Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Putri & Pangeran


__ADS_3

Karl bersiul sambil menghirup aroma bunga yang baru saja di belinya dari salah satu toko bunga langganan sang ayah. Kenapa ayahnya? Karena ayahnya itu rutin sekali membelikan bunga untuk istri tercintanya. Siapa lagi kalau bukan wanita cantik yang sebentar lagi akan segera pergi berkencan dengannya. Hehe.


Tadi Karl merasa cukup kaget saat sang ibu tiba-tiba merengek meminta agar dirinya menemani pergi jalan-jalan. Agak aneh sebenarnya, tapi Karl tidak memiliki kekuatan untuk menolak. Kekejaman yang ada di tubuhnya seperti tidak bekerja setiap kali Karl memikirkan ibunya. Contohnya seperti sekarang. Dia tak ragu membeli sebuket bunga kesukaan sang ibu dan juga membelikannya sebuah kalung sebagai oleh-oleh manis sesuai dengan permintaan wanita cantik itu. Asal kalian tahu saja ya, Karl melakukan hal ini benar-benar tulus dari dalam hati. Karl sangat mencintai dan menyayangi ibunya, tapi tidak dengan ayahnya. Mengapa demikian? Karena ayahnya adalah anak dari wanita yang telah membuat malam-malam Karl terasa begitu menyiksa sejak dia masih kanak-kanak. Ya, Karl sangat amat membenci neneknya setelah dia mengetahui kalau sang nenek adalah sumber kesakitan dan kekejaman yang dia rasa. Mungkin selama ini kalian mengira kalau hatinya Karl benar-benar membatu saat merencanakan untuk menghabisi kedua saudaranya. Yang sebenarnya terjadi adalah Karl sering berteriak kesakitan dan hampir gila setiap kali bisikan aneh itu datang menghampiri. Sebagai saudara yang terlahir kembar, Karl jelas memiliki ikatan batin yang sangat kuat dengan kedua adiknya. Saat Bern dan Flow kesakitan, otomatis Karl juga akan merasakan rasa sakit yang bahkan jauh lebih besar lagi. Penyebabnya? Karl tidak tahu. Yang jelas dia sangat membenci sang nenek. Dan dia memiliki ambisi besar untuk menghabisinya. Karl menolak dituntun oleh karma buruk yang dibawa oleh neneknya itu. Dia tidak terima dengan kekejaman dan juga pesakitan yang dirasakannya. Sungguh.


“Selamat datang, Tuan Muda Karl,” sapa penjaga sambil menundukkan kepala dengan sopan.


“Iya,” sahut Karl seraya tersenyum manis. Seperti biasa, di saat-saat seperti ini Karl akan menunjukkan pribadi sebagai pria baik, bukan setan jahanam dengan seribu kekejaman di baliknya. “Apa Ibu ada di dalam?”


“Iya, Tuan Muda. Tadi Nyonya Elea berpesan agar anda langsung masuk saja begitu sampai di sini.”


“Oh, begitu ya. Baiklah.”


Karl segera mengetuk pintuk kemudian membukanya. Dan dia di buat ternganga-nganga oleh penampakan wanita cantik yang kini tengah tersenyum ke arahnya.


“Woaaahhh, bidadari dari langit ke berapa yang tersesat di rumah sakit ini ya? Cantik sekali,” goda Karl sambil berjalan masuk ke dalam ruangan. Dia kemudian menekuk sebelah kakinya sambil mempersembahkan buket bunga pada wanita cantik dengan dres hitam yang membalut tubuh mungilnya. "Wahai bidadari yang begitu anggun, terimalah persembahan sederhana dari pangeran tanpa kuda putih ini.”


Elea tertawa lebar melihat kelakuan konyol putranya. Dia lalu dengan senang hati mengambil buket bunga dari tangan Karl kemudian membuat gerakan terima kasih ala-ala bangsawan. Sungguh, andai ada yang melihat kejadian ini, mereka pasti tidak akan menyangka kalau di balik kehangatan tersebut ada kesedihan yang menyelimuti. Namun di balik itu semua, ada juga kasih sayang besar yang tengah berjuang ingin meruntuhkan dinding kesedihan tersebut. Ya, Elea, si bidadari cantik yang tersesat telah menekadkan diri kalau dia yang akan meluluhkan kemarahan di diri putranya ini. Apapun yang akan terjadi di masa depan, Elea akan berusaha sebisa mungkin menghancurkan rantai kutukan karma yang tak sengaja di bawa oleh ibu mertuanya.


“Um, hanya bunga saja?” tanya Elea. Dia lalu memasang wajah sedih saat menatap Karl. “Ibu kira kau akan memberikan hadiah yang jauh lebih manis daripada bunga ini, Karl. Sedih sekali.”


“Eittssss, jangan bersedih hati dulu, sayang. Pangeranmu ini tidak sepelit yang kau kira. Sekarang coba kau pejamkan matamu dulu. I have something for you,” sahut Karl dengan nakalnya bicara dengan bahasa sok romantis. Setelah itu dia buru-buru berdiri saat sang ibu memejamkan matanya. Sambil tersenyum-senyum tidak jelas, Karl berjalan ke belakang tubuh sang ibu lalu menyibakkan rambutnya ke samping. “Apa kau tahu wanita cantik. Aku sampai harus bertaruh nyawa agar bisa memberikanmu hadiah ini. Nah, sekarang sudah terpasang. Kau sudah boleh membuka mata!”

__ADS_1


Dengan patuh Elea mengikuti arahan Karl. Setelah itu dia meraba lehernya, merasa sangat senang saat tangannya menyentuh sebuah liontin yang dia yakini terbuat dari berlian. “Manis sekali. Terima kasih ya, sayang. Kalungnya pasti sangat mahal.”


“Semahal apapun harga dari kalung ini, itu masih belum bisa di bandingkan dengan kebahagiaan Ibu sekarang. Jadi … kapan kita akan berangkat berkencan, hem? Aku tidak sabar melihat orang-orang merasa iri karena aku berkencan dengan seorang wanita yang luar biasa cantik.”


Elea memukul pelan lengannya Karl saat mendengar candaannya. “Dasar kau ini ya. Kalau Ayahmu sampai tahu kau menggoda Ibu, namamu pasti akan langsung di coret dari kartu keluarga. Mau?”


“Oh, tentu saja aku sangat mau, Ibu. Dengan begitu sama artinya kalau Ayah sedang membuka peluang untuk bersaing denganku. Benar tidak?” jawab Karl dengan tengilnya.


“Astaga, ternyata ayah dan anak sama saja. Sama-sama gila.”


“Tapi Ibu sayang ‘kan?”


“Tentu saja Ibu sayang. Ayahmu, kau, Bern dan juga Flowrence, kalian semua adalah belahan jiwa Ibu. Jadi mana mungkin Ibu tidak menyayangi kalian. Bahkan meski kalian berubah menjadi penjahat sekalipun, kasih sayang Ibu tidak akan pernah berkurang. Karena apa? Karena kasih sayang Ibu akan selalu ada di sepanjang masa.”


Ada apa ini? Kenapa hatiku bergetar mendengar perkataan Ibu? Apa mungkin Ibu mengetahui kejahatanku, makanya Ibu sengaja menyinggungku dengan kata-kata itu. Tapi mustahil Ibu mengetahuinya karena Suster Lian berada di bawah pengawasan anak buahku. Ibu tidak mungkin tahu rahasia ini. Tidak mungkin.


“Karl, kenapa kau melamun? Kapan kita berangkat?” tanya Elea seraya mengguncang pelan lengannya Karl. Sebisa mungkin Elea tidak memikirkan apa-apa dulu mengingat kalau Karl memiliki kemampuan seperti Gabrielle.


“Hah? Berangkat ya?”


Karl menggaruk pinggiran kepalanya. Dia agak linglung.

__ADS_1


“Sayang, you okay?”


“Iya, Bu. Aku hanya terlalu terpesona melihat kecantikan Ibu. Makanya otakku sampai bleng karena tidak bisa berpikir jernih,” jawab Karl beralasan. Setelah itu dia meraih tangan sang ibu kemudian menggandengnya. "Baiklah wanita cantik. Pangeran yang tampan ini akan segera membawamu pergi berkencan ke tempat-tempat yang sangat indah. Apa kau sudah siap?”


“Tentu. Ibu sudah siap sejak tadi,” sahut Elea.


“Baiklah. Kalau begitu kita berangkat.”


Untung saja Gabrielle sedang tidak ada di sana. Kalau ada, sudah bisa di pastikan Karl akan menerima amukannya yang tidak terima Elea di peluk dengan begitu mesra oleh pria selain dirinya. Dan begitu sampai di luar, Karl meminta penjaga agar menyiapkan mobilnya. Dia tentu tidak mau membuat wanita cantik di sebelahnya kelelahan jika harus menunggunya mengambil mobil di parkiran.


Sementara Elea, dia tak henti-hentinya menertawakan kelakuan Karl yang memperlakukannya bak seorang kekasih. Elea bahkan tidak mempedulikan tatapan iri dari orang-orang yang tengah berada di rumah sakit. Satu harapannya. Tidak ada yang melaporkan keromantisan ini kepada Gabrielle. Kalian pasti tahu sendirikan betapa suaminya itu sangat pencemburu? Bahkan pada putra kandungnya sendiripun terkadang Gabrielle tak bisa mengendalikan rasa cemburunya. Haih.


“Silahkan masuk, tuan putri,” ucap Karl sambil membungkukkan tubuh saat mempersilahkan sang ibu masuk ke dalam mobil.


“Terima kasih, pangeran,” sahut Elea mengimbangi permainan putranya.


“Ah, jantungku.”


“Hahaha, kau ini. Sudah cepat masuk, Ibu lapar.”


“Baiklah-baiklah.”

__ADS_1


Karl segera berlari ke samping mobil kemudian masuk dan duduk di kursi kemudi. Dia dengan penuh perhatian memasangkan seatbelt ke tubuh sang ibu lalu berganti memasang seatbelt ke tubuhnya sendiri. Setelah siap, Karl segera melajukan mobil menuju tempat kencan pertama yang akan di datanginya bersama bidadari cantik ini. Yaitu restoran. Hehe.


***


__ADS_2