Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Panggilan Sayang


__ADS_3

Sekembalinya dari panti, Elea tak henti-hentinya menyunggingkan senyum. Kehangatan yang dulu begitu dia inginkan, kini terbayar sudah dengan kebersamaannya bersama semua anak-anak panti. Di sana tadi Elea memainkan semua hal yang dulu tak pernah bisa dia rasakan. Mereka makan bersama dalam satu meja, bercanda, bertengkar, bahkan Elea juga sempat membuat ulah dengan mencuri makanan milik salah satu temannya. Lucu dan membahagiakan sekali bukan?


"Senang, hm?"


Elea mendongak. Dia menganggukkan kepala seraya menatap wajah tampan suaminya.


"Senang."


"Sudah lebih baik sekarang?" tanya Gabrielle memastikan.


"Selama ada Kak Iel, maka semuanya akan lekas membaik," jawab Elea. "Terima kasih banyak ya, sayang. Semua hal yang aku impikan dulu sekarang sudah terwujud. Aku merasakan seperti apa bahagianya memiliki banyak teman dan juga berebut perhatian dari ibu panti. Kau yang terbaik, Kak. Aku mencintaimu."


Gabrielle mengangguk. Dia mengusap pelan pipi Elea, merasa lega karena akhirnya istrinya ini bisa mendapat kelegaan juga. Sekarang hanya tinggal satu lagi masalah yang masih mengganjal di benak Gabrielle. Dia belum tahu apakah Elea sudah siap menghadapi kenyataan tentang neneknya atau belum. Bisa gawat kalau kegiatan hari ini tidak mampu memberikan ketenangan untuknya.


"Sayang, boleh aku bertanya?" ucap Gabrielle hati-hati. Dia terus memperhatikan perubahan ekpresi di wajah istrinya. Takut kalau-kalau pertanyaannya bisa membuat istrinya ini kembali murung.


"Aku tahu Kak Iel ingin bertanya apa."


Elea menghela nafas panjang sebelum melanjutkan perkataannya.


"Apapun nanti, aku siap menghadapi kenyataan. Biarlah jika memang Grandma harus pergi, aku ikhlas. Aku tidak akan berpikir yang tidak-tidak lagi, Kak Iel. Ibu panti bilang aku adalah perempuan yang kuat. Dia yakin kalau aku pasti bisa melewati semua cobaan yang di berikan Tuhan sesakit apapun cobaan tersebut. Aku perempuan yang sangat kuat, Kak Iel," ucap Elea sambil tersenyum manis.


Kali ini bukan senyum paksaan yang muncul di bibir Elea. Dia benar-benar sudah sangat siap jika memang Tuhan akan mengambil Grandma Clarissa dari hidupnya.


Terima kasih, Tuhan. Terima kasih, Nun. Inilah yang ingin aku dengar dari mulut Elea. Akhirnya.


"Semua yang hidup pasti mati. Begitu juga Grandma dan kita semua. Memang sakit yang namanya di tinggalkan, tapi kita harus yakin kalau Tuhan pasti akan menggantikan kesakitan tersebut dengan kebahagiaan yang lain. Kau tidak akan sendirian menghadapi waktu sulit itu, sayang. Ada aku dan juga yang lain yang akan mendukungmu. Kami selalu mencintaimu," ucap Gabrielle penuh ketulusan.


Setelah berkata seperti itu Gabrielle memeluk Elea penuh sayang. Istrinya semakin dewasa dalam berpikir meski awalnya sempat down dan terguncang. Tapi syukurlah, sekarang istrinya sudah mampu mengatasi masalah hatinya.


"Kak Iel, aku rasa sebaiknya kita segera berangkat saja ke pesta. Aku yakin sekali Kak Levi pasti sedang menunggu kedatangan kita di sana. Ayuk Kak!" ajak Elea.


"Hmmm, sebentar."


Gabrielle melepas pelukannya kemudian memperhatikan penampilan Elea sambil mengusap-usap dagu. Cantik, juga elegan. Gabrielle jadi merasa tak rela membiarkan Elea muncul di hadapan banyak orang dengan tampilan seperti ini. Terlalu memukau, yang mana pasti akan membuat para lebah langsung beterbangan mengelilinginya.


__ADS_1


"Sayang, bahumu terlalu terbuka. Apa tidak sebaiknya di ganti saja?" ucap Gabrielle tak langsung menyatakan kecemburuannya.


Elea mengerutkan kening. Dia menunduk, melihat bagian dadanya yang memang sedikit terbuka. Merasa tidak ada yang salah dengan gaun yang dia pakai, Elea berganti menatap wajah suaminya. Dia berniat melakukan protes.


"Kak Iel, menurutku gaun ini masih berada di standar manusia normal. Apa Kakak berniat memintaku untuk memakai gaun tertutup seperti para ninja agar tidak ada orang yang bisa melihat bagian tubuhku?" tanya Elea yang menyadari kalau suaminya sedang menahan rasa cemburu.


"A-apa?"


Gabrielle tergagap. Tenggorokannya serasa sangat kering begitu mendengar perkataan Elea. Dasi yang tadinya sudah terpasang rapi terpaksa Gabrielle kendurkan sedikit agar lehernya tidak terlalu tercekik. Dia sesak nafas.


"Gaun ini Kak Levi yang memilihkan. Dia pasti tersinggung kalau aku tidak memakainya," ucap Elea dengan raut wajah memelas.


"Levi yang memilihkan?" tanya Gabrielle.


Elea mengangguk.


"Apa dia juga yang membayar?"


"Tidak mungkinlah, Kak. Gaun ini sangat mahal, Kak Levi mana sanggup untuk membayarnya. Kan setiap kami pergi berbelanja selalu kartu hitamku yang di gesek. Sepertinya rumor kalau gaji seorang CEO sangat besar itu hanya omong kosong saja. Buktinya Kak Levi tidak mempunyai uang. Kasihan sekali dia."


"Sayang, kalau kau memang sangat ingin memakai gaun itu, tidak apa-apa. Pakai saja. Demi kau dan pelakormu itu aku rela mengalah. Untuk sekarang aku tidak akan menghukum Levita karena malam ini adalah malam paling bahagia di hidupnya. Tapi jika lain waktu dia berani memilihkan jenis pakaian bolong seperti ini untukmu, maka aku akan mengurangi uang jajannya. Dan kau tidak boleh merengek, apalagi membelanya. Paham?" ancam Gabrielle yang tidak tega melarang Elea memakai gaun tersebut. Meski tak rela, Gabrielle terpaksa mengalah. Demi kebahagiaan istri tersayang, begitu pikirnya.


"Hehehe, terima kasih, sayang. Aku tahu Kak Iel pasti tidak akan melarangku untuk memakai gaun ini," sahut Elea kegirangan.


Hmmm, Levita-Levita. Sudah menikah saja kau masih terus menguji mental kesabaranku. Aku yakin kau memang sengaja memilihkan gaun seperti ini untuk memancing emosiku. Awas saja kau. Kali ini kau menang, tapi lain waktu kekalahan ini akan kembali padamu. Kau lupa ya kalau Reinhard bekerja padaku? Heh, tunggu tanggal mainnya. Dasar pelakor kejam.


"Kau tampan sekali memakai setelan seperti ini, Kak. Apa tidak khawatir nanti di pesta Kakak di sengat oleh lebah betina yang kelaparan?" tanya Elea sembari merapihkan kembali dasi yang tadi di kendurkan oleh suaminya.



"Tenang saja, sayang. Tidak akan ada lebah betina yang berani menyengat suamimu yang tampan ini di sana. Mereka akan menjadi batu jika nekad melakukannya," jawab Gabrielle menikmati moment di saat Elea memperhatikan penampilannya. Hatinya juga sangat berbunga-bunga karena di puji tampan oleh istrinya.


"Benarkah? Kalau aku jadi Kakak, aku akan membiarkan lebah-lebah itu menyengatku terlebih dahulu. Setelahnya aku akan menyengat balik dengan menyuntikkan semua bisa yang ada di tubuhku supaya wajah mereka bengkak-bengkak seperti adonan kue yang gagal. Sepertinya lucu ya jika hal ini benar terjadi. Hehehehe."


Gabrielle mencubit pipi Elea gemas saat melihatnya tertawa tanpa dosa setelah membayangkan sesuatu tentang lebah betina yang kemungkinan besar akan mengincarnya di pesta nanti. Setelah itu Gabrielle mengajaknya keluar dari dalam kamar karena sudah waktunya untuk pergi ke tempat acara.


"Selamat malam, Tuan Muda. Selamat malam, Nyonya Elea!" sapa Nun ketika kedua majikannya muncul dari dalam kamar.

__ADS_1


"Selamat malam, Pak Nun. Lihat gaunku, cantik sekali bukan? Kak Levi yang memilihkannya untukku," sahut Elea sambil memamerkan gaun yang sedang dia pakai.


Nun mengangguk, tapi tak berani melihat ke arah sang nyonya karena di hadapannya sekarang, si banteng cemburu tengah menahan tanduknya agar tidak keluar. Dia cari aman.


"Berangkat sekarang, Nun!" perintah Gabrielle dengan suara tertahan. Dia sangat takut Nun jatuh cinta pada pesona istrinya yang begitu cantik dan menggemaskan.


"Baik, Tuan Muda."


"Jangan pernah menatap pria lain selain aku, sayang. Kau milikku, jadi kau hanya boleh mengagumiku seorang. Paham?" ucap Gabrielle kembali menegaskan kepemilikannya.


"Paham, Hubby," sahut Elea patuh.


"Apa?"


"Hubby."


"Apa itu semacam panggilan sayang untukku?" tanya Gabrielle sambil mengulum senyum.


Elea mengangguk.


"Hubby. Untuk suamiku, cintaku, surgaku, hidupku, nafasku, dan juga ayah dari calon anak-anakku nanti. I love you, my hubby," ....


Tubuh Gabrielle serasa menjadi jelly setelah mendengar perkataan Elea. Dia meraih kedua tangan Elea lalu mengecupnya penuh perasaan.


"I love you to, my wife."


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


...BOM KOMENTAR BIAR SORE EMAK BISA CRAZY UP LAGI GENGSSS.... πŸ’œ...


...πŸ€Jangan lupa vote, like dan comment...


...ya gengss...


...πŸ€Ig: rifani_nini...


...πŸ€Fb: Rifani...

__ADS_1


__ADS_2