
"Aku melihat Kak Cira bermandikan darah, Kak. D-dia ... dia ....
Terlalu sulit untuk Elea melanjutkan perkataannya. Lidahnya kaku, seakan ada ribuan jarum runcing tertancap di sana. Jujur, sebenarnya keadaan Cira yang seperti ini sudah dari beberapa minggu yang lalu di ketahui oleh Elea. Akan tetapi dia memilih untuk diam dan tidak memberitahu siapapun dengan harapan dia mampu untuk sedikit merubah jalan takdirnya. Namun siapa sangka kalau nasib tersebut akan tetap menghampiri Cira yang mana membuatnya berada dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan.
"Sssstttt, sayang, tenangkan dirimu. Aku tahu bagaimana perasaanmu sekarang, aku paham. Tapi kau harus ingat kalau di sini ... ," ucap Gabrielle menjeda kata-katanya sambil mengelus pelan perut Elea. Dia lalu mencium keningnya lama. "Di sini ada anak-anak kita. Mereka pasti tidak tenang kalau kau gundah seperti ini. Tolong kau kendalikan suasana di dalam hatimu ya? Berpikirlah dengan kepala dingin agar tidak ada tekanan di dalam batinmu. Jangan khawatir, aku ada untukmu. Dan aku akan berusaha semampu mungkin untuk tidak membiarkan Cira meninggalkan Ares dan bayi mereka. Aku berjanji untuk itu!"
"Tapi, Kak. Bagaimana caramu merubah semua itu kalau aku saja tidak bisa melakukannya? Kak Cira ... d-dia akan pergi meninggalkan kita semua. Aku melihatnya, Kak Iel. Aku melihatnya," sahut Elea histeris.
Elea kalut. Dia berpegangan pada pakaian Gabrielle dengan kondisi tangan gemetar hebat. Bayangan di mana Ares menangisi Cira yang telah terbujur kaku membuat Elea mengalami sesak nafas hebat. Dia sampai tersengal hingga membuat Gabrielle menjadi panik karenanya.
"Sayang, hei. Dengarkan aku. Tarik nafasmu perlahan, lalu keluarkan. Ikuti apa kataku, Elea. Kau tidak boleh kalah!" ucap Gabrielle kepanikan. Dia berusaha membuat Elea tenang dengan terus mengelus dada dan punggungnya.
"A-aku tidak bisa bernafas, K-Kak,"
"Bisa, kau pasti bisa. Lakukan perlahan seperti yang aku lakukan. Oke?"
Posisi Gabrielle dan Elea yang saat itu berada di luar rumah sakit membuat beberapa orang melihat aneh ke arah mereka. Bagaimana tidak! Saat ini Gabrielle sedang membantu Elea untuk menarik nafas, mirip dengan pengarah senam yang biasanya mengajak para ibu-ibu untuk meliukkan badan membakar kalori.
"Sudah lebih baik, hm?" tanya Gabrielle setelah hampir lima belas menit menarik dan mengeluarkan nafas membantu Elea yang tiba-tiba sesak.
"Sedikit,"
"Tapi?"
__ADS_1
"Tapi sudah mendingan," jawab Elea.
Gabrielle tersenyum. Sedikit bercanda ternyata bisa membuatnya merasa lega.
"Sayang, apapun yang sudah kau lihat kau harus yakin kalau Cira pasti baik-baik saja. Jadi jangan terlalu tertekan dalam memikirkannya ya?"
"Bagaimana aku tidak tertekan, Kak Iel. Aku melihatnya dengan sangat jelas, Kak Cira meninggal," jawab Elea masih kekeh pada apa yang telah dilihatnya.
"Aku tahu, tapi bukan berarti kau harus percaya sepenuhnya pada apa yang kau lihat. Ingat Elea, sehebat apapun kemampuan yang kau miliki, tetap kuasa Tuhan yang menjadi penentu. Tuhan mempunyai kuasa yang tidak mungkin bisa dilawan oleh siapapun orangnya. Termasuk dirimu juga. Jadi jangan kau berpatokan kalau apa yang telah kau lihat akan selalu menjadi kenyataan. Bisa saja itu adalah ulah iblis yang ingin menyesatkan pikiranmu supaya tidak lagi mempercayai kekuatan Tuhan. Para iblis itu dengan sengaja mengacaukan hati dan pikiranmu dengan terus memupuk bahwa apa yang kau lihat adalah suatu kebenaran. Yakinlah, tidak ada yang tidak mungkin di tangan Tuhan. Oke?"
Seakan ada angin dingin datang berhembus yang mana langsung menerpa wajah Elea begitu dia mendengar nasehat Gabrielle. Ini, inilah kenapa Elea tidak bisa jika tidak ada Gabrielle. Suaminya ini adalah tameng terkuat ketika Elea dilanda badai kecemasan seperti sekarang. Kini Elea paham kalau apa yang dia rasa ternyata datang dari dalam pikirannya yang begitu kalut dan tertekan, hingga membuatnya berasumsi sendiri bahwa semua yang dia lihat akan menjadi nyata.
Maafkan aku, Tuhan. Tanpa aku sadari aku telah menjadi orang angkuh yang ingin melewati kekuasaanmu. Tolong ampuni kesalahanku. Karena aku sejatinya hanya seorang manusia biasa yang tidak akan pernah bisa sempurna.
"Apakah itu mungkin, Kak?" tanya Elea sambil menggigit bibir bawahnya.
"Tidak ada yang tidak mungkin, Elea. Karena Tuhan memiliki sesuatu hal yang tidak kita miliki, yaitu keajaiban. Jadi kita harus sama-sama yakin kalau Cira pasti akan baik-baik saja. Ini hanya sekedar teguran kecil dari Tuhan karena mungkin kita semua kurang mensyukuri apa yang telah kita miliki. Dan aku ingatkan padamu jangan pernah kau meragukan kuasa Tuhan karena hal tersebut adalah sesuatu yang paling bodoh yang ada di dunia ini. Paham?"
Untuk beberapa saat Elea hanya diam tak merespon perkataan Gabrielle. Dia sedang mencari-cari kesalahan di dalam diri, mencoba untuk memahami di titik mana dia telah melakukan kebodohan tersebut. Hingga tak berapa lama kemudian Elea di buat menangis ketika menyadari dimana letak kesalahannya.
"Hiksss, Kak Iel. Aku salah, aku berprasangka bahwa keyakinanku adalah suatu kebenaran. Aku takabur akan kelebihan yang aku miliki. Hiksss,"
"Tidak apa, yang penting sekarang kau sudah menyadari poin terpenting dari kejadian ini. Jangan menangis ya, nanti anak-anak kita juga ikut menangis di dalam sana. Kan repot kalau mereka sampai meminta permen dari kita. Iya 'kan?"
__ADS_1
"Issshh Kak Iel. Aku itu sedang sedih, kenapa kau malah melawak. Ingusku sampai tidak jadi keluar kan gara-gara aku ingin tertawa?" protes Elea sesaat sebelum akhirnya dia terkekeh sambil menyeka air mata di wajahnya.
"Hahahahaha, kenapa tidak jadi. Tertawa ya tertawa sajalah, sayang. Bilang pada ingusmu itu supaya tidak ragu untuk menampakkan diri," sahut Gabrielle sambil tertawa senang melihat Elea yang akhirnya bisa tertawa.
Suasana yang awalnya terasa mencekam kini telah berganti menjadi suasana penuh tawa. Gabrielle dan Elea, keduanya kini saling memeluk tanpa melepaskan tawa di bibir mereka. Membuat orang-orang yang awalnya menatap aneh ke arah mereka ikut tersenyum melihat hangatnya suasana yang begitu cepat tercipta.
"Kita masuk ke dalam ya. Kasihan, Ares sedang sangat membutuhkan dukungan dari kita semua sekarang," ajak Gabrielle setelah yakin kalau suasana hati Elea benar-benar sudah stabil.
"Baiklah. Tapi tolong kau jangan pernah melepaskan genggaman tanganmu dari tanganku ya, Kak. Di sini kaulah penguatku, jadi aku tidak bisa jika tidak kau di dekatku," sahut Elea sambil menatap Gabrielle penuh harap. Elea tidak bisa berada jauh dari pawangnya, dia terlalu lemah.
Gabrielle mengangguk. Setelah itu dia menyatukan jari-jari tangannya dengan jari tangan Elea kemudian mengecupnya dengan begitu mesra.
"Hanya Tuhan yang bisa melepaskan pegangan tangan kita, sayang. Selamanya tangan kita akan selalu bergandengan. Aku janjikan itu!"
"Kau yang terbaik, Kak Iel. Aku mencintaimu," sahut Elea penuh haru.
"Aku juga sangat sangat sangat mencintaimu, sayang. Selamanya."
"Ayo masuk. Sekarang aku sudah tenang."
"Baiklah. Ayo!"
Dan pada akhirnya Elea berhasil melewati badai besar yang tadinya begitu menyiksa perasaan berkat keberadaan Gabrielle di sisinya. Dari kejadian ini Elea mengambil hikmah bahwa sehebat apapun kekuatan yang dia miliki, tetap tidak akan mampu melawan kekuatan Tuhan. Semakin tinggi pohon, maka angin yang menerpa akan semakin kuat. Semakin sering Elea menerima kelebihannya, maka akan semakin banyak iblis yang datang untuk menggoda n*fsu kesombongannya. Sangat mengerikan bukan?
__ADS_1
*****