Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Mencuri Mangga


__ADS_3

Setelah di buat hampir hilang akal oleh perkataan Nania, Gabrielle secepat kilat membawa Elea pulang ke rumah. Rambutnya sudah hampir botak gara-gara kelakuan gadis belia itu. Benar-benar ya.


"Kak Iel, apa aku boleh meminta sesuatu padamu?" tanya Elea sambil menelan ludah.


Gabrielle menoleh. Dia lalu ikut menelan ludah begitu mendapati raut tak biasa di wajah Elea. Ini tidak beres, Gabrielle yakin sekali kalau sebentar lagi Elea pasti akan meminta sesuatu yang tidak-tidak darinya.


"Kak Iel, boleh tidak?" ucap Elea kembali mengulang pertanyaannya.


"Tentu saja sangat boleh, sayang. Memangnya kau ingin meminta apa dariku, hm?" sahut Gabrielle sambil berusaha tersenyum gembira. Padahal saat ini hatinya sedang dag-dig-dug tak karuan.


"Em, itu. Aku ingin makan mangga muda," ucap Elea sedikit malu-malu.


"Pergi ke supermarket, Res!" perintah Gabrielle sambil menghela nafas lega karena permintaan Elea masih di batas wajar. Namun sayang, harapan tetaplah harapan di mana Tuhan yang lebih berkuasa akan kehendaknya. Kelegaan yang Gabrielle rasakan ternyata bukan ujung dari permintaan Elea. Tapi itu adalah awak dari sesuatu yang membuatnya harus menahan malu.


"Kak Iel, aku tidak mau mangga yang di beli di supermarket."


"Lalu kau ingin mangga yang di beli darimana, sayang? Dari luar negeri?"


"Bukan."


"Lalu?"


Elea menatap lekat mata suaminya sebelum lanjut berbicara.


"Aku ingin mangga yang di petik langsung dari pohonnya, Kak. Dan itu ada di ujung jalan depan rumah yang bercat ungu sebelum memasuki kawasan rumah kita. Mangga-mangga di pohon itu begitu mencolok. Mereka seakan sedang mengolok-olok setiap kali aku melewati jalanan di sana. Aku dendam, dan aku ingin memakan mereka, Kak Iel. Sekarang!"


Gabrielle mengerjapkan mata.


"Dan harus Kakak yang memanjat pohon itu. Tidak boleh pakai kayu, apalagi meminta bantuan Ares dan paman penjaga. Harus tangan Kak Iel sendiri yang memetiknya."


Gabrielle menghela nafas.

__ADS_1


Sabar sabar. Kau kuat, Gabrielle.


"Satu lagi, Kak Iel. Kakak tidak boleh meminta izin pada pemiliknya. Curi buah mangga itu lalu kita semua kabur bersama. Bisa kan? Pasti bisa, suamiku kan suami dan calon ayah yang paling siaga. Iya kan?" bujuk Elea sambil mengelus dada suaminya.


Gabrielle sesak nafas. Ingin mengumpat, tapi yang meminta adalah Elea. Jadi sebisa mungkin Gabrielle tetap mempertahankan senyum di bibirnya meski senyum tersebut terkesan sangat terpaksa.


"Tambah sedikit kecepatan mobil ini, Res. Anak-anakku sedang lapar, kita tidak boleh membuat mereka menunggu lama!" ucap Gabrielle tak henti-henti menghela nafas. Pasrah, hanya itu yang bisa dia lakukan sekarang.


"Baik, Tuan Muda."


Jangan kalian pikir Ares benar-benar melajukan mobil dengan cepat ya. Saat ini mobil berjalan seperti seekor siput yang sedang merayap karena kelebihan muatan. Biasalah, banteng pencemburu ini begitu hati-hati dalam menjaga keselamatan bayi-bayi dalam perut sang Nyonya meski tindakannya ini kadang terkesan berlebihan.


Nyonya Elea, bagaimana bisa anda dan anak-anak anda mengidamkan makanan yang sangat aneh begini? Mencuri mangga, astaga. Saya tidak sampai hati membayangkan Tuan Muda mencuri dan memanjat pohon mangga itu seorang diri. Saya jadi curiga jangan-jangan bayi yang anda kandung nantinya akan menjadi musuh besar Tuan Muda dalam memperebutkan kasih sayang anda, Nyonya. Sekarang saja mereka sudah gencar menyiksa Tuan Muda sedari dalam kandungan. Saya yakin nantinya mereka pasti akan menjadi musuh bebuyutan.


Gabrielle yang mendengar apa yang di pikirkan oleh Ares hanya diam tak bereaksi. Jika biasanya dia akan meledak-ledak jika tahu ada orang yang berani memikirkan tentang Elea, untuk kali ini tidak. Gabrielle terlalu resah memikirkan pencurian yang akan segera terjadi. Dia bingung, tidak tahu harus bagaimana.


"Kak Iel, kenapa ekpresi wajahmu begitu panik? Tenang saja. Aku kan hanya memintamu untuk mengambilkan buah mangga untukku, bukan memintamu untuk pergi ke negara yang rawan perang. Jadi santai saja. Ya?" hibur Elea penuh kelembutan.


"Sayang, apa tidak sebaiknya kita beli saja pohon mangga itu? Nanti kan kau bisa bebas membuat rujak bersama dengan gengmu. Rasanya sedikit tidak etis kalau aku harus memberikan barang curian untuk anak-anak kita. Aku takut setelah besar nanti mereka akan menjadi perampok gara-gara aku yang salah memberi mereka makanan hasil curian!" ucap Gabrielle mencoba bernegosiasi dengan Elea. Rasanya sungguh berat jika Gabrielle harus benar-benar melakukan pencurian ini.


"Sayang, jangan merajuk. Aku minta maaf," ucap Gabrielle panik melihat Elea menjauhinya sambil menangis.


"Jangan bicara padaku, Kak Iel. Kau jahat, ternyata kau hanya mau enaknya saja. Kau begitu bersemangat saat ingin menaiki tubuhku, tapi kau menolak ketika aku sedikit meminta bantuanmu. Sudahlah, pokoknya aku benci padamu, Kak Iel. Biar saja, setelah ini aku akan pindah ke rumahnya Kak Levi. Di sana lebih aman karena kata Kak Levi dokter Reinhard begitu siaga!" sahut Elea sambil terisak-isak. Hatinya sakit sekali.


Ares menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan begitu mendengar drama mengidam sang Nyonya yang cukup ekstrim. Walaupun sedang mengemudikan mobil, tapi Ares yakin betul kalau Tuan Muda-nya pasti sedang sangat tidakberdaya sekarang. Tak mau drama ini semakin berkepanjangan, Ares mencoba jalan penengah dengan cara menawarkan diri untuk menggantikan Tuan Muda-nya mencuri mangga.


"Nyonya Elea, Tuan Muda kan mengidap penyakit OCD akan kebersihan. Bagaimana kalau saya saja yang memetik buah mangga itu? Tidak apa-apa 'kan?"


"Kau bukan suamiku, Ares. Tapi kalau kau ingin melakukannya maka kita harus menikah lebih dulu. Aku tidak masalah kok menjadi istri keduamu," jawab Elea sambil menyedot ingusnya agar kembali masuk ke dalam hidung.


"A-apa?"

__ADS_1


Srriinngggg


Gabrielle langsung melayangkan tatapan membunuh ke arah Ares yang dengan lancang ingin merebut Elea darinya. Kalau saja mereka tidak sedang berada di dalam mobil, Gabrielle pasti sudah mencekik leher Ares sampai lidahnya terjulur keluar. Berani-beraninya dia.


"Kau sudah bosan hidup ya, Res?" tanya Gabrielle sambil menggeram marah.


"Maafkan saya, Tuan Muda. Saya hanya berniat membantu anda keluar dari masalah ini saja. Saya sungguh tidak menyangka kalau Nyonya akan mengajak saya untuk menikah," jawab Ares serba salah. Dia benar-benar sangat menyesal sudah menawarkan diri untuk membantu. Andai dia tahu kalau ujung-ujungnya akan berakhir seperti ini, dia pasti akan lebih memilih untuk diam membiarkan Tuan Muda-nya merasa tertekan. Dan satu lagi kesalahan Ares, dia melupakan fakta kalau Nyonya kecilnya ini bisa membunuh tanpa harus menyentuh.


"Alasan kau!"


Setelah mengomeli Ares, Gabrielle langsung bergeser ke samping supaya bisa dekat dengan Elea. Wajahnya berubah pias ketika Elea menepis tangannya yang hendak merengkuh memeluk pinggangnya.


"Jangan sentuh aku, Kak Iel. Kau jahat," ucap Elea cetus.


"Sayang, jangan marah. Aku minta maaf kalau kata-kataku tadi sudah membuatmu tersinggung."


Gabrielle tak mau menyerah begitu saja. Alhasil dengan berat hati Gabrielle terpaksa menyatakan kesediannya untuk memenuhi keinginan Elea yang ingin dia mencuri buah mangga di ujung jalan sana. Demi kelangsungan hidup si junior, begitu pikirnya.


"Res, nanti di ujung jalan sana tolong berhenti. Aku ingin memetik mangga untuk anak-anakku dulu!" perintah Gabrielle lemas. Habislah sudah semuanya. Hari ini Gabrielle akan mendapat gelar baru, yaitu sebagai seorang pencuri mangga.


"Baik, Tuan Muda," sahut Ares sedikit tak tega.


Sementara Elea, dia langsung bergeser mendekat ke arah Gabrielle sambil memperlihatkan senyum lebar di bibirnya. Gabrielle yang melihat perubahan sikap di diri Elea pun menjadi gemas sendiri. Dia memagut bibirnya sebentar lalu setelah itu memeluknya dengan erat.


"Dasar nakal!"


"Hehehe, aku mencintaimu, Kak Iel."


"Aku pun."


"Semangat ya memetik mangganya."

__ADS_1


"Hmmm."


*****


__ADS_2