
Yuna masih mendongak dan menunggu dengan sabar jawaban dari suaminya. Berharap akan mendapatkan jawaban yang membuatnya puas. Namun ternyata tidak sesuai dengan yang Yuna harapkan. Kagami Jiro tidak bisa menjawab pertanyaannya.
"Eh ... itu karena ... karena ..." ucap Kagami Jiro terbata dan sangat kebingungan saat ini.
"Sudahlah ... tidak perlu lagi dijawab ..." potong Yuna yang terlihat begitu kecewa dan mulai menunduk, lalu perlahan berbalik membelakangi Kagami Jiro.
"Yuna ..." Kagami Jiro meraih bahu Yuna sehingga membuat Yuna tertahan beberapa saat. Kagami Jiro mulai berjalan beberapa langkah dan kini berdiri tegap di hadapan Yuna kembali.
Keduanya saling bertatapan beberapa saat dalam diam. Suasana malam yang begitu hening membuat ritme dari pergerakan jarum jam terdengar begitu jernih.
Entah mengapa ... pria di hadapanku ini seperti orang yang sangat asing bagiku. Tatapan ini ... bukan seperti tatapan suamiku yang sangat aku kenal ... mengapa bisa jadi seperti ini? Mengapa suamiku sangat berubah? Apakah dia sudah tidak mencintaiku lagi?
Batin Yuna dengan sepasang mata bergetar menatap pria bertubuh besar di hadapannya itu.
"Yuna ... tolong percaya padaku ..." ucap Kagami Jiro meraih kedua bahu Yuna dan menatapnya lekat.
"Mandi dan beristirahatlah ... kau pasti sangat lelah ... aku sudah menyiapakan pakaian ganti untukmu." ucap Yuna yang masih berusaha untuk tersenyum, meskipun suasana hatinya masih sedang terasa tidak baik saat ini.
Perlahan Yuna kembali melenggang dan mendekati jendela dan menatap keindahan alam saat malam dari dalam kamarnya. Begitu banyak gedung-gedung menjulang tinggi seolah-olah saling berlomba demi meraih langit.
Kelap-kelip lampu kekuningan dan warna-warni lainnya menghiasi malam yang begitu dingin itu dan menjadikan Tokyo begitu memukau di saat malam tiba.
"Kau tidur dan istirahatlah ... aku akan menyusulmu nanti ..." ucap Kagami Jiro.
"Hhm ..." Yuna menyauti dengan pelan dan kedua tangan masih saling bersilang di bawah dada.
Masih begitu hening, kini Kagami Jiro mulai melenggang ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Satu persatu pakaian kini dia tanggalkan, lalu mulai memutar sebuah pipa ke arah warm untuk mengaktifkan shower dengan air hangat.
Gemericik air melalui shower itu mulai terdengar mengusir sunyi malam ini. Zen yang saat ini berada di raga Kagami Jiro terlihat begitu menikmati ritual mandi malamnya.
"Segar sekali ... setelah semalaman berada di tempat yang pengap dan sangat bau itu, akhirnya aku bisa mencium aroma segar dan wangi dari sabun ini lagi ..." gumamnya sambil membasuh tubuhnya dengan sabun itu.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, Kagami Jiro menyudahi ritual mandinya dan mulai keluar dari kamar mandi dengan mengenakan handuk bajunya. Dia melihat Yuna yang sudah tertidur di atas ranjang dengan posisi miring menghadap ke sisi samping. Tak lupa Kagami Jiro menarik selimut untuk menyelimuti Yuna.
Sungguh ada rasa bersalah yang begitu besar di dalam hati nurani Zen saat ini. Namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa.
Kagami Jiro melihat setelan pakaian ganti yang sudah Yuna siapkan di atas meja untuknya. Senyumnya menyembul menatap pakaian ganti itu, lalu dia mulai meraih pakaian itu dan membawanya untuk segera berganti pakaian.
Kagami Jiro mulai melenggang dan menghempaskan tubuhnya di atas sofa panjang di dalam kamar itu. Tak butuh waktu lama, dia sudah memejamkan matanya dan tertidur begitu saja. Mungkin karena begitu kelelahan, karena seharian beraktifitas. Bahkan pagi-pagi sudah disuguhi oleh latihan dasar yang begitu keras oleh Yukimura.
Beberapa saat Yuna kembali membuka matanya dan duduk kembali. Dia menatap nanar suaminya yang sudah tertidur di atas sofa.
Bahkan kini kau tidak mau lagi tidur satu ranjang bersamaku?
Batin Yuna yang tak sadar sudah menitikkan air matanya kembali. Namun dengan cepat dia segera menyeka air matanya kembali.
Yuna mulai menuruni ranjangnya dan memakai sendal slop putihnya. Kemudian dia mulai melenggang dan meninggalkan kamar ini. Langkah kakinya perlahan membawanya menuju ruangan dapur.
Yuna mulai mencari sesuatu di dalam kulkas. Yeap, salah satu kebiasaan Yuna disaat sedih adalah dengan menikmati makanan pedas. Terutama ramen yang sangat pedas. Dan biasanya suaminya akan menemaninya memakan makanan pedas ini disaat hatinya bersedih.
Disaat sedang menunggu ramennya siap untuk dinikmati, tiba-tiba saja Yuna mendengar suara seorang pria seperti sedang bercakap melalui telepon. Suaranya terdengar seperti Yukimura yang sedang berada di halaman belakang.
Karena sedikit penasaran, akhirnya Yuna memutuskan untuk sedikit mengintip dan mendengarnya karena Yukimura sempat menyebut nama Kagami Jiro. Kini Yuna mulai melenggang dan bersembunyi di balik dinding. Dia mendengarkan pembicaraan Yukimura bersama seseorang yang sedang berada di line telepon.
"Iya ... aku baru saja pulang. Jadi baru bisa menghubungimu . " ucap Yukimura yang duduk di kursi halaman belakang sambil memijat keningnya. Mungkin pusing atau karena dia sedang mabuk.
"Hhm. Tenang saja. Sedikit lagi pasti kita akan menemukannya! Yeap. Ada 3 pria yang baru saja melakukan oprasi untuk menghilangkan bekas tato di lehernya." ucap Yukimura lagi dengan suara yang sudah teler.
"Aman. Tenang saja. Sudah aku pasang kamera tersembunyi!" ucap Yukimura lagi yang kini menyandarkan kepalanya ke dinding.
"Sudahlah, Jiro! Serahkan saja semua padaku! Tidak akan aku biarkan bocah itu menyentuh istrimu!"
Yuna begitu terperanjat mendengar ucapan Yukimura yang tentu saja sangat aneh dan membuatnya kebingungan.
__ADS_1
"Jiro?" gumam Yuna pelan dan mengkerutkan keningnya. "Sebenarnya Yukimura sedang berbicara dengan siapa?"
BRRAAKK ...
Tiba-tiba tidak sengaja Yuna menyenggol sesuatu dan membuat barang itu terjatuh dari meja. Dengan cepat Yuna segera melenggang meningalkan tempat itu.
Sedangkan Yukimura segera mengecek asal suara itu dan mendapati sebuah kotak P3K kecil yang terjatuh di atas lantai. Dia juga menemukan sebuah mie instant yang belum dimakan sama sekali di atas meja makan.
"Tidak ada siapa-siapa ..." ucap Yukimura melaporkan kepada Zen yang sedang ditelponnya saat ini.
"Aneh sekali. Kotak P3K tidak mungkin jatuh sendiri!" celutuk Zen curiga. "Kau harus lebih berhati-hati, Yukimura!" imbuh Zen dari seberang.
"Iya tidak ada siapa-siapa. Hanya ada mie instant yang pedas luar biasa dan masih utuh di atas meja makan! Hhuuhhh ... pedas sekali ..." ucap Yukimura yang ternyata sudah memakan mie instant itu begitu saja.
"Mie instant super pedas?" gumam Zen mengkerutkan keningnya dan terlihat sedang berfikir keras. "Yukimura! Hati-hati! Yuna sedang mengawasimu!" imbuh Zen memperingatkan Yukimura.
"Apa kau serius?" tanya Yukimura dengan mulut penuh dengan mie.
"Ya! Hanya dia anggota keluarga Kagami yang suka memakan mie instant pedas!"
Setelah mendengar ucapan dari Zen, kini Yukimura segera menjalankan sedikit drama.
"Tenang saja, Sayang! Aku akan selalu berhati-hati dan tidak akan mengecewakanmu. Dan aku akan segera menikahimu, Sayang ..." ucap Yukimura sedikit mengeraskan suaranya dengan sengaja, agar Yuna mendengarnya dan mengira Yukimura sedang menelpon seorang gadis.
Zen yang sedang berada di seberang segera menjauhkan ponselnya dari telinganya dan menatap geli ponselnya. Bahkan dia segera mematikan panggilan itu saking gelinya.
Setelah beberapa saat, Zen kembali termenung dan teringat dengan Yuna, istrinya.
"Yuna ... apa yang membuatmu bersedih kali ini? Seharusnya aku menemanimu saat ini ..." gumam Zen yang terlihat begitu murung karena mengingat Yuna. Tentu saja dia sangat hafal dengan kebiasaan istrinya yang satu ini. Yuna akan selalu menikmati makanan pedas jika suasana hatinya sedang tidak baik.
...⚜⚜⚜...
__ADS_1