
Gabrielle dan Reinhard menyeringai senang sambil menatap Ares yang sedang bermandikan keringat. Setelah itu Reinhard berpindah duduk di sebelahnya, menepuk pelab bahu Ares yang sedang terkena karma.
"Aku prihatin untuk kebahagiaan sesaatmu tadi, Res. Dan sekarang aku semakin yakin kalau Tuhan adalah yang paling adil," ucap Reinhard.
"Kau benar, Rein. Aku setuju denganmu."
Ares menarik nafas dalam-dalam. Dia lalu menyeka keringat yang membanjiri wajahnya. Sungguh, Ares sangat menyesal sudah bersyukur kalau Cira tidak ikut tampil memakai bikini. Tapi baru saja ... baru saja istrinya yang cantik itu lewat dengan mengenakan pakaian haram berwarna peach. Dan untungnya bikini tersebut tidak terlalu seksi, hanya memperlihatkan kakinya yang jenjang dan perutnya yang rata. Kendati demikian hal tersebut tetap membuat Ares hampir terkena stroke. Dia tidak menyangka kalau nyonya kecilnya akan benar-benar melakukan apa yang di ucapkannya saat baru sampai di tempat ini.
"Makanya Res, segala hal jika berhubungan dengan Elea kau jangan coba-coba merasa puas. Sekarang lihat, karma langsung mendatangimu setelah kau mengejekku dan Gabrielle. Rasanya enak sekali bukan melihat Cira memakai pakaian seksi di depan banyak orang? Laki-laki pula. Kau pasti sangat frustasi bukan? Seperti itulah perasaan kami tadi!" ucap Reinhard sok bijak. Namun dalam hatinya dia merasa sangat amat puas melihat ketidakberdayaan Ares.
"Tolong berhenti mengganguku, dokter. Perasaanku sedang tidak karu-karuan sekarang," sahut Ares kesal.
"Cihh, tadi saat kau mengucap syukur apa kau memikirkan seperti apa perasaanku dan Gabrielle? Tidak kan? Jadi ya sudah, jangan protes karena sekarang giliran kami yang akan mengucap syukur. Syukurlah Cira ikut memakai bikini, syukurlah!"
Gabrielle tertawa melihat cara Reinhard membalas sakit hatinya pada Ares. Tapi memang benar kalau setiap hal yang berhubungan dengan Elea sangat pantang untuk orang lain merasa senang ataupun menang. Entah karena kebetulan atau memang sudah di rencanakan, orang tersebut pasti akan langsung tertimpa karma yang sama. Seperti halnya barusan. Tadi saat Gabrielle dan Reinhard kelabakan melihat bagaimana Levi dan Elea berpose memakai pakaian seksi, Ares dengan santainya mengucap syukur pada Tuhan karena Cira tidak ikut andil dalam peragaan busana tidak berakhlak itu. Namun dua menit kemudian Cira muncul dengan memakai bikini berwarna peach tapi tidak terlalu seksi. Tapi tetap saja bikini tersebut membuat paha dan perut Cira terekspos dengan sangat jelas. Dan apa kalian tahu seperti apa reaksi Ares saat pertama kali melihat kemunculan istrinya di atas catwalk? Ares begitu syok seperti sedang bertatap muka dengan iblis. Dia juga mendadak berkamuflase menjadi patung yang memiliki nafas memburu dimana wajahnya di banjiri butiran keringat sebesar biji jagung. Karma yang di rasakan Ares sangat nikmat sekali bukan? Itulah akibatnya jika berani sok hebat dari Elea. Mati rasa kan dia sekarang?
"Jadi apa yang akan kita lakukan sekarang? Para betina sudah memberikan syok jantung pada kita semua. Masa iya kita hanya akan diam saja?" tanya Ares mendendam. Dia berniat menghukum Cira karena sudah berani membuatnya sesak nafas.
__ADS_1
"Kalau aku mungkin akan memasukkan Levita ke dalam karung lalu membuangnya ke tengah laut. Kalau kau sendiri?" jawab Reinhard yakin. Balas dendam ini sudah dia rancang sesuai dengan tema yang ada. Bikini, pakaian seksi ini sangat identik dengan laut. Jadi keputusan Reinhard untuk menenggelamkan calon istrinya di tengah samudra adalah yang paling benar. Sekalian agar para hiu yang tinggal di sana cuci mata melihat keseksian seorang Levita.
"Aku mungkin akan menghukum Cira nanti malam. Akan kubuat dia tidak bisa turun dari ranjang. Biar saja, siapa suruh dia berani memperlihatkan kaki jenjangnya di hadapan pria lain. Kalau perlu nanti aku akan merantai kakinya dulu sebelum mulai memberikan hukuman," jawab Ares mantap. "Betina itu pasti akan merasa jera dan tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi. Huh."
Tiba giliran Gabrielle untuk menjawab. Namun dia hanya diam saja, tak tahu hukuman seperti apa yang akan dia berikan pada istri tersayangnya itu. Ingin menghukumnya di atas ranjang, itu tidak mungkin. Gabrielle kan masih belum boleh untuk berbuka. Jadi dia memutuskan untuk acuh, mengabaikan tatapan penasaran dari sahabat dan juga asistennya.
"Ekhmm, sepertinya ada yang sedang galau di sini," ledek Reinhard yang tahu kalau Gabrielle tidak bisa memberi hukuman untuk Elea. Secara, dia adalah dokter yang merawat perempuan nakal itu, jadi Reinhard tahu kalau Gabrielle sedang dalam mode berpuasa.
"Diamlah. Jangan mengusik ketenanganku," sahut Gabrielle dingin. "Aku galau bukan hanya karena sedang berpuasa saja, Rein. Tapi aku takut dengan timbal balik dari Tuhan jika menghukum Elea. Kau lupa ya kalau di rumah kami ada Cuwee, si kuda sialan itu. Aku takut Elea akan merajuk kemudian memilih untuk tidur di rumahnya. Kau tahu sendiri bukan kalau istriku itu sangat ekstrem?"
"Yang di bilang Tuan Muda benar sekali, dokter Reinhard. Kau sebaiknya diam saja atau karma Nyonya Elea akan langsung mendatangimu!" timpal Ares mengingatkan sang dokter.
Pletaaakkkk
"Kau pikir istriku itu seorang pelaku kriminal apa? Dia takut kau menikahi Levita karena tidak mau kehilangan temannya, bodoh. Sembarangan!" omel Gabrielle tak terima dengan tuduhan tersebut.
"Ya kan itu hanya asumsiku saja, Gab. Tidak perlulah sampai menjitak kepalaku," sahut Reinhard sembari mengelus kepalanya yang baru saja menjadi korban kebrutalan tangan Gabrielle.
__ADS_1
"Berasumsi boleh-boleh saja, Rein. Tapi tidak begitu juga. Elea-ku sangat manis, dia mana mungkin tega merusak kebahagiaan pelakornya sendiri. Kau tahu tidak kalau semua kebutuhan bulan madu kalian Elea lah yang menyiapkan. Dimana lagi kalian bisa menemukan wanita sebaik dia? Tidak akan ada!"
Reinhard dan Ares mendengarkan dengan seksama saat Gabrielle sedang mengomel. Memang benar sih kalau Elea memiliki hati yang sangat baik meskipun kelakuannya sering membuat orang sesak nafas. Di tambah lagi perempuan itu adalah kebanggaan keluarga-keluarga berpengaruh. Semakin tidak ada celah untuk Reinhard maupun orang lain untuk berkata buruk tentangnya. Apalagi di hadapan Gabrielle, si kulkas berjalan yang sudah terkena virus bucin mendarah daging pada perempuan tersebut. Di mata Gabrielle semua orang akan menjadi salah jika sampai berkata yang tidak-tidak tentang istrinya. Seperti sekarang, si kulkas berjalan ini dengan khusyuk-nya menceramahi Reinhard hanya gara-gara kelakarnya yang menyebut Elea sebagai seorang penculik. Mengerikan sekali bukan?
Sementara itu di belakang panggung, Clarissa tengah menyiapkan mental untuk membuat pengakuan besar di hadapan para tamu undangan. Dia tidak henti-hentinya menarik nafas untuk menormalkan detak jantungnya yang tidak beraturan.
"Grandma, kau baik-baik saja?" tanya Elea yang masih mengenakan gaun soft purple yang tadi dia pakai di peragaan.
"Sedikit gugup, sayang," jawab Clarissa jujur. Setelah itu dia menangkup kedua pipi cucunya. "Tapi demi kebahagiaanmu Grandma akan tetap melakukannya. Grandma akan mengakui kalau kau dan mamamu adalah dua orang yang paling berharga di hidup Grandma. Grandma sangat menyayangi kalian."
Elea tersenyum. Dia lalu memeluk sang nenek penuh rasa haru. Pelukan mereka baru terlepas saat Levi dan Cira datang menghampiri. Setelah itu mereka saling menyalurkan kekuatan pada Nyonya Wu yang sebentar lagi akan mengungkap tabir kelam masa lalu. Tak lupa juga mereka memberikan pelukan hangat pada Elea karena bagaimana pun pengakuan ini pasti akan sangat menyakiti hatinya.
πππππππππππππππππ
...πJangan lupa vote, like, dan comment...
...ya gengss...
__ADS_1
...πIg: rifani_nini...
...πFb: Rifani...