Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Suami & Calon Ayah Pengertian


__ADS_3

Gabrielle menatap penuh cinta pada Elea yang masih terlelap di atas tempat tidur. Sekarang jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi, tapi wanita cantik yang sedang hamil besar ini tak kunjung membuka mata. Menginjak usia kandungan yang ke sembilan, jam tidur Elea menjadi tak menentu. Bahkan istrinya ini sampai harus mengajukan cuti pada pihak kampus karena tak mampu lagi membawa beban sebanyak tiga butir bayi di dalam perutnya. Juga karena seluruh keluarga melarang Elea agar jangan terlalu aktif beraktifitas di luar rumah. Semua orang khawatir punggungnya patah karena tengah membawa beban yang cukup berat dengan tubuh mungilnya.


Uuugggghhhh


Terdengar lenguhan pelan dari mulut Elea saat Gabrielle sedikit mengusili tidurnya. Tak lama kemudian mata Elea perlahan-lahan mulai terbuka. Dia lalu tersenyum malu ketika mendapati Gabrielle yang tengah memandangnya dari jarak yang lumayan dekat.


"Selamat pagi, sayang. Hari ini kau cantik sekali," puji Gabrielle dengan sangat romantis. Dia lalu mendaratkan satu ciuman yang cukup lama di kening Elea. Salah satu rutinitas yang wajib dia lakukan saat istrinya ini bangun dari tidur. "Apa ada yang tidak nyaman di tubuhmu? Jika ada, katakan saja. Apapun yang kau rasa kau harus membaginya denganku. Ya?"


"Aku akan selalu baik jika kau ada bersamaku, Kak. Itu yang paling utama," jawab Elea. Dia lalu mengelus pelan wajah Gabrielle. Ketampanan laki-laki ini selalu saja berhasil membuat Elea jatuh cinta setiap hari.


"Benarkah?"


"Apa aku terlihat seperti orang yang sedang berbohong?" sahut Elea.


"Sedikit,"


"Ck. Sedikit berbohong tidak akan menimbulkan masalah, Kak Iel. Bagaimana sih!"


Gabrielle terkekeh. Dia kemudian beralih menuju perut Elea yang membuncit besar. Dengan penuh sayang Gabrielle memberi elus-sapaan untuk para junior-juniornya. Tak lupa juga Gabrielle mengajak ketiganya untuk mengobrol, sesuatu yang sangat dia sukai karena baby BKF akan merespon ucapannya dengan terus memberikan tendangan pada perut Elea.


"Tok-tok-tok. Hello prince, hello princes. Good morning," sapa Gabrielle dengan suara pelan. "Hei, ini Ayah. Kalian sedang apa di dalam? Sudah bangunkah?"


"Belum, Ayah. Kami bertiga masih mengantuk, jadi tolong Ayah jangan mengacau dulu ya. Semalam kami mengajak Ibu bermain sampai larut malam, jadi sekarang kami bertiga tidak bisa membuka mata. Jadi tolong biarkan kami tidur dulu. Oke?"


Setelah berkata seperti itu Elea tertawa dengan sangat renyah. Rasanya sungguh senang bercakap-cakap seperti ini seolah sedang menggantikan anak-anaknya menjawab pertanyaan Gabrielle. Namun tawa Elea tak bisa berlangsung lama karena ternyata baby BKF tidak terima ayah mereka di kerjai olehnya.


"Aduh aduh aduhhh!" pekik Elea sambil meringis menahan sakit di perutnya.

__ADS_1


"Nah, kau lihat kan sekarang, sayang. Mereka tidak mau kau mengganggu kebersamaan kami. Sekarang kau di serang 'kan!" ledek Gabrielle sambil mengusap-usap benjolan di perut Elea. Dia sedang berusaha membujuk baby BKF agar mau berhenti menendang. Kasihan Elea-nya, dia kesakitan.


"Baiklah-baiklah, Ibu minta maaf. Ibu janji Ibu tidak akan mengacaukan obrolan kalian lagi. Tolong jangan marah ya. Oke?" bujuk Elea masih sambil meringis kesakitan.


Dan benar saja. Begitu Elea meminta maaf, tendangan di perutnya langsung berhenti. Hal ini tentu saja membuat Gabrielle dan Elea menjadi sangat gemas pada anak-anak mereka. Belum lahir saja baby BKF sudah menunjukkan keposesifannya, bagaimana nanti setelah mereka lahir ke dunia. Sepertinya akan sering terjadi peperangan besar setiap baby BKF memperebutkan Gabrielle maupun Elea. Sungguh menyenangkan.


Ddrrrttt ddrrrrtt


"Kak Iel, ponselmu bergetar," ucap Elea seraya menunjuk ponsel milik Gabrielle yang berada di atas nakas.


"Biar saja," sahut Gabrielle. "Hanya telepon tidak penting."


"Jangan begitu, Kak. Siapa tahu orang yang menelpon sedang membutuhkan pertolongan. Cepat angkat, sekalian tolong bantu ambilkan sisir ya. Lihat, rambutku mengembang seperti singa. Ya?" rengek Elea sembari memain-mainkan rambutnya yang memang sedikit mengembang. Elea menjadi sedikit pemalas semenjak kandungannya memasuki usia ke tujuh bulan. Entah apa alasannya, Elea tidak tahu. Dia hanya suka ketika rambutnya di sisir oleh orang lain, terutama suami dan ibu mertuanya. Aneh bukan?


Meskipun malas, Gabrielle terpaksa mengambil ponselnya. Sekalian dia mengambilkan sisir untuk Elea. Dan begitu melihat id si penelepon, kening Gabrielle langsung mengerut tajam. Dia merasa heran mengapa nomor ini berani menghubunginya di waktu sepagi ini. Mengganggu kesenangan orang saja.


"Gabrielle, sekarang aku sudah menjadi seorang Ayah. Lusi baru saja melahirkan, bayinya laki-laki. Aku sudah naik pangkat, Gab. Aku seorang Ayah sekarang. Hahahaha!"


Kedua sudut bibir Gabrielle langsung terangkat ke atas begitu tahu kalau Gleen telah menjadi seorang ayah. Tak ingin kabar bahagia itu hanya dia saja yang mendengar, segera Gabrielle menyalakan tombol loudspeaker kemudian meletakkannya di atas ranjang. Setelah itu Gabrielle membantu menyusun beberapa bantal di belakang punggung Elea lalu mulai menyisir rambut panjangnya.


"Selamat atas kelahiran putra pertamamu, Gleen!" ucap Gabrielle memberikan ucapan selamat.


"Ha? Jadi Kak Lusi sudah melahirkan?" kaget Elea. "Paman Gleen, bukankah Kak Lusi di jadwalkan melahirkan di akhir bulan ini ya? Kenapa sekarang bayinya sudah lahir? Semalam kau tidak mengajaknya skipidadap sampai pagi 'kan?"


"Elea, ini adalah hari pertamaku menyandang gelar sebagai seorang ayah. Jadi bisakah kau jangan mengatakan sesuatu yang bisa merusak kebahagiaanku? Aku memang mencintai Lusi, tapi aku bukan seseorang yang akan memperlakukan istriku bagai seorang maniak. Jangankan untuk meminta jatah, melihatnya kesulitan tidur saja sudah membuatku menangis batin. Jadi tolong kau jangan menuduh yang tidak-tidak ya. Bisa?"


"Oh, jadi aku salah bertanya ya?" ujar Elea.

__ADS_1


"Kau tidak salah apa-apa, sayang. Gleen yang salah, kau benar dengan bertanya seperti itu padanya," sahut Gabrielle tak rela istrinya di persalahkan.


Entah karena kesal mendengar Gabrielle yang kumat membucin atau bagaimana, tiba-tiba saja Gleen memutuskan panggilan secara sepihak. Namun sayang sikapnya itu sama sekali tak membuat Gabrielle maupun Elea merasa bersalah. Mereka malah asik sendiri dengan membahas tentang kelahiran anak-anak mereka nanti.


"Kak, hari ini kau banyak pekerjaan tidak di kantor. Kalau tidak, bagaimana kalau kita pergi ke rumah sakit menjenguk Kak Lusi dan bayinya. Apa kau senggang?" tanya Elea.


"Aku tidak mungkin bohong dengan mengatakan kalau di kantor sedang senggang. Ada banyak sekali berkas yang harus segera aku periksa, belum lagi dengan meeting dan kunjungan ke lokasi proyek. Aku sedang sangat sibuk, sayang. Maaf ya," jawab Gabrielle tak tega. Sebagai seorang pewaris, sudah pasti Gabrielle memiliki jumlah pekerjaan yang sangat luar biasa banyak. Sebenarnya Gabrielle bisa saja tidak masuk kantor demi menemani Elea, tapi dia tidak tega melakukan hal tersebut karena memikirkan perasaan Ares. Bagaimana pun Cira belum lama melahirkan, dan Gabrielle mengerti kalau Ares pastilah ingin menghabiskan waktu bersama dengan istri dan juga anaknya. Jadi Gabrielle tidak mau egois dengan melimpahkan semua pekerjaan kepadanya, dia tidak sejahat itu pada saudaranya sendiri.


"Hmmm, ya sudahlah tidak apa-apa. Walaupun sedih, tapi aku harus bisa memahami kalau kau mengemban tanggung jawab yang sangat besar terhadap nasib para karyawan. Aku mengerti itu," sahut Elea seraya tersenyum kecil. "Karena kau tidak bisa menemaniku pergi menjenguk Kak Lusi, boleh tidak kalau nanti aku pergi bersama Ayah Greg dan Ibu Liona saja. Nanti aku juga akan mengajak Pak Nun dan beberapa pelayan untuk membantu menjagaku di sana. Boleh ya?"


Gabrielle mengangguk.


"Pergilah. Nanti jika sempat aku dan Ares akan menyusulmu ke rumah sakit."


"Kalau bersama Kak Levi sekalian boleh tidak?" tawar Elea.


"Boleh asalkan pelakor itu tidak mengajakmu pergi ke tempat-tempat yang tidak penting," sahut Gabriele. "Jangan salah paham. Aku hanya tidak mau kau kelelahan, sayang. Walaupun ukuran perut kalian hampir sama besarnya, tapi Levi hanya membawa sebutir bayi di dalam perutnya. Sedangkan kau, kau membawa tiga sekaligus. Jadi selama dia tidak macam-macam, kalian aku izinkan untuk pergi bersama. Dan itupun harus di bawah penjagaan Nun dan para pengawal. Kau paham perkataanku 'kan?"


"Paham, Kak. Semua itu karena kau yang begitu mencintai kami. Iya 'kan?"


"Tentu saja. Memangnya siapa lagi yang akan aku cintai selain keluarga dan kalian berempat, hem?"


"Hehehehe."


Gabrielle dan Elea masih lanjut mengobrol sampai di mana pintu kamar di ketuk oleh Ares. Dengan seribu keengganan, Gabrielle terpaksa berangkat ke kantor setelah meminta beberapa pelayan untuk menemani istrinya bersiap diri. Sebentar lagi Elea akan segera melahirkan, jadi Gabrielle sengaja memburu pekerjaan agar nanti dia bisa memiliki banyak waktu untuk menemani Elea merawat anak-anak mereka di rumah. Dia adalah seorang suami dan calon ayah yang sangat pengertian bukan?


*****

__ADS_1


__ADS_2