Never Say Good Bye

Never Say Good Bye
Panggil Aku Kakek ...


__ADS_3

"Maaf, Tuan besar Li. Namun aku masih belum bisa memenuhi permintaan dari tuan besar Li." ucap kak Kai dengan lirih. "Tapi, secepatnya aku akan segera meninggalkan Beijing setelah kondisiku sudah benar-benar pulih." imbuh kak Kai dengan pelan dan terdengar begitu memilukan dan menyesakkan hati kakek Li Feng.


Kakek Li Feng tak sanggup lagi menahan air matanya, hingga kini air mata itu mulai keluar dan membasahi wajahnya yang sudah dipenuhi dengan guratan-guratan halus itu. Dengan cepat dia juga segera meraih dan memeluk kak Kai.


Pelukan yang terasa begitu hangat dan tak pernah kak Kai dapatkan dan rasakan dari seorang ayah maupun kakek membuatnya terbuai untuk sesaat. Terasa begitu menenangkan hati dan begitu hangat. Terasa seakan semua beban lenyap untuk seketika.


Bahkan tak sadar kini kal Kai sudah mulai menitikkan air matanya dan wajah pucat itu kini sudah sedikit basah begitu saja. Namun dengan cepat, kak Kai segera menyeka air matanya kembali setelah dia tersadar dari lamunannya.


"Tuan besar Li ... aku sungguh minta maaf karena belum bisa memenuhi permintaan dari tuan. Tapi aku akan segera meninggalkan Beijing saat dokter sudah memperbolehkan aku keluar dari rumah sakit." ujar kak Kai yang semakin membuat sesak di dada kakek Li Feng.


Kakek Li Feng semakin bersedih mendengarkan ucapan dari kak Kai yang begitu patuh terhadapnya, sekalipun sebenarnya kak Kai sudah mengetahui jika dia adalah cucu pertama dari kakek Li Feng, namun dia tetap patuh ketika kakek Li Feng menyuruhnya untuk pergi dan meninggalkan keluarga Li dan juga meninggalkan Beijing tanpa harus memohon untuk diakui sebagai cucu keluarga Li.


Bahkan kakek Li Feng telah merasa berlaku dan bertindak terlalu kejam untuk kak Kai. Di masa kecil yang sudah mengabaikannya, dan sekarang malah menyuruhnya untuk menjauh dari keluarga Li. Dia sungguh telah merasa menjadi kakek yang paling buruk di seluruh dunia ini!


"Tidak, Luo Kai. Tidak ..." ucap kakek Li Feng terdengar begitu parau. "Jangan pergi dan tetap tinggallah bersama kita disini ..."


Spontan saja ucapan dari kakek Li Feng sungguh membuat kak Kai begitu terkejut dan tidak mengerti. Padahal sebelumnya kakek Li Feng begitu murka terhadapnya dan sempat memintanya untuk menjauhi Zen. Namun kali ini malah memintanya untuk tetap tinggap di Beijing bersamanya.


"Luo Kai ..." kini kakek Li Feng melepaskan pelukannya.

__ADS_1


Kakek Li Feng mulai menatap wajah pucat itu kembali dan mengamati dengan seksama setiap detail dari wajah cucu pertamanya itu.


Mulai dari sepasang alis tampannya, lalu beralih ke sepasang mata yang selalu terlihat hangat, lalu beralih ke hidung mancungnya, lalu beralih menatap bibirnya hingga berakhir pada dagu berbentuk V itu.


Senyuman hangat kini mulai menghiasi pada wajah kakek Li Feng yang begitu menyejukkan kak Kai.


"Sepasang mata ini begitu mirip dengan Li Zhi, putraku. Mengapa aku baru menyadarinya sekarang ..." ucap kakek Li Feng dengan haru dan terlihat mengkerutkan keningnya menahan tangisnya.


Bahkan kak Kai yang mendengarnya mulai mengkerutkan keningnya dan tak sanggup lagi menahan air matanya hingga akhirnya air mata hangat itu mulai jatuh dan membasahi pipinya.


"Luo Kai ... maaf ... selama ini kakek tidak bisa menemukan dan mengurusmu dengan baik. Bahkan kakek sungguh tidak mengetahui semua ini. Maafkan kakek yang begitu bersalah terhadapmu dan ibumu Yixue ..." ucap kakek Li Feng yang terdengar begitu parau.


"Ini semua bukan salah tuan besar Li. Ini sudah menjadi takdir dari hidupku. Dan akulah yang menyikapi jalannya takdir ini dengan buruk dan tidakberpikir dengan jernih, hingga aku tega untuk mencelakai Zen dan tuan besar Li. Maafkan aku, Tuan besar Li ... aku sungguh jahat dan tidak punya hati. Tuan besar Li bisa bisa menghukumku. Aku akan menerima hukuman itu." ucap kak Kai yang kembali membuat sesak kakek Li Feng.


"Tuan besar Li ..." ucap kak Kai yang bahkan belum menyelesaikan ucapannya karena kakek Li Feng segera memotongnya.


"Kakek ... panggil aku kakek ..." ucapnya dengan senyuman dan ucapan yang begitu hangat.


Sepasang mata itu juga terlihat sedang menanti tanggapan dengan penuh harap dari kak Kai.Sementara Kak Kai masih terdiam beberapa saat dan menatap haru kakek Li Feng.

__ADS_1


"Kakek ..." ucap kak Kai yang terdengar begitu mengharukan.


Bahkan Zen dan Amee yang mendengarnya juga terlihat begitu terharu. Sebuah pertemuan antara kakek dan cucu yang begitu membuat hati siapa saja yang menyaksikannya begitu trenyuh dan terharu.


Kakek Li Feng menjawabnya dengan anggukan pelan dan masih menghiasi wajahnya dengan senyuman yang begitu hangat.


"Mulai sekarang ... aku akan melakukan semua yang kakek perintahkan kepadaku." ucap kak Kai dengan lirih dan menatap kakek Li Feng dengan senyum samar.


Kakek Li Feng yang masih tersenyum hangat dan merasa begitu terharu segera memeluk kembali kak Kai.


Amee yang sedang menyaksikan semua ini juga ikut menitikan air mata harunya. Begitu juga dengan Zen yang merasa begitu lega saat ini. Masalah terbesar dalam kehidupan Li Zeyan kini sudah diselesaikan den memberikan akhir yang begitu hangat dan mengharukan.


Sebuah dendam yang kini berubah menjadi kasih dan sayang yang semakin besar dan begitu kuat. Yeap, kini hubungan mereka akan menjadi semakin kuat, sebuah hubungan persaudaraan yang tak akan bisa dipisahkan dengan begitu mudahnya. Seperti itulah ibarat kisah Luo Kai dengan keluarga Li.


Tak beberapa lama terdengar ritme teratur dari pintu, dan seorang perawat mulai memasuki ruangan dengan membawakan beberapa makanan untuk pasien dengan beberapa mangkok di atas sebuah nampan stainless.


"Selamat siang. Saya membawakan makan siang untuk pasien. Tolong untuk segera dimakan ya, Tuan. Karena bubur ini akan lebih nikmat jika dinikmati saat masih hangat." ucap perawat itu dengan begitu ramah dan meletakkan nampan stainless itu di atas nakas.


"Tenang saja. Kali ini aku akan memastikan cucuku akan segera memakannya dan menghabiskan makanan ini. Karena kali ini, aku sendiri yang akan menyuapinya." sahut kakek Li Feng yang membuat semua orang sedikit terkejut lalu berakhir dengan tawa kecil.

__ADS_1


Suasana yang begitu hangat kini menyelimuti keluarga Li saat ini. Sehangat sinar mentari yang bersinar di saat musim dingin yang terasa seakan membekukan seluruh yang berada di alam semesta ini. Kehangatan yang mengalahkan dan memenangkan untuk semua hati yang dipenuhi dengan dendam.


...⚜⚜⚜...


__ADS_2