
"Cira, kau sedang apa?" tanya Yura seraya melongokkan kepala ke dalam kamar Cira. Dia kemudian tersenyum kecil melihat ibu hamil itu sedang mengikat rambutnya di depan meja rias.
"Masuk saja, Bibi Yura. Aku baru saja selesai mandi," sahut Cira ramah.
"Baiklah."
Sejak kejadian di mana Cira mendapat semburan lava panas dari Levita, dia seakan-akan mendapatkan hidupnya kembali. Cira memang sangat sedih atas kepergian Mama Clarissa, tapi dia berusaha tegar karena sekarang masih ada Ares dan juga bayinya yang harus dia jaga. Walaupun sangat menohok, nyatanya kata-kata Levi waktu itu sanggup menyadarkan Cira dari rasa keputus-asaan. Dan seperti inilah hasilnya sekarang. Cira bisa kembali tersenyum seperti dulu. Bukan melupakan, tapi Cira lebih memilih untuk menyimpan semua kenangan itu jauh di dalam lubuk hatinya. Karena sampai matipun, kenangan akan Mama Clarissa tidak akan pernah hilang. Selamanya.
"Apa perasaanmu baik-baik saja sekarang?" tanya Yura setelah sampai di dekat Cira. Dia kemudian membantu merapihkan rambutnya agar mudah di ikat.
"Sangat baik, Bibi. Aku bahkan tidur dengan sangat pulas semalam sampai-sampai aku tidak tahu kapan Ares berangkat bekerja. Aku istri yang sangat tidak perhatian bukan?" jawab Cira sedikit malu saat mengakui kalau dia telat bangun pagi ini.
"Bukan tidak perhatian, sayang. Bibi rasa Ares-lah yang sengaja tidak membangunkanmu. Mungkin dia tahu kalau kau sedang butuh banyak istirahat setelah beberapa waktu terakhir kau menghabiskan waktu untuk menjaga Mama Clarissa. Benar tidak?"
Cira mengangguk pelan. Dia lalu menatap wajah Bibi Yura dari pantulan cermin. Wanita ini adalah wanita yang begitu hangat. Terkadang Cira seperti merasakan kasih sayang seorang ibu kandung setiap kali Bibi Yura menunjukkan kekhawatirannya. Atau anggaplah kalau Cira telah menemukan pengganti Mama Clarissa setelah kepergiannya.
"Oh ya, Cira. Kau sudah cukup lama bukan tidak mengunjungi mertuamu? Bagaimana kalau setelah ini kita pergi ke rumahnya Nyonya Liona saja. Sekalian kita menjenguk Elea. Semenjak hamil Elea tinggal di sana," ajak Yura penuh semangat. Dia sudah sangat merindukan putrinya yang sedang hamil kembar tiga itu.
"Astaga, benar juga ya. Ya ampun, bagaimana ini, Bibi. Ibu Maria dan Ayah Digo pasti sangat kecewa padaku," sahut Cira terkejut saat Bibi Yura menyinggung tentang kedua mertuanya. Cira baru sadar kalau selama ini dia sudah mengabaikan mereka.
__ADS_1
"Tidak seperti itu. Bibi yakin mereka pasti bisa memahami posisimu kemarin. Jangan panik, kedua mertuamu tidak akan mungkin sesempit itu dalam berpikir. Mereka pasti maklum!" ucap Yura menenangkan Cira yang terlihat panik.
"Apakah benar begitu, Bi?"
"Em, Bibi tidak tahu pastinya. Akan tetapi kita akan segera mengetahui kebenarannya setelah sampai di sana. Bagaimana, kita pergi sekarang?"
"Baiklah."
Dengan penuh perhatian Yura membantu Cira untuk bersiap. Setelah itu dia mengajaknya keluar dari kamar untuk menemui Patricia dan juga baby Cio yang sudah menunggu di ruang tamu. Ya, sengaja Yura mengajak Patricia pergi bersama agar suasana semakin ramai. Kebetulan sekali Patricia sedang sangat ingin memakan rujak mangga, jadi sekalian saja mereka bersama-sama pergi mengunjungi Elea. Oh ya satu lagi. Kabar tentang Elea yang mendapat hadiah sebatang pohon mangga telah membuat semua orang menjadi sangat amat penasaran. Sungguh, baru kali ini mereka mendengar ada seorang pencuri yang di hadiahi pohon dari buah yang di curinya. Dan hal ini hanya terjadi pada rumah tangganya Gabrielle dan Elea saja. Unik bukan?
Saat dalam perjalanan, baby Cio tak henti-hentinya menatap Cira. Bayi ini seperti merasakan sesuatu hal, yang mana membuat semua orang menjadi sangat heran. Sebenarnya bukan sekali atau dua kali ini saja baby Cio bertemu dengan Cira, tapi sikapnya yang sekarang sungguh membuat mereka bertiga merasa terheran-heran. Ini sangat aneh.
"Bu, Cio kenapa ya?" tanya Patricia yang lama-lama mulai khawatir juga.
"Masa sih, Bu? Kenapa tidak masuk akal begini ya?"
Baby Cio mengerjapkan matanya ketika Cira mengulurkan tangan hendak menggendongnya. Untuk beberapa saat bayi tampan itu hanya diam saja, tapi sedetik kemudian barulah dia bersedia berpindah ke pelukan Cira.
"Ada apa, hm? Apa yang kau perhatikan sejak tadi?" tanya Cira dengan begitu lembut. Dia lalu menciumi pipi Cio dengan begitu gemas.
__ADS_1
Yura dan Patricia tertawa melihat baby Cio yang langsung mencebikkan bibir saat pipinya di ciumi dengan sangat ganas oleh Cira. Hingga tak lama kemudian tangisnya pun akhirnya pecah.
"Ya ampun, kenapa kau cengeng sekali sih. Tapi baguslah. Dengan begini artinya kau tidak mewarisi watak ayahmu yang sangat gemar berada dalam pelukan seorang wanita. Ingat pesan Ibu baik-baik ya, sayang. Saat besar nanti kau tidak boleh mata keranjang. Cukup cintai satu wanita saja seumur hidup. Oke?" ucap Patricia memberikan petuah penting pada putranya yang masih bayi.
"Kau ini ya. Cio itu masih bayi merah, Patricia. Kenapa kau malah mencuci otaknya dengan hal-hal yang seperti itu? Biarkan saja dia ingin tumbuh seperti apa. Asalkan dia sehat dan tidak menyimpang dari jalur yang seharusnya, maka bebaskan saja dia. Ingat, tugas kita sebagai orangtua hanyalah melahirkan, mendidik, dan juga membesarkan. Dan ketika dia dewasa nanti, dia memiliki hak penuh untuk mengatur hidupnya sendiri. Kau tidak boleh egois, Patricia. Kasihan baby Cio nantinya!" tegur Yura secara langsung.
"Ya ampun, Ibu. Aku ini hanya sedang bercanda saja, kenapa Ibu begitu serius menanggapinya. Ibu-Ibu," ledek Patricia seraya terkekeh geli melihat respon cepat sang ibu. Ada-ada saja.
"Bercanda atau tidak apa yang Ibu sampaikan tadi adalah benar, Patricia. Anak benar-benar menjadi hak milik kita hanya ketika dia masih kecil saja. Karena begitu dia besar, dia akan memilih jalan hidupnya sendiri-sendiri. Banyak contoh di luaran sana di mana para orangtua bersikap arogan dengan memaksa anak-anak mereka tumbuh menjadi seperti apa yang mereka inginkan. Dan apa hasilnya? Kejahatan, kekecewaan, dan juga keputus-asaan. Semua itu di timbulkan oleh kurangnya kesadaran diri dari para orangtua. Mereka lupa kalau anak-anak yang dulu mereka asuh memiliki pola pikir dan juga pendirian yang berbeda. Benar kan, Cira? Kau sependapat tidak dengan apa yang Bibi katakan?" tanya Yura sembari menggenggam tangan Cira dengan erat.
"Benar sekali, Bibi. Apa yang Bibi sampaikan barusan sangatlah mempengaruhi kesehatan mental para anak-anak. Terkadang kearoganan para orangtua membawa kesengsaraan tersendiri untuk anak-anak mereka. Dan sedihnya hal ini tidak di sadari oleh para orangtua. Aku pernah beberapa kali menemukan jenis anak-anak yang frustasi akibat tidak mampu memenuhi keinginan orangtua mereka. Sangat memprihatinkan!" jawab Cira.
Patricia menatap lekat wajah putranya yang tengah bergumam tidak jelas. Benarkah hanya sewaktu kecil saja baby Cio benar-benar bisa menjadi miliknya? Mendadak perasaan Patricia jadi sesak sendiri membayangkan kalau suatu saat nanti putranya akan memilih jalan hidupnya sendiri. Dia tidak rela.
"Jangan panik begitu, Patricia. Ibu dan Cira hanya sekedar mengingatkan saja, tidak ada maksud untuk menakut-nakutimu," ucap Yura begitu menyadari perubahan emosi di wajah putrinya.
"Peringatan yang kalian beri membuatku sesak nafas, Bu. Sungguh," sahut Patricia jujur.
"Ah, benarkah?"
__ADS_1
Setelah itu Yura, Cira, dan juga Patricia sama-sama tertawa lucu. Ya, mereka menertawakan apa yang baru saja mereka bahas. Sesederhana ini kebahagiaan mereka, cukup dengan bersenda gurau seadanya. Jika waktu di putar ke belakang, sebenarnya ada banyak kesedihan dan juga kesakitan yang mereka rasakan. Namun semua itu sudah melebur hancur seiring berjalannya waktu. Kini yang tersisa hanyalah kebahagiaan saja. Badai besar telah berlalu, dan sudah saatnya pelangi muncul sebagai pengganti awan kelabu. 🥰
*****