Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Memori


__ADS_3

Flashback


Bern berjalan sambil mendorong troli belanja di belakang Karl dan Flowrence yang sedang sibuk mengambil ini dan itu di rak makanan. Saat ini mereka bertiga tengah berada di sebuah supermarket sepulang dari menjemput Flowrence di sekolahnya. Sebenarnya tadi itu Bern ingin langsung pulang ke rumah, tapi dia dan para sepupunya di buat sangat panik melihat Flowrence menangis tersedu-sedu saat keluar dari kelasnya. Dan apa kalian ingin tahu penyebab mengapa Flowrence bisa menangis seperti itu?


Sangat klise. Adik bungsunya menangis karena mendapat nilai nol dari tiga mata pelajaran yang sedang menjadi bahan ulangan hari itu. Awalnya Bern dan yang lainnya menertawakan Flowrence. Tapi setelah Flowrence mengancam akan mengadu kalau penyebab dia bisa mendapat nilai nol adalah karena tidak ada yang mau menemaninya belajar, tawa di bibir mereka seketika berubah menjadi kepanikan yang sangat luar biasa. Karena tak mau memperpanjang masalah, Cio akhirnya membujuk Flowrence agar berhenti menangis dengan menjanjikan akan membawanya pergi berbelanja cemilan kesukaannya. Dan di sinilah mereka sekarang. Berada di sebuah supermarket dengan Karl yang menjadi komando jalan bersama Flowrence.


“Kak, coklat!” teriak Flowrence sambil menunjuk ke deretan coklat yang kebetulan letaknya berada di deretan rak paling atas.


“Uwah, kau benar ,Flow. Ayo kita ambil coklat itu sebanyak mungkin. Dengar-dengar Tora dan Cuwee juga suka dengan coklat merk itu!” sahut Karl dengan mata bersinar terang.


"Kau benar, Kak. Tola sama sepertiku, sangat suka dengan coklat. Ayo ambil!" ucap Flowrence dengan penuh semangat. Air liurnya seperti akan menetes keluar saking antusiasnya dia ingin segera menikmati coklat yang meleleh di dalam mulutnya. Heumm, yummy.


“Ekhmmm!”


Seketika Flow dan Karl membeku di tempat saat mereka mendengar suara deheman yang cukup kuat dari arah belakang mereka. Setelah itu keduanya berbalik, dan baru menyadari kalau mereka tidak hanya berdua saja.


“Flow, gigimu itu kan baru saja di cabut. Bukankah Bibi Elea sudah memperingatkanmu agar jangan makan makanan yang manis-manis dulu. Memangnya kau mau gigimu berlubang kemudian di cabut lagi, hm?” tanya Oliver dengan lembut memperingatkan Flowrence. Dia lalu melirik kesal ke arah Karl, si sumber biang kerok.


“Tidak mau,” jawab Flow sembari mengelus pipi sebelah kanannya. Rasa sedih di hatinya masih belum hilang setelah dokter mencuri satu gigi miliknya. Flowrence tidak mau kehilangan mereka lagi. Tidak mau pokoknya.


“Kalau begitu jangan beli coklat itu ya. Beli cemilan lain saja yang tidak membahayakan gigi-gigimu. Oke?”


“Kak Bern?” ….


Flow merengek. Dan ujung hidungnya mulai memerah setelah Oliver melarangnya membeli coklat. Sementara Karl, dia langsung menyeringai lebar karena kali ini omongan Oliver tidak berpengaruh pada adiknya. Haha, rasanya sungguh sangat menyenangkan sekali. Karena jika Flow tidak di izinkan makan coklat, itu artinya Karl dan yang lainnya juga tidak akan di izinkan untuk memakannya. Makanya Karl merasa sangat senang melihat Flow merengek pada kakak mereka sekarang.


Hehe, rasakan kau, Oliver. Kau pikir pesonamu bisa mengalahkan pesona coklat di mata seorang Flowrence apa? Huh, sudah tahu kalau Flow itu sangat menyukai coklat, berani sekali kau melarangnya.


“Kak, mau coklat,” rengek Flow sambil menusuk-nusuk dada kakaknya.


“Hapus ingusmu,” sahut Bern.

__ADS_1


“Coklat,” ….


“Aku bilang hapus ingusmu!”


“Hiksssss,” ….


Bern menghela nafas. Dia maju selangkah ke depan kemudian sedikit membungkuk. Dengan tatapan datarnya, Bern menatap manik mata adiknya yang entah kenapa terlihat begitu jernih. Namun kejernihan mata itu terhalang oleh genangan air mata yang perlahan-lahan mulai menetes keluar. “Apa kau siap menjadi gadis ompong jika aku mengizinkanmu memakan coklat?”


“Eem, aku siap kok, Kak,” jawab Flow sambil menggigit bibir bawahnya. Flow sebenarnya ragu, tapi godaan rasa manis dari coklat-coklat itu membuat Flow nekad mengambil keputusan terberat dalam hidupnya. Yaitu menjadi gadis ompong.


“Janji tidak akan menyalahkan aku dan kakak-kakakmu yang lain?” cecar Bern memastikan.


“Paling hanya sedikit,” sahut Flow dengan polosnya.


Cio dan Reiden tergelak. Sedangkan Russel, Oliver dan Andreas hanya tersenyum saja mendengar jawaban polos Flowrence. Sungguh, gadis bantat itu sangat menggemaskan. Setelah ingin menyalahkan mereka gara-gara mendapat nilai nol, sekarang Flow juga tak rela membiarkan mereka terbebas dari ancaman menjadi seorang gadis ompong. Benar-benar keras kepala, tapi mereka sangat menyayanginya.


“Ambillah. Satu saja,” ucap Bern mengalah. Dia lalu mengelus puncak kepala Flow saat melihatnya berjingkrak kesenangan.


“Satu,” jawab Bern.


“Tentu.”


Karl mengajak Flowrence untuk highfive sebelum akhirnya Karl mengambil dua bungkus coklat lalu memberikannya satu pada Flowrence.


“Flow, kau sebaiknya naik ke troli ini saja. Nanti kakimu bisa bengkak jika berjalan terlalau lama,” ucap Russel dengan penuh perhatian.


“Baiklah,” sahut Flow patuh. Dia lalu mengulurkan tangan kea rah kakaknya, meminta agar sang kakak membantunya naik ke atas troli.


Bern diam tak bergeming.


“Kak Bern, Ibu bilang kita tidak boleh tidak peduli pada saudara sendiri. Kakak kan tahu kalau tubuhku ini pendek, jadi tolong bantu aku naik ke atas sana. Ya?”

__ADS_1


“Kalau memang benar sesama saudara harus saling peduli, lalu kenapa kau ingin menyalahkan kami atas tiga telur busuk yang kau dapatkan hari ini, Flow?” tanya Cio sarkas. Nalar sehatnya menolak untuk mencerna omongan Flow yang berbeda dari kenyataan yang terjadi.


“Kak Cio, Ibu Elea dan Ayah Jackson selalu memberitahu kalau semua keburukan yang aku alami merupakan salah kalian bertujuh. Jadi alasan kenapa hari ini aku bisa mendapatkan tiga telur busuk adalah karena kalian tidak ada yang mau mengajari aku bagaimana cara untuk menjawab semua pertanyaan itu. Dan Ibu Levita juga selalu bilang kalau aku itu tidak pernah salah karena aku kaya raya. Begitu,” jawab Flow tanpa merasa bersalah sama sekali saat bicara seperti itu. Dia sangat bangga akan kehebatannya ini.


Tanpa banyak kata lagi Bern langsung mengangkat tubuh mini Flowrence lalu mendudukkannya di dalam troli. Setelah itu dia pun mulai mendorongnya, mengabaikan para sepupunya yang masih syok setelah mendengar jawaban adiknya barusan.


Flashback Now


“Kak, kau kenapa? Aku perhatikan sejak tadi kau terus saja tersenyum. Kau … tidak gila ‘kan?” tanya Karl cemas.


“Apa sekarang biji matamu sudah tidak bisa berfungsi dengan baik sampai tidak bisa membedakan mana orang yang masih waras dan mana orang yang sudah sinting, hm?” sahut Bern kesal mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Karl. Dia lalu melipat kedua tangannya di atas dada kemudian memejamkan mata. Memori manis yang tadi sedang di bayangkan oleh Bern hilang seketika. Mengganggu kesenangan orang saja. Huh.


Bulu kuduk di tubuh Karl sampai berdiri semua saat mendengar ucapan kasar sang kakak. Entah di mana salahnya. Padahal tadi Karl sudah bertanya dengan cara yang baik-baik, tapi kenapa kakaknya malah marah begini. Aneh.


“Jam berapa sekarang?” tanya Bern masih dengan mata terpejam.


“Sekarang baru jam delapan, Kak. Kenapa? Apa kau ingin pergi ke suatu tempat? Atau kau memiliki janji dengan seorang gadis, hm?” jawab Karl meledek sang kakak. Dia berniat mencairkan keadaan yang terasa mencekam.


“Kalau sudah bosan hidup beritahu aku saja, Karl. Aku siap menghabisimu kapanpun kau mau!”


Gluuukkkkkkk


Jakun Karl bergerak naik turun dengan cepat. Kalau tadi hanya bulu kuduknya saja yang berdiri, sekarang semua bulu yang ada di tubuhnya langsung berdiri dengan sangat tegak mengalahkan kokohnya tiang bendera. Takut?? Hohoho, itu sudah pasti. Bahkan tenggorokan Karl terasa seperti padang tandus begitu kakaknya membahas tentang kematian. Sangat horror.


“Padahal aku adiknya. Tapi kenapa beruang kutub ini selalu memperlakukan aku seperti seorang musuh yang bisa di bunuh kapanpun dia mau? Heran,” gerutu Karl lirih.


“Kalau ingin menggerutu pergilah yang jauh dariku. Aku bisa mendengarnya bodoh!” sahut Bern seraya membuang nafas kasar. Adiknya ini benar-benar.


Karl tergugu. Detik itu juga Karl langsung berkamuflase menjadi sebuah patung saat dia tak sengaja mendapati sang kakak yang ternyata tengah memelototkan mata ke arahnya.


Matilah kau ,Karl. Sudah tahu beruang kutub ini mempunyai darah yang sangat dingin, kenapa kau masih saja mencari masalah dengannya. Bodohmu benar-benar tidak ada obat. Haihhh.

__ADS_1


***


__ADS_2