
"Gleen?"
"Apa, sweety?"
Dengan segera Gleen menghampiri Lusi yang baru saja terbangun dari tidurnya. Dia kemudian duduk di sisi ranjang, menikmati kecantikan natural yang ada di wajah istrinya. Cantik, benar-benar sangat cantik. Setiap pagi Gleen selalu di buat terpana akan kecantikan di diri Lusi yang terlihat begitu bersinar setiap bangun tidur. Membuatnya jadi tidak tahan untuk tidak menyentuhnya.
"Hari inikan aku tidak mempunyai kelas desain, bagaimana kalau kau meminta Nania untuk datang bermain kemari. Aku tiba-tiba merindukannya, tapi ingin kau yang menelepon. Mau tidak?" tanya Lusi sembari menatap Gleen penuh harap.
Whaattt? Gadis beracun itu? Astaga, kenapa Lusi harus mengidam dakjal kejam itu sih. Hii, jangan sampai calon anakku nanti terlahir mirip dengan Nania. Aku tidak rela.
"Gleen, kenapa diam saja? Tidak boleh ya?"
"Boleh, tentu saja boleh," jawab Gleen sambil berpura-pura tersenyum senang. Padahal hatinya sedang menjerit parah. Tapi ya sudahlah, demi anaknya Gleen harus rela mengalah dulu. Yang penting dia harus rajin memanjatkan doa agar anaknya nanti tidak menuruni kesadisan adik iparnya dalam berkata.
"Kalau begitu cepat telpon sekarang!" desak Lusi tak sabar.
"Sekarang?"
"Iya, Gleen. Sekarang."
Gleen menghela nafas. Dia memajukan bibirnya ke depan, berharap kalau istrinya ini mau memberinya satu ciuman. Lusi yang tanggap akan keinginan Gleen pun segera mencium bibirnya. Namun sayang, ciuman yang awalnya dia kira hanya akan berbentuk kecupan, kini malah berubah menjadi pagutan panjang. Dan sialnya lagi Lusi terbuai, bahkan membalas permainan Gleen yang selalu saja membuatnya mabuk kepayang.
"Hmmm, sangat manis," bisik Gleen sembari mengecup bibir Lusi yang sedikit membengkak akibat perbuatannya.
"Kau sudah mendapatkan apa yang kau mau. Sekarang cepat hubungi Nania, Gleen. Aku benar-benar sangat merindukannya," sahut Lusi sedikit tersipu mendengar perkataan Gleen.
__ADS_1
"Hei, pipimu merona!"
"Ck, Gleeen," ....
"Hehehe, baiklah-baiklah. Aku akan menelpon Nania sekarang juga. Tunggu ya."
Lusi mengangguk. Entah ini karena hormon kehamilannya atau bagaimana, dia jadi sering sekali merindukan adik-adiknya. Terutama Nania. Aneh bukan?
"Halo, Nania. Kau sedang apa sekarang?" tanya Gleen begitu panggilan tersambung.
"Maaf, ini siapa ya? Suaramu terdengar seperti knalpot motor tua."
Nah, benarkan? Baru juga Gleen bertanya, tapi dia sudah merasakan semburan abu beracun dari mulut adik iparnya. Dan ketika Gleen ingin membalas perkataan Nania, tiba-tiba saja dia di buat kaget oleh suara tawa cekikikan yang keluar dari mulut istrinya. Ya, Gleen menyalakan tombol loudspeaker, yang otomatis membuat Lusi bisa ikut mendengarkan percakapannya dengan Nania. Dan itu lucu di matanya. Dasar aneh para wanita yang sedang hamil. Untung istrinya. Kalau bukan, hmm ....
"Sweety, kau baik-baik saja kan?" tanya Gleen khawatir.
"Yaakkkk, kau pikir aku ini siapa, Nania? Jerapah yang bisa bicara?" teriak Gleen kesal.
Hening. Tak ada suara apapun lagi dari dalam telepon yang mana membuat Lusi dan Gleen saling melempar pandangan. Khawatir terjadi sesuatu pada Nania, Lusi segera mengambil ponsel dari tangannya Gleen. Dia lalu menyalakan layar, merasa heran karena ternyata panggilan itu masih tersambung.
"Halo, Nania. Kau masih ada di sana kan?" tanya Lusi.
"Emmm, hehehe. Maaf, Kak Lusi. Tadi nyawaku belum terkumpul semua, jadi aku pikir yang menelepon adalah ular kadut yang ingin bergenitan padaku. Kira-kira Kak Gleen marah tidak ya karena kuancam seperti itu? Sungguh, aku benar-benar tidak sengaja, Kak. Aku tidak tahu kalau itu adalah Kak Gleen!"
Wajah Gleen menggelap begitu tahu kalau orang yang di telponnya ternyata sedang tidur. Pantas saja pertanyaannya tadi langsung di sambut oleh semburan hawa panas yang sangat menjengkelkan. Ternyata ini alasannya. Benar-benar ya.
__ADS_1
"Ya sudah tidak apa-apa. Oh ya, Nania. Kalau Kakak memintamu untuk datang kemari kau bisa tidak? Kakak ingin sekali bermain denganmu, dan kebetulan Kakak sedang tidak ada kelas di kampus. Kau mau tidak datang kemari?"
"Tentu saja aku sangat mau, Kak Lusi. Baiklah. Semenit lagi aku akan sampai di apartemen Kakak. Daahhh," ....
Panggilan langsung terputus begitu saja setelah Nania mengatakan bahwa satu menit lagi dia sudah akan sampai di apartemen ini. Aneh. Memangnya ada manusia yang mampu berpindah tempat hanya dalam waktu satu menit? Bahkan saat ini nyawa Nania belum terkumpul semua, apa mungkin gadis beracun itu akan benar-benar sampai di sini? Lalu jika tersesat bagaimana?
"Sweety, apa kau yakin hanya ingin bersama Nania di sini?" tanya Gleen ketar-ketir.
"Lalu kau ingin aku bersama siapa lagi, Gleen? Luri tidak mungkin datang kemari, dia pasti tidak tega meninggalkan Ayah dan Ibu," jawab Lusi.
"Em, atau begini saja. Bagaimana kalau kau dan Nania pergi jalan-jalan keluar. Nanti aku akan menyuruh orang untuk menjaga kalian berdua. Di kantor sedang banyak pekerjaan, Sweety. Aku merasa tidak aman kalau kalian hanya di rumah saja."
Lusi diam berpikir. Setelah itu barulah dia ingat kalau semalam Levita dan Elea mengajaknya untuk pergi berbelanja. Sambil tersenyum kegirangan, Lusi pun mengatakan hal ini pada Gleen.
"Gleen, semalam Kak Levi dan Elea mengajakku pergi berbelanja pakaian bayi. Aku boleh pergi bersama mereka tidak? Biar nanti Nania yang akan membantuku membawa barang belanjaannya. Boleh ya?"
Whaaatttt? Nania, Elea, dan Levita? Astaga, bencana macam apa ini. Apa yang akan terjadi nanti jika wanita-wanita mengerikan ini bergabung menjadi satu? Membayangkan bahaya besar yang bisa saja terjadi, membuat Gleen malah bertambah khawatir memikirkan keselamatan istrinya. Di antara ke empat wanita yang akan pergi berbelanja ini, hanya Lusi saja yang masih bisa di anggap normal dan manusiawi. Gleen takut istrinya yang menggemaskan ini mati kaku jika harus bergabung dengan para wanita yang suka membunuh tanpa menyentuh itu. Mengerikan sekali bukan?
"Sweety, ketiga orang yang akan pergi bersamamu memiliki tingkat racun yang sangat tinggi. Aku takut kau akan di larikan ke rumah sakit jika tetap pergi bersama mereka. Kalian di rumah saja ya? Nanti aku akan membokingkan satu toko baby shop lalu meminta mereka agar datang ke apartemen kita. Nah, nanti kau dan Nania bisa bebas memilih barang apa saja yang kalian mau. Bagaimana?" tanya Gleen mencoba menyelamatkan Lusi dari bencana mengerikan itu.
Wajah Lusi langsung berubah sendu ketika keinginannya tidak terpenuhi. Jujur, hatinya begitu sedih. Ini sebenarnya memalukan, tapi Lusi tidak tahu kenapa dia bisa sampai semelow ini. Padahal sebelumnya Lusi tidak pernah bersikap seperti ini. Mungkin karena bawaan bayi kali ya. Benar tidak boeboo?"
"Kau jahat sekali, Gleen. Sudahlah, malam ini aku akan tidur di rumah Ayah dan Ibu saja. Aku tidak mau melihatmu lagi," ucap Lusi yang bicara dengan bibir gemetar menahan tangis. Dia terlukai.
"A-apa?"
__ADS_1
Hei hei hei, kenapa bencana besar ini malah berbalik datang menimpanya? Niat hati ingin melindungi Lusi dan calon anak mereka, sekarang malah Gleen yang kena getahnya. Tak mau permasalahan ini sampai berbuntut panjang, Gleen mau tidak mau akhirnya harus mau untuk mengalah. Dia dengan sangat terpaksa mengizinkan Lusi untuk ikut pergi bersama dengan Levita dan Elea. Biarlah, yang penting malam ini dia masih bisa memeluk guling hidupnya. Bisa keriting nanti Gleen kalau Lusi benar-benar tidak mengizinkannya untuk tidur bersama. Hadeehhhh.
*****