Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Duda Beranak


__ADS_3

"Aku melihat Kak Cira meninggal dan bersimbah darah!"


Deg


Dada Ares serasa di tikam belati tajam begitu mendengar ucapan sang nyonya. Dia yang awalnya diliputi kemarahan yang begitu besar seketika langsung sadar bahwa apa yang dilakukan oleh Tuan Muda-nya adalah untuk menyelamatkan Cira dari jurang kematian. Ares salah paham.


"Ares, kau tahu bukan kalau aku mempunyai kelebihan bisa mengetahui nasib dari orang yang berada di sekitarku? Dan aku melihat Kak Cira meninggal dunia. Besar kemungkinan maksud di balik penglihatan itu adalah berita yang tadi di sampaikan oleh dokter kalau rahim Kak Cira robek dan harus segera di angkat. Sedangkan darah yang aku lihat berasal dari pendarahan yang terjadi karena kau menolak untuk membiarkan dokter mengangkat rahim Kak Cira!" ucap Elea seraya menatap lekat ke arah Ares yang sedang diam termenung. "Aku tahu ini sulit untuk kau putuskan, Ares. Aku paham akan hal itu. Akan tetapi kau tidak boleh hanya memikirkan perasaan Kak Cira saja. Pikirkan juga nasib bayi kalian nanti jika seandainya kau tetap kekeh pada keputusan itu. Bayimu akan kehilangan sosok seorang ibu dan kau akan menjadi duda. Memangnya kau mau itu terjadi?"


"Tidak, Nyonya," jawab Ares dengan cepat. "Beberapa malam yang lalu Cira mengatakan kepada saya kalau dia ingin memiliki banyak anak. Selama ini dia merasa kesepian karena tidak memiliki saudara, jadi dia berkeinginan agar anak kami nanti tidak merasakan hal yang sama seperti yang dia rasa. Akan tetapi ....


Jeda sejenak. Ares menarik nafas dalam-dalam sebelum kembali melanjutkan perkataannya.


"Akan tetapi jika nyawa yang harus menjadi taruhannya, saya akan lebih memilih untuk mempunyai satu anak saja dengan Cira. Saya tidak kuat jika harus di tinggalkan, juga kasihan dengan anak kami jika harus kehilangan kasih sayang seorang ibu sedari bayi. Saya tidak sanggup, Nyonya. Saya tidak bisa!"


"Baru sadar kau sekarang, hem?"


Dengan terang-terangan Gabrielle menyindir Ares yang sempat melawan dirinya saat di dalam tadi. Sambil menciumi pinggiran kepala Elea, Gabrielle melayangkan tatapan sinis pada pria yang kini tengah menundukkan kepala. Dia merasa menang karena berhasil mematahkan penglihatan Elea.


"Ck, Gabrielle. Bisa tidak kau jangan membucin di saat kita sedang bicara serius begini? Seperti tidak pernah punya istri saja kau!" tegur Greg sambil menatap sengit ke arah putranya yang sama sekali tidak memiliki urat malu. Ingin rasanya dia menggetok kepala anak itu supaya sadar tempat.


"Bilang saja kalau Ayah merasa iri melihat kemesraan kami. Iya kan, sayang?" sahut Gabrielle.


"Tentu saja iya, Kak. Ayah Greg kan memang sangat sensi setiap kali melihat kita bermesraan. Jadi wajar saja kalau Ayah Greg menegurmu seperti itu. Sudah biasa," jawab Elea.


Suasana yang tadinya tegang mendadak jadi ramai saat semua orang menertawakan Greg. Bahkan Liona sampai harus menutup mulutnya saking puasnya dia melihat Greg hampir punah di tangan menantunya sendiri. Sungguh lucu pemandangan ini. Walaupun merusak suasana, cara bicara Elea yang ceplas-ceplos mampu mencairkan keadaan tegang yang baru saja terjadi karena sekarang Ares pun ikut tertawa.


"Sudah-sudah. Lebih baik sekarang kita semua segera masuk ke dalam dan menemui dokter agar Cira bisa segera menerima tindakan!" ucap Liona mengingatkan semua orang. "Dan Ares, selamat atas kelahiran putra pertamamu. Hadiahnya akan aku berikan setelah Cira sehat dan di bawa pulang ke rumah!"

__ADS_1


"Baik, Nyonya. Terima kasih banyak," sahut Ares seraya membungkukkan setengah badan. Setelah itu Ares melihat ke arah Tuan Muda-nya, merasa bersalah karena telah bersikap tidak sopan kepadanya. "Tuan Muda, saya ....


"Jangan meminta maaf, tapi berterima kasihlah pada Elea. Berkatnya kau tidak harus menjadi duda anak satu!" sela Gabrielle berkelakar.


"Kak Iel benar, Ares. Tidak enak lho menjadi duda anak satu, cobaannya sangat besar. Apalagi cobaan yang berasal dari daun-daun muda, di jamin kau tidak akan kuat menahan godaannya," ucap Elea ikut menambahi kata-kata Gabrielle. Dia lalu terkekeh saat Gabrielle menyentil daun telinganya pelan.


"Nyonya Elea, terima kasih banyak atas bantuan yang Tuhan berikan melalui kelebihan yang anda miliki. Mungkin saat di dalam tadi sikap saya sedikit kekanakan, tapi itu terjadi karena saya tak ingin melihat Cira bersedih. Mohon di lain kesempatan jika ada sesuatu yang anda lihat segeralah untuk memberitahu saya agar saya tidak salah paham seperti tadi. Saya menyesal. Sungguh!" sahut Ares benar-benar merutuki kebodohan yang telah dia lakukan.


"Baiklah. Tapi kalau kau ingin aku memberitahukan apa yang aku lihat, kau harus memberikan mahar yang sangat mahal untukku. Contohnya anakmu!"


Kata-kata Elea sukses membuat Ares, Gabrielle, dan kedua mertuanya mengerutkan kening. Elea yang sadar kalau orang-orang ini salah paham dengan ucapannya, segera memberikan penjelasan akan maksud di baliknya.


"Hehe, aku tidak berniat buruk dengan meminta anakmu sebagai mahar, Ares. Aku hanya berusaha menyampaikan saja kalau anakmu nanti akan menjadi orang kepercayaan dari ketiga anakku. Begitu,"


"Oh. Kalau itu saya sama sekali tidak merasa keberatan, Nyonya. Tanpa anda minta pun saya dan Cira akan mendidik agar anak kami bisa meneruskan kewajiban saya untuk melayani dan menjaga anak-anak anda nanti. Jangan khawatir, hubungan ini tidak akan pernah terputus sampai seribu keturunan sekalipun. Keluarga Ma adalah suatu anugrah yang sangat besar di hidup orangtua dan Paman saya, Nyonya Elea. Jadi saya dan para keturunan saya kelak selamanya akan terus mengabdikan diri pada keluarga Ma!" ucap Ares menegaskan bahwa semua keturunannya kelak hanya akan hidup di bawah kehangatan keluarga Ma.


"Kerja bagus, Res. Aku selalu bangga memilikimu di hidup ini!" ucap Greg memuji Ares sambil menepuk bahunya pelan.


"Terima kasih, Tuan," sahut Ares.


"Kau putraku. Jadi apapun yang kau lakukan selamanya kau akan tetap menjadi putraku. Jangan ragu untuk datang mengeluh padaku ya. Kita adalah keluarga. Oke?" imbuh Liona.


"Baik, Nyonya. Terima kasih banyak atas kebaikan hati kalian semua. Saya sangat beruntung menjadi bagian dari keluarga Ma!"


"Itu sudah seharusnya, Nak."


Gabrielle dan Elea tersenyum melihat Ares yang sudah tidak tegang seperti tadi. Setelah itu mereka semua kembali masuk ke dalam guna menyampaikan pada dokter tentang keputusan yang sudah di ambil oleh Ares.

__ADS_1


"Dokter, tolong lakukan yang terbaik untuk istriku. Jika memang sudah tidak ada jalan lain selain mengangkat rahimnya, maka lakukan saja. Keselamatan istriku jauh lebih penting dari apapun!" ucap Ares sambil mengepalkan kedua tangannya. Serela-relanya Ares, keputusan ini tetap saja sangat berat baginya. Dia sedih membayangkan akan seperti apa hancurnya perasaan Cira nanti setelah tahu kalau dia tidak akan pernah bisa mengandung lagi.


"Baik, Tuan Ares. Kami tim dokter akan berusaha semampu mungkin untuk menyelamatkan Nyonya Cira. Kalau begitu saya permisi!"


Ares mengangguk. Dan tepat ketika tubuhnya hampir luruh ke lantai, ada sebuah tangan kekar yang menopang dari arah belakang. Ares kemudian tersenyum kecut.


"Setelah ini Cira pasti akan sangat membenci saya, Tuan Muda. Dia pasti akan sangat kecewa pada keputusan yang sudah saya ambil."


"Tidak apa-apa, jangan cemas. Di awal-awal mengetahui hal ini wajar kalau Cira akan merasa kecewa. Akan tetapi lambat laun Cira pasti akan menyadari sendiri kalau keputusan yang kau ambil adalah untuk kebaikan bersama. Tenang saja, kami semua ada bersama kalian. Kami tidak akan mungkin membiarkanmu melewati masalah ini sendirian. Seperti yang Ibuku katakan kalau kita adalah keluarga. Kita satu, Ares!" hibur Gabrielle.


"Haruskah saya berterima kasih sepanjang operasi ini berlangsung?"


"Tidak perlu. Aku tidak mau repot mengurusmu yang jatuh pingsan karena kelelahan!"


"Baiklah!"


Paham kalau suasana sudah tak memanas lagi, Maria pun berjalan mendekati Ares. Dia lalu menangkup kedua pipinya dengan mata berkaca-kaca.


"Ares, putra Ibu. Sekarang kau pergi bersihkan dirimu. Putramu sudah lahir, apa kau tidak ingin melihatnya, hem?"


"Astaga, aku lupa kalau anakku sudah lahir, Bu. Ya Tuhan, Ayah macam apa aku ini!"


Segera Ares menyambar pakaian ganti dari tangan ayahnya kemudian pergi keluar. Dia butuh toilet sekarang juga karena tubuhnya di penuhi noda darah yang berasal dari tubuhnya Cira tadi.


Nak, tunggu Ayah ya. Kita akan segera bertemu, jadi tunggulah barang sejenak. Oke?


*****

__ADS_1


__ADS_2