Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Indahnya Persaudaraan


__ADS_3

Levi berdecak kesal ketika melihat Elea yang lagi-lagi berjalan menyerupai bebek. Stok kesabarannya sudah hampir habis, tapi makhluk kecil ini masih saja tidak bisa berjalan dengan benar.


"Elea, tolong seriuslah sedikit. Tenggorokanku sudah kering gara-gara meneriakimu sejak tadi!" omel Levi sambil berkacak pinggang.


"Ini aku sudah sangat serius, Kak Levi. Sepatunya saja yang tidak mau diajak kerjasama. Jadi Kak Levi marahi dia saja. Jangan aku!" sahut Elea seraya menunjuk sepatu high heels berwarna hitam yang terpasang di kedua kakinya.


Sejak Levi menyetujui penawaran Nyonya Clarissa, sejak saat itu pula dia mulai mengatur waktu untuk mengajari Elea cara memperagakan busana dengan benar. Dan latihan itu di mulai dari sekarang. Meskipun masih trauma untuk datang ke kampusnya Elea, dia tetap memaksakan diri untuk pergi menjemputnya. Levi kemudian membawa Elea pulang ke rumahnya untuk memulai latihan. Dia tak ingin membuang waktu, terlebih lagi Elea sama sekali tidak memiliki pengalaman apapun tentang berjalan di atas catwalk. Hal ini menjadi tantangan tersendiri untuk Levita dimana dia akan menjadi mentor dari seorang murid polos yang bodohnya tidak ketulungan.


"Yang namanya sepatu itu hanya mengikuti apa yang dilakukan oleh kaki si pemakai. Jadi dia mana mungkin berbuat dosa. Kau salah, Elea. Jangan memfitnahnya."


"Tapi kan memang sepatu ini tidak mau menjadi rekan yang baik, Kak. Buktinya sejak tadi langkahku tidak pernah benar."


"Sudah kubilang yang salah itu kau. Bukan sepatu cantik ini."


"Tapi Kak, dia ...


"Diam, atau aku akan menggunakan sepatu itu untuk menabok bokongmu. Mau!" ancam Levita.


"Dasar galak!" gerutu Elea sembari menyeka keringat.


"Aku mendengarnya, Elea."


Elea mendengkus. Rasanya sungguh berat saat belajar menjadi seorang model. Dia jadi menyesal karena sudah menawarkan diri untuk menjadi salah satu model yang akan memperagakan busana milik sang nenek. Tahu begini lebih baik Elea menggambar saja. Dia sangat lelah.


"Jangan berani-berani berpikir untuk menyerah ya, Elea. Akan ku patahkan kedua kakimu kalau kau sampai melarikan diri dari tugas penting ini!" ancam Levi ketika mendapati raut bosan di wajah Elea. Dia khawatir perempuan cilik ini akan berhenti di tengah jalan.


"Bagaimana Kak Levi bisa tahu kalau aku ingin menyerah? Memangnya Kakak bisa membaca pikiran orang lain ya? Hebat sekali," tanya Elea takjub akan kepandaian Levi dalam menebak apa yang sedang dia pikirkan.


Levi langsung mengulum senyum saat Elea memujinya. Hatinya berbunga-bunga seperti orang yang sedang jatuh cinta. Kata sederhana dari teman kecilnya ini mampu meredam kekesalan Levi yang sejak tadi terus di uji kesabarannya gara-gara mengajari Elea cara menjadi seorang model. Sungguh, teman kecilnya ini bagai moodboster bagi Levi.

__ADS_1


"Kak, kakiku lecet. Kau nanti bisa di hajar Kak Iel jika dia tahu kau menyiksaku!" ucap Elea memelas. Dia sangat berharap kalau Levi akan memintanya untuk beristirahat.


"Hih, siapa juga yang menyiksamu, Elea. Bukankah semua ini adalah idemu sendiri? Kau kan yang meminta pada nenekmu agar ikut menjadi bagian dari peragaan busana musim panas nanti?" sahut Levi sambil berjalan menghampiri Elea yang seperti sedang menahan sakit. Dia kemudian berjongkok.


Mampus! Kakinya benar-benar lecet. Aaaa... bagaimana ini. Gabrielle pasti akan memotong kedua telapak kakiku jika tahu kalau istri kesayangannya terluka gara-gara pelatihan ini. Apa yang harus aku lakukan ya?


Levi menelan ludah berulang kali sambil terus memperhatikan tumit kaki Elea yang terluka dan sedikit mengeluarkan darah. Sudah terbayang di mata Levi bagaimana nanti Gabrielle akan kerasukan jin dari lima benua begitu menyaksikan luka ini. Keselamatannya terancam.


"Benar kan lecet? Bagaimana ini, Kak. Padahal setiap malam Kak Iel selalu rajin memeriksa sekujur tubuhku. Kali ini kau tidak akan bisa selamat, Kak Levi," ucap Elea dengan sengaja menakut-nakuti Levi. Dia sedang butuh hiburan sekarang.


Kepala Levi mendongak menatap ke arah Elea. Deru nafasnya sedikit menderu, menandakan kalau dia sedang dalam mode jengkel.


"Elea, luka ini pasti perih sekali. Benar tidak?" tanya Levi penuh maksud.


"Tentu saja itu sangat perih. Memangnya Kakak tidak lihat ya kalau kulit kakiku yang mulus itu terkelupas? Apa jangan-jangan mata Kak Levi sudah katarak sampai tidak bisa melihatnya dengan jelas. Iya?" jawab Elea dengan raut wajah yang begitu polos. Saking polosnya sampai membuat Levi seperti akan kesurupan.


Plaaakkk


"Woaaahhh, mulutmu memang sangat luar biasa ya, Elea. Aku tahu kalau Gabrielle cepat atau lambat pasti akan mengetahui luka di kakimu ini. Tapi apa perlu kau mengatakan padaku kalau setiap malam dia selalu memeriksa seluruh tubuhmu? Kau ingin mengajakku baku hantam atau bagaimana hah? Kalau mau pamer itu kira-kira, Elea. Aku masih belum menikah, jangan membuat orang lain merasa iri!" amuk Levi mengeluarkan semua unek-unek yang terpendam di dalam hatinya.


"Ooh ... jadi Kak Levi memukulku karena merasa iri ya? Aku baru tahu," ledek Elea kemudian duduk di lantai. Tanpa merasa berdosa sama sekali dia mengelus pipi Levi sembari menahan tawa. "Sabar ya, Kak. Nanti setelah kau dan dokter Reinhard menikah, kau pasti akan merasakan hal yang sama sepertiku. Di manja setiap malam, dipeluk, dicium, dan di ....


"Berhenti bicara atau aku akan melakban mulutmu, Elea. Kecil-kecil ternyata isi pikiranmu sangat mesum ya. Heran!"


"Biar kecil-kecil begini aku adalah istri kesayangannya Kak Iel, Kak. Memangnya kau. Cantik-cantik tapi masih belum menikah. Pelakor pula. Huh!"


Hidung Levi kembang kempis saat di ejek seperti itu oleh Elea. Ingin membalasnya tapi tidak mungkin karena pada kenyataannya Levi memang belum menikah dan statusnya adalah seorang pelakor yang sah di mata keluarga Ma. Kesal karena tak bisa membalas ejekan Elea, Levi segera berdiri kemudian menarik kedua kaki Elea lalu membawanya berputar-putar.


"Hahahahaha ... Kak Levi, kau gila ya. Lepaskan kakiku. Hahahaha!" teriak Elea sambil tertawa gembira.

__ADS_1


"Tidak akan ku lepaskan. Biar saja, ini adalah hukuman karena kau sudah berani mengejekku. Rasakan ya!" sahut Levi tanpa menghentikan perbuatannya.


Ruangan itu akhirnya di penuhi gelak tawa Levi dan Elea saat keduanya bertukar posisi dimana Levi yang gantian ditarik kakinya oleh Elea. Kedua wanita ini seperti lupa kalau di luar ruangan ada banyak pengawal yang sedang berjaga. Mereka bahkan tidak mempedulikan keberadaan bibi pelayan yang diam-diam mengintip kelakuan mereka.


"Sudah, Kak Levi. Perutku nanti kembung karena banyak tertawa!" ucap Elea mencegah Levi agar tidak menarik kakinya lagi.


"Apa setelah ini kau masih berani mengejekku, heh?" tanya Levi kemudian berbaring di lantai. "Kemari, biarkan aku memelukmu sebentar."


Elea dengan patuh menuruti keinginan Levi. Dia segera membaringkan kepalanya di atas lengan Levi kemudian menatap langit-langit rumah ini.


"Jadi seperti ini ya rasanya bercanda dengan seorang kakak perempuan. Aku bahagia sekali, Kak."


Levi melihat ke arah Elea saat mendengar ucapannya. Dia tersenyum.


"Aku juga baru tahu kalau mempunyai adik perempuan sangatlah menyenangkan. Nasib kita sama, Elea. Sama-sama baru merasakan indahnya persaudaraan. Semoga saja hubungan kita akan selalu akur seperti ini ya sampai masing-masing dari kita mempunyai anak cucu!"


"Itu sudah pasti, Kak. Karena aku tidak akan membiarkanmu pergi dariku kecuali jika Tuhan yang berkehendak!" sahut Elea.


"Aku juga tidak akan pernah membiarkanmu pergi dariku."


"Hehe."


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


...πŸ€Jangan lupa vote, like, dan comment...


...ya gengss...


...πŸ€Ig: rifani_nini...

__ADS_1


...πŸ€Fb: Rifani...


__ADS_2