Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Saling Cinta


__ADS_3

Saat sampai di rumah, Gabrielle tak langsung membawa Elea keluar dari dalam mobil. Dia hanya menatapnya dalam diam sembari mengamati wajahnya yang semakin hari semakin bertambah cubby dan juga cantik.


"Apa aku akan sanggup membiarkan para wartawan memotret wajah cantikmu ini, sayang? Aku tidak rela, aku benci ada laki-laki lain yang mendambakanmu selain aku. Aku harus bagaimana besok?" gumam Gabrielle lirih.


Serba salah. Itu yang sedang di rasakan oleh Gabrielle sekarang. Sesuai dengan janjinya, di hari ulang tahun perusahaan dan juga ulang tahunnya bersama Grizelle, Gabrielle akan mengumumkan pada khalayak ramai tentang hubungannya dengan Elea. Dia akan memberitahu semua orang bahwa di hidupnya sudah ada satu wanita yang akan dia cintai sampai mati. Akan tetapi saat ini Gabrielle tiba-tiba merasa tidak rela setelah menyaksikan kecantikan Elea yang semakin hari semakin tidak ada obat ini. Dia takut akan ada banyak pria yang diam-diam memuja istrinya seusai pengakuan besok.


"Sayang, kenapa kau bisa secantik ini sih? Kalau begini ceritanya aku lebih memilih untuk tidak memberitahu orang-orang kalau kau adalah istriku. Bisa gawat jika tiba-tiba ada pembinor yang datang untuk merebutmu dariku. Aku tidak mau itu, sayang!"


"Hanya akan ada satu pelakor dalam rumah tangga kita, Kak Iel. Dan itu adalah Kak Levi."


Elea langsung membuka mata setelah berkata seperti itu. Dia tersenyum ketika mendapati wajah suaminya yang terlihat kaget. Tanpa menghilangkan senyum di bibirnya, Elea membelai pipi suaminya dengan penuh sayang.


"Jangan takut. Sekalipun Tuhan mengirim ribuan malaikat tampan dari surga, aku tetap tidak akan pernah berpaling darimu, Kak. Kau adalah hidupku, mustahil untuk aku jatuh cinta pada pria lain selain kau, suamiku!" ucap Elea mencoba menenangkan kekhawatiran suaminya. "Aku milikmu, dan kau milikku. Selamanya akan terus seperti itu sampai maut yang memisahkan kita."


"Yang kau katakan adalah benar, sayang. Akan tetapi tak dapat menutup kemungkinan kalau statusmu besok akan menarik perhatian banyak mata. Di tambah lagi kau adalah cucunya Grandma Clarissa dan juga putri Ayah Bryan. Mereka pasti akan berlomba-lomba membuat celah untuk memisahkan kita!" sahut Gabrielle masih tetap keberatan.


"Kak, hanya takdir Tuhan yang mampu memisahkan kita berdua. Kau harus yakin itu."


Gabrielle menghela nafas panjang. Dia memegang tangan Elea kemudian mengecupnya berulang kali. Tak pernah bisa dia bayangkan apa yang akan terjadi pada hidupnya jika benar wanita ini di curi oleh laki-laki lain. Gabrielle yakin sekali kalau dunianya pasti akan langsung hancur detik itu juga.


"Jangan berpikir macam-macam, Kak Iel. Yakinlah, percaya pada Tuhan kalau Dia akan menjaga keutuhan rumah tangga kita. Dari yang aku tahu, Tuhan itu sangat amat membenci perpisahan. Selagi kita tidak melangkah di jalan yang salah, aku yakin semuanya pasti akan baik-baik saja. Cobalah miliki pemikiran positif seperti ini, perasaan dan hati Kak Iel pasti akan merasa tenang."


"Haruskah?" tanya Gabrielle tak berdaya.


"Harus," jawab Elea.


"Why?"


"Karena kita berdua saling cinta."

__ADS_1


Rasa gundah gulana yang tadi menyelimuti hatinya Gabrielle langsung hilang saat Elea menghadiahi bibirnya dengan sebuah ciuman. Namun ketika Gabrielle hendak membalas ciuman itu, tiba-tiba saja Elea mendorong wajahnya dengan kuat.


"Kak Iel. Kenapa nafasmu busuk bangkai?" tanya Elea seraya menutup mulut ketika perutnya terasa mual.


"A-apa? Busuk bangkai?"


Ya Tuhan, cobaan apalagi ini. Bagaimana mungkin aroma nafasku bisa bau bangkai di saat aku sendiri bukan berasal dari golongan manusia kanibal? Ini Elea hanya sedang mengerjaiku saja atau bagaimana sih."


"Seumur-umur kita menikah, baru kali ini kau melakukan sesuatu yang sangat berbanding terbalik dengan penyakitmu, Kak. Ada apa? Apa Kak Iel sudah tidak mampu lagi membeli pasta gigi dan juga obat kumur untuk membersihkan mulut dari kuman? Aneh!" omel Elea sambil menutup hidung. Melihat bibir suaminya entah mengapa membuat perut Elea kian bergejolak.


"Sayang, aku bahkan mampu membeli sepuluh pabrik pembuat pasta gigi dan juga obat kumur malam ini juga. Tolong kau jangan mengada-ada. Mulutku sama sekali tak mengeluarkan aroma busuk seperti yang kau tuduhkan barusan. Sungguh!" sahut Gabrielle sedikit tak terima aroma nafasnya di sebut berbau bangkai.


"Oh, jadi aku yang salah ya, Kak? Aku yang sudah asal menuduh Kakak? Begitu?"


Mata Elea berkaca-kaca. Dia kemudian keluar dari dalam mobil lalu berlari cepat masuk ke dalam rumah, meninggalkan suaminya yang kini tengah duduk ternganga syok.


Tak ingin ada kesalahpahaman yang terjadi, Gabrielle segera keluar untuk menyusul Elea ke dalam rumah. Dan ketika Gabrielle hendak melewati pintu, dia berpapasan dengan Nun yang tiba-tiba saja langsung menghadang jalannya.


"Minggir, atau aku akan mematikan program yang ada di tubuhmu!"'ancam Gabrielle.


"Maafkan saya, Tuan Muda. Tapi ini adalah permintaan Nyonya Elea. Beliau meminta saya untuk menjauhkan anda darinya karena aroma nafas anda sangat luar biasa busuk. Nyonya mual karenanya," sahut Nun tanpa merasa gentar sedikitpun.


"Apalagi sekarang, hah!"


Dengan penuh emosi Gabrielle meremas rambutnya sendiri. Dia bingung dan tidak mengerti kenapa Elea tiba-tiba bisa jadi begini. Gabrielle kemudian berbalik badan, berkacak pinggang sambil menengadahkan wajahnya ke atas. Tidak bisa, dia paling tidak bisa jika harus berjauhan dengan istrinya itu. Gabrielle bisa gila.


"Tuan Muda,"


"APA?"

__ADS_1


Nun diam sejenak. Dia dengan sabar menunggu amarah Tuan Muda-nya sedikit mereda sebelum memberitahukan sebuah terkaan yang sedang dia pikirkan.


"Kenapa diam? Bisu?"


"Tuan Muda, ini hanya dugaan saya saja. Jika salah, tolong maafkan kelancangan saya," ucap Nun dengan sopan.


"Maksudnya apa? Bicara yang jelas, Nun!" sahut Gabrielle seraya berbalik menghadap ke arah Nun. Keningnya mengerut.


"Nyonya Elea tiba-tiba tak mau berdekatan dengan anda dengan alasan kalau nafas anda sangat bau seperti bangkai. Dan juga, Tuan Muda. Beberapa hari terakhir Nyonya sangat suka memungut barang-barang bekas dari luar rumah kemudian membawanya pulang. Tingkah dan prilaku Nyonya agar berbeda dari biasanya. Apakah Tuan Muda bisa merasakan perbedaan tersebut?"


Gabrielle terdiam lama setelah mendengar perkataan Nun. Memang benar kalau akhir-akhir ini dia sering menerima laporan kalau Elea telah merubah diri menjadi seorang pemulung yang selalu saja membawa pulang barang-barang bekas yang di temuinya di jalanan. Namun karena aktifitas memulung itu tidak membahayakan nyawanya, Gabrielle pun tak pernah mempermasalahkan kegiatan tersebut. Biar saja. Selagi Elea-nya bisa bahagia dan tersenyum, maka itu hukumnya adalah sah di mata Gabrielle.


"Tuan Muda, saya hanya ingin memberitahu anda kalau sepertinya Nyonya Elea kedatangan sesuatu di hidupnya."


"Ck, kau ini bicara apa sih, Nun. Apanya yang kedatangan sesuatu?" tanya Gabrielle bingung.


"Coba Tuan Muda pikirkan kembali kata-kata saya. Sikap dan prilaku yang berbeda dari kebiasaannya, mendadak menolak untuk anda dekati dengan alasan yang sangat amat klise. Juga dengan efek samping perut mual. Tidakkah anda merasakan suatu kebahagiaan besar sedang datang mendekat ke keluarga ini, Tuan Muda?"


Deg deg deg deg


"Nun, maksudmu Elea ... dia ....


"Benar, Tuan Muda. Akan tetapi itu masih dugaan saja. Dan untuk memastikan apakah dugaan tersebut benar atau tidak, bagaimana kalau kita meminta dokter Reinhard atau dokter Jackson untuk datang memeriksa keadaan Nyonya. Untuk jaga-jaga saja supaya tidak ada hal buruk yang terjadi jika seandainya dugaan tersebut adalah benar!"


Tulang-tulang yang ada di kaki Gabrielle seakan berubah menjadi jelly yang membuatnya lemas tak bertenaga. Gabrielle jatuh terduduk di lantai, dan rasanya seperti ada bom atom yang meledak di dalam tubuhnya. Elea ... mungkinkah?


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


MAAF GENGSS NONGOL DIKIT 😅

__ADS_1


__ADS_2