
"Sayang, sepertinya aku tidak bisa mengantarmu pergi ke kampus. Ada pekerjaan mendesak di kantor. Tidak apa-apa kan?" ucap Gabrielle sambil menatap wajah cantik Elea yang sedang memasangkan dasi di lehernya.
"Tidak apa-apa, Kak. Nanti aku bisa berangkat bersama Kak Jackson saja. Kau sudah mengabarinya kan?" tanya Elea. Dia lalu mengelus dada Gabrielle setelah dasinya terpasang dengan rapi. "Hmm, suamiku benar-benar sangat tampan. Bern dan Karl pasti akan sangat bangga memiliki Ayah setampan dirimu, Kak."
"Bern dan Karl?"
Elea mengangguk. Dia kemudian turun dari atas kursi yang menjadi tempatnya berpijak. Tubuh suaminya sangat tinggi, sementara tubuhnya sendiri lumayan mini. Setiap Elea ingin membantu suaminya memakai dasi, dia butuh suatu barang yang bisa menopang tinggi badannya agar bisa sejajar dengan si tiang listrik ini.
"Calon anak-anak kita. Kau Ayahnya, dan aku Ibunya. Bern, Karl, dan Flow. Manis sekali bukan?"
Gabrielle tersenyum. Dia selalu suka melihat binar kebahagiaan di mata Elea setiap kali menyebut nama dari calon anak-anak mereka.
Ya Tuhan, segerakan berkatmu dengan menghadirkan tiga malaikat di rahim istriku. Dia sudah begitu menantikannya. Tolong jangan membuatnya menunggu terlalu lama lagi. Amin.
"Kak Iel, besok pagi adalah hari pemberkatan pernikahan Kak Levi dan dokter Reinhard. Apakah kau sudah mengosongkan jadwal untuk hadir di acara mereka?" tanya Elea seraya merebahkan kepala di dada suaminya. Aroma tubuh ini menyesatkan pikiran Elea. Terlalu memabukkan.
"Pelakor itu akan membunuhku dengan sangat brutal jika aku berani tidak menampakkan diri di acara pernikahannya. Kau tahu sendirilah betapa gilanya perempuan itu," jawab Gabrielle. Dia lalu mencium puncak kepala Elea, meresapi setiap waktu yang dia habiskan bersamanya.
"Dokter Reinhard sangat beruntung menikahi wanita sebaik Kak Levi, Kak. Mungkin mulut dan tingkah lakunya sangat tidak berakhlak. Tapi jika di bandingkan dengan orang-orang yang bermuka dua, aku lebih suka berteman dengan orang yang suka bicara terus terang seperti Kak Levi. Di luar dia terlihat kejam, tapi hatinya begitu baik. Kak Levi sangat unik bukan?"
Tok tok tok
"Maaf mengganggu, Tuan Muda, Nyonya Elea. Saya ingin memberitahukan kalau dokter Jackson dan Lusi sudah menunggu di bawah!" lapor Nun dari luar kamar.
Elea menarik nafas dalam-dalam sebelum membebaskan diri dari kuasa suaminya. Setelah itu dia segera merapihkan pakaian yang tadi dia sandari.
"Nanti siang aku tidak memiliki kelas, Kak. Boleh aku datang ke perusahaan?"
"Kau bisa datang kapanpun kau mau, sayang. Aku suamimu, dan Group Ma adalah perusahaan milikmu juga. Jadi jangan meminta izin lagi jika ingin datang berkunjung. Mengerti?" jawab Gabrielle sambil mencolek ujung hidung istrinya.
"Hmmm, rasanya jika sedang berdua begini aku tidak mau pergi kemana-mana lagi, Kak. Karena hanya di depanmu saja aku bisa menunjukkan sikap asliku. Jujur, kadang aku lelah bersikap konyol dan suka menggangu orang-orang. Tapi aku tidak memiliki keberanian diri untuk bersikap dewasa seperti sekarang. Aku masih sangat takut, Kak."
"Sayang," panggil Gabrielle sembari menempelkan jari telunjuk ke bibir Elea. "Cukup di depanku saja kau menampakkan sikap aslimu. Jika di hadapan orang lain, bersikaplah yang membuatmu merasa nyaman. Aku tidak suka jika mereka sampai mengagumimu. Sedang kau yang jahil saja aku mendapat banyak saingan, apalagi kalau sikap anggunmu sampai di ketahui oleh mereka. Habislah aku, mereka pasti akan berlomba-lomba untuk menguasaimu sepenuhnya. Aku tidak mau itu."
"Jadi Kak Iel tidak keberatan dengan sikap konyolku?" tanya Elea memastikan.
__ADS_1
"Tentu saja tidak. Malah aku merasa senang karena itu bisa menjadi hiburan tersendiri untukku. Ya meski terkadang aku merasa sesak nafas gara-gara mendengar pemikiran anehmu. Tapi di luar itu semua aku tetap sangat mencintaimu, sayang. Aku menerima apa adanya dirimu," jawab Gabrielle tulus.
Setelah puas bercengkrama, barulah Gabrielle dan Elea keluar dari dalam kamar. Mereka kemudian segera turun untuk menemui Jackson dan Lusi yang sudah menunggu di bawah.
"Pagi Kak Gabrielle, Elea," sapa Lusi.
"Pagi juga, Kak," sahut Elea ramah. Sementara Gabrielle, dia hanya tersenyum sambil mengangguk kecil. Sebelah tangannya dia gunakan untuk memeluk pinggang Elea dengan erat. Seolah takut kalau istrinya ini akan pergi melarikan diri seperti subuh tadi.
"Ekhmmm, dengar-dengar ada yang ingin pergi ke Jepang untuk melamar seseorang. Siapa ya kira-kira?" ucap Elea sambil berdehem pelan.
Jackson tersenyum samar. Dia lalu mendekat ke arah sang adik yang baru saja menyindirnya.
"Setelah resepsi pernikahan Levi dan Reinhard selesai di gelar, aku dan ibu mertuamu akan pergi ke Jepang untuk melamar Kayo. Sebenarnya aku ingin kau ikut menemani, tapi aku ragu dengan pawang yang menjagamu. Bisa tidak kau meminta izin padanya, Elea?" tanya Jackson menyebut Gabrielle dengan sebutan pawang.
"Aku tidak mengizinkan!" sahut Gabrielle dengan sangat cepat. Enak saja istrinya ingin di bawa pergi ke Jepang, menangis darah pun tidak akan pernah dia izinkan.
"Ck, jangan pelitlah. Elea inikan adikku, sudah sewajarnya dia menemani kakaknya pergi melamar," protes Jackson dongkol. Pria ini benar-benar.
"Elea memang adikmu, tapi dia adalah istriku."
"Yang bilang dia pembantumu siapa?"
"Sembarangan."
Gabrielle dan Jackson akhirnya saling bersitegang. Elea, Lusi, Ares, Nun, dan para pelayan hanya berdiri diam mendengarkan. Selain Levi dan Cuwee, Jackson juga menyandang gelar sebagai musuh bebuyutan Gabrielle. Entahlah, pewaris Group Ma ini sepertinya sangat suka menganggap orang yang mendekati istrinya sebagai musuh. Padahal Jackson adalah kakaknya Elea, tapi lihat seperti apa kelakuannya sekarang. Gabrielle cemburu pada kakak dari istrinya. Benar-benar level bucin tingkat neraka bukan?
"Sudah selesai belum adu mulutnya?" tanya Elea yang sudah kebosanan.
"Sudah," jawab Gabrielle dan Jackson bersamaan.
"Apa sekarang aku sudah bisa berangkat ke kampus? Ini sudah siang, nanti kalian bisa terlambat berangkat ke tempat kerja masing-masing."
"Maaf menyela, Nyonya. Tapi anda belum sarapan," ucap Nun mengingatkan.
"Tidak apa-apa, Nun. Aku sudah kenyang memakan pizza dan hamburger tadi," jawab Elea sambil menatap pasrah ke arah Nun.
__ADS_1
"Pizza dan hamburger?"
Elea mengangguk.
"Kak Iel jadi pizza-nya, dan Kak Jackson jadi hamburgernya. Aku bahkan mendapat bonus es teh terbang yang berasal dari air ludah mereka. Sarapan yang sangat higienis bukan?"
Gabrielle dan Jackson merasa sangat keki saat di sindir dengan terang-terangan oleh Elea. Gara-gara berdebat tadi, sekarang Elea menjadi badmood. Tak ingin mood istrinya semakin rusak, Gabrielle berinisiatif untuk meminta maaf lebih dulu. Dia takut malam ini tidak mendapat jatah ninabobo.
(Gabrielle, kau belum tahu saja kalau malam ini istrimu akan berubah menjadi kuntilanak dengan memakai kostum baju putih transparan untuk menjadi hidangan buka puasamu. Heheheh,,, nulis sambil ketawa jahat)
"Sayang, aku minta maaf sudah membuatmu kesal. Ini semua gara-gara dia. Kakakmu yang membuat aku terpancing emosi."
"Jangan mengada-ada kau. Sembarangan!" sahut Jackson tak terima di tuduh seperti itu oleh Gabrielle.
"Itu kenyataan. Semua orang di sini saksinya!" ucap Gabrielle tak ingin kalah.
Kesal karena suami dan kakaknya kembali bertengkar, Elea memilih untuk pergi dari sana. Dia menggandeng lengan Lusi kemudian mengajaknya keluar menuju mobil.
"Elea, kenapa kita keluar? Kalau Kak Gabrielle marah bagaimana?" tanya Lusi tak enak hati.
"Kak, lebih baik kita jangan mengganggu pertengkaran suami istri itu. Nanti kita kena dosa," jawab Elea seenaknya.
"S-suami istri? Mereka?"
"Iyalah. Kak Iel dan Kak Jackson selalu seperti ini jika mereka bertemu. Sebenarnya aku kesal bukan karena pertengkaran mereka, tapi aku kesal karena cemburu. Bisa-bisanya Kak Iel lebih romantis saat sedang bersama Kak Jackson di bandingkan saat sedang bersamaku. Sebagai seorang istri wajar bukan jika aku merasa seperti ini?"
Lusi ternganga. Dia tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
Kak Gabrielle dan Kak Jackson pasti akan langsung muntah darah jika mendengar pengakuan Elea barusan. Ya Tuhan, kenapa aku selalu di pertemukan dengan orang-orang aneh setiap harinya. Tolong kuatkan mentalku, Tuhan. Aku mohon.
πππππππππππππππππ
...πJangan lupa vote, like, dan comment...
...ya gengss...
__ADS_1
...πIg: rifani_nini...
...πFb: Rifani...