
Rahang Elea terus mengetat selama berada dalam perjalanan menuju rumah orangtuanya. Tadinya dia dan Levita berniat pergi ke rumah Ibu Liona untuk mengadukan perbuatan Altez dan Gabrielle, tapi saat di tengah jalan suaminya tiba-tiba menelpon dan mengabarkan kalau Grandma Clarissa pingsan. Elea sangat syok, itu tentu saja. Hati siapa yang tidak hancur ketika mendengar kabar buruk yang tengah menimpa keluarga sendiri. Di tambah lagi Elea sudah tahu kalau sang nenek akan segera pergi menemui ibu dan kakeknya di surga sana, membuatnya jadi di dera kepanikan yang sangat luar biasa. Kendati demikian, Elea berusaha untuk tegar menghadapi kenyataan ini. Sekuat hati dia menahan air mata agar tidak menetes keluar. Bukan karena sok kuat atau bagaimana, tapi itu terjadi karena Elea sudah tahu kalau menangis pun tidak akan ada gunanya. Neneknya akan tetap pergi meninggalkannya, tinggal tergantung tangan Tuhan kapan akan mengirimkan malaikat maut untuk datang menjemput.
Tidak ada satupun manusia yang mampu melawan takdir yang sudah Tuhan kehendaki. Kalau pun memang Grandma harus pergi, maka aku hanya bisa ikhlas meski hatiku sangat tidak rela. Aku yakin kalau semua ini pasti adalah yang terbaik yang Tuhan berikan untukku dan juga untuk Grandma. Tapi jika aku boleh meminta, dapatkah Engkau memberi Grandma kesempatan untuk tetap hidup sampai aku hamil, Tuhan? Selama ini beliau hidup dalam pesakitan, aku mohon tolong izinkan Grandma mencicipi sedikit kebahagiaan bersamaku. Hanya itu saja, Tuhan. Aku mohon ....
"Elea, kau baik-baik saja?" tanya Levita cemas melihat teman kecilnya hanya diam tak bersuara.
"Iya."
Dingin, itu yang Levita rasakan setelah mendengar jawaban singkat Elea. Paham kalau teman kecilnya tengah memendam perasaan sedih, Levita mencoba menghiburnya dengan memberikan sebuah pelukan hangat. Siapa tahu dengan pelukan ini Elea bisa merasa sedikit tenang. Namun, Levita harus menelan pil pahit karena pelukan yang baru saja ingin dia lakukan di tepis oleh Elea.
"Aku tidak apa-apa, Kak Levi. Kau tidak perlu mengasihani aku," ucap Elea dingin.
"Tidak ada yang ingin mengasihanimu, Elea. Aku memelukmu karena aku juga merasakan rasa sedih yang sama sepertimu. Grandma Clarissa begitu baik padaku, aku bahkan sudah menganggapnya seperti nenekku sendiri. Mendengarnya seperti ini membuatku merasa sangat sedih, Elea. Aku begitu mengkhawatirkannya, sama seperti yang sedang kau rasakan sekarang," sahut Levita mencoba untuk menghilangkan kesalahpahaman yang terjadi. Kali ini dia tidak marah ataupun tersinggung. Levita sangat maklum kenapa Elea bisa bersikap seperti ini kepadanya.
Greeeppp
Tanpa di duga Elea tiba-tiba memeluk Levita dengan sangat erat. Dia tidak menangis, tapi nafasnya sangat sesak saat satu bayangan pahit melintas di matanya.
"Ada apa, Elea? Kenapa suara nafasmu terdengar sangat berat? Kau tidak apa-apa kan?" cecar Levita khawatir. Dia kemudian mengelus punggung Elea yang ternyata sudah basah keringat. "Astaga, kenapa kau basah begini sih. Kau kenapa, Elea. Kau sakit ya?"
"Kak Levi, aku mau bertemu Grandma sekarang juga. Aku mau Grandma, Kak Levi," ucap Elea lirih. Tenggorokannya terasa kering kerontang seperti gurun pasir yang sangat gersang. Dia panik dan juga ketakutan setelah bayangan itu muncul.
"Iya iya. Sekarang kita kan sedang dalam perjalanan menuju ke sana. Jangan panik, tenangkan pikiranmu, Elea. Grandma Clarissa pasti baik-baik saja. Jangan takut, oke?"
__ADS_1
Setelah berkata seperti itu Levita langsung meminta penjaga agar melajukan mobil dengan cepat. Dia jadi semakin panik saat merasakan tubuh Elea bergetar hebat.
Makhluk kecil ini kenapa ya? Tadi dia begitu dingin dan acuh, tapi kenapa sekarang jadi seperti ini?
Selama dalam perjalanan, Levita sama sekali tidak melepaskan Elea dari pelukannya. Khawatir, dia benar-benar sangat mengkhawatirkan teman kecilnya ini. Sebenarnya bukan hanya ini saja yang membuat Levita khawatir, melainkan ada hal yang lainnya juga. Salah satunya adalah sikap dingin yang tadi di tunjukkan oleh Elea tadi. Levita tentu saja belum lupa dengan sisi emosional yang bisa membuat Elea bersikap seperti orang lain. Sejujurnya, Levita tidaklah terlalu percaya dengan sikap polos yang selama ini tunjukkannya. Namun karena dia memaklumi akan masa lalu Elea yang begitu keras dan menyakitkan, Levita memutuskan untuk diam dan menerima sikapnya yang sekarang. Biarlah, asal Elea tetap berada di jarak pandangnya, maka semuanya akan aman-aman saja meski terkadang Levita sering di buat hampir mati terkena stroke ringan.
Tak lama kemudian, mobil akhirnya memasuki pekarangan rumah keluarga Young. Dan di depan pintu utama terlihat Gabrielle dan Reinhard yang tengah berdiri menunggu kedatangan istri-istri mereka. Tanpa menunggu penjaga membukakan pintu mobil, Elea langsung melepaskan diri dari pelukan Levita kemudian keluar dari dalam mobil. Air mata tampak menetes keluar begitu Elea melihat keberadaan suaminya di sana.
"Kak Iel," ....
"Iya sayang," sahut Gabrielle seraya berjalan cepat ke arah Elea. Dia lalu mengulurkan tangan, merengkuh tubuh istrinya yang mulai menangis masuk ke dalam dekapannya. "Tidak apa-apa. Grandma sedang di tangani oleh dokter. Kita harus yakin kalau Grandma pasti akan sembuh."
"Tidak, Kak. Aku melihatnya. G-Grandma akan pergi meninggalkan aku, dan itu tidak akan lama lagi. Hiksssss, aku takut, Kak Iel. Aku tidak mau di tinggal terus," sahut Elea sambil menangis terisak. Dadanya begitu sesak saat teringat dengan gambaran menyakitkan yang tadi muncul di matanya.
Tak ada sahutan yang keluar dari mulut Elea setelah Gabrielle berkata seperti itu. Levita yang baru datang pun langsung masuk ke dalam pelukan Reinhard. Hatinya perih melihat Elea bersedih seperti ini.
"Apa Elea mengatakan sesuatu padamu saat dalam perjalanan kemari?" tanya Reinhard lirih. Dia menciumi puncak kepala istrinya yang tengah bersedih hati melihat istri sahabatnya yang juga sedang bersedih.
"Tidak, Rein. Dia hanya bilang ingin segera bertemu dengan Grandma Clarissa," sahut Levita. "Bagaimana keadaannya sekarang? Kenapa kau dan Gabrielle malah ada di luar?"
"Ada dokter keluarga Paman Bryan yang tengah menangani Nyonya Clarissa di dalam. Itulah kenapa aku dan Gabrielle memilih menunggu kalian di sini."
"Lalu Ares dimana? Cira?"
__ADS_1
"Mereka ada di dalam juga. Ares sedang menenangkan istrinya yang terus menangis sejak tadi. Cira sedang hamil muda, bisa bahaya kalau pikirannya sampai tertekan karena masalah ini."
Levita menghela nafas panjang. Cira begitu menyayangi Grandma Clarissa. Wajarlah kalau ibu hamil itu sampai bersikap seperti ini. Pandangan Levita kemudian terarah pada Gabrielle yang masih memeluk Elea. Lagi-lagi dia merasa sesak.
"Sayang, kau tidak membuat masalah kan tadi?" tanya Reinhard penasaran akan apa yang dilakukan oleh istrinya ini terhadap Nona Altez.
"Membuatlah. Tapi tidak maksimal karena ada tamu yang melaporkan pergulatan kami pada pihak hotel. Ck, harusnya tadi wanita genit itu babak belur setelah aku hajar. Tapi sayang, tamu-tamu itu terlalu ikut campur urusan kami. Jadi ya sudah, semuanya berakhir kentang," jawab Levita kembali jengkel saat suaminya menyinggung tentang ulat bulu yang coba-coba ingin menggeser posisinya sebagai seorang pelakor halal.
"Kentang? Apa itu maksudnya?"
"Tanggung."
"Owh,"
Syukurlah tamu-tamu itu bergerak cepat dengan melaporkan Levita dan Elea pada pihak keamanan hotel. Kalau tidak, aku yakin sekarang kedua wanita nakal ini pasti sudah berada di kantor polisi. Huffft.
πππππππππππππππππ
...πJangan lupa vote, like dan comment...
...ya gengss...
...πIg: rifani_nini...
__ADS_1
...πFb: Rifani...