. Dia menatap dalam ke wajah Ares yang sudah begitu setia terus berada di sisinya sejak tadi siang. Saat tengah memandangi wajah tampan suaminya, tiba-tiba Cira teringat akan sesuatu hal. Saking kalutnya Cira akan kondisi wanita yang kini dia panggil Mama, Cira sampai lupa untuk melayani Ares.


"Maaf."


Kening Ares mengerut. Dia bingung kenapa istrinya tiba-tiba meminta maaf.


"Sayang, kenapa kau meminta maaf padaku?" tanya Ares penasaran.


"Karena aku sudah lalai pada tugasku. Aku mengabaikanmu karena terlalu memikirkan perasaanku sendiri. Aku minta maaf ya, Res," jawab Cira.


"Ya ampun, sayang. Kau ini kenapa sih. Apa kau merasa menyesal karena tidak menyiapkan makanan untukku tadi, hm?"


Cira mengangguk.


"Hahhh, istriku benar-benar berhati malaikat. Kau tahu tidak, aku bahkan tidak yakin bisa menelan makanan setelah melihatmu bersedih seperti ini. Jangankan makan, aku sudah tidak terpikirkan apapun lagi selain memikirkan kesehatanmu dan bayi kita. Harusnya di sini aku yang meminta maaf pada kalian berdua karena tidak bisa merubah keadaan. Kalau saja aku bisa berdiskusi dengan Tuhan, aku akan meminta pada-Nya agar Nyonya Clarissa bisa segera di sembuhkan agar kalian berdua bisa istirahat."


Jeda sejenak. Ares kemudian duduk berjongkok di depan Cira sambil menggenggam satu tangannya dengan erat. Jatuh cinta. Ya. Dia dibuat jatuh cinta oleh kesederhanaan yang ada di diri istrinya ini. Hanya karena lupa menyiapkan makan siang, Cira sampai meminta maaf kepadanya. Padahal Ares sendiri tak mempermasalahkan hal tersebut. Dia cukup maklum akan kesedihan yang tengah di rasa oleh istrinya ini. Tapi ya sudahlah, Cira terlalu dewasa dalam menyikapi keadaan yang terjadi. Jadi bukan hal yang mengherankan juga kalau dia sampai meminta maaf atas kesalahan tidak sengaja yang dia lakukan.

__ADS_1


"Sayang, aku mungkin memang suamimu. Tapi orang yang jauh lebih berhak kau pikirkan untuk sekarang ini adalah Nyonya Clarissa. Karena apa? Karena beliaulah kita bisa bertemu dan bersatu seperti sekarang. Jujur, aku sama sekali tidak merasa keberatan kalau kau mengkhawatirkan keselamatannya. Aku mengerti bagaimana perasaanmu melihat orang yang telah membesarkanmu terbaring tak berdaya seperti ini. Tapi sayang, tolong mengerti kalau aku teramat sangat mencemaskan kau dan calon anak kita. Usia kandunganmu masih sangat muda, aku takut terjadi sesuatu pada kalian. Jadi aku minta sekarang kau istirahat dulu ya. Sebentar saja. Mandi, makan, dan juga minum vitamin. Setelah itu kalau kau mau datang ke sini lagi, boleh. Silahkan!" ucap Ares dengan sabar membujuk Cira agar mau makan dan sedikit beristirahat.


"Hmmm... lihatlah, Nak. Ayahmu begitu perhatian pada kita berdua," puji Cira sembari membawa tangan Ares untuk mengusap perutnya.


"Dan Ibumu begitu kuat, Nak. Jadi jangan nakal-nakal di dalam sana ya. Ayah mencintaimu dan juga Ibumu."


Setelah saling berbalas pujian Ares dan Cira saling menatap penuh cinta. Untuk sesaat mereka sedikit lupa akan keberadaan wanita yang tengah terjebak dalam dunia mimpi. Baik Ares maupun Cira, mereka saling diam meresapi kasih sederhana yang tengah melingkupi hati keduanya.


"Ekhmm, Ares, Cira. Apa Bibi mengganggu?"


Yura tersenyum kecil ke arah pasangan suami istri yang tengah bermesraan. Dia merasa hangat melihat pemandangan seperti itu, jadi memutuskan untuk diam menyaksikan terlebih dahulu sebelum akhirnya membuka suara.


"Oh, tidak sama sekali, Bibi Yura. Mari, silahkan masuk!" sahut Cira sopan.


"Maaf ya kalau kedatangan Bibi mengganggu kebersamaan kalian," ucap Yura seraya berjalan mendekat. Dia menghela nafas panjang melihat keadaan ibu mertuanya.


Ma, bangunlah. Kasihan Cira dan Elea, mereka begitu terpukul melihat keadaanmu. Bahkan Elea sampai menolak untuk masuk kemari tadi. Dia ketakutan.


"Bibi Yura, jika boleh saya ingin meminta waktu anda untuk menunggui Nyonya Clarissa di sini. Cira belum makan sejak tadi siang, saya khwatir dia akan kelelahan yang mana akan berdampak pada kehamilannya. Bisakah?" tanya Ares sopan.


"Astaga, benarkah Cira belum makan?" pekik Yura kaget. Dia segera menatap cemas ke arah Cira yang tengah menundukkan kepala. "Cira, apa benar yang di katakan oleh Ares kalau kau belum makan, hm?


"Maaf, Bibi. Aku terlalu mencemaskan Mama sampai-sampai lupa untuk memakan makan siang dan vitaminku. Aku juga lupa untuk melayani Ares sejak dia datang kemari," jawab Cira dengan jujur. Dia menunduk, masih merasa malu akan kesalahan yang dia buat sendiri.


Mendengar jawaban polos yang keluar dari mulut Cira membuat Ares dan Yura sama-sama mengulum senyum. Di balik sikapnya yang tegas dan sederhana, rupanya terselip juga sikap lucu seperti ini di diri wanita yang dulunya berasal dari jalanan.


"Cira, Bibi yakin Ares tidak mungkin marah hanya gara-gara kesalahan kecil seperti itu. Iya kan, Res?"


"Iya, Bibi. Saya tidak searogan itu untuk menyalahkan istri saya hanya karena masalah sepele seperti ini. Justru saya merasa bangga karena rasa peduli di diri istri saya begitu besar," jawab Ares tanpa ragu memuji istrinya di hadapan Bibi Yura.

__ADS_1


"Kau terlalu menyanjungku, Res. Jangan berlebihan!" tegur Cira tersipu.


"Sama sekali tidak berlebihan, sayang. Aku bicara sesuai fakta yang ada. Jika tidak percaya, tanyakan saja pada Bibi Yura. Beliau pasti tahu kalau perkataanku tadi adalah tulus dari dasar hati," sahut Ares tanpa ragu.


Yura tertawa pelan melihat pipi Cira yang semakin memerah. Setelah itu dia membimbingnya berdiri dengan hati-hati. Meski bukan anaknya, Yura memperlakukan Cira dengan begitu sayang layaknya Elea dan Patricia. Terlebih lagi sekarang Cira tengah hamil muda, yang mana adalah bayi yang akan menjadi cucunya juga.


"Istirahatlah bersama suamimu, sayang. Mama Clarissa biar Bibi dan Paman yang menjaga. Tapi kalau kau tetap merasa cemas, malam ini tidurlah di sini saja. Nanti biar Bibi minta pelayan untuk menyiapkan kamar untuk kalian berdua. Bagaimana?"


"Terima kasih banyak atas tawarannya, Bi. Tapi itu semua terserah Ares ingin tidur dimana. Aku menurut saja."


"Malam ini kita akan menginap di sini, sayang. Jadi kau bisa tenang karena kau tidak akan terpisah jauh dari Nyonya Clarissa," ucap Ares tanggap akan keinginan hati istrinya.


Cira tersenyum.


"Terima kasih, Ares. Kau baik sekali."


"Kau istriku, Ibu dari anak-anakku. Kalau begitu kita ke kamar ya. Ini sudah malam, anak kita butuh asupan makanan!"


Cira mengangguk. Setelah itu dia berpamitan pada Bibi Yura. Sambil tersenyum bahagia, Cira mengikuti langkah Ares yang membawanya keluar dari kamar tersebut.


Terima kasih untuk segala kemurahan hatimu, Tuhan. Aku bahagia menjadi istri dari seorang pria yang begitu perhatian seperti Ares. Terima kasih.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


...πŸ€Jangan lupa vote, like dan comment...


...ya gengss...


...πŸ€Ig: rifani_nini...

__ADS_1


...πŸ€Fb: Rifani...


__ADS_2