Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Suntikan Vitamin


__ADS_3

Setelah Oliver melepas rindu pada Flowrence, barulah dia kembali ke kantor dengan raut wajah yang begitu berseri-seri. Bagaimana tidak berseri-seri, dia baru saja mendapat suntikan vitamin yang membuat tubuhnya terasa jauh lebih segar. Sesegar cintanya yang semakin tumbuh subur di dalam hati. Haha.


Oya, setelah Oliver menyelesaikan studynya, dia langsung diminta untuk menggantikan posisi sang ibu yang dulunya adalah seorang CEO dari LF Group. Berhubung karena mendiang kakek dan neneknya juga telah meninggalkan wasiat kalau seluruh aset mereka dilimpahkan semua atas namanya Oliver, dengan sangat terpaksa Oliver akhirnya mengambil jabatan ini. Saat kuliah dulu, sebenarnya Oliver mengambil jurusan sebagai dokter spesialis bedah. Namun karena tak kuat menerima serangan teror dari ibunya, Oliver hanya bisa pasrah saat sang ibu meminta agar dia kembali melanjutkan pendidikan dengan mengambil bagian bisnis. Jadilah sekarang Oliver memiliki dua gelar yang mana membuatnya menjadi terlihat semakin keren di mata Flowrence.


Ceklek


"Ha, sudah pulang kau rupanya!" sindir Levita sambil bersedekap tangan menatap putranya yang baru saja datang. Dia yang kala itu tengah berdiri di samping lemari langsung berjalan menghampiri Oliver saat anak ini mengabaikan sindirannya. "Kau kemana saja selama dua jam ini, Oli? Jangan bilang kau pergi berselingkuh dengan wanita lain ya hanya karena gagal makan siang bersama Ibu dan Flowrence. Kalau dugaan Ibu sampai benar, Ibu bersumpah akan merontokkan semua bulu yang ada di tubuhmu. Paham?"


"Ibu ini bicara apa sih. Siapa juga yang pergi berselingkuh dengan wanita lain. Jangan suka berasumsi yang bukan-bukan dulu kalau Ibu tidak memiliki bukti. Jatuhnya fitnah tahu!" sahut Oliver tak habis pikir mendengar ancaman gila yang baru saja dilontarkan oleh ibunya. Ingin merontokkan semua bulu yang ada di tubuhnya? Astaga, ibunya ini ada-ada saja. Bagaimana nasib kakaktua peliharaannya kalau hutan rimbun yang selama ini menjadi tempat tinggalnya dirusak paksa? Bisa-bisa burung kakaktua miliknya mati dengan kondisi tubuh mengerut. Benar tidak teman-teman? 😅😅😭😭


"Fitnah-fitnah. Tahu apa kau tentang fitnah," omel Levita. Dia lalu mengendus tubuh Oliver untuk memastikan kalau putranya ini benar-benar tidak berselingkuh.


Hmmm, aroma tubuh Oliver berbau uang. Ini artinya dia baru saja bertemu dengan mantu mahalku, bukan wanita yang bau ketek. Hehe, rekeningku aman.


"Sekarang apalagi, Bu?" tanya Oliver sambil memutar bola matanya. Jengah melihat senyum matre di bibir sang ibu. Oliver sudah hafal, sangat-sangat hafal kalau pelakor abadi ini akan segera membahas tentang sesuatu yang berhubungan dengan uang.


"Kau ... baru saja menemui Flowrence 'kan?" sahut Levita balik memberi pertanyaan.


"Memangnya siapa lagi yang akan kutemui selain dia? Bukankah selama ini Ibu tak pernah membiarkan satupun wanita bisa bernafas di dekatku selain Flowrence, Sisil dan para ibu-ibu yang lain? Masih juga bertanya."


"Ck, kau ini kenapa galak sekali sih. Ibu melakukan itu semua demi masa depanmu juga, Oiver."

__ADS_1


"Masa depan shopping Ibu lebih tepatnya."


"Hehe, tahu saja."


Oliver menghela nafas. Sungguh, Oliver benar-bnar bingung dengan jalan pikiran ibunya ini. Padahal ibunya memiliki sumber keuangan yang Oliver yakin tidak akan habis dimakan oleh keluarganya di mana kekayaan itu bersumber dari LF Group dan gaji ayahnya yang mempunyai jabatan sebagai direktur dari seluruh rumah sakit milik keluarga Ma. Namun anehnya, ibunya ini terus saja merongrong kekayaan milil Flowrence beserta milik kedua orangtuanya. Oke Oliver tahu kalau ibunya ini memiliki gelar aneh di mana ibunya adalah pelakor bersertifikat resmi yang bahkan sudah di akui oleh seluruh keluarga besar Ma. Tapi bukan berarti ibunya ini masih terus mempertahankan gelar tersebut sampai sekarang kan? Oliver bukannya malu, dia hanya merasa bersalah saja karena secara tidak langsung Oliver ikut menikmati hasil rampokan sang ibu. Posisinya sungguh terjepit sekali bukan? Dan itulah Oliver. Haihhh.


"Oli, ngomong-ngomong tadi kau dan Flowrence melakukan transaksi tidak?" tanya Levita penasaran.


"Transaksi apa maksud Ibu?" jawab Oliver.


"Transaksi uanglah. Ya kali transaksi narkoba. Memangnya kalian mafia!"


"Tidak ada transaksi apapun yang kami lakukan selain transaksi antar bibir," ucap Oliver asal menguap. "Dan transaksi ini jauh lebih menguntungkan jika di bandingkan dengan transaksi uang dan narkoba!"


"Kurang ajar. Bagaimana bisa kau bicara seperti itu di depan ibumu, OLIVER DISHI!!! Kau cari mati ya!" amuk Levita setelah menggeplak lengan Oliver dengan sangat kuat. Sungguh, sepertinya virus bucin milik Gabrielle kini telah menurun pada putranya. Membuat orang jengkel saja.


"Siapa suruh Ibu bertanya aneh-aneh padaku. Ya jangan salahkan aku kalau aku memberitahu Ibu tentang apa yang aku lakukan bersama Flowrence tadi. Ibu yang salah!" sahut Oliver dengan santainya.


"Hah, kau benar-benar sudah tidak waras. Beginilah jika hanya memiliki anak laki-laki. Karena hanya anak perempuan saja yang bisa memahami betapa berartinya uang dan berbelanja!"


Setelah berkata seperti itu tiba-tiba ruangan berubah mejadi sangat sunyi. Oliver yang menyadari perubahan tersebut segera bangun dari duduknya kemudian memeluk sang ibu dengan erat. Tak lama kemudian Oliver memejamkan kedua matanya ketika dia mendengar suara isakan lirih yang berasal dari mulut ibunya. Ya, wanita cantik ini menangis.

__ADS_1


"Hiksss, andai saja waktu itu Ibu tidak mengalami kecelakaan, saat ini adikmu pasti sudah besar. Sayangnya Tuhan lebih mencintai adikmu dan memanggilnya agar kembali ke surga saat baru dua bulan tinggal di rahim Ibu. Apa kau tahu, sampai detik ini Ibu masih saja merasa kehilangan. Ibu merasa kalau adikmu masih tinggal di rahim Ibu. Dia belum meninggal," ucap Levita lirih. Hatinya terasa begitu perih setiap kali teringat kejadian mengenaskan yang telah merenggut nyawa anaknya dan Reinhard.


"Bu, sudahlah. Sekarang adik sudah tenang di surga Tuhan, Ibu jangan memikirkannya terus. Aku minta maaf ya jika kata-kataku tadi ada yang tidak sengaja membuka luka lama di hati Ibu. Aku sungguh tidak bermaksud seperti itu, Bu. Sungguh," sahut Oliver merasa bersalah melihat ibunya tiba-tiba bersedih seperti ini.


"Oliver, selain pembisnis kau juga adalah seorang dokter. Ibu ingin tanya apakah ada metode khusus yang bisa membantu Ibu bisa kembali hamil? Ibu ingin sekali mempunyai seorang anak perempuan. Bisakah kau membantu mengabulkan keinginan Ibu, sayang?"


"Jikapun ada, aku tidak akan membiarkan Ibu melakukannya. Ibu lupa ya kalau Ibu sampai hamil lagi, nyawa Ibu akan menjadi taruhannya. Kecelakaan itu telah membuat Ibu tidak boleh mengandung lagi. Akibatnya bisa fatal. Dan aku yakin sekali Ayah juga tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Tolong Ibu mau mengerti ya? Bukan aku tidak mau membantu Ibu, tapi aku dan Ayah tidak siap jika harus kehilangan kasih sayang Ibu di dalam hidup kami. Ibu mengerti 'kan?"


"Tapi Oliver, Ibu ....


"Bu," .... Sela Oliver. Dia mengurai pelukannya kemudian membersihkan air mata di wajah sang ibu dengan lembut. Sambil mengelus-elus pipinya, Oliver berusaha menghibur kesedihan yang tengah dirasa oleh ibunya ini. "Bukankah Ibu sudah menganggap Flowrence seperti putri kandung Ibu sendiri? Atau jika Ibu mau, aku tidak keberatan kalau Ayah dan Ibu ingin mengadopsi anak. Asalkan itu bisa membuat Ibu bahagia, aku pasti akan menganggapnya seperti adik kandungku sendiri. Oke?"


"Flowrence berbeda, Oliver. Dia lebih dari sekedar anak kandung. Flowrence adalah sumber kebahagiaan rekening Ibu," jawab Levita.


"Apapun itu. Tolong jangan menangis lagi ya. Aku sedih melihat Ibu meneteskan air mata seperti ini. Sungguh!"


"Dasar penipu,"


"Hanya sedikit," seloroh Oliver. Dia lalu tersenyum ketika melihat ibunya sudah tidak sedih lagi. Tak mau kesedihan ini kembali muncul, Oliver akhirnya mengeluarkan jurus jitu yang membuat senyum lebar langsung mengembang di bibir ibunya. "Mau pergi belanja?"


"Tentu saja. Ayo!" jawab Levita dengan penuh semangat. Segera dia menarik tangan Oliver untuk keluar dari sana, melupakan kesedihan yang baru saja memborbardir perasaannya.

__ADS_1


Beberapa tahun yang lalu Levita sebenarnya sempat hamil adiknya Oliver. Namun ketika Levita mengidam ingin makan siang bersama Flowrence, mobil yang membawa mereka mengalami kecelakaan hebat setelah di tabrak oleh mobil pembawa bahan bakar yang mengalami rem blong. Dalam kecelakaan tersebut Flowrence terluka cukup parah tapi tidak sampai membahayakan nyawanya. Sedangkan Levita, dia harus rela kehilangan calon bayinya yang baru berusia dua bulan. Dan tidak hanya itu saja. Levita juga harus menerima kenyataan pahit setelah dokter menyatakan kalau dia tidak akan diizinkan untuk hamil lagi karena kondisi rahimnya yang tidak memungkinkan. Dan sampai saat ini, tidak ada yang tahu mengapa mobil pengangkut bahan bakar itu bisa mengalami kerusakan secara mendadak meski sebelumnya mobil telah lolos pemeriksaan. Apakah menurut kalian kecelakaan ini adalah murni karena kelalaian, atau karena ada hal lain yang menjadi penyebabnya? Entahlah, emak pun tidak tahu. 🤔


***


__ADS_2