Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Datang Berkunjung


__ADS_3

📢📢📢 BOM KOMENTARNYA BESTIE 💜


***


Bulu kuduk Flowrence berdiri semua saat lagi-lagi dia melihat kehadiran bibi berdarah yang tengah menatap penuh benci ke arah kedua kakaknya. Tak mau ada yang menyadari ketakutannya, Flowrence segera bersikap biasa saja dengan mengabaikan keberadaan bibi tersebut. Sebisa mungkin dia menjaga hatinya agar jangan sampai memikirkan sesuatu hal. Flowrence masih belum tahu kakaknya yang mana yang juga memiliki turunan kemampuan dari ayah mereka. Juga karena di sana ada ayah dan ibunya, Flowrence takut sikapnya yang berbeda akan menarik perhatian semua orang.


Oya, tadi sebelum pergi ke butik Flowrence diajak oleh ibunya untuk singgah di kantor terlebih dahulu. Alasannya adalah karena sang ibu berpikir kalau Flowrence sedang merindukan kedua kakaknya. Memang benar sih, tapi yang Flowrence rasakan lebih ke perasaan cemas, bukan rindu. Kalian pasti mengerti bukan kenapa Flowrence merasa seperti ini?


“Bern, Karl. Ada apa ini? Apa yang sedang kalian ributkan?” tanya Elea sambil menatap bergantian ke arah kedua putranya. Jantungnya langsung berdegub kencang begitu melihat Karl yang sedang ketakutan karena akan dipukul oleh Bern.


“Bu, tolong selamatkan aku. Kak Bern kerasukan!” teriak Karl meminta pertolongan dari ibunya. Nyawanya sudah hampir hilang di tangan kakaknya sendiri.


“Kerasukan?"


Flowrence bertanya sambil menatap bingung pada kakak pertamanya. “Bukankah Kak Bern itu adalah ketua setan ya? Bagaimana bisa Kak Bern kerasukan? Apa jangan-jangan setannya adalah setan buta sampai tidak menyadari kalau orang yang dia rasuki adalah ketuanya sendiri? Aneh.”


Gabrielle, Elea dan juga Karl langsung terdiam seperti orang bodoh melihat keberanian Flowrence yang dengan begitu santainya menyebut Bern sebagai ketua setan. Sedangkan Bern sendiri, dia diam tak merespon perkataan Flowrence. Bern lebih memilih melepaskan Karl kemudian duduk di kursi kerjanya. Sudah terbiasa.


“Bajingan ini membuat masalah. Aku hanya ingin memberinya sedikit pelajaran agar dia lebih serius memikirkan pekerjaan di kantor daripada memikirkan labolatoriumnya yang bobrok itu!” ucap Bern dengan tenang berbicara bohong di hadapan ayah dan ibunya. Sengaja Bern melakukannya karena tidak mungkin juga dia memberitahu orangtuanya kalau di rumahnya ada seorang gadis yang di jadikan sebagai jaminan oleh Karl.


“Ck, Kak Bern. Harus berapa kali aku bilang kalau labolatoriumku itu sangat berharga. Tolong jangan bicara sembaranganlah. Hatiku sakit asal kau tahu!” protes Karl tak terima labolatorium kesayangannya disebut bobrok oleh kakaknya yang kejam itu.


Sriiinggggg

__ADS_1


Karl langsung berlari dan bersembunyi di belakang tubuh Flowrence saat kakaknya melayangkan tatapan membunuh kepadanya. Flowrence yang melihat kakaknya ketakutan tanpa ragu langsung mengejeknya. Tak lupa saat bicara Flowrence menampilkan senyum polosnya yang membuat kakak keduanya mendengus marah.


“Kak Karl Kak Karl. Kau itukan itu sudah tua, kenapa penakut sekali sih. Seperti anak kecil saja. Hihihi!"


“Diam kau!” sentak Karl jengkel di katai anak kecil oleh adiknya.


“Karl!” tegur Gabrielle.


“Ck, Ayah. Aku di bully oleh Flow dan Kak Bern. Tolong jangan bela mereka terus!”


Gabrielle dan Elea tertawa. Ada-ada saja si Karl ini. Sudah setua ini masih saja merengek seperti bocah. Pantas saja kalau Flowrence menyebutnya seperti anak kecil, la wong tingkahnya memang seperti anak-anak. Haihhh.


“Kak Bern, kau sudah sarapan belum?” tanya Flowrence mendorong tubuh kakaknya agar menjauh. Setelah itu dia berjalan menghampiri kakak pertamanya yang terlihat sedang sangat kesal. Tanpa merasa takut sedikitpun, Flowrence mendekatkan wajahnya untuk mencaritahu penyebab kakaknya bisa seperti ini. “Kak, kau sudah jatuh miskin ya? Makanya tadi kau ingin memukul Kak Karl. Apa karena dia yang menjadi pengkhianatnya? Kalau memang benar, ayo aku bantu memukuli Kak Karl. Dia memang nakal!”


“Bern, Karl. Nanti malam kalian pulang ke rumah ya. Sudah lama kita tidak menghabiskan waktu bersama. Ibu rindu makan malam bersama kalian,” ucap Elea penuh kerinduan.


“Iya Bern, Karl. Flowrence juga setiap hari selalu menanyakan kapan kalian akan pulang ke rumah. Entah kenapa Ayah merasa kalau kalian itu menjadi sangat sombong setelah memiliki rumah sendiri-sendiri. Sekarang Ayah jadi menyesal sudah mengizinkan kalian hidup mandiri. Hemm!” imbuh Gabrielle memprotes sikap sombong kedua putranya yang jarang sekali datang berkunjung.


“Nanti malam aku akan pulang ke rumah dan menghabiskan waktu di sana seperti yang Ibu mau,” sahut Bern langsung menyanggupi keinginan sang ibu. Ekor matanya kemudian melirik ke arah Flowrence yang sedang sok sibuk membaca berkas di mejanya. Ingin rasanya dia membenturkan kepala Flowrence ke atas meja kemudian melemparkan tubuhnya ke jendela. Entahlah, Bern bingung sendiri dengan perasaannya. Terkadang sayang, terkadang benci sampai terpikir untuk membunuh adiknya sendiri. Anehkan?


“Ayah dan Ibu tenang saja. Nanti malam aku juga akan menginap di sana supaya kalian semua bisa menatapku sampai puas. Hehehe!” kelakar Karl. Dia sengaja menginap di rumah orangtuanya agar terhindar dari amukan beruang kutub itu. Karl yakin sekali dia akan langsung mati jika sampai pulang ke rumahnya. Hiiii.


“Itu bagus. Ibu dan adikmu pasti akan senang sekali kalau kau mau menginap. Iyakan, Flow?” tanya Gabrielle kemudian mengarahkan pandangan pada putrinya.

__ADS_1


Hening. Flowrence yang sedang tak menyimak obrolan keluarganya hanya diam saja saat di tanya oleh ayahnya. Dia fokus membaca berkas milik kakaknya yang entah kenapa tulisannya sangat sulit untuk dipahami.


“Kak Bern?” panggil Flowrence.


“Hmm?”


“Tulisan di dalam berkas ini di tulis menggunakan bahasa apa? Kenapa bentuknya aneh sekali?” tanya Flowrence yang kebingungan karena tak bisa membaca tulisan di dalam berkas yang sedang di pegangnya.


Bern menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan cukup kuat. “Flow, sampai matipun kau juga tidak akan bisa membaca tulisan itu. Kau sadar tidak kalau berkas itu terbalik. Makanya kau tidak bisa membaca tulisannya!”


Flowrence tampak mengerjap-ngerjapkan mata setelah di beritahu kalau dia membaca berkas dalam keadaan terbalik. Segera dia membalik berkas itu kemudian lanjut membacanya lagi. Sekarang dia sudah paham dan bisa mengerti kalau tulisan ini menggunakan bahasa inggris. “Oh, jadi terbalik ya. Pantas saja aku kesulitan membacanya. Aku ini kenapa bodoh sekali sih. Heran!”


“Baru sadar kalau kau itu bodoh,hah?” ejek Karl tak habis pikir menyaksikan kebodohan adiknya yang tidak ada obat. Bahkan membedakan mana tulisan yang terbalik dan tidak terbalikpun Flowrence tidak mampu. Karl jadi kasihan memikirkan Oliver. Hidup sepupunya itu pastilah sial sekali karena mendapatkan calon istri yang sangat luar biasa bodoh.


Tak terima putri kesayangannya di katai bodoh, dengan kesal Gabrielle menjewer daun telinganya Karl. Anaknya satu ini benar-benar ya. Mulutnya seperti tiada rem sama sekali.


“A a a, sakit, Ayah!” teriak Karl.


“Ini akibatnya kalau kau berani mengejek anak kesayangan Ayah. Rasakan!” sahut Gabrielle semakin menguatkan tarikan di telinganya Karl. Biar kapok.


“Bu, lihatlah. Ayah menyakitiku!”


Elea hanya menggelengkan kepalanya melihat Gabrielle yang menolak melepaskan Karl. Tak lama setelahnya Elea mengajak Flowrence untuk segera pergi ke butik karena sudah ada klien yang menunggu di sana. Mereka kemudian turun ke lantai bawah dengan di antar oleh Gabrielle. Setia sekali bukan? Tentu saja. ☺

__ADS_1


***


__ADS_2