Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Tentang Masa Lalu


__ADS_3

MAAF YA GENGS, BEBERAPA HARI INI EMAK LAGI SIBUK NONTON DRAKOR DULU. EMAK JANJI NANTI KALO FILMNYA UDAH SELESAI EMAK BAKALAN RAJIN UP LAGI. EMAK BUTUH ISTIRAHAT SEBENTAR BUAT NGELURUSIN OTAK YANG BENGKOK DIKIT 😅, TAPI TETAP MENGUSAHAKAN UP MESKI BOLONG-BOLONG. MOHON PENGERTIANNYA YAKK! SARANG-BEO 💜


Jackson berjalan cepat menghampiri Elea yang sedang duduk sendirian di taman rumah sakit. Saat ini waktu menunjukkan pukul dua dini hari, tapi adiknya itu malah berada di luar sendirian. Membuat Jackson jadi khawatir saja.


"Elea, kau sedang apa di sini. Kenapa tidak tidur bersama Flow saja di dalam, hm?" tanya Jackson sembari mendudukkan diri di sebelah sang adik. Dia kemudian menoleh. "Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?"


"Kak, kalau kau ada di poisiku sekarang kira-kira apa yang akan kau lakukan jika mengetahui kenyataan kalau anak-anakku saling menyakiti. Apa kau akan diam membiarkan saja atau kau akan menghukum pelakunya. Tolong jawab," tanya Elea tanpa basa basi. Sejak mengetahui fakta kalau Bern yang telah mencelakai Flowrence, Elea terus saja merasa gelisah hingga memutuskan untuk mencari udara segar di luar ruangan. Dan tanpa di sangka-sangka kakaknya datang menghampiri. Jadi sekalian saja Elea berbagi kegelisahan ini dengan sang kakak.


"Kenapa kau bertanya seperti itu?"


"Karena Bern adalah orang yang telah membuat Flowrence celaka," jawab Elea. "Aku tidak tahu apa dia benar-benar ingin menghabisi Flowrence atau bagaimana. Namun yang jelas, kecelakaan yang di alami oleh anak-anak adalah buah dari kejahatan Bern. Dia sengaja meminta beberapa bandit untuk mencelakai Flow, tapi sialnya mereka salah sasaran dan berakhir dengan Sisil yang jatuh koma."


"APAAA!!"


Suara Jackson terdengar cukup kuat hingga menarik perhatian dari beberapa perawat yang sedang berjaga. Segera Jackson mengendalikan diri dengan menarik nafas dalam-dalam lalu mengusap wajahnya dengan kasar. Dia syok, benar-benar sangat syok. Sulit untuk di percaya kalau Bern tega mencelakai adiknya sendiri. Sungguh, nalar Jackson seakan sulit untuk menerima kenyataan ini.


"Elea, kau tidak sedang bercanda 'kan?" tanya Jackson menahan geram.


"Ibu Liona yang menyaksikan sendiri seperti apa brutalnya Bern saat menghabisi para bandit itu. Dan semua itu sudah cukup menjadi bukti kalau memang Bern-lah yang menciptakan musibah ini. Dia sangat kejam, Kak. Aku sama sekali tidak menyangka kalau dia akan setega ini pada adiknya sendiri," jawab Elea sedih.


"Gila! Bagaimana bisa Bern tega menyakiti Flowrence yang bahkan mengikat rambutnya sendiri dia tidak bisa. Apa coba untungnya bagi Bern menyakiti adiknya sampai seperti ini. Aneh!"


"Aku rasa Bern salah paham pada pernyataan Kak Iel yang menyebutkan kalau pewaris keluarga Ma adalah Flowrence, bukan dia. Makanya Bern marah kemudian berniat menyingkirkan Flowrence agar dia bisa mendapatkan poisi itu. Kau tahu sendirilah Kak kalau di antara ketiga anakku ada yang terlahir dengan memangku karma yang sangat berat. Dan itu adalah Bern. Dia orang yang di pilih untuk menempa semua kejahatan yang pernah dilakukan oleh nenek moyangnya dulu!"

__ADS_1


Jackson menelan ludah. Membicarakan tentang karma, Jackson juga sebenarnya juga tengah dilanda kecemasan. Sebelum dia menjadi seperti yang sekarang, Jackson dulunya adalah seorang pembunuh bayaran yang tak pernah pandang bulu dalam melenyapkan nyawa manusia lain. Tak peduli apakah itu wanita atau anak-anak, begitu perintah turun Jackson akan langsung melakukan eksekusi. Dan tanda-tanda karma ini sudah bisa dia lihat dari gelagatnya Russel yang diam-diam menyukai Flowrence, putri angkatnya sendiri. Oya, kalian pasti bingung bukan kenapa Jackson bisa mengetahui hal ini? Itu tentu saja adalah hal yang sangat mudah bagi Jackson menyadarinya. Hati dan perasaannya selalu gelisah setiap kali melihat cara Russel memandang dan memperlakukan Flowrence. Dan hal ini juga dirasakan oleh Kayo. Namun, secara perlahan mereka mencoba untuk selalu mengingatkan Russel bahwa Flowrence adalah saudarinya, jadi mereka tidak boleh sampai terlibat hubungan.


Mungkinkah Russel juga akan bernasib sama seperti salah satu anaknya Elea? Jika iya, maka aku tidak boleh lengah memantau kedekatan Russel dengan Flowrence. Tidak lucu kan kalau dia tergila-gila pada kakak sepupunya sendiri. Cinta sedarah ini tidak boleh sampai terjadi.


"Kak, akhir-akhir ini aku selalu memimpikan orang asing yang sangat misterius. Orang ini selalu saja membawaku pergi ke sebuah tempat yang menyerupai medan peperangan. Di sana ada banyak sekali manusia yang mengenakan pakaian aneh, semacam baju zirah yang di pakai tentara untuk berperang di zaman dulu. Dan di antara mereka, orang itu memintaku untuk memperhatikan seseorang yang duduk di atas kuda dengan membawa sebilah pedang tajam di tangannya. Dia menyebutnya sebagai jendral. Auranya begitu gelap dan mengerikan, seolah mampu membunuh manusia lain tanpa harus mengayunkan pedang yang di pegangnya!" ucap Elea memutuskan untuk bercerita tentang mimpi aneh itu pada kakaknya. "Dan apa kau tahu perkataan seperti apa yang di sampaikan orang tersebut padaku?"


"Apa?" tanya Jackson.


"Dia bilang salah satu putraku terlahir di hari yang sama persis dengan jendral itu. Bulan purnama yang bersinar utuh di iringi dengan hembusan angin sejuk. Sebenarnya kelahiran seperti itu adalah hal yang sangat baik di perhitungan orang zaman dulu. Akan tetapi karena jendral tersebut mengemban tugas yang sangat berat dari pemimpin di negaranya, dia dengan terpaksa mengotori tangannya untuk menghabisi para musuh yang mencoba membuat kegaduhan. Namun, sewaktu ketika si jendral menghabisi salah seorang musuhnya, jendral itu tidak tahu ada seorang tua yang selalu menunggu kepulangan dari si musuh tersebut. Dan ketika dia tahu kalau putranya mati di bunuh, dia mengikrarkan sebuah sumpah bahwa si jendral itu baru akan mati saat dia mengalami pesakitan yang sangat luar biasa hebat dari orang terdekatnya, di mana nanti orang tersebut adalah salah satu dari ketiga anak-anakku. Orang misterius tersebut juga mengingatkan aku kalau sumpah yang di ucapkan oleh seorang tua itu sudah mulai berjalan sejak aku melahirkan Bern, Karl dan Flowrence !" jawab Elea getir. "Kak Jackson, aku tahu mungkin di masa lalu pernah ada hubungan yang belum selesai di antara kita. Dan jika aku boleh bertanya, apakah jendral itu adalah dirimu? Jika iya, tolong menjauhlah dari putra-putraku. Aku tidak mau kau mati di tangan mereka, Kak!"


"Zhou'er," ....


Elea menoleh. Nama ini terdengar asing, tapi rasa sedih dan juga kekecewaan terasa begitu menyeruak ke dalam hatinya.


"Kalau bukan kau, lalu siapa jendral itu, Kak? Orang misterius itu bilang kalau dia hidup di tengah-tengah keluarga kita," ucap Elea resah.


"Aku tidak tahu, Elea. Atau jika tidak coba kau bicarakan masalah ini dengan Gabrielle. Siapa tahu dia mengetahui tentang jendral yang kau maksud,"


"Ini yang tidak bisa aku lakukan. Sejak mimpi itu datang, aku merasa kacau setiap kali ingin memberitahu Kak Iel. Semacam ada bisikan yang memaksaku agar jangan memberitahukan tentang mimpi itu padanya. Aku merasa seperti sedang di tekan, Kak!"


Kedua alis Jackson saling bertaut saat dia mendengar perkataan Elea. Aneh. Bahkan semua orang tahu kalau Elea bisa jujur hanya di hadapan Gabrielle seorang. Tapi sekarang?


Sebenarnya ada apa dengan keluarga ini. Bagaimana bisa urusan di masa lalu terbawa sampai ke masa sekarang? Apa jangan-jangan Tuhan tengah memberi pertanda kalau ada beberapa kejadian yang memang hanya bisa di patahkan oleh para penerus kami? Astaga, benar-benar sangat membingungkan. Dan juga siapa jendral itu? Aku jadi penasaran.

__ADS_1


Hembusan angin malam menyadarkan Jackson dan Elea yang sedang sama-sama melamun. Sambil mengelus lengannya yang terasa dingin, Elea akhirnya mengajak sang kakak untuk masuk ke dalam.


"Ayo kita masuk saja, Kak. Udaranya semakin dingin, kita tidak boleh sampai sakit. Ayo!"


"Elea?"


"Hmm?"


Elea yang sudah berdiri langsung menoleh ke arah kakaknya. "Ada apa, Kak?"


"Apapun yang terjadi nanti, ingatlah bahwa kau tidak sendiri. Entah itu Bern atau Karl, kita harus tetap menyayangi mereka. Karena pada dasarnya mereka menjadi seperti itu bukan atas kehendak sendiri, melainkan karena di paksa oleh takdir yang meminta mereka untuk menyelesaikan sesuatu yang belum selesai di masa lalu. Kita satu keluarga, Elea. Aku tidak mau kau menderita sendirian. Oke?" jawab Jackson sembari mengelus puncak kepala adiknya.


"Iya, Kak. Aku akan berusaha untuk membuka diri agar beban yang aku rasa tidak terlalu berat," sahut Elea. Dia kemudian tersenyum. "Jangan terlalu lama mengelus puncak kepalaku, Kak. Kau tidak sadar ya ada sepasang mata yang tengah mengawasimu penuh dendam dari balik kegelapan? Dia baru saja muncul,"


"Aku tahu. Karena itulah aku sengaja mengelus rambutmu. Biar pemilik mata itu kebakaran jenggot menahan kecemburuannya yang tidak ada obat,"


"Hehe, kau ini. Begitu-begitu aku sangat mencintainya, Kak. Sampai mati aku hanya akan mencintai dia!" ucap Elea dengan suara yang cukup keras. Sengaja dia melakukannya agar orang itu tidak merajuk nanti.


Jackson terkekeh. Dia lalu merangkul bahu Elea dan mengajaknya masuk ke dalam. Membiarkan banteng pencemburu itu menggeram marah melihat kelakuannya.


Satu kosong, Gabrielle.


***

__ADS_1


__ADS_2