Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Gas Beracun


__ADS_3

Setelah semuanya siap, keluarga Young langsung pergi bertandang ke kediaman keluarga Ma. Yura yang memang sejak tadi mengkhawatirkan keadaan Elea terlihat sangat tidak sabaran ketika mobil berhenti beberapa kali di lampu merah. Duduknya gelisah, yang mana membuat Bryan menghela nafas panjang.


"Sayang, tenanglah. Di sana Elea itu tidak sendirian. Ada Gabrielle dan juga Nyonya Liona yang menemani. Jadi kau tidak perlu secemas ini padanya," ucap Bryan mencoba menenangkan Yura.


"Bagaimana mungkin aku tidak cemas, Bry. Wajah Elea tadi benar-benar sangat pucat. Aku takut dia kenapa-kenapa," sahut Yura lirih. "Dia sedang hamil muda. Bagaimana kalau kesehatannya sampai berimbas pada pertumbuhan ketiga bayinya?"


Bryan tersenyum. Dengan penuh sayang dia merangkul bahu Yura lalu mencium keningnya. "Kau tahu, sayang. Dari atas sana aku yakin Sandara pasti sangat bahagia karena Elea memiliki ibu pengganti sebaik dirimu. Aku sungguh bodoh karena telah menyia-nyiakan perasaan tulus yang kau berikan untukku. Maaf ya, gara-gara aku kau jadi terlambat untuk mempunyai anak sendiri. Padahal beberapa waktu ini aku sudah berusaha dengan cukup keras supaya bisa membuatmu ikut merasakan yang namanya mengidam. Tapi apa mau di kata, Tuhan punya jalannya sendiri untuk menghukumku. Kau mau kan memaafkan suamimu yang bodoh ini, hm?"


Blussshhhh


Wajah Yura menjadi sangat merah begitu mendengar perkataan Bryan yang sedikit vulgar. Padahal di dalam mobil mereka itu tidak hanya sedang berdua saja. Tapi ada Junio, Patricia, dan juga cucu mereka, baby Cio. Bisa kalian bayangkan sendiri bukan betapa malunya Yura saat ini? Suaminya ini benar-benar ya.


"Ayah, tolong berhentilah beromantisan di dalam mobil. Lihat, aku ini sedang menyetir. Apa jadinya nasib kita semua kalau aku sampai terpancing birahi kemudian menerkam Patricia di sini? Bisa-bisa kita semua masuk ke rumah sakit!" protes Junio merasa tak rela melihat kedua mertuanya beromantisan di kursi belakang. Dia merasa kalah saing sebagai orang yang lebih muda dari mereka.


"Jun, mari kita berhenti di tukang jahit dulu," ucap Patricia sembari membuka kain yang menutupi dadanya. Dia baru saja memberikan asi ekslusif untuk baby Cio.


"Tukang jahit? Memangnya apa yang ingin kau lakukan di sana, sayang? Lingerie-mu ada yang robek ya?" tanya Junio bingung.


"Tidak. Tapi aku ingin meminta tukang jahit untuk menjahit mulutmu supaya tidak bicara yang kurang ajar lagi," jawab Patricia cetus. "Kau ini ya. Apa pukulan di rumah tadi masih belum membuatmu jera juga, hm? Ingin benar-benar aku menjahit mulutmu? Iya?"


Bryan dan Yura terkekeh lucu melihat Junio yang langsung kicep begitu Patricia mengancamnya. Seolah setuju dengan perkataan sang ibu, baby Cio nampak menyunggingkan senyum kecil di bibir mungilnya. Hal itu membuat Junio merasa sangat amat terpojokkan. Entah bagaimana bisa bayi kecambah yang sudah dengan susah payah dia buat malah berada di kubu Patricia. Harusnya kan baby Cio itu berada dalam kubu yang sama dengan Junio. Iya kan man-teman?

__ADS_1


Haih, ini tidak bisa di biarkan. Kalau masih bayi saja bayi kecambah ini sudah berani memojokkan aku, ada kemungkinan besar kalau saat besar nanti dia tidak akan menuruni kehebatanku dalam berpetualang ranjang. Aku berani jamin kalau Patricia pasti akan mendidiknya dengan sangat ketat. Tidak-tidak, aku tidak boleh kalah. Baby Cio harus berada di pihakku, dia harus menjadi pria pemersatu bangsa yang akan di gilai oleh banyak wanita. Ya, begini baru benar.


"Aku tahu saat ini kau pasti sedang merencanakan sesuatu yang tidak-tidak tentang masa depan Cio kan, Jun?" tanya Patricia yang memang sudah sangat hafal dengan tabiat m*sum suaminya.


"Ck, kau ini kenapa asal menuduhku si, sayang. Aku mana mungkin melakukan hal seperti itu pada anakku sendiri," jawab Junio berusaha menyembunyikan kekagetannya.


Astaga, darimana Patricia tahu kalau aku sedang merencanakan sesuatu untuk baby Cio? Apa iya insting wanita itu memang sangat tajam seperti insting hiu Megalodon? Kenapa mengerikan sekali sih.


"Jangan mengelak. Awas saja kalau di masa depan nanti kau sampai mengajari sesuatu yang tidak-tidak pada anak kita. Aku bersumpah akan langsung mengirimmu pergi ke rumah sakit jiwa. Mau kau?!"


"Astaga, sayang. Kau ini kenapa menyeramkan sekali sih. Aku kan tidak mengatakan apa-apa sejak tadi. Kenapa kau tega mengancamku seperti itu!" protes Junio. Dia lalu menatap ibu mertuanya melalui kaca spion mobil. "Bu, lihat Patricia. Dia sangat kejam padaku, tolong bela aku, Ibu. Aku merasa terdzolimi."


"Cia, tidak boleh bicara seperti itu pada suamimu. Itu tidak sopan namanya," tegur Yura lembut sambil menggelengkan kepala. Sudah bukan hal yang baru lagi jika pasangan suami istri ini bertengkar di hadapannya. Jadi Yura sudah tidak kaget melihat kelakuan anak dan menantunya ini.


"Aku hanya memberinya sedikit teguran saja, Bu. Untung sekarang baby Cio masih belum mengerti maksud dari perkataan Junio barusan. Kan bisa berabe urusannya kalau dia sampai mengerti," sahut Patricia sembari melayangkan tatapan membunuh ke arah suaminya.


"Hmmm, yang kau katakan tidak salah, sayang. Akan tetapi bersikap tidak sopan pada suamimu itu juga bukan hal yang benar. Suami adalah kepala rumah tangga yang harus selalu kau hormati seperti apapun kelakuannya. Seperti halnya yang Junio katakan tadi. Dia bicara seperti itu kan hanya untuk candaan saja, jadi kau tidak perlu meresponnya dengan begitu cetus. Nanti akan ada masanya Junio memilih kata yang baik untuk dia ucapkan ketika anak kalian sudah besar. Ibu yakin dia tidak akan selamanya bersikap seperti ini. Iya kan, Jun?"


"Seperti biasa, Ibu adalah malaikat penolongku. Aku sungguh iri pada Ayah karena memiliki istri berhati malaikat tak bersayap seperti Ibu. Sementara aku ... hah, sudahlah," sahut Junio seraya menghela nafas panjang.


"Sedangkan aku apa, hm? Kali ini kau ingin mengataiku sebagai apa?" omel Patricia penasaran.

__ADS_1


"Benar kau ingin tahu?"


"Iyalah."


"Jangan marah ya kalau mendengarnya," ledek Junio sambil menaik-turunkan kedua alisnya.


Patricia berdecak.


"Kalau Ayah memiliki istri berhati malaikat tak bersayap, maka aku memiliki istri berhati malaikat pencabut nyawa. Hahahahahaha," ....


Junio tertawa terpingkal-pingkal setelah mengatai Patricia sebagai istri berhati malaikat pencabut nyawa. Dan tawa itu masih terus berlanjut meski kepalanya mendapat lemparan botol susu milik baby Cio. Puas, rasanya benar-benar sangat puas bisa mengerjai istrinya seperti ini. Junio bahagia sekali rasanya.


"Junio-Junio, kau ini ada-ada saja sih. Lihat, wajah Cia menjadi sangat mengerikan setelah kau mengatainya seperti itu," ucap Bryan sambil menggeleng lucu melihat kelakuan menantunya.


"Hahaha, biar saja, Ayah. Semakin mengerikan wajah Patricia, maka aku akan semakin mencintainya. Hubungan kami pasti akan sangat kaku jika tidak di selingi dengan candaan seperti ini. Iya kan, sayang? Hei, sayangku, istriku, cintaku," sahut Junio kemudian dengan usilnya menoel dagu Patricia yang tengah merajuk.


"Dasar gila," sahut Patricia sambil menahan senyum. Dia sangat suka dengan cara Junio menjaga keharmonisan hubungan mereka. Sedikit absurd memang, tapi Patricia akui kalau cara ini membuatnya jadi semakin mencintai Junio. Dia tidak bohong.


Entah karena kekenyangan atau bagaimana, di saat semua orang sedang tertawa senang tiba-tiba saja baby Cio mengeluarkan gas beracun yang mana baunya sedikit menyengat. Bukannya marah atau apa, hal itu malah membuat tawa semua orang kian menjadi. Sepertinya saat besar nanti baby Cio akan menuruni segala sikap konyol yang ada di diri ayahnya. Maka mari kita tunggu akan jadi seperti apa seorang Cio Morigan Stoller ketika dewasa nanti. 😅


*****

__ADS_1


__ADS_2