
Tak terasa kini tiga puluh hari telah berlalu sejak tragedi yang menimpa Flowrence, Sisil dan juga Russel. Dan berkat pengobatan khusus yang di berikan oleh dokter di kediaman keluarga Ma, Sisil berhasil tersadar dari komanya. Namun karena kondisinya belum bisa di katakan normal sepenuhnya, Liona meminta agar Sisil tetap tinggal di rumahnya sampai keadaan Sisil benar-benar pulih. Sejak hari itu, Flowrence yang biasanya pindah-pindah tempat dari rumah orangtua kandungnya ke rumah orangtua angkatnya, memutuskan untuk hijrah ke kediaman sang nenek. Tujuan satu, untuk memastikan kalau Sisil tidak mati dan meninggalkannya.
Oya, jika kalian penasaran apakah luka-luka di tubuhnya Flowrence sudah sembuh atau belum, jawabannya sudah meski bekas luka di tubuh Flowrence belum sepenuhnya hilang. Di bagian kaki dan siku tangannya masih ada bekas luka yang terlihat. Namun hal tersebut tak bisa menghalangi keaktifan Flowrence dalam menjahili orang di sekitarnya.
“Sisil, ayo ke sana. Jangan takut, Lan itu sangat baik dan menggemaskan. Dia tidak akan mungkin memakanmu!” ucap Flowrence memaksa Sisil untuk bermain bersama Lan, harimau kesayangan kakek dan neneknya.
“Flow, itu harimau. Akan sangat berbahaya kalau kita pergi kesana!” seru Sisil dengan wajah pucat pasi. Dia benar-benar sangat takut melihat binatang buas itu.
Sehari setelah Sisil di izinkan untuk keluar kamar, dia hampir mati ketakutan saat mendapati ada binatang buas yang di pelihara di rumah ini. Dan yang lebih mengagetkannya lagi, Sisil melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Flowrence dengan begitu santainya naik ke atas punggung harimau tersebut. Sungguh, tak pernah Sisil menyangka kalau Flowrence merupakan cucu emas dari keluarga yang paling terpandang di Negara ini. Dia seperti sedang bermimpi tinggal di sebuah rumah yang lebih cocok di sebut sebagai istana. Akan tetapi untuk harimau itu, Sisil seribu kali lebih tidak pernah membayangkannya lagi. Pokoknya mengerikan.
“Sil, aku ini tidak bodoh lo. Aku juga tahu kalau Lan itu adalah seekor harimau. Lagipula Lan juga tidak mungkin memakan kita berdua. Kita kan baru saja melewati lembah kematian, aku berani jamin Lan tidak akan mau memakan daging kita yang pahit ini,” sahut Flowrence berusaha meyakinkan Sisil. Namun sedetik kemudian Flowrence mengusap dagu bawahnya. Dia tengah memikirkan kemungkinan yang bisa saja terjadi. “Em, kalau untuk memakan kita berdua itu sepertinya tidak mungkin. Paling-paling Lan hanya akan menjilat kita saja, Sil. Yuk ke sana sekarang!”
Roooaarrrrrrrr
Jantung Sisil serasa pindah tempat saat mendengar suara raungan Lan. Sedangkan Flowrence, gadis bantat ini malah terkekeh lucu sambil melambai-lambaikan tangan ke arah Lan yang kini sedang menatap ke arah mereka berdua.
“Tidak apa-apa, Sisil. Lan binatang yang sangat baik, dia mengaum karena merasa senang mendapatkan teman baru. Nah, pergilah bersama Flow lalu perkenalkan dirimu padanya,” ucap Russel tanggap akan ketakutan di diri Sisil. Namun, sebenarnya tujuan Russel bukan itu. Dia hanya ingin berada dekat di samping Flow setelah mereka lama tak bertemu akibat kecelakaan waktu itu.
Sisil menoleh. Walaupun dia dan Russel telah sama-sama memperkenalkan diri, Sisil tetap saja gugup saat bertatapan seperti ini dengannya. Sisil tahu kalau dirinya masih anak kecil, tapi rasa terpesonanya pada kakaknya Flowrence tak bisa Sisil hindari. Dia gadis yang centil sekali bukan?
“Apa … dia tidak akan menggigitku?” tanya Sisil malu-malu.
__ADS_1
Russel menggeleng. Dia berdiri berhadapan dengan Sisil, tapi matanya terus melirik ke arah Flowrence. “Tidak. Lan hanya akan menyerang orang yang memiliki niat jahat pada keluarga kami. Sedangkan kau, kau adalah orang yang telah menyelamatkan Flowrence. Jadi Lan tidak akan mungkin menyerangmu. Iya kan, Flow?”
“Tentu saja,” sahut Flowrence dengan cepat. Dia lalu memanyunkan bibirnya saat Sisil terus saja menatap Russel. “Sisil, yang jadi harimaunya itu Lan, bukan Russel. Kenapa kau malah menatapnya terus sih. Mau biji matamu sampai keluarpun Russel tidak akan berubah menjadi seperti Lan. Dia itu manusia.”
Wajah Sisil berubah merah padam saat Flowrence menyindirnya secara terang-terangan. Anak ini benar-benar ya. Tidak tahu apa kalau Sisil sedang pedekate dengan Russel. Mengganggu saja.
“Ayo, Sil!” ucap Flowrence mulai merengek.
“Huh, umur saja yang sudah lima belas tahun. Tapi kelakuannya sangat mirip dengan anak lima tahun. Menyebalkan,” gerutu Sisil kesal.
“Tapi kau sayang padanya ‘kan?” tanya Russel.
“Apa?”
“K-kau menyentuhku?” kaget Sisil tak percaya. Tubuhnya seperti sedang berada dalam tungku perebusan. Panas, tapi menyenangkan. Hehe.
“Iya. Kenapa memangnya? Tidak boleh ya?”
“B-bo-boleh. Tentu saja sangat boleh,”
“Apanya yang boleh, Sil?” tanya Flowrence penasaran.
__ADS_1
“Sudah diam saja. Anak kecil tidak boleh ikut campur masalah orang dewasa. Tidak baik,” sahut Sisil dengan songongnya melupakan fakta kalau usianya sendiri masih kalah muda di bandingkan dengan Flowrence. Setelah itu Sisil menggandeng tangan Flowrence lalu mengajaknya pergi menghampiri Lan. Kini dia sudah tidak takut lagi setelah mendapatkan pesangon dari Russel. Hahay.
Sementara itu di dalam rumah, Abigail, Mattheo dan juga Greg tampak mengawasi ketiga remaja yang sedang asik bermain dengan Lan di taman. Normalnya mereka bertiga harusnya terlihat senang. Namun raut tersebut sama sekali tak muncul di wajah mereka sekarang.
“Greg, apa Gabrielle dan Elea benar-benar akan memaafkan Bern begitu saja? Ini tidak adil. Harusnya mereka memberikan sedikit teguran agar nantinya Bern tidak mengulangi kesalahan yang sama lagi,” tanya Mattheo penasaran.
“Ini tidak semudah yang kau pikirkan, Matt. Mau sejahat apapun sikapnya Bern, dia tetaplah anaknya Gabrielle dan Elea. Gabrielle memberitahuku kalau kesalahan Bern tidak boleh di balas dengan sesuatu yang bisa membuatnya merasa terhakimi. Mereka khawatir kalau hal tersebut malah akan semakin mengobarkan api dendam yang di diri Bern, jadi memutuskan untuk memaafkannya saja. Begitu,” jawab Greg seraya menghela nafas panjang.
“Hmmm, kenapa masalahnya jadi semakin bertambah panjang saja ya. Untung saja anak dan cucuku tidak ada yang menanggung karma. Kalau ada, saat ini aku pasti akan sama stresnya seperti kau dan Gabrielle,”
“Jangan menggampangkan sesuatu yang belum terjadi, Matt. Ingat, tanganmu dan tanganku pernah berlumuran darah dari tubuh para musuh yang mati terbunuh. Asal kau tahu saja karma itu tidak selalu datang di kala kita masih hidup, dia muncul sesuka hati tanpa memberi kesempatan untuk kita memilih pada siapa karma itu akan jatuh. Jadi aku harap kau jangan bicara sembarangan lagi. Paham?” tegur Abigail kurang menyukai ucapan Mattheo.
Mattheo menelan ludah. Tengkuknya langsung meremang mendengar teguran Abigail yang entah kenapa terdengar cukup mengerikan. Mattheo jadi merasa was-was sekarang. Takut kalau-kalau anak dan cucunya ada yang menanggung karma dari perbuatan kejam yang tak sengaja pernah dia lakukan. Hii.
“Greg, sebenarnya kedatanganku kemari adalah untuk berpamitan padamu dan pada Liona. Tapi melihat kondisinya sekarang, aku memutuskan untuk tinggal sedikit lebih lama di sini. Kau tidak keberatan bukan jika aku dan Mattheo menginap di rumahmu?” tanya Abigail seraya menghela nafas dalam-dalam. Wanita yang telah memberinya kehidupan yang layak sedang tidak baik-baik saja, jadi Abigail tidak mungkin pergi meninggalkannya. Seperti janji yang pernah di ucapkannya dulu kalau menjadi hantupun Abigail akan tetap setia pada Liona. Dan dia tidak akan pernah mengingkarinya meski sekarang Abigail telah menikah dengan sepupunya Liona, yaitu Mattheo.
“Di rumah ini ada banyak sekali kamar yang menganggur. Kalian bisa memilihnya sesuka hati,” jawab Greg. “Saat bangun nanti, Liona pasti akan merasa senang ketika tahu kalau kau akan menginap di rumah kami.”
Abigail mengangguk. Sejak hari di mana Liona mulai menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi pada Bern dan Flowrence, sejak hari itu pula kesehatan Liona sedikit menurun. Abigail paham dan juga sangat amat mengerti bagaimana perasaannya sekarang. Makanya dia memutuskan untuk tinggal sedikit lama agar bisa menemani kesedihan wanita yang sudah dia anggap sebagai kakak kandungnya sendiri.
Liona, aku yakin kau pasti kuat. Entah itu benar kau atau bukan, aku percaya kau sanggup untuk melewati ini semua. Kau jendralku, kau kuat dan tak terkalahkan. Aku tahu itu, ….
__ADS_1
***