Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Tentang Dosa


__ADS_3

📢📢📢 Bestie, yang penasaran sama ketengilan Nania bisa kalian baca di aplikasi gudnuvel ya. Nama penanya masih saja, RIFANI. 💜


Di dalam kamar, Bern tengah berdiri sambil memandangi pantulan wajahnya di depan cermin. Tatapannya begitu dalam, seolah ingin menyiratkan betapa dia sangat amat kesal atas apa yang baru saja terjadi.


"Benar-benar bodoh. Hanya melakukan tugas sekecil ini saja mereka tidak bisa. Lalu apa gunanya mereka bersemboyan sebagai kelompok bandit yang anti gagal. Buang-buang waktu saja!" gumam Bern seraya menghela nafas panjang. Gara-gara para bandit itu, Bern sampai harus mengotori tangannya untuk menghabisi mereka. Sungguh menjengkelkan.


Sebenarnya, niat Bern mencelakai Flowrence hanyalah untuk bermain-main saja. Namun siapa yang akan menyangka kalau orang suruhannya malah salah menargetkan orang. Alih-alih adiknya yang celaka, sekarang malah temannya yang terbaring koma di rumah sakit. Wajarlah kalau emosinya jadi memuncak melihat kecerobohan para bandit itu.


"Ayah, Ibu. Aku sayang pada saudariku, tapi kalian pilih kasih. Sebagai yang tertua, harusnya kalian mengumumkan aku sebagai penerus di keluarga Ma. Akan tetapi kalian malah memilih Flowrence dan lebih banyak membagi harta untuknya. Jadi jangan salahkan aku kalau mulai sekarang aku akan sering-sering menguji mentalnya Flowrence!" ucap Bern seraya menyeringai tipis.


Tok tok tok


Mata Bern terpejam saat ada yang mengetuk pintu kamarnya. Dia kemudian berbalik, melangkah santai untuk membuka pintu.


"Kak, kau sedang apa?" tanya Karl begitu pintu kamar sang kakak terbuka. Dia lalu menerobos masuk tanpa menunggu di persilahkan.


"Apa mulutmu sudah tidak berfungsi lagi?"


Braaaakkkk


Karl berjengit kaget ketika sang kakak menutup pintu dengan sangat kuat. Dia yang baru akan berbaring di ranjangnya dengan cepat segera berpindah duduk ke sofa. Sambil berdecak pelan, Karl memberanikan diri untuk bertanya sesuatu pada kakaknya yang mengerikan ini.


"Kak, tadi kau kemana. Saat pulang dari rumah sakit kenapa jarak waktu kita sampai di rumah bisa begitu jauh. Dan juga pakaianmu. Kapan kau mandi dan di mana kau bertukar baju. Kau tidak mungkin singgah di rumah seorang gadis bukan?"


"Tidak ada gunanya aku melakukan sesuatu tak berguna seperti itu," jawab Bern dingin. Dia kemudian ikut duduk di sofa lalu menatap lekat ke arah adiknya. "Karl?"

__ADS_1


"Hmmm?"


"Apa pendapatmu tentang kecelakaan yang di alami oleh Flowrence?" tanya Bern. Dia ingin tahu secerdik apa Karl dalam memahami situasi sekarang.


Di tanya seperti itu oleh sang kakak membuat Karl berpikir keras sambil bertopang dagu. Sebenarnya Karl mencurigai seseorang, tapi dia tidak memiliki bukti. Jadilah Karl memilih kata yang tepat untuk mengatakan hal tersebut agar nantinya dia tidak di curigai oleh kakaknya. Karl tahu persis kalau kakaknya ini sangat amat menyayangi adik mereka, jadi Karl perlu kehati-hatian untuk menjaga keselamatannya sendiri.


"Kalau dari sudut pandangku, sebenarnya agak sedikit mengganjal kalau para penculik itu menargetkan Sisil, Kak. Gadis itu berasal dari keluarga biasa, cukup mustahil membuka ruang untuk sebuah kasus penculikan. Tapi Flowrence, itu sangat amat memungkinkan jika di targetkan sebagai sandera. Memang selama ini identitas adik kita itu dirahasiakan, tapi kan bagi mereka yang mengenal keluarga kita sudah pasti tahu kalau anak Ayah Gabrielle dan Ibu Elea bernama Bern, Karl, dan juga Flowrence. Benar tidak?"


"Hmm, kau terkesan melindungi diri saat menjawab. Jangan takut, katakan saja semua yang kau ketahui,"


"Ei, kau ini bicara apa si, Kak. Jawaban yang tadi menurutku adalah yang paling masuk akal!"


Bern tersenyum samar. Dan hal itu membuat Karl menelan ludah. "Kak, aku tahu ada unsur kesengajaan di balik kecelakaan ini. Dan aku curiga pelakunya adalah orang terdekat. Kau pernah tidak membaca sebuah kasus di mana si pelaku berpura-pura sebagai orang baik sebelum menghabisi anggota keluarganya sendiri. Aku takut orang yang mencelakai Flowrence ada di sekitar kita, Kak!"


"Oliver," jawab Karl sambil menggaruk pinggiran kepalanya.


"Kenapa dia?"


"Karena Oliver tahu kalau Flowrence memiliki saham paling banyak di keluarga kita. Motifnya sangat jelas, yaitu ingin menguasai semua harta milik Flowrence. Ya walaupun belum ada buktinya, aku cukup yakin kalau Oliver adalah orang di balik musibah ini!"


Karl tidak mencurigaiku, hmmm.


"Jika ternyata orang yang telah membuat Flowrence celaka adalah aku, apa yang akan kau lakukan, Karl? Apa kau akan membenci dan membunuhku?"


Karl terhenyak kaget mendengar pertanyaan sang kakak. Dia lalu menatap dalam ke arah saudara kembarnya yang selalu saja terlihat misterius. Aneh, entah kenapa Karl merasa ada yang salah dengan kakaknya ini. Pertanyaan yang dilayangkan sang kakak penuh dengan jebakan di mana Karl bisa saja menjadi kambing hitamnya. Oh ayolah kawan. Tidak ada hubungan yang benar-benar murni jika tahta menjadi kedudukan paling tinggi di sebuah keluarga. Dan di keluarga Ma, tahta tertinggi di duduki oleh Flowrence dan juga Rose, sepupunya yang masih belum di temukan keberadaannya. Walaupun Karl sempat kaget saat tahu kalau Flowrence memiliki saham paling banyak di bandingkan saham miliknya dan saham milik kakaknya, tapi Karl tidak pernah terpikir untuk merebut apa yang sudah menjadi milik adiknya. Karl tidak terlalu tertarik dengan dunia seperti ini. Karena imajinasinya lebih tertuju pada hobi meneliti benda-benda dari masa silam. Atau anggaplah kalau Karl itu berkeinginan menjadi seorang sejarawan alih-alih menjadi penerus di keluarganya. Dia kurang tertarik pada dunia bisnis.

__ADS_1


"Kak, aku tidak tahu kenapa kau tiba-tiba berkata seperti itu padaku. Tapi terlepas dari itu semua, jangan pernah menyakiti Flowrence melebihi ini. Kalau kau menginginkan sesuatu darinya, ambillah dengan cara yang pemberani. Kasihan Flowrence, dia hanya seorang gadis yang tidak mengerti apapun tentang apa yang dimilikinya. Flowrence kita sangat polos!" ucap Karl mencoba mengingatkan sang kakak agar jangan sampai gelap mata terhadap saudara sendiri.


"Aku bertanya apa, kau malah menjawab apa. Lagipula aku mana mungkin tega menyakiti Flowrence ataupun dirimu. Kita adalah saudara, kembar pula. Jadi tidak mungkin aku tega menyakiti kalian berdua!" sahut Bern seraya tersenyum tipis.


"Lalu kenapa tadi kau seolah menggiring opiniku kalau orang yang telah mencelakai Flowrence adalah kau? Apa maksudnya, Kak?" tanya Karl penasaran.


"Tidak ada maksud apa-apa. Aku hanya sekedar ingin tahu apa responmu setelah aku bertanya seperti itu," jawab Bern santai. Dia merasa sangat senang karena Karl gagal mencurigainya.


"Ck, tidak lucu!"


"Pergilah. Aku mau tidur."


"Kau tega mengusirku, Kak?" pekik Karl syok.


"Kalau membunuh orang itu tidak dosa, aku tidak keberatan untuk menghabisimu sekarang juga," sahut Bern dengan ekpresi yang begitu datar.


Munafik. Padahal Bern baru saja menghilangkan empat nyawa dan dia berani menyebut kata dosa di hadapan adiknya. Tidakkah menurut kalian Bern adalah definisi makhluk bermuka dua yang sebenarnya?


"Haisshhhh, bisa tidak sih kalau bicara itu yang normal-normal saja, Kak. Kata-katamu membuat bulu kudukku berdiri semua. Seperti psikopat saja kau ini. Heran!" gerutu Karl sambil berjalan keluar dari kamar kakaknya. Dia tentu tak mau mati konyol jika kakaknya benar-benar akan menghabisinya. Karl belum merasakan apa itu malam pertama, jadi dia menolak untuk mati. Kecuali Tuhan yang memaksa. Hehehe.


Sedetik sebelum pintu kamar benar-benar tertutup, Karl masih sempat berbalik dan menatap kakaknya lekat. Dan dia langsung lari terbirit-birit saat sang kakak balas menatapnya dengan pandangan yang sangat luar biasa dingin.


Astaga, kenapa aku bisa mempunyai saudara semengerikan Kak Bern sih. Waktu mengidam dulu Ibu sebenarnya makan apa sih. Kenapa cetakan Ibu bisa terlahir begitu dingin. Apa jangan-jangan saat Ayah dan Ibu membuat adonannya Kak Bern cuaca sedang bersalju ya? Makanya Tuhan menciptakan Kak Bern dalam versi manusia beku. Hadeehhhh, ada-ada saja sih.


***

__ADS_1


__ADS_2