
📢📢📢 BESTIE, JANGAN LUPA DUKUNGANNYA YA SUPAYA JOVAN DAN NANIA BISA MENANG DI LOMBA DI YOU ARE A WRITER SEASON 8. OKE 💜💜💜
***
Di kediaman keluarga Shin, terlihat Kendra dan ketiga putrinya sedang duduk diam di ruang makan. Meski pelayan telah menyiapkan sarapan yang sangat lezat, tapi hal itu tak mampu membuat mereka bergeming dari lamunan masing-masing. Terutama Kendra. Sejak dia menyerahkan Amora pada Bern, setipa detik yang dia lewati serasa amat menyakitkan. Dadanya sesak dan pikirannya selalu gelisah. Bahkan sekarang Kendra sudah tak fokus lagi mengurus perusahaan. Batinnya tertekan. Sebenci-bencinya Kendra pada Amora, gadis itu tetaplah putrinya. Walaupun Amora bukan tinggal bersama Karl, tapi Kendra tidak bisa berpikir tenang. Karl dan Bern adalah saudara kembar, tidak menutup kemungkinan kalau Bern memiliki sisi monster yang sangat mengerikan juga seperti Karl. Benar tidak?
“Ayah, aku sudah tidak tahan lagi. Apapun yang terjadi Amora harus kembali lagi ke rumah ini. Dan untuk ancaman Karl, biar aku yang akan mengurusnya. Sebagai anak tertua di rumah ini aku merasa sangat berdosa membiarkan Amora menjadi tumbal untuk kehidupan kita. Aku memang membencinya, tapi kebencianku belum sampai di taraf aku merasa bahagia melihatnya menderita di bawah tekanan monster tak berhati nurani itu!” ucap Tina sambil menggebrak meja makan. Dia lalu menatap seksama ke arah sang ayah yang hanya diam tak bersuara. “Ayah, Amora terlalu muda untuk terlibat dalam masalah ini. Harusnya waktu itu Ayah membiarkan aku saja yang pergi ke rumahnya Bern, bukan dia. Dan sekarang aku benar-benar sudah tidak tahan lagi. Siang nanti aku akan pergi ke Group Ma untuk menemui Karl dan Bern. Persetan dengan kesepakatan kalian, aku ingin adikku kembali lagi kemari. Biar saja kita sakit hati melihatnya. Yang penting dia tidak menderita di luaran sana!”
“Tidak semudah itu kau berhadapan dengan Karl, Tina. Dia iblis. Belum lagi dengan Bern. Tolong jangan menambah beban Ayah,” sahut Kendra lirih.
“Beban?”
Tina tertawa sumbang. “Kalau sejak dulu Ayah tak mencuci pikiran kita agar membenci Amora, hal seperti ini pasti tidak akan terjadi. Aku tahu Ayah sedih atas kematian Ibu, tapi bukan berarti Ayah bisa memperjualbelikan anak Ayah sendiri hanya demi mempertahankan perusahaan. Kalau saja aku tahu tentang kesepakatan kalian, aku pasti tidak akan membiarkan Amora pergi kesana. Bern itu sangat kejam, Ayah. Bahkan pada keluarganyapun dia mampu bersikap dingin dan juga acuh. Lalu apa kabar dengan Amora, hah? Apa Ayah tidak takut disana dia menerima perlakuan yang jauh lebih buruk dari apa yang pernah kita lakukan terhadapnya?”
__ADS_1
Tes
Sebutir cairan bening menetes keluar dari sudut mata Kendra saat dia diamuk oleh putri sulungnya. Andai saja dia tidak gegabah dengan mendatangi Group Ma, keluarganya pasti tidak akan berakhir seperti ini. Tapi apa mau dikata, nasi sudah terlanjut menjadi bubur. Sejak membubuhkan tandatangan kesepakatannya dengan Karl, sejak saat itu pula Kendra sudah kehilangan haknya atas Amora. Dia tidak di izinkan untuk bertanya tentang kabarnya, apalagi bertatap muka secara langsung. Kendra bajingan sekali bukan? Demi keegoisannya sendiri dia sampai merelakan putrinya menjadi penjamin kehidupannya, dan sekarang dia sangat menyesal. Kendra rindu Amora-nya, dia ingin bertemu dengan putrinya yang malang itu.
“Hiksss, maafkan Ayah. Ayah salah. Maaf,” ucap Kendra lirih. Dia tak merasa malu sedikitpun menangis di hadapan ketiga putrinya.
“Ayah,” sahut Ruth dan Belyn bersamaan. Mereka segera beranjak menghampiri sang ayah kemudian memeluknya dengan erat. “Ayah, jangan begini. Kami tahu Ayah salah, tapi tolong jangan menangis. Ini membuat kami semakin merasa bersalah pada Amora. Tolong jangan menangis, Ayah. Ya?”
“Tidak, Belyn. Biarkan saja Ayah menangis seperti ini. Ayah pantas melakukannya,” sahut Kendra sesenggukan. Dia lalu beralih menatap Tina yang tengah menyeka matanya, putrinya ikut menangis juga. “Tina, kalau kau mau membenci Ayah, silakan saja. Tapi tolong bawa pulang Amora ke rumah ini. Ayah ingin sekali memeluk dan meminta maaf kepadanya. Ayah merindukan Amora.”
“Ayah sama sekali tidak akan menentang apapun keputusanmu, Tina. Ayah hanya ingin Amora kembali."
“Iya, Kak. Aku dan Ruth juga tidak akan mempermasalahkan jika seandainya setelah ini kita berlima hidup susah. Tidak apa-apa,” ucap Belyn ikut menimpali percakapan antara ayah dengan kakaknya.
“Iya aku juga setuju. Yang paling penting Amora bisa segera berkumpul lagi bersama kita. Lalu setelah itu kita akan sama-sama memperbaiki hubungan yang pernah tidak baik,” sambung Ruth ikut menyuarakan pendapatnya.
__ADS_1
Mungkin bagi orang yang pernah menyaksikan langsung bagaimana Kendra dan ketiga putrinya memperlakukan Amora dengan cara yang sangat buruk, mereka pasti akan terheran-heran melihat sikap keluarga ini sekarang. Keluarga yang tadinya tak segan untuk bersikap kasar, mendadak tobat semua setelah orang yang mereka siksa di usir pergi dari rumah. Miris. Namun, di balik kekejaman itu ternyata masih terselip rasa kasih sayang yang sangat luar biasa besar. Jika tidak, Kendra dan ketiga putrinya tidak akan mungkin mau memilih hidup susah hanya demi bisa menyelamatkan Amora yang sudah terlanjur di dorong masuk ke sebuah jurang. Tapi entahlah, tidak ada yang tahu apakah mereka masih memiliki kesempatan untuk menebus penyesalan mereka atau tidak. Karena sekarang Amora ….
“Ruth, Belyn, kalian kembalilah ke tempat duduk masing-masing. Mari kita sarapan bersama sebelum melakukan rutinitas seperti biasa. Dan untuk Ayah, hari ini Ayah istirahat di rumah saja ya. Jangan lupa doakan agar aku berhasil membujuk mereka supaya bersedia melepaskan Amora. Jika rencanaku berhasil, maka besok pagi formasi sarapan kita akan menjadi sangat lengkap. Ada Ayah, aku, Belyn, Ruth, dan juga Amora. Ya?” ucap Tina sambil menahan isak tangisnya. Suaranya terdengar gemetar. Entah kenapa perasaannya terasa sangat sedih. Semacam ada rasa dejavu seperti yang pernah dia rasakan ketika di tinggal pergi oleh almarhum ibunya dulu.
“Kak Tina, kau baik-baik saja ‘kan?” tanya Belyn bingung melihat kakaknya makan sambil menangis.
“Em, kakak baik-baik saja. Kau segeralah sarapan dan bantu Ayah istirahat di kamar. Dan kau Ruth, hari ini kau ada kuliah ‘kan? Jangan membolos,” jawab Tina berusaha tegar meski saat bicara tadi suaranya sedikit tercekat di tenggorokan. Sakiiiittt sekali.
“Baik, Kak,” sahut Ruth patuh. Setelah mencium pipi ayahnya Ruth segera kembali ke tempat duduknya. Dia kemudian mulai menikmati sarapan paginya meski rasanya dia seperti sedang menelan butiran kerikil. Sangat tidak enak.
Melihat ketiga putrinya yang sarapan dengan suasana hati mendung, membuat Kendra ikut memaksa menjejalkan makanan ke dalam mulutnya. Jika ketiga putrinya terlihat seperti kesakitan saat menelan makanan, maka Kendra serasa sedang di cabut nyawanya ketika roti yang dia kunyah mulai melewati kerongkongan. Sungguh, tidak sedikitpun Kendra pernah menyangka kalau dia akan sesakit ini berpisah dari putri yang selama ini dia anggap sebagai pembawa sial. Dia benar-benar sangat menyesal karena sudah menandatangani persyaratan yang diberikan oleh Karl waktu itu. Sungguh.
Karl, aku tahu di sini perbuatanku tidak sepenuhnya benar. Tapi jika putriku sampai kenapa-napa, aku akan meminta agar Tuhan memberimu rasa sakit yang sangat luar biasa. Amora putriku, dan kini aku menyesal menyerahkannya padamu dan juga pada kembaranmu. Aku menyesal.
***
__ADS_1