
Hari demi hari sudah berlalu, namun Zen masih saja mengunci dirinya di dalam apartemennya. Bahkan Zen sama sekali belum pernah meninggalkan apartemennya setelah 5 hari ini. Karena tempat inilah yang membuatnya merasa lebih tenang saat ini.
Jauh dari media, jauh dari anti fans, dan apartemen ini juga begitu hening. Hari-harinya masih saja Zen habiskan dengan melamun, dan tak melakukan apapun. Terkadang Zen juga memainkan sebuah game dengan harapan bisa melupakan beban hidupnya saat ini.
Namun kesibukan apapun yang sedang dia lakukan saat ini, semua tak bisa membuatnya melupakan masalahnya saat ini!
"Zen, kasus ini tak jauh berbeda dengan kejadian saat itu. Seharusnya kamu bisa menghadapinya dengan lebih baik! Ayolah, Zen! Bangkitlah dan jangan seperti ini terus ... buktikan kepada dunia jika kamu bisa!!" gumam Zen menyemangati dirinya sendiri dan masih duduk meringkuk di atas sofa yang menghadap ke arah balkok apartemennya.
"Ayah ... ibu ... selama ini aku selalu sendirian dan kesepian. Andai kalian masih ada ... pasti aku tak akan begitu bersedih ... aku rindu sekali dengan kalian." ucap Zen begitu parau dan memilukan.
Tiba-tiba saja ada seseorang yang mulai meraih tubuh Zen yang masih meringkuk dan mulai memeluknya dengan sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Zen.
Sebenarnya Zen cukup terkejut karena tiba-tiba ada seorang gadis yang datang dan mendekapnya begitu saja. Namun Zen tak terlalu menanggapinya karena masih berlarut dalam keterpurukannya. Dan malah menganggap itu hanya sebuah halusinasinya saja.
"Li Zeyan ..." kini mulai terdengar suara lirih dari seorang gadis yang sangat dikenalinya. "Jangan seperti ini. Jalan kehidupanmu masih panjang, Li Zeyan. Kamu harus bisa bangkit kembali dari keterpurukan ini dan buktikan kebenaran itu kepada dunia. Jangan menyerah. Aku percaya padamu ... dan aku akan selalu mendukungmu." imbuhnya yang terdengar begitu hangat dan semakin mendekap Li Zeyan.
Dan gadis itu juga mendaratkan dagu indahnya yang berbentuk V shape di atas kepala Zen dan mengenai rambut Zen.
Aroma parfum khas ini ... suara lembut ini ... tidak mungkin ... tidak mungkin gadia ini adalah Christal. Aku pasti sedang berhalusinasi saat ini. Pasti aku sedang bermimpi bukan? Karena Christal sedang berada di negeri Sakura. Dan dia pasti juga akan sangat kecewa padaku saat ini. Dia pasti juga akan membenciku, menghindariku, dan mungkin saja Christal juga akan segera melupakanku juga suatu saat nanti. Hingga akhirnya aku akan benar-benar sendiri kembali seperti sedia kala. Dan tak memiliki siapa-siapa lagi ...
Batin Zen yang masih saja meringkuk dan tak berusaha untuk mendongak dan melihat gadis yang saat ini sedang memeluknya, karena Zen masih mengira jika ini hanyalah sebuah mimpi atau halusinasi saja.
__ADS_1
"Li Zeyan ... pelangi akan selalu hadir setelah hujan. Jadi jangan pernah menyerah, masih ada hari indah yang sedang menantikan dirimu di masa depan." ucap gadis itu lagi. "Sebuah batu permata yang terhempas dan terkena beberapa timbunan tanah, batu permata itu tak akan menghilang begitu saja. Dia masih akan memancarkan sinarnya selalu dengan indah. Karena itu adalah bagian dari dirinya yang tak akan pernah pudar ... tak akan mudah usang saat orang membuangnya. Dia akan selamanya menjadi batu permata yang sangat berharga dan bersinar! Dan batu permata itu adalah seperti kamu Li Zeyan. Semakin diasah dengan hal-hal semacam ini, maka akan semakin bersinar dan berkilau! Tunjukkan kepada dunia, Li Zeyan ..."
"Christal ... jika ini adalah mimpiku, maka aku tak ingin segera bangun dari mimpi ini, karena aku masih ingin bersama denganmu. Dan saat kamu memelukku seperti saat ini, membuatku merasa lebih tenang dan nyaman ... jangan pergi, Christal ... tetaplah disini dan tetap bersamaku." ucap Zen begitu lirih dengan mata yang masih terpejam dan semakin membenamkan kepalanya pada dekapan Christal.
"Hhm ... aku akan disini dan menemanimu selama beberapa waktu. Dan semua ini juga atas ijin dari kak Jiro ..." ucap Christal yang sesekali menggesek-gesekkan dagunya mengenai rambut Zen.
Namun mendengar nama Kagami Jiro seketika membuat Zen membuka matanya hingga sepasang pupil kebiruan bak okavango blue diamond itu mulai terlihat sedikit membulat. Dan dengan cepat Zen juga mulai sedikit melepaskan pelukan Christal dan mendongak untuk menatap gadis yang saat ini masih berdiri di hadapannya.
Seolah masih tak percaya, Zen masih menatap Christal cukup lama tanpa berkata-kata sepatah kata apapun. Namun jemari kanan Zen mulai meraih sisi kiri wajah Christal yang mungil nan ayu itu.
Christal yang saat ini sedikit menunduk dan menatap Zen, mulai meraih jemari Zen yang masih melekat pada wajahnya dan senyuman manis nan hangat itu mulai menghiasi wajah manisnya.
"Christal ... benarkah ini adalah kamu? Apa saat ini aku sedang tidak bermimpi?" ucap Zen mengusap lembut wajah Christal, sementara sepasang matanya masih menatap lekat Christal.
Rasa haru, lega, bahagia mulai berkecamuk bersama rasa malu dan merasa bersalah terhadap Christal, sehingga membuat Zen sedikit kebingungan saat ini untuk berkata-kata dan bertindak.
Zen mulai melepaskan jemarinya dan beralih menatap sisi lain. Kini wajahnya mulai terlihat sedikit murung, seakan tak memiliki kepercayaan diri lagi untuk menatap Christal.
"Christal, apa yang sedang kamu lakukan di Beijing? Mengapa kamu mendatangi apartemenku?" pertanyaan yang dilontarkan oleh Zen terdengar begitu lirih dan sebenarnya sedikit membuat Zen merasa sesak.
"Tentu saja untuk melihat kamu, Li Zeyan." jawab Christal dengan ceria dan mulai duduk di dekat Zen.
__ADS_1
Zen sedikit menunduk dan mengusap keningnya sendiri, "Christal, aku sudah melakukan sesuatu hal yang begitu memalukan. Aku merasa tidak pantas lagi untukmu. Sebaiknya kamu meninggalkan aku dan melupakan aku ... aku bukanlah pria yang baik."
GREPP ...
Dengan cepat Christal segera meraih lengan Zen karena kurang menyetujui ucapan dari Zen. Christal juga membuat tubuh Zen untuk sedikit menghadap pada dirinya kembali.
"Tidak! Aku tidak percaya dengan pernyataan yang sudah kamu nyatakan di depan media! Aku tau kamu bukan orang yang seperti itu, Li Zeyan! Kamu adalah orang yang jujur dan sangat baik! Bahkan harta, tahta, ketenaran tak pernah menggelapkan dirimu selama ini! Kamu bukan orang yang seperti itu! Aku percaya itu!" ucap Christal dengan jujur dan masih menatap Zen begitu lekat.
Mendengar ucapan dari Christal sebenarnya cukup membuat Zen merasa lebih tenang, karena rupanya Christal mempercayai dirinya.
"Christal ... terima kasih ... terima kasih karena kamu sudah mempercayaiku." ucap Zen begitu terharu.
Christal tersenyum hangat dan mulai meraih kedua jemari Zen.
"Hhm. Aku akan selalu mempercayaimu, seperti yang pernah aku katakan padamu. Apapun yang mereka katakan aku tak peduli dan aku tak percaya. Aku hanya akan percaya pada hatiku ... yang mengatakan untuk mempercayaimu."
Pandangan mereka berdua saling bertemu dan menyapa dengan begitu hangat. Saling merindukan satu sama lain, dan saling membutuhkan support satu sama lain.
Seperti sebuah magnet, hingga akhirnya jarak di antara mereka berdua kini semakin menjadi dekat dan dekat lagi. Sebuah kecupan hangat dan begitu lembut mulai tejadi begitu saja.
Keterpurukan Zen, kini mungkin akan segera berakhir setelah Christal hadir di sisinya dan sepenuhnya mempercayai dan mendukungnya untuk kembali bangkit dan maju.
__ADS_1
Sebuah perjalanan baru akan segera dilakukan oleh Zen, untuk mencapai puncak tertinggi lagi.
...⚜⚜⚜...