
📢 BESTIE, NOVEL NANIA SUDAH TAYANG DI YUTUB EMAK YA. BUAT YANG PENASARAN GIMANA NANIA MENGHADAPI PELAKORNYA, WAJIB BANGET SIH BUAT MAMPIR DAN KASIH DUKUNGAN DI SANA. OKE BESTIE 💜
📢 Jangan lupa mampir ke novel yang lain juga ya bestie 💜
- My Destiny ( Clara & Eland)
- Pesona Si Gadis Desa
- Marriage Contract With My Secretary
- Ma Queen Rose
🎗🎗🎗🎗🎗🎗🎗
Flowrence terus merasa kalau ada banyak sekali paku yang menusuk bagian punggungnya. Dan hal ini dia rasakan sejak teman-temannya melihatnya datang ke sekolah dengan di antar oleh ke tujuh kakaknya. Meski tahu kalau rasa menusuk inj datang dari tatapan mata teman-temannya, Flowrence berusaha mengabaikan hal tersebut. Dia sedang ingin fokus menulis dulu sekarang.
"Flow, ssyuuttt ... syuuutttt,"
Sisil terus berusaha memanggil Flowrence meski saat ini di dalam ruang kelas masih ada guru yang mengajar. Jujur, setelah Sisil melihat sendiri ketampanan dari ke tujuh saudara Flowrence, dia seakan merasa kalau berteman dengan gadis bantat ini merupakan suatu berkah yang sangat amat luar biasa. Kedengkian yang selama ini memenuhi hati Sisil seketika musnah begitu dia jatuh cinta pada salah satu kakaknya Flowrence yang mempunyai rambut sedikit gondrong. Sisil penasaran setengah mati padanya dan dia berniat mengorek informasi dari temannya yang bodoh ini.
"Flowrence, syuutttt ....
"Ibu guru, sepertinya Sisil sedang sakit gigi. Sejak tadi dia terus memanggilku sambil berucap syuuttt-syuuuttt begitu!" lapor Flowrence langsung tanggap kalau temannya sedang tidak baik-baik saja.
Seketika seluruh siswa langsung menoleh ke arah Sisil begitu mendengar perkataan Flowrence, termasuk juga dengan guru mereka. Sisil yang tidak menyangka kalau Flowrence akan melaporkan perbuatannya hanya bisa diam terpaku saat semua mata tertuju padanya.
"Nah, Sisil. Aku sudah membantumu memberitahu guru kita kalau kau sedang tidak sehat. Ayo ucapkan terima kasih padaku," ucap Flowrence sambil tersenyum lebar. Berjasa sekali dia hari ini.
"Berterima kasih kepalamu, Flow. Siapa juga sih yang sedang sakit gigi. Ihhh," sahut Sisil dengan suara tertahan. Rasanya ingin sekali Sisil menarik rambutnya Flowrence. Dia geram sekali.
"Sisil, apa benar yang di katakan Flowrence kalau gigimu sakit?" tanya Ibu guru.
"Tidak, Bu. Flowrence mungkin sedang mengkhayal makanya dia sampai bicara seperti itu pada Ibu," jawab Sisil enggan untuk mengaku. Enak saja, huh.
"Benarkah?"
Sisil mengangguk.
"Ya sudah kalau memang seperti itu. Karena sekarang jam belajar sudah hampir habis, silahkan kalian semua pelajari soal-soal di dalam buku setelah pulang dari sekolah nanti. Ya?"
Para murid mengangguk patuh pada perintah ibu guru. Setelah itu semua murid tampak bersorak senang ketika guru keluar dari dalam kelas mereka. Flowrence yang tahu kalau sekarang sudah waktunya untuk dia pergi berbelanja makanan di kantin pun segera memasukkan buku-buku miliknya ke dalam tas kemudian beranjak dari tempat duduknya. Namun, belum juga Flowrence melangkah, kerah bajunya sudah lebih dulu di tarik dari arah belakang. Sontak saja hal ini membuat leher Flowrence tercekik hingga wajahnya memerah.
__ADS_1
"Kau mau pergi kemana, hem?" tanya Sisil sambil memicingkan mata. Dia baru melepaskan kerah baju Flowrence setelah gadis bodoh ini memohon untuk dilepaskan.
"Sisil, kenapa tenagamu kuat sekali. Apa yang kau makan di rumah?" tanya Flowrence penasaran.
"Tentu saja aku makan makanan yang bergizi lah. Memangnya kau yang hanya makan makanan standar biasa. Makanya kau bodoh," jawab Sisil dengan angkuhnya.
Flowrence membulatkan mulutnya. Dia juga sama, selalu mendapat asupan makanan bergizi dari semua keluarganya di rumah. Setelah itu Flowrence menatap heran ke arah teman-temannya yang kini tengah menatapnya lekat tanpa kedip. Dia serasa seperti sedang menjadi artis di mana ada banyak orang yang menginginkan tanda tangannya.
"Flow, jawab jujur pertanyaanku. Apa benar tujuh remaja tampan yang kemarin dan pagi ini datang ke sekolah kita adalah kakak-kakakmu?" tanya Sisil mulai mencecar Flowrence.
"Benar," jawab Flowrence dengan sangat jujur.
"Ah, masa sih. Penampilan ke tujuh remaja itu sangat tampan dan berkelas. Sedangkan kau? Ya Tuhan, cacing di dalam perutku sampai masuk angin karena lelah menertawakan bentuk tubuhmu yang seperti ini. Kau yakin tidak sedang mengigau dengan menganggap mereka sebagai saudaramu, hah?"
Flowrence terdiam. Dia lalu menengadahkan wajah sambil mengusap dagu bawahnya. Kira-kira aku sedang mengigau tidak ya? Kan tadi aku sedang tidur saat di antar pergi ke sekolah. Tapi ... ke tujuh remaja itu memang kakak-kakakku. Kenapa mereka tidak ada yang percaya ya? Aneh.
"Begini saja. Kalau benar mereka adalah saudaramu, sekarang beritahu aku siapa di antara mereka yang memiliki rambut gondrong. Coba kau beritahu kami siapa namanya," ucap Sisil beralibi. Dia sengaja menggunakan teman-temannya untuk mencari tahu siapa nama remaja tampan itu.
"Russel. Namanya Russell," jawab Flowrence.
"Lalu yang wajahnya sangat datar seperti tembok kerajaan?"
"Lalu dua orang yang paling tinggi?"
"Namanya Kak Cio dan Kak Reiden. Mereka berdua yang paling tua dan sangat menyukai balapan liar. Keren 'kan?"
"Woaaahhhh,"
Flowrence sedikit tersipu saat semua teman-teman memujinya sebagai gadis yang sangat beruntung karena memiliki saudara yang adalah seorang pembalap. Flowrence jadi tergugah untuk mengikuti jejak kedua kakaknya itu. Pasti sangat keren jika Flowrence bisa menaiki motor sport seperti yang dimiliki oleh kedua kakaknya. Benar tidak?
(Maaf, di bagian ini Flowrence sedikit tidak tahu diri dengan ukuran tubuhnya yang pendek. Tapi kalau kalian penasaran, kalian boleh kok membayangkan betapa menggelikannya gadis ini ketika menaiki motor balap yang ukurannya lumayan tinggi itu. Pasti Flowrence terlihat sangat menggemaskan. 😂)
"Flowrence, kau masih belum memberitahu kami nama dari tiga kakakmu yang lainnya," ucap Sisil sambil menelan ludah. Crush-nya ternyata bernama Russell. Sungguh keren sekali. Aaaaa.
"Yang wajahnya mirip Kak Bern tapi dalam versi wajah ramah lingkungan namanya Kak Karl, mereka saudara kembar. Lalu yang paling tampan namanya Oliver, dia yang paling aku suka. Lalu yang terakhir namanya Andreas, tapi aku lebih suka memanggilnya Kak Iyas. Sudah," sahut Flowrence dengan sangat sabar menjabarkan satu-persatu nama kakaknya kepada semua temannya.
Sisil berdehem pelan. Dia lalu berpindah duduk ke samping Flowrence kemudian mengalungkan tangan ke pundaknya.
"Flowrence, siang ini kau mau ikut aku pergi jalan-jalan tidak? Kebetulan Ayah dan Ibuku sedang ada urusan di luar, jadi aku meminta izin pada mereka akan pulang terlambat. Kalau kau mau, sepulang dari sekolah nanti aku bisa mengantarkanmu pergi ke sekolah untuk mengunjungi kakak-kakakmu. Bagaimana?" tanya Sisil. Dia langsung gerak cepat sebelum teman-temannya yang lain maju untuk mendekati kakaknya Flowrence. Sisil takut kecolongan.
"Wahhh, idemu keren sekali, Sil. Kalau begitu aku kan bisa mengirit uang sakuku. Ummm, kau baik sekali sih," jawab Flowrence dengan polosnya.
__ADS_1
"Santai saja,"
Setelah itu Flowrence tiba-tiba meminta semua orang untuk mendekat. Dia lalu menanyakan sesuatu pada teman-temannya.
"Apa kalian ingin di sapa oleh kakak-kakakku?"
"Tentu saja kami sangat ingin,"'jawab teman-teman Flowrence kompak. Termasuk Sisil juga. Matanya sampai lupa berkedip saking khawatirnya dia melewatkan informasi tentang Russell.
"Kalau begitu kalian beri aku uang. Masing-masing satu lembar untuk satu sapaan. Bagaimana?"
Hening. Semua orang menatap tak percaya ke arah Flowrence yang dengan gilanya ingin memperjualbelikan kakak-kakaknya sendiri. Mereka bukan kaget karena mengetahui ada seorang adik yang tega menjadikan anggota keluarganya sebagai penghasilan uang, tapi mereka heran karena harga yang di patok oleh Flowrence terlampau murah untuk ukuran remaja tampan seperti ke tujuh kakaknya. Sungguh.
"Em, itu juga jika kalian tidak merasa keberatan sih membayar mahal hanya demi satu sapaan dari kakakku. Kalau kalian tidak mau juga tidak apa-apa kok, aku bisa mengerti" ucap Flowrence kecewa karena dia gagal mendapatkan banyak uang.
"Eh eh eh, siapa bilang kami tidak mau, Flow. Kami hanya syok saja karena ketampanan kakakmu kau hargai dengan begitu murah. Begitu,"
"Benarkah?"
"Tentu saja. Hanya gadis buta yang akan menolak rejeki sebesar ini. Benar tidak kawan-kawan?" tanya Sisil pada teman-temannya yang lain. "Oke, kalau begitu mari kita undi siapa yang akan di sapa pertama kali oleh kakaknya Flowrence. Kalian setuju?"
"Setuju," ....
Dan pada akhirnya, Flowrence menjadi bandar besar dalam mengumpulkan arisan di mana masing-masing dari temannya langsung membayar begitu mendapat nomor antrian. Sambil menuliskan nama temannya, senyum semringah tampak menghiasi bibir Flowrence. Dia merasa sangat bahagia karena akhirnya kakak-kakaknya ada gunanya juga. Flowrence kaya sekarang. Hahaha.
"Flow, nanti sepulang sekolah kau jadi ikut pergi bersamaku 'kan?" tanya Sisil penuh harap.
"Kenapa aku harus ikut denganmu?" sahut Flowrence balik bertanya.
"Ya agar aku bisa mengantarkanmu ke sekolah tempat kakak-kakakmu berada lah," jawab Sisil setengah merajuk. Padahal tadi dia sudah mengatakannya, tapi tetap saja Flowrence bertanya. Haih.
"Oh, baiklah. Tapi itu tidak termasuk dalam arisan sapaan ini ya?"
"Baiklah. Santai saja,"
"Kalau begitu ayo kita pergi ke kantin. Sekarang aku kaya, dan aku akan mentraktir kalian semua. Ayo!"
Wajah-wajah bahagia langsung memenuhi ruang kelas begitu mereka di ajak makan gratis oleh Flowrence. Sedangkan gadis bantat itu sendiri, dia terlihat begitu uwaahhhh dengan lembaran uang di tangannya. Sesederhana itu Flowrence bisa merasa bahagia. Simpel 'kan?
💜
*******
__ADS_1